
“Jangan biarkan cinta itu pergi begitu saja. Akan tetapi... jangan pula membiarkan cinta masuk dengan mudahnya. Istilahnya... tarik ulur, agar kita bisa tahu seberapa besar cinta itu mampu bertahan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah usai membersihkan tubuh mereka masing-masing acara liburan dilanjut dengan makan siang bersama serambi menikmati ombak yang riuh. Suasana pantai yang menyejukkan membuat meraka semakin menikmati suasana pantai Carita. Dan kebanyakan keluarga yang berkunjung tidak akan merasa merugi, meskipun terkadang masih di penuhi dengan sampah di pesisir pantai.
Tepat pukul dua belas siang Rania bersiap-siap ke markas yang akan di antar oleh Bagas Kara, Mama Nina, Bu Laila, Aletha serta pasukan berani mati.
“Rania, selama di sana kamu harus menjaga diri dengan baik. Jangan sampai terluka, jika ada apa-apa segera hubungi pasukan lain atau... kamu bisa hubungi Papa.” Aletha menghampiri Rania yang masih berkemas.
“Siap, kak Aletha! Kak Aletha jiga jaga diri dengan baik di sini, Rania titip Ibu.” Air mata telah menggenang di pelupuk mata Rania.
“Kamu tenang saja, Ibu akan aman bersama Kakak. Ya sudah, ayo berangkat!”
Rania mengangguk, ransel besar pun sudah siap menempep di pundaknya. Satu mobil ferrari milik Bagas Gara sudah penuh dengan Mama Nina, Bu Laila dan Rania. Sedangkan pasukan berani mati dan juga Aletha mengendari mobil TNI yang memiliki khas warna hijau.
Kedua mobil itu melaju dengan kecepatan sedang dan siang itu kondisi jalan raya nampak ramai. Bahkan kedua mobil yang dikendatai Bagas Kara dan Keenan terjebak macet saat berada di lampu merah. Sehingga mereka harus sedikit terlambat untuk sampai di markas.
Dan setelah melakukan kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai. Rania di sambut oleh kedua teman yang akan bertugas dengannya di Kalimantan Timur nanti.
“Ingat Nak, Ibu akan selalu mendoakan kamu. Kamu baik-baik di sana ya, Nak!” ucap Bu Laila saat Rania menyalaminya.
“Iya, Bu. Ibu hati-hati di rumah. Rania pamit dulu, mengejar mimpi Rania.” Rania melayangkan pelukan kepada Bu Laila.
Dalam pelukan itu ada tangis haru yang bercampur dengan tangis kebahagiaan. Rania dan Bu Laila harus berpisah selama satu tahun demi memenuhi tugas negara yang tidak bisa ditolak meskipun di dalam hati enggan untuk berpisah dengan ibu tercinta. Dan menjadi seorang prajurit sejati adalah suatu impian seorang Rania. Sehingga bagaimana pun juga Bu Laila harus siap akan hal semacam ini, perpisahan untuk melindungi bumi pertiwi.
Setelah Rania melerai pelukannya, ia pun beralih ke Mama Nina lalu berlanjut ke Bagas Kara. Dan saat menyalami Bagas Kara, Rania mendapatkan pesan yang membuat Rania harus berpikir ulang.
“Papa... terimakasih karena sudah memberikan Rania kesempatan akan hal ini. Rania akan berusaha untuk tidak mengecawakan Papa Bagas Kara.” Rania menyunggingkan senyum.
“Bagus kalau kamu sudah mengerti sebagaimana Papa memepecayakan semua ini kepadamu. Lakukan tugas ini sebaik mungkin, karena kesempatan tidak akan datang dua kali.”
“Baik, Pa.” Rania mengangguk.
“Rania, Papa punya pesan untukmu. Jangan biarkan cinta itu pergi begitu saja. Akan tetapi... jangan pula membiarkan cinta masuk dengan mudahnya. Istilahnya... tarik ulur, agar kita bisa tahu seberapa besar cinta itu mampu bertahan.”
“Papa rasa... Bian itu juga anak yang baik. Tidak salahnya jiga jika kalian berdua berta'aruf.”
Rania tersenyum, ia pun mengangguk dan mengerti apa yang di maksud oleh Bagas Kara. Setelah mengalami semua orang Rania pun masuk ke dalam helikopter bersama dua temannya. Dan tidak lama kemudian helikopter mengudara, lambaian tangan melambangkan perpisahan sudah di mulai.
__ADS_1
“Neng, bagaimana kalau kita ngomong sama Papa tentang... liburan kedua kita.”
“Harus sekarang ya, Aa? Kan, baru liburan juga.”
‘Haduh gusti... kenapa punya istri kok tidak peka amat sih.’
“Ya harus direncanakan mulai sekarang dong, Neng. Kalau tidak nanti akan... gagal.” Keenan berusaha membujuk Aletha dengan merayunya.
Aletha membulatkan bola matanya ke atas, menimang kembali apa yang dikatakan Keenan. Mengingat kata gagal yang diucapkan Keenan tadi, seketika Aletha mengerti. Hingga akhirnya Aletha mengangguk, mengiyakan ajakan Keenan yang mulai merencanakan liburan kedua.
Seluruh anggota keluarga Aletha dan juga pasukan berani mati masih berkumpul lagi di kediaman Aletha. Bahkan acara makan kembali digelar setelah mereka semua menunaikan sholat maghrib berjama'ah di Masjid yang tidak jauh dari rumah Aletha, kecuali kaum wanita yang tetap tinggal di rumah untuk menyiapkan makan malam.
Menu yang dihidangkan pun berbeda dengan saat di pantai tadi. Kali ini ada ayam iga bakar, sayur asem dan juga opor ayam. Menu kesukaan Bagas Kara.
Semua mengambil duduk dan segera mengambil nasi serta lauk sesuai dengan selera masing-masing. Sebagai istri yang baik Aletha mengambilkan makanan untuk Keenan. Dan seperti biasa, sebelum memasukan satu sendok makanan ke dalam mulut Keenan selalu membaca doa dengan menengadah kan kedua tangannya, sedangkan Aletha hanya ikut mengaminkan saja.
Acara dilanjut dengan bersantai, para tetua bermain dengan para cucu mereka kecuali Larisa, karena ia merasa sudah besar sehingga ia memilih kegiatan lain dibandingkan berkumpul dengan kakak dan neneknya. Sedangkan pasukan berani mati termasuk Keenan mereka memiliki kegiatan lain begitu pula dengan Aletha, Laura, Luna dan Juan.
Aletha, Laura, Luna dan Juan memilih topik pembicaraan mereka yang melingkup tentang pasien, rumah sakit dan bidang keahlian mereka masing-masing.
“Al, bagaimana perasaan kamu setelah tahu Tara menjadi direkturnya?” tanya Juan.
“Biasa saja sih, Kak. Tapi anehnya... Dia minta balikan pas Aa Keenan belum ketemu kemaren.” Aletha sedikit menurunkan volume bicaranya saat mengucapkan hal itu.
‘Punya kakak kok mulutnya keras banget, kaya corong saja.’ Umpat Aletha dalam hati.
Juan yang merasa tak enak hati kepada Keenan seketika ia mengalihkan Luna dengan mengganti topik pembicaraan lain agar tidak mengundang curiga.
“Sayang... kita ada tugas loh dari rumah sakit. Ingat sama Ibu yang hamil besar kemaren? Ibu... Jaenab, bukannya besok harus menjalani operasi caesar, kan? Ayo kita rundingkan saja masalah ini di tempat lain.” Juan menarik lengan Luna dan pergi menjauh.
Luna yang tidak mengerti perkataan Juan, ia hanya menurut saja meskipun wajahnya nampak bingung. Sedangkan Aletha dan Laura mereka mengganti topik dengan membicarakan masalah seorang pasien yang saat ini lasih ditangani oleh Aletha.
Setelah semua sudah kembali ke kamar masing-masing kecuali, Bagas Kara dan Mama Nina, barulah saat itu juga Keenan dan Aletha memeberanikan diri mengungkapkan keinginan mereka yang hendak berlibur ke Mauritania, tepatnya di Jembatan Faidherbe.
“Pa... Ma..., bolehkah kita berdua bicara sebentar?” tanya Keenan sesopan mungkin.
“Kalian mau bicara apa? Katakan saja!”
“Mohon ijin, Keenan ingin mengajak Aletha berlibur ke Mauritania lagi. Kami hanya... ingin mengenang saja tempat itu, karena di sana lah kami dipertemukan kembali dalam keadaan sehat.”
__ADS_1
Seketika Bagas Kara dan Mama Nina saling tatap, mereka merasa merasa heran mengapa begitu dadakan. Sedangkan Bagas Kara juga belum memberikan jadwal cuti kepada Keenan.
“Kapan kalian akan merencanakan itu? Karena Papa harus memberikan jadwal cuti Keenan lagi, sedangkan sabtu besok Keenan dan yang lainnya harus kembali bertugas seperti biasanya.” Terang Bagas Kara sembari menatap Aletha dan Keenan bergantian.
“Kami belum merencanakan kapan akan berangkat, Pa. Kemungkinan minggu ini juga, itupun jiga cuma dua hari saja. Jadi, Papa tidak perlu membuat surat cuti lagi untuk Aa Keenan. Lagipula hari ini masih hari senin, masih ada waktu sampai hari sabtu,” sambung Aletha.
Bagas Kara dan Mama Nina menyetujui rencana Kesnan dan Aletha, karena bagi mereka kebahagiaan Aletha itu penting. Dan mereka jiga tidak mau jika Aletha kembali bersedih saat jauh dari Keenan, sebagai orang tua yang pernah muda LDR itu... berat. Sehingga Bagas Kara langsung mengiyakan rencana itu.
Tepat di hari Rabu pukul delapan pagi Keenan meminta Bian dan Naina untuk menemani Bu Laila selama dua hari ke depan, hari Kamis dan Jumat. Pada hari Sabtu nya Keenan dan Aletha harus segera kembali untuk menjalankan tugas masing-masing.
“Neng, sudah siap?” tanya Keenan memastikan.
“Sudah, Aa. Neng juga sudah ijin sama kak Ilham. Sekarang tinggal menunggu helikopter Presiden Arab datang.” Aletha melingkarkan lengannya di tangan Keenan.
Sejenak keduanya saling pandang dan juga saling lempar senyum. Dan sebelum berangkat Aletha maupun Keenan mencium pipi bakpao Alina yang semakin hari semakin bertambah gendut, membuat Aletha dan Keenan semakin gemas saja.
Tidak lma kemudian suara deru helikopter telah terdengar, Aletha dan Keenan bersiap untuk menyambut kedatangan asisten Presiden yang akan mengantar mereka ke Mauritania.
“Kapten, Dokter Aletha, lama tidak berjumpa. Apa kabar kalian?”
“Kami sangat baik. Dan saya berterimakasih karena Anda masih mengingat kartu yang sudah Anda berikan kepada saya. Sehingga saya bisa mengajak istri saya pergi ke Mauritania lagi tanpa mengeluarkan banyak biaya.”
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Mauritania, helikopter pun mendarat di Bandara Internasional Nouadhibou, sesuai dengan jadwal yang sudah di atur oleh pihak Mauritania.
“Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.” Keenan menyalami Mr. Harahap dan Aku hanya menangkuokan tangannya di dada untuk menghormati Mr. Harahap.
”Sama-sama, Kapten... Dokter Aletha, sampai jumpa kembali!”
Setelah Mr. Harahap pergi dengan helikopter nya, Keenan dan Aletha seketika menuju ke Port de Pache, tempat yang menjadi tujuan utama mereka setiba di sana.
Keenan dan Aletha berjalan menyusuri pantai di Neuakchott, lalu mereka menghentikan langkah mereka di tengah-tengah pirogue.
Saat menatap ke lautan yang luas tiba-tiba Aletha menitihkan air mata. Aletha mengingat dengan benar saat ia menyatakan perasaannya kepada Keenan. Andai saja Allah tidak memepetemukannya kembali dengan Keenan kalau itu, maka entah siapa yang akan dijadikan tambatan hatinya saat ini.
“Neng, kenapa menangis?” tanya Keenan sedikit khawatir.
“Neng... menangis bahagia, Aa. Malam itu Neng bisa melihat Aa seutuhnya, bukan Aa yang selalu berpura-pura acuh sama Neng. Tapi Neng melihat Aa yang menyimpan sejuta cinta untuk Neng dengan setia.”
“Aa bersyukur Neng, doa Aa benar-benar di jabah sama Allah saat itu. Dan akhirnya kita pun bisa bersatu dalam ikatan cinta, hal yang selalu Aa jadikan impian terbesar Aa selama Aa masih hidup.”
__ADS_1
“Neng, tetaplah begini saat Aa tidak ada di samping Neng suatu saat nanti.”
Bersambung...