Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 129 “Kenangan Yang Ku Rindukan”


__ADS_3

“Memberikan pelajaran sopan dan santun terhadap anak kecil itu patut dilakukan saat usianya masih sedini mungkin, karena jika sudah beranjak usianya maka akan semakin sulit untuk mengarahkannya tentang kewajiban setelah dewasa nanti.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Setelah ini... kamu mau kemana?” tanya Wilona memecahkan keheningan.


“Aku... akan pergi ke suatu tempat. Karena aku tidak mau cintaku berakhir begitu saja.”


“Sepertinya aku harus pergi sekarang... besok kita harus berjumpa lagi. Itupun jika kamu masih berada di Indonesia, jika sudah kembali ke Amerika jangan lupa kabari aku.”


“Al, apa kamu tidak ingin ikut menjadi anggota Mercy Ships lagi?”


“Emm...”


Hening...


‘Tidak Al, kamu tidak boleh melampiaskan semuanya setelah Keenan tidak ada di sisimu. Karena ada Alina yang yang harus kamu jaga saat ini.’ Aletha bermonolog dalam hati.


Setelah berada di ambang keraguan, dengan hati yang mantap Aletha memutuskan untuk bertahan di Indonesia dan tidak akan lagi mengulangi hal seperti dulu. Melampiaskan semuanya dan pergi ke Amerika lalu mendaftarkan diri sebagai anggota Mercy Ships yang saat itu masuk ke daftar terpilih.


Sekilas kenangan itu membuat Aletha merindu, ingin mengulang kembali dengan tujuan utama yaitu healing. Mungkin saat ini Aletha juga membutuhkan itu, tetapi healing yang dipilih Aletha adalah bertandang ke Batalyon setiap hari sebelum pulang ke rumah.


“Maafkan aku, Wil. Sepertinya aku tidak akan mengulang kembali hal itu, aku sudah ada Alina yang harus aku jaga.”


“Kamu benar.” Wilona mangggut-manggut, membenarkan apa yang dikatakan Aletha.


“Memberikan pelajaran sopan dan santun terhadap anak kecil itu patut dilakukan saat usianya masih sedini mungkin, karena jika sudah beranjak usianya maka akan semakin sulit untuk mengarahkannya tentang kewajiban setelah dewasa nanti.”


“Kamu tahu betul Aa Keenan itu seperti apa. Dan kamu pun juga tahu, aku serta Papa ku bagaimana. Aku tidak ingin jika Alina tumbuh tanpa adanya didikan yang mengarahkannya ke jalan kebaikan. Kamu tahu sendiri bagaimana perilaku anak remaja saat ini, bukan?”


“Kamu benar, Keenan pun juga tidak mau jika Alina terjerumus ke dunia yang lebih.” Wilona mengangkat jarinya dan menirukan seperti tanda kutip dua.


Obrolan telah di akhiri, karena Wilona sudah ada janji temu dengan seseorang. Begitu pula dengan Aletha, ia harus ke batalyon untuk melepaskan rasa rindu. Dan Aletha juga tidak mau jika cintanya untuk Keenan berakhir begitu saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Banyak kenangan antara Neng dan Aa di sini. Kenangan yang membuat Neng merasa rindu ingin berada dalam dekapanmu. Apalagi saat malam itu, Aa meminta ijin dengan rasa hormat.”


Flashback On

__ADS_1


Di saat malam itu sebelum Keenan dan Aletha harus dipisahkan dengan jarak yang amat panjang. Keenan membuat momen yang tidak bisa Aletha lupakan sampai saat ini. Di bawah cahaya rembulan dan bintang yang berkelap kelip membuat suasana malam itu menambah sisi keromantisan.


“Aa kenapa ajak Neng kesini?”


“Aa mau lihat Neng menjadi saksi bahwa tempat inilah kita akan dipertemukan kembali setelah Aa bertugas di Yahukimo.”


“Di batalyon ini ... Aa ingin memberikan seluruh cinta Aa kepada Neng. Ayo ikut Aa, Aa mau menunjukkan sesuatu kepada Neng.” Keenan menarik lengan Aletha menuju ke sebuah tempat yang menjadi rahasia untuk saat itu.


“Aa, jangan lama-lama loh! Ingat ada Alina Di... RU... MAH...” Tekan Aletha.


Jiwa seorang ibu tengah meronta-ronta dalam diri Aletha, tetapi hasilnya Aletha tetap saja hatinya meleyot saat melihat indahnya tempat yang ditunjukkan oleh Keenan.


“Tidak akan lama, cukup duduk dan temani Aa sebelum esok kita ... berpisah.”


Keenan mengundurkan salah satu kursi di antara dua kursi yang tersedia. Setelah itu Keenan meminta Aletha untuk duduk. Di atas meja makan sudah disediakan beberapa menu yang akan dijadikan santapan malam keromantisan mereka di bawah cahaya lampu yang temaram. Namun, banyaknya cahaya bintang membuat malam itu terang.


“Ini semua Aa sendiri yang siapkan?”


“Iya, Aa tadi masak di dapur batalyon. Tapi... kalau es krim nya Aa pesan.” Keenan nyengir sembari menggaruk tengkuknya nyang tidak gatal.


“Tidak apa lah, Neng juga tahu kok kalau Aa tidak bisa membuat es krim kesukaan Neng. Tapi... Aa selalu memesankan es krim nya sesuai dengan selera Neng. Dan Neng sangat berterimakasih atas semua itu.” Aletha mencium punggung tangan Keenan.


Aletha mengangguk, lalu mengambil nasi dan lauk yang sudah dimasak oleh Keenan. Menu spesial seperti saat Aletha dan Keenan tengah mengidam dengan makanan yang sama.


Pasti pembaca tahu kan menunya apa? Iya, ular yang dipanggang dengan bumbu kecap, seperti ayam panggang yang dimasak dengan bumbu lengkap aka restoran.


“Rasanya ... enak juga, Aa. Tapi... Aa nangkap ularnya dimana? Di hutan juga?”


“Emm... Tidak, Aa beli di pasar lokal tadi. Kan, ada tuh yang jual berbagai macam daging termasuk daging ular.”


Aletha manggut-manggut, mengiyakan ucapan Keenan. Dan malam itu adalah malam yang menjadi kenangan terindah sebelum Keenan berangkat ke Yahukimo.


Flashback OFF


Aletha harus kembali pulang, karena hari sudah hampir gelap. Saat berada di jalan Aletha menghentikan mobilnya di depan sebuah toko dan hendak mampir kesana sebentar. Hanya ingin mengenang yang membuatnya merasa rindu kepada Keenan.


“Selamat datang di toko kami!” sapa penjual di toko itu.


“Mbak... saya mau pesan es krim full farian rasa dan juga di atasnya nanti ditaburi coklat batang.” Aletha pun memesan es krim kepada penjaga toko.

__ADS_1


Secara kebetulan pemilik toko es krim yang tak lain adalah sahabat Aletha sendiri tidak sedang di sana, sehingga pegawai di sana tidak mengenal Aletha karena yang mereka kenal hanya Keenan. Sebagai pelanggan setia di sana.


“Wah... pesanan es krim mbak nya sama persis ya sama mas yang telepon tadi.”


“Deg...”


Sesaat Aletha terdiam, memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh pegawai toko es krim, meskipun saat itu es krim pesanannya sudah berada di tangannya. Namun karena terlalu memikirkan hal itu membuat Aletha hilang fokus dan butuh aqua untuk menyegarkan pikirannya.


“Tidak mungkin kan, jika itu... Aa Keenan.”


Pikiran Aletha kembali terkecai, rasa penasaran itupun membuncah dadanya. Aletha tudak ingin rasa penasaran dalam dirinya beekobar sia-sia, harus ada jawaban pasti yang akan membuatnya msrasa tenang.


“Maaf Mbak, memang siapa yang sudah menelpon Mbak tadi? Masa iya jika es krim nya sama persis?” tanya Aletha basa-basi.


“Iya Mbak, memang sama. Bahkan Mas nya itu sudah menjadi pelanggan setia di toko kami. Tapi... saya lupa jika ditanya namanya. Karena saya ini tidak hafal sama namanya meskipun sudah sering membeli di sini.”


Hasilnya tetap saja nihil, hanya seorang lelaki saja yang mampu ditangkap dalam ingatan Aletha seperti apa yang dikatakan pegawai toko es krim itu. Hingga membuat Aletha mendesah, percuma saja jika bertanya dengan pegawai di toko itu, tetapi bukan juga sepenuhnya salah penjaga toko.


Sabar ya Aletha... pasti ada jawaban nya untukmu dan cintamu, karena sudah ditulis secara pasti oleh mbak penulisnya. Wkwkwk...


Aletha tidak mau jika pulangnya akan telat, karena ia pun juga harus menjaga ibadahnya. Di mana sebelum maghrib Aletha harus segera sampai di rumah. Masih ada waktu sekitar satu jam untuk sampai di rumah.


“Paling tidak es krim nya tidak akan meleleh.”


Aletha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena mengingat waktu maghrib hanya sedikit, sekitar satu jam jika lebih hanya lima belas menit saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kita ada di sini sudah tiga bulan, tapi kita belum menemukan titik awal dari komplotan mereka. Sedangkan aku mau misi ini selesai sebelum malam tahun baru tiba.” Bian nampak murung mengingat misi yang tidak bisa dituntaskan tanpa ada Kaptennya.


“Kamu benar, Bian. Dan di tahun depan personil kita pun tidak lengkap. Bagaimana bisa mereka hanya diam saja?”


“Mungkin ini yang namanya ... takdir. Tanpa kita yani kapan kematian akan datang pada kehidupan kita.”


Bian, Naina dan Bayu hanya saling sahut menyahut selama kosongnya waktu. Sebenarnya bukan waktu yang kosong, tetapi karena masih dalam jam istirahat mereka bukan berdiskusi tentang bagaimana melakukan taktik penangkapan, justru mereka tengah memikirkan Keenan dan Garda sebagai anggota mereka yang kini sudah tidak lagi.


Di tengah hutan mereka selalu menerawang jauh, memikirkan bagaimana mereka tanpa ketua. Bagaikan hewan yang berjalan tanpa adanya kaki. Sungguh nelangsa hati mereka merutuki kebodohan masing-masing karena tidak bisa membantu ataupun menolong Keenan dan Garda saat bom telah meledak begitu saja.


Bukan tidak bisa menolong, tapi mereka tidak sedang ditugaskan bersama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2