
Pagi hari yang indah. Bunga bunga bermekaran di depan rumah. Udara pagi yang sejuk menyelimuti tubuh Arra. Ia berjalan mendekat ke taman depan rumah.
"Wahh.. Bunga bunga disini dirawat dengan baik" kagum Arra.
"Nona Ze, Nyonya menyuruh anda untuk ke ruang makan" suara pelayan dari belakang Arra.
"Oh baiklah".
Arra berjalan masuk diikuti pelayan tadi. Ruang makan sudah dipenuhi oleh semua orang, hanya Arra saja yang belum datang.
"Arra, kita makan dulu" ucap Mama yang sudah berada di meja makan.
"Iya Ma" Arra duduk disebelah kursi Aria.
"Aria, Arra, Papa ingin kalian melanjutkan sekolah terfavorit disini" semua terdiam ketika Papa mengatakannya.
"Tidak setuju" tanpa basa basi Aria menjawab dengan penolakan.
"Kenapa? Kalian memiliki prestasi yang hebat, Papa yakin kalian pasti bisa masuk disana!" dengan tegas Papa menjawab.
"Aku tidak mau!" tegas Aria.
"Aria, yang Papa bicarakan benar. Kalau kamu dan Arra masuk kesana kalian pasti akan diterima" ucap Mama seraya meyakinkan Aria.
__ADS_1
"Aku bilang tidak mau ya tidak mau!" Aria langsung meninggalkan meja makan.
Aria memanglah berkepribadian yang sulit ditebak. Ia sangatlah dingin dan cuek terhadap siapa pun. Namun, ketika bersama Kakek dan Neneknya, ia selalu bersikap hormat. Karena merekalah yang membesarkannya sedari kecil.
Keluarga Ze bukanlah keluarga yang mementingkan kekayaan dan kekuasaan. Mereka lebih mementingkan kedamaian antar para penguasa lainnya. Keluarga Ze memang dikenal sebagai keluarga yang tegas dan berpendirian teguh. Orang tua Arra dan Aria menginginkan penerus yang bisa menjaga perusahaan secara adil juga hebat.
Selesai makan, Arra bergegas menuju kamar Aria. Arra ingin menenangkan dan membicarakan baik baik kepada Aria.
"Tok... Tok.. Tok.. Aria? Boleh aku masuk?" Arra mengetuk pintu kamar Aria.
"Pintu tidak dikunci" balas Aria.
"Aria, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu" Arra membuka pintu dan melihat Aria sedang duduk di jendela.
"Kamu lebih tertarik dengan sekolah yang sederhana bukan?" tanya Arra sambil mendekat ke arah Aria.
Aria sedikit terkejut mendengar jawaban Arra. Ia tidak pernah menceritakan tentang dirinya kepada siapapun. Ia bahkan tidak memiliki satu teman pun.
"Aku tahu, kamu memiliki hati yang lembut. Kamu tidak suka menjadi seperti anak anak orang kaya yang sombong dan angkuh. Kamu hanya ingin menjadi pribadi yang sederhana walaupun terlahir dalam lingkungan kaya" Arra berusaha mengatakan yang ada dibenaknya.
"Kamu memang cerdas seperti yang Mama dan Papa katakan. Pantas saja mereka menyayangimu Arra. Tidak seperti diriku" lagi lagi Aria menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak Aria, mereka juga bangga melihat mu. Kamu tahu? Mereka bekerja keras demi menghidupi kita. Mereka sebenarnya menyayangimu namun dalam bentuk lain. Mereka tidak menunjukannya secara langsung, tapi mereka melakukan nya tanpa kamu sadari." Arra ingin menyakinkan Aria untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku tahu kok" Aria kembali menatap langit.
"Bilang kepada Mama dan Papa, aku hanya ingin melanjutkan di sekah yang aku inginkan" Aria menjawab sambil tersenyum kepada Arra.
"Ariaaa kamu tersenyum.. Itu bagus" Arra membalas nya dengan senyuman juga. Ia berhasil membuat saudarinya bangkit kembali. Hanya dengan satu senyuman saja sudah membuat Arra lega.
"Ariaa... Hahahaha" Arra langsung memeluk erat Aria dan mereka tertawa bersama.
"Arra.. Aku mengaku kalah.. Aku memang tidak bisa sebanding denganmu" balas Aria didalam hati.
****
Malam hari tiba, semua orang berkumpul di ruang tamu. Mereka disini untuk membahas mengenai masalah tadi pagi. Arra sedikit takut jika Papanya masih marah kepada Aria.
"Aria!" Papa memanggil Aria dengan tegas.
"Iya Pa" dengan santai nya Aria menjawab.
"Aduh, yang dipanggil Aria tapi kenapa aku yang deg deg an sih" gumam Arra dalam hati.
"Papa sudah tahu solusinya, Papa akan menyekolahkan kalian di sekolah yang kalian inginkan" dengan lembut Papa membalas nya.
"Yaa.. Itu baguss" Arra senang mendengar jawaban Papanya. Ia tidak menyangka Papanya tidak marah kepada Aria.
__ADS_1