Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 145 “My Happiness”


__ADS_3

“Ternyata benar apa kata orang, kebahagiaan seorang istri akan tercipta saat suaminya menjadikan dirinya sebagai satu-satunya ratu dalam hidupnya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keenan terkekeh geli mengingat Bian yang sedang bucin sama Rania.


“Perlu kita ingat Bian, jika cinta itu tak harus selebihnya terus menerus diperjuangkan. Karena cinta itu akan hadir dengan sendirinya, jika terus memepetnya itu hanyalah hawa nafsu manusia yang harus dikendalikan.”


“Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya, seperti apa yang sudah dikatakan Rania. Jika kamu perlu memantapkan hati, maka lakukanlah sholat istikharah, Bian. InsyaAllah Allah akan menjawab siapa jodohmu melalui sholat itu. Ingat, lakukan sekhusu’ mungkin di sepertiga malam dan sesudah membaca doa jangan lupa menyebutkan namanya agar kamu tahu siapa jodohmu.”


Dari seberang Bian mengangguk, mengerti dengan apa yang sudah Keenan sarankan untuknya. Dan selama masa ta'aruf Bian mulai meningkatkan ibadahnya kepada Allah, mendengarkan beberapa kajian sebagai ilmu penerang bagi seorang pemimpin rumahtangga.


Keenan kembali Memposisikan diri di samping Aletha untuk merebahkan tubuh dan menghilangkan rasa lelah yang membuat otot-otot nya menegang. Dan waktu siang adalah waktu yang pas untuk semua orang bersantai saja karena melihat terik matahari yang bisa saja membuat kulit terbakar saat berada dibawahnya.


“Pulas sekali kamu tidurnya, Neng. Apa secapek itu hingga membuatmu tak tersadar jika ada Aa di sampingmu.” Keenan memembelai rambut Aletha yang tidak tertutupi hijab.


Setelah puas membelai rambut dan memberikan kecupan di kening Aletha, Keenan pun memejamkan kedua matanya dan lekas tertidur. Dan kini hanya terdengar suara dengkuran dari Aletha maupun Keenan.


Tidak terasa jika waktu terus berjalan, hati pun sudah berganti sore. Aletha pun terbangun, ia memulai menggeliat kan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan tiba-tiba Aletha merasa terkejut saat ia mendapati tangan Keenan yang melingkar di atas perutnya.


‘Tangan ini...’


Aletha menolehkan pandangannya hingga ia pun bertatap muka dengan jarak yang amat sangat dekat. Bahkan deru nafas Keenan mampu dirasakan oleh Aletha saat hidungnya menempel dengan hidung Keenan.


“Inilah kebahagiaan yang selalu aku nantikan darimu, Aa. Berdekatan dengan jarak yang amat dekat,” ucap Aletha amat lirih.


Dua ujung bibir Aletha melengkung sangat indah, hingga membentuk sebuah senyuman yang mengartikan kebahagiaan. Meskipun beberapa hari sudah bersama Keenan, tetapi rasa rindu masih saja menyelimuti hatinya. Dan seolah rindu itu masih berjarak, meskipun Keenan sudah berada di depan mata. Kini jarak itupun terkikis nyaris tak tersisa, rindu itupun terobati saat tubuh Aletha menempel dengan jarak yang amat dekat dengan tubuh Keenan.


“Ya Allah, jika suatu saat nanti ia akan ditugaskan kembali dengan jarak yang begitu jauh. Maka aku mohon kepada-Mu untuk selalu menguatkan hati dan diri ini untuk selalu menantinya kembali dalam pelukan.”


“Dan aku juga meminta kepada-Mu untuk melindunginya dalam setiap langkah.”


Aletha menatap Keenan yang masih pulas, lalu jarinya mengusap wajah Keenan dengan amat lembut.


‘Dia... lucu.’ Aletha bermonolog dalam hati.


Kembali Aletha mengusap wajah Keenan dan itu membuat Keenan terbangun dari tidurnya. Senyum merekah telah terukir dibibir Aletha saat Keenan membuka matanya.


“Neng, sudah bangun?” tanya Keenan seraya memulihkan kesadarannya.


“Sudah dari tadi, Aa.” Aletha menatap dalam Keenan.


“Terus kenapa Neng menatap Aa seperti itu?”


“Emm... karena...”


Deg...

__ADS_1


‘Apa aku tidurnya ileran ya? Ya Allah, Keenan... jorok sekali kalau sampai begitu.’


“Ada cinta di mata Aa untuk Neng.” Aletha menunduk, menyembunyikan senyum yang sangat begitu manis.


Keenan terkekeh geli melihat tingkah Aletha. Dan Keenan mengusap dadanya secara perlahan, karena apa yang dipikirkan tidak sama dengan apa yang dikatakan oleh Aletha.


Acara sore akan dilanjut setelah diawali sholat ashar bersama terlebih dahulu. Seperti wanita kebanyakan biasanya, Aletha akan sedikit memoles wajahnya sebelum berangkat ke Jembatan Faidherbe. Hanya memberi sedikit bedak dan polesan lipstik di bibirnya, setelah itu hijab pun menempel dengan setiap menutup auratnya.


Keenan juga sudah siap dengan kemeja ala remaja yang lengkap dengan bawahannya, agar terkesan tidak terlalu katrok saat berjumpa dengan semua pengunjung di sana nanti. Sehingga pesona seorang Kapten tetap terpancar meskipun sudah memiliki satu anak.


“Bagaimana, Neng sudah siap?”


“Sudah Aa, sudah dari tadi malahan. Aa saja yang lama, kayak perempuan saja dandannya. Awas saja kalau nanti matanya jelalatan,” ucap Aletha dengan nada sedikit ketus.


Keenan terkekeh, masih saja Aletha merasa cemburu dengannya. Padahal Keenan berpakaian seperti itu agar tidak malu-maluin saat diajak jalan ala pasangan remaja lainnya.


Karena waktu sudah sore dan belum sempat untuk makan siang akhirnya Keenan memutuskan untuk mengajak Aletha ke restoran Azalai Marhaba hotel. Di sana menyajikan makanan antarbangsa, bahkan tersedia juga bar lounge di tapak.


“Neng, mau pesan makanan apa?”


“Neng... mau pesan ala-ala seafood boleh tak, Aa?” Aletha berbalik bertanya.


“Boleh dong, Neng. Tapi Aa akan pesan yang lain, daripada alerginya kambuh tak baik juga nanti buat acara honeymoon kita.” Keenan mencari menu yang pas untuk makan sore di restoran itu.


Menu yang dipilih Keenan tak banding jauh dengan Aletha, hanya saja bukan sejenis seafood dan juga bukan opor ayam. Wkwkwk


Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan telah datang. Sebagai seorang suami Keenan pun memimoin doa sebelum menyantap makanan yang akan menjadi menu sore mereka.


“Alhamdulillah,” pekik Aletha dan Keenan, mengucapkan rasa syukur setelah makanan mereka habis tidak tersisa.


Mungkin efek lapar, sayang juga kalau tersisa dan akan terbuang sia-sia bahkan manusia yang menyisakan makanan akan dibenci sama Allah karena bersifat mubazir.


Setelah itu Keenan sejenak mengajak Aletha untuk menikmati pemandangan taman di Azalai Marhaba hotel sebelum berlanjut ke Jembatan Faidherbe.


“Aa, indah ya tamannya!” ucap Aletha dengan decak kagum.


“Tamannya tidak indah, Neng. Tapi, yang indah itu... Istri Aa ini.”


Seketika Aletha menundukkan pandangannya, meskipun sudah sering dipuji sama Keenan tetapi tetap saja membuat Aletha merasa malu. Bahkan pipinya berubah merah merona, jelas begitu kentara karena kulit Aletha yang putih.


“Neng, sudah jam lima. Bagaimana kalau kita langsung melakukan perjalanan ke Jembatan Faidherbe, karena jaraknya yang jauh takutnya nanti kemalaman sampai di sananya.” Keenan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Iya, Aa. Lebih baik segera sampai di sana, agar kita bisa segera menikmati indahnya Jembatan Faidherbe di malam hari.” Aletha mengangguk.


Keenan menuju ke resepsionis depan untuk chek-out dari Azalai Hotel dan akan mencari hotel yang dekat jaraknya dengan Jembatan Faidherbe.


Mobil taxi siap dilajukan agar segera sampai ke tempat tujuan. Yang jelas bukan taxi yang sama dengan yang tadi. Akan tetapi Keenan selalu memperlakukan hal yang kepada Aletha, memanjakan Aletha hanya dengan mengusap puncak kepalanya dan membiarkan kepala Aletha menyandar di bahunya.

__ADS_1


‘Tuhan, jika Engkau ijinkan... biarkanlah waktu berhenti sejenak. Aku hanya ingin menikmati masa indah yang bisa saja tak bisa untuk diulangi.’ batin Keenan.


“Aa, terimakasih untuk sandarannya.” Aletha semakin bergelatut manja.


“Sama-sama, Neng. Dan itu wajib bagi Aa sebagai seorang suami, memberikan kenyamanan dan kebahagiaan untuk istrinya. Tapi, maaf jika Aa belum bisa membahagiakan Neng seutuhnya.”


Seketika Aletha menoleh, ia tatap lekat wajah Keenan.


“Aa, kenapa bicara seperti itu? Aa... Allah itu sudah mempertemukan dan mempersatukan kita dalam hubungan yang sakral. Dan apapun yang kita hadapi dalam biduk rumahtangga harus kita hadapi bersama. Jangan bicara seperti itu lagi deh.” Aletha merajuk, ia mengerucut kan bibirnya.


“Jangan marah begitu dong, Neng! Aa jiga tidak bermaksud seperti itu, hanya saja... Aa sering meninggalkan Neng dan Alina.” Keenan menangkup wajah Aletha.


Aletha seketika memberikan pelukan untuk Keenan. Ia pun menyadari kesalahannya dalam memahami setiap kata yang dimaksud Keenan.


“Sudah ah, Neng tidak mau bahas hal seperti ini lagi. Katanya mau buat bahagia Neng, kok malah bahasnya begituan.”


Keenan terkekeh, ia menyadari bahwa Aletha bukanlah sepenuhnya wanita yang berhati tegar, bukanlah wanita yang selalu pemberani dalam mengatasi masalah dan bukan pula wanita yang selalu berpikir dewasa bahkan memiliki sikap bijak.


‘Kamu... wanita berharga bagaikan sebuah permata yang hati aku jaga. Sekuat apapun hatimu tetapi... kamu tetap saja wanita yang pernah rapuh akan hatinya, Al.’


Keenan mengusap kembali puncak kepala Aletha, membuat terciptanya kenyamanan sampai tidak terasa jika sudah empat jam telah berlalu. Tepat pukul sembilan malam Aletha dan Keenan sampai di Jembatan Faidherbe.


Jembatan Faidherbe adalah jembatan jalan di atas Sungai Senegal yang menghubungkan pulau kota Saint-Louis di Senegal ke daratan Afrika dan memiliki dek logam panjang 507,35 M total girder yang terpaku.


Malam itu terlihat banyak kemerlip cahaya lampu yang terlihat dengan jarak yang cukup jauh. Sehingga menampilkan keindahan yang sangat menakjubkan, patut untuk berswafoto di sana di siang hati maupun malam hari.


“Neng, di atas Jembatan ini Aa ingin mengatakan sesuatu kepada Neng.” Keenan menggenggam kedua tangan Aletha.


Keduanya saling bertatapan, saling mengunci satu sama lain yang sulit untuk dipalingkan.


“Apa itu, Aa? Katakanlah!”


“Perlu Neng tahu, di hati Aa hanya ada nama Neng samata. Di dalam pikiran Aa hanya ada Neng dan cara bagaimana agar Aa bisa membahagiakan Neng dan juga Alina. Dan bahkan dalam pelupuk mata Aa hanya ada bayangan kalian, meskipun terkadang hubungan kita terus berjarak. Dan hal itu semata Aa lakukan hanya karena Kalian.” Keenan mengecup punggung tangan Aletha.


“Neng percaya akan hal itu, Aa. Aa juga sudah membuktikan hal itu jauh sebelum Neng tahu siapa Aa sebenarnya. Aa menyimpan rasa itu serapat mungkin, hingga tidak ada yang tahu betapa besarnya cinta itu untuk Neng.”


“Ternyata benar apa kata orang, kebahagiaan seorang istri akan tercipta saat suaminya menjadikan dirinya sebagai satu-satunya ratu dalam hidupnya.”


“Neng sangat berterimakasih karena Aa mampu mempertahankan cinta itu meskipun harus mengalami sakit hati terlebih dahulu. Dan karena itulah, Neng percaya bahwa Aa mampu menjaga cinta itu sampai nanti.”


Aletha merengkuh tubuh Keenan, ia masuk ke dalam hangatnya sebuah pelukan. Di atas Jembatan Faidherbe keduanya saling mengungkapkan rasa dalam hangatnya pelukan. Sehingga tidak merasakan angin yang berhembus, membuat dinginnya malam. meskipun sejenak.


Saat Keenan dan Aletha masih menimbulkan. ati suasana romantis saat berada di tengah kemerlip cahaya lampu tiba-tiba saja ponsel Aletha berdering.


‘Ada yang datang di saat yang tidak tepat.’ umpat Keenan dalam hati.


Ingat ya... hanya di dalam hati. Sabar saja Keenan, pasti malam penuh hasrat akan datang jika sudah tiba waktunya. Wkwkwk

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2