Lentera Cinta

Lentera Cinta
EPISODE 18 Aku Mencintaimu


__ADS_3

Bintang bertaburan di angkasa ditemani cahaya terang rembulan. Daun-daun menari lemah gemulai karena alunan sang angin. Udara dingin menyelimuti tubuh Arra, namun tangan hangat Ben membuat rasa dingin hilang.


"Kenapa membawa ku kemari?" tanya Arra sembari memandangi sekitar.


"Pinggir jalanan kota yang bersih dan indah, pohon-pohon berjejer rapi disekitar jalanan, bintang-bintang berbaris cantik di langit, dan perpaduan cahaya antara lampu dan bulan. Kau menyukai itu bukan, Arra?"


"Hmm?.." Arra masih belum mengerti apa yang dimaksud Ben dan tujuan Ben sebenarnya.


"Apa kau tidak ingat? Dulu kau mengatakan hal ini saat masih kecil. Kau selalu bilang padaku kalau kau ingin sekali pergi ke tempat dimana ada banyak bintang bertaburan di angkasa. Kau sendiri yang mengatakannya, Arra... Apa kau tidak bisa mengingatnya?"


Perkataan Ben memenuhi pikiran Arra dan membuatnya kacau. Kepalanya selalu saja terasa sakit dan pusing jika mengingat masa lalunya. Lalu seketika saja sepotong ingatan muncul begitu saja dalam benak Arra.


"*Tadaaa..." seorang anak laki laki bertubuh gemuk bicara pada Arra.


"Eh? Apa ini?.." ucap Arra sambil melihat kertas berisi gambar yang diberikan pada anak laki laki itu.


"Itu adalah gambar tempat yang sangat ingin kau lihat Arra. Aku menggambar nya sendiri loh.. Bagaimana bagus bukan? Hehe.."


"Wahh!! Benarkah? Ini benar benar gambar yang cantik"


"Arra jika aku sudah dewasa nanti, aku aka membawamu ke tempat itu. Kau juga sangat menginginkan pergi ke taman terbaik didunia bukan? Aku akan berjanji padamu untuk membawa mu kesana. Tenang saja aku pasti akan menepati janji ku"


"Sungguh? Chubby kecil ku, kau yang terbaik!!" Arra dan anak itu saling tertawa bahagia bersama*.


"Hahh... Apa tadi?.. Hah.. Uhh kepalaku sakit.." Arra tersadar dari ingatannya.


"Arra kau terlihat pucat, apa yang terjadi? Kau baik- baik saja? Tadi kau melamun begitu lama sekali..."


"Aku... Mm.. Ben?.."


"Ya?"


"Apakah.. Chubby kecil itu kamu?"


"Chubby kecil? Arra akhirnya kau mengingat nya. Aku sudah menunggu mu sejak lama agar kau mengingat ku kembali. Dan sekarang kau berhasil mengingat diriku lagi"


"Benarkah? Lalu apa yang terjadi denganmu? Kenapa baru muncul sekarang? Dan waktu kecil dulu apa yang sudah terjadi? Aku benar-benar tidak bisa mengingat dengan jelas Ben.. Aku.."


"Tidak apa aku akan menjelaskannya, tapi aku masih ada satu hal yang harus kusampaikan padamu" ucap Ben sambil memegang kedua tangan Arra.


"Satu hal? Apa itu?"

__ADS_1


"Arra... Aku menyukaimu" kata kata menggelegar yang membuat jantung Arra hampir berhenti berdetak.


"Aku ingin menjaga dan melindungi mu. Sejak pertama kali kita bertemu aku sudah menyukaimu Arra. Cantik, cerdas, hebat, berbakat dan jenius. Kau benar-benar gadis yang sempurna dan istimewa. Aku mencintaimu Arra.."


Arra benar-benar terkejut dengan perkataan Ben. Ia tidak bisa merasakan kebahagiaan dan kesedihan didalam lubuk hatinya. Pikirannya benar-benar kacau balau hari ini. Arra hampir tidak bisa berkata kata karena ucapan Ben.


"Kau... Menyukai ku?.." Arra berkata dengan nada gugup.


"Ya, aku sungguh mencintaimu Arra"


"Ben... Aku.."


"Tidak mengapa, aku paham perasaan mu. Aku siap menunggu jawabanmu Ra. Aku lega karena sudah mengatakan hal ini. Apapun jawabanmu aku pasti menghargai mu" Ben mengusap lembut kepala Arra.


"Baiklah.. Berikan aku satu minggu untuk memikirkan nya Ben.."


"Tenang saja, kapan pun kau mau menjawab aku pasti bersedia"


Setelah perbincangan yang serius, Arra memutuskan untuk mengakhirinya dan segera pulang kerumah. Ben mengantar Arra pulang karena khawatir jika membiarkan Arra pulang sendirian mengingat waktu sudah malam.


"Terimakasih untuk hari ini Ben.." ucap Arra dengan lesu lalu masuk kedalam rumah.


"... Ya, terimakasih kembali.."


Rumah terlihat sepi, sepertinya orang tua dan kakek nenek nya sedang tidak ada dirumah. Arra pulang langsung masuk kedalam kamar nya dan berbaring. Rasa senang dan sedih tidak bisa Arra rasakan saat ini. Mungkin karena terlalu syok atau mungkin karena Arra tidak menyukai Ben?


"Hei kau pulang terlalu malam, aku kira kau hanya 2 atau tidak 3 jam disana" sahut Aria sambil berjalan mendekat jendela kamar Arra.


Arra sama sekali tidak bisa mengucapkan sedikit kata pun. Entah kenapa rasanya sulit sekali untuk berbicara lagi. Diam dan hanya diam saja yang mampu Arra lakukan.


"Hm? Kenapa tidak menjawab?" ucap Aria sembari memandangi Arra yang terlihat tidak bertenaga.


"Arra, ada apa denganmu? Apa kau sakit? Wajahmu terlihat pucat" Aria mendekat ke arah Arra sambil memeriksa keadaan Arra.


".... Aku.. Baik.. Baik.. Saja.." balas Arra tanpa memandang ke arah Aria.


"Kau pikir kau bisa membohongi ku? Ayolah, apa kau sudah tidak menganggap ku sebagai saudari mu lagi?.." Aria menarik paksa Arra agar bangun.


"Eh bukan seperti itu... Tentu saja Aria adalah saudari paling terbaik yang pernah aku miliki.." Arra bangun lalu terbaring lemah lagi.


"Haahh Arra... Ceritakan apa yang terjadi tadi? Kenapa muka mu jadi murung dan lesu seperti ini? Apa Ben melukai mu?"

__ADS_1


"Ben?.. Astaga... Ini gawat! Argh apa yang harus aku lakukan? Ariaaa beri aku beberapa ide sekarang..." Arra menarik Aria kedepan dan kebelakang.


"Hei hei cukup! Bagaimana aku akan memberi mu ide jika aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, hah?.."


"Ah benar juga, baiklah baiklah jangan marah. Aku akan memberi tahu mu.. Jadi.. Tadi.. Aku.. Ben.. Taman.. Bintang.. Jalanan.. Chubby kecil.. Suka.. Pulang.." ucapan Arra menjadi tak beraturan dan tak jelas.


"Apa yang kau katakan ini??!! Taman? Bintang? Pulang? Apa kita sedang bermain kosa kata?!" emosi Aria semakin menjadi jadi.


"Arghh!! Aku tidak tahu apa yang terjadi padakuuu!! Aaaa... Aria.. Ada apa dengan ku.. Huwaaa..."


"Ya, ya... Aku akan menebak kosa kata mu itu. Kau... Ditembak Ben?"


"Hah? Bagaimana kau tahu? Ups.. Argh Ariaaa" Arra menutup kedua matanya dengan pipi memerah.


"Ha-ha.. Aku hanya menebak dan ternyata benar"


Arra tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajah karena malu. Aria yang melihat tingkah laku Arra membuat nya tertawa geli.


"Baiklah Arra, jadi apa masalah nya? Kau menjadi lemas karena Ben menyatakan cinta padamu?"


Awalnya Arra malu dan sedikit gugup untuk menceritakan nya, namun karena ia sudah tidak tahan ingin mengatakannya pada akhirnya Arra pun menjelaskan semuanya. Setelah panjang lebar Arra menceritakan kejadian seluruh nya, Arra pun merasa sedikit lega. Mungkin karena perasaan gelisah tidak bisa disimpan terus menerus.


"Ya aku mengerti, kau sebenarnya nyaman dengannya namun hatimu masih belum terbuka olehnya?"


"Uhh.. Ya mungkin bisa dikatakan seperti itu"


"Rasa nyaman bisa datang kapan dan dimana saja bahkan dari siapa saja. Tapi kau harus mampu memahami mana yang termasuk rasa nyaman yang tulus. Kau harus bisa membedakan mana orang yang mencintaimu dan mana yang menyukaimu"


"Mencintaiku.. dan menyukai ku?.."


"Kau tidak mengerti? Cinta dan suka itu berbeda Ra. Aku memang bukanlah orang yang ahli dalam ilmu cinta. Namun.. Menurut apa yang aku rasakan.. Cinta datang dari lubuk hati mu yang paling dalam, membawamu merasakan getaran hebat hingga membuat jantung mu merasakan apa yang kau rasakan juga. Dan.. Suka itu, mengagumi karena dirimu hebat dan bertalenta akan sesuatu hal. Kedua hal itu memanglah berbeda Ra, tapi.. Cinta lebih hebat kekuatannya. Orang yang mencintaimu pasti akan mengorbankan segalanya untukmu.."


"Sejujurnya.. Aku belum pernah terlibat masalah percintaan sebelumnya. Aku terlalu sibuk dengan dunia ku sendiri. Membaca buku, mempelajari ilmu ilmu pendidikan, ilmu pengetahuan lah yang selalu hadir dalam pikiran ku. Aku kurang peduli mengenai cinta atau apalah selain belajar. Pertama kalinya dalam hidupku aku merasa gelisah dan cemas karena seseorang mengatakan dia mencintaiku secara tatap muka padaku. Aku sama sekali tidak mengerti arti cinta sebenarnya.."


Sedari kecil Arra memang selalu di didik agar mengerti tentang pengetahuan secara cepat. Lama kelamaan Arra menjadi gadis yang cerdas dalam mencari ilmu. Berada seharian bersama buku membuat Arra menjadi kebiasaan terbaik nya. Ia tidak tahu bahwa kehidupan luar begitu fantastic dari sebuah buku.


"Aku mengerti.. Kau dari kecil sudah ditekan supaya menjadi gadis pandai dalam waktu singkat. Tapi sekarang berbeda, kau disini bersama ku. Kau tidak perlu bersahabat dengan buku terus, kau juga harus bersahabat dengan CINTA. Didalam buku memang ada pengertian cinta, namun cinta tidak butuh kau pelajari tapi butuh kau rasakan sendiri. Tidak semua yang ada didunia ini perlu kau pelajari dan kau kaji, kau juga harus bisa merasakan, membuat dan menemukan sesuatu dari dirimu sendiri..."


"Dari.. Diriku sendiri?..... Ya itu benar, dari diriku sendiri. Aku mengerti sekarang, aku akan perlahan lahan memahami dunia luar tanpa harus belajar dari sebuah buku lagi. Aku harus memulainya.. dari diriku sendiri!" Arra memantapkan hatinya dan mulai sedikit demi sedikit bangkit.


"Bagus, mulai lah menjadi dirimu sendiri. Bangkit dengan semua usaha yang kau miliki sekarang! Raih apa yang harus kau capai! Jangan berhenti ditengah jalan untuk menemukan mimpi mu"

__ADS_1


Arra memeluk Aria dengan air mata bahagia mengalir. Rasa gelisah yang ia rasakan perlahan menghilang dan pudar. Tidak ada yang bisa mengalahkan cinta dari seorang saudari perempuan nya. Disaat terluka datang mengobati dan disaat bahagia datang memberi kebahagiaan yang sama pula. Namun.. Akankah semua bisa berakhir seperti yang mereka bayangkan?


"Kau tidak perlu merasakan tertekan lagi Ra. Aku tahu perasaan dimana ingin tersenyum malah diberi luka. Kau tidak akan merasakan seperti dulu lagi. Aku ingin kita bisa bersama meski perbedaan menghalangi kita bersinar. Meski dunia kita berbeda aku pasti akan bersama mu. Kau saudari terhebat yang pernah aku miliki" benak Aria.


__ADS_2