Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 113 “Pagi Yang Memilukan”


__ADS_3

“Menjadi seorang lelaki itu paling tidak bisa memiliki banyak bakat. Tetapi, jangan sampai bakat itu dibuat untuk menyombongkan diri dari yang lebih rendah. Justru kita yang bisa harus mengajarkan ilmu agar bakat yang kita miliki tak sia-sia.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keenan menghentikan aktivitas olahraga nya, setelah itu menghampiri Aletha yang berada di balkon. Di balkon itu Aletha berdiri, karena tidak bisa duduk di lantai selama kurang lebih lima hari sebelum jahitan di perutnya sudah benar-benar mengering.


“Neng, boleh jika Aa bertanya sesuatu kepada Neng?”


“Iya Aa, boleh.” Aletha mengangguk.


“Apa Neng tidak pernah takut menjadi istri seorang abdi negara?”


Pertanyaan itu seketika membuat Aletha menoleh, menatap lekat sepasang mata elang Keenan.


”Rasa takut itu akan hilang dengan seiringnya waktu, karena kita akan merasa terbiasa menghadapi segala ujian apapun jika kita mengingat Allah. Maha Cinta, Maha kasih dan Maha dari segala Maha.”


“Jika Neng merasa takut, mungkin dari awal Neng akan... menolak khitbah yang Aa ajukan. Lagipula ayah Neng itu kan juga abdi negara, kenapa juga Neng harus takut coba?”


Ada hati yang berbunga-bunga saat Aletha mengungkapkan rasa itu...


Mama Nina tidak sengaja mendengar percakapan antara Aletha dengan Keenan saat masuk ke kamar mereka. Tadinya Mama Nina hanya ingin meminta Aletha untuk menemani Atalaric di kamarnya. Karena Luna dan Juan sudah berangkat ke rumah sakit sejak pukul enam pagi. Begitu pula dengan Larisa yang sudah berangkat sekolah, karena pagi itu Larisa ada jadwal cheerleader. Dan tidak mungkin juga meminta Laura untuk menjaganya, akan membuat sulit Laura saat naik tangga dengan kursi roda nya.


“Kalau seperti ini, Mama merasa sedikit lega. Kamu sudah mendewasakan dirimu dan mengkikis sedikit demi sedikit rasa trauma akan kehilangan. Dan Mama akan memberikan waktu untuk kalian bersama.” Mama Nina mengalah pergi dan mengurungkan niatnya untuk meminta Aletha menjaga Atalaric.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Terimakasih, karena Neng sudah mau menjadi istri Aa. Bahkan Neng sudah menghadirkan buah cinta kita dalam kehidupan Aa.” Keenan mengecup kening Aletha dengan lembut.


“Sama-sama Aa, Neng juga berterimakasih karena Aa berusaha menjaga hati selama tujuh belas tahun lalu. Dan kini hati Aa seutuhnya milik Neng, tidak ada wanita lain yang bisa masuk ke dalam sana. Begitu juga di hati Neng, tidak ada lelaki lain kecuali Aa.” Aletha mengusap dada Keenan.


“Ya sudah gih, mandi sana terus di makan panekuk buatan Neng khusus untuk Aa.” Aletha mengulas senyum.


“Baiklah, Aa mandi dulu. Atau... kita mandi bersama saja?”


Aletha seketika mencubit perut Keenan, hingga Keenan mengaduh kesakitan. Dan setelah mendapatkan cubitan itu Keenan pun mengalah masuk ke kamar mandi sendiri.


Hukuman untuk Keenan yang brotak mesuk di pagi hari. Wkwkwk


Aletha menyiapkan seragam Keenan yang harus dipakai pada hari itu. Begitu juga dengan pakaian yang akan dipakai olehnya hari itu, menyambut sang buah hati yang sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan di ruang inkubator.


“Neng, tidak mandi sekalian?” tanya Keenan.


“Nanti saja Aa, Neng perlu siapin keperluan untuk menjemput Alina.”


“Lebih baik mandi sekarang saja, Neng. Mumpung Aa masih basah-basahan.” Keenan mengenakan handuknya.


Mendengar ucapan Keenan seketika Aletha menghentikan aktivitasnya yang sedang menyiapkan jarit untuk menggendong Alina nanti. Lalu menoleh ke arah Keenan dengan tatapan tajam.


“Aa, jangan mulai mesum lagi deh. Mau dicubit lagi apa, hmm?”


Keenan terkekeh geli melihat ekspresi yang diberikan Aletha pagi itu. Keenan berkeinginan berduaan terus dalam setiap momen, tetapi ia harus menerima kenyataan jika ada yang lebih diutamakan ketimbang dirinya, Alina sang buah hatinya.


‘Pagi yang memilukan. Sabar Ke, pasti ada waktunya untuk ... melakukan aksimu.’ Gumam Keenan dengan senyum smirk nya.


Setelah usai menyiapkan perlengkapan Alina, Aletha mandi sebentar agar terlihat segar dan wangi. Tidak mungkin jika ia pergi ke rumah sakit tanpa mandi terlebih dahulu.


“Neng, perlu bantuan Aa tidak? Aa siap bantu kok.” Keenan berdiri di depan pintu kamar mandi.


“Tidak Aa, Neng bisa sendiri kok. Neng tahu harus bagaimana, kan Neng dokter.”


Keenan manggut-manggut, ia lupa jika istrinya adalah seorang dokter. Dokter ahli dalam membedah jantungnya ketika berdebar tak karuan saat bertempur di atas ranjang. Wkwkwk


Keenan terlalu lebay deh.


Pagi itu Aletha mengenakan gamis dan jilbab yang menjuntai menutupi hingga dadanya. Karena masih dalam masa cuti, Aletha memutuskan untuk mengenakan gamis saja ke rumah sakit menjemput Alina.


“Aa... tidak bisakah ikut ke rumah sakit?”


“Maaf Neng, Aa harus melakukan apel pagi. Ini sudah hampir pukul tujuh loh. Jika Aa telat Aa bisa kena hukuman. Malu kan, kalau Kaptennya kena hukum, jadi tidak keren lagi.” Keenan senyum pepsodent.


Aletha mendengus kesal, ada rasa kecewa di hatinya. Saat ia pulang dari rumah Keenan juga sibuk latihan fisik di hutan. Dan ketika Alina oulang dari rumah sakit, Keena juga tidak bisa ikut menjemput karena harus melakukan apel pagi. Akan tetapi, Aletha berusaha sabar mengingat ia sudah tidak lagi remaja. Sudah saatnya ia harus mendewasakan diri menerima segala resiko jika suaminya adalah seorang abdi negara.


“Baiklah, tak apa jika Aa tidak bisa ikut. Tapi nanti usahakan pulang cepat ya!”


“InsyaAllah, Aa akan usahakan pulang cepat jika tidak ada misi dadakan.” Keenan mengecup kening Aletha.


Aletha berbalik menyalami tangan Keenan sebelum Keenan berangkat ke batalyon. Dan di lantai bawah sudah ada Garda yang menunggu Keenan.


“Woi... sudah pukul tujuh woi... bisa telat kita nanti.” Garda yang sudah khawatir dengan hukuman yang melelahkan, ia pun berteriak memanggil Keenan dari bawah.


Dengan segera Keenan dan Aletha menuruni anak tangga. Terlihat ada Garda tengah bersama Laura di teras depan menanti kedatangan mereka.


“Akhirnya keluar juga. Ingat tuh hukuman jika telat.” Umpat Garda.


“Memangnya hukumannya apa sih Kak kalau terlambat?” tanya Laura.


“Lari seratus kali dan pushup seratus kali.” Garda menatap Keenan dengan tajam.


“Hah, banyak sekali. Bisa pingsan ditempat itu kalau kena hukuman sebanyak itu. Lagian, siapa sih yang buat hukuman seperti itu? Tidak berperikemanusiaan sama sekali.” Aletha ikut merasa kesal dengan hukuman yang sudah dibuat suaminya sendiri.

__ADS_1


Keenan yang mendengar ucapan Aletha dengan kesal seketika hati Keenan menciut. Ia meraba dadanya saat Aletha mengatakan bahwa tidak berperikemanusiaan orang yang sudah membuat peraturan seperti itu. Sedangkan yang membuatnya tak lain adalah Keenan sendiri.


Tuh kan Ke, istrinya saja marah. Apalagi bawahanmu, kesel tuh si Garda.


“E... iya tuh, tidak berperikemanusiaan banget yang buat. Ya sudah Neng, Aa berangkat dulu takut telat nanti.”


“Panekuk nya tadi sudah dibawa kan, Aa?”


Keenan mengangguk, setelah itu Garda siap menginjak pedal gas dan melajukan motor trailnya menuju ke batalyon untuk apel pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


”Ra, dimana Ravva? Apa masih tidur?”


“Ravva sudah bangun kok, Al. Tuh ada di kamar Atalaric bersama Mama Nina.”


“Emm, bagaimana kalau kita sarapan panekuk buatan aku di teras samping?”


“Boleh juga.” Laura manggut-manggut.


“Ya sudah, aku ambil dulu panekuk nya ya sekalian aku buatin kamu teh.” Aletha berjalan ke dapur.


Laura mendorong kursi roda nya ke teras samping sedangkan Aletha pergi ke dapur untuk mengambil panekuk yang dibuat tadi pagi bersama Mama Nina, sekaligus membuat secangkir teh hangat untuk Laura dan secangkir kopi hangat untuknya sendiri.


”Bisa dicoba, Ra.” Aletha meletakkan panekuk yang di wadahi dalam piring di atas meja.


“Aku coba ya!”


Satu gigitan...


Laura mengunyah dengan pelan, merasakan gigitan pertama panekuk buatan Aletha.


“Enak kok, Al. Kapan kamu buatnya?”


“Alhamdulillah kalau enak. Tadi pagi buatnya sih, dadakan. Itupun hanya membantu Mama Nina saja, dan tanpa arahan dari Mama Nina juga tidak bisa.” Aletha nyengir.


Keduanya mengobrol ringan sambil makan panekuk sampai habis. Dan mereka merasakan kembali masa saat di Amerika, berjuang dengan penuh kesederhanaan saat menimba ilmu yang lebih tinggi di sana.


“Ya sudah Ra, aku bersiap-siap dulu ya ke rumah sakit. Kak Juan sudah menunggu di depan.”


“Iya, Al.” Laura mengangguk. “Hati-hati!”


“Iya, assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumsalam.


Aletha dan Mama Nina menuju ke depan yang sudah ditunggu Juan di sana. Dan Laura mendorong kursi rodanya ke ruang tengah, karena di sana ada bik Ratih yang sedang menjaga Atalaric dan Ravva.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keenan hanya diam saja, dan mau tidak mau harus menjalankan hukuman yang sudah dibuatnya sendiri. Keenan dan Garda berlari mengelilingi lapangan sampai seratus putaran. Setelah itu dilanjut lagi dengan push up seratus kali. Membuat pagi itu melelahkan sekaligus mengeluarkan banyak keringat di punggung dan juga di pelipis mereka.


“Bagaimana, Kapten? Kesan dan pesan mu pagi ini setelah menjalankan hukuman yang kamu buat itu?”


“Ha... Ha... Ha...”


“Aku lelah, Garda. Sungguh... pagi yang memilukan untuk hari ini. Dan aku rasa... aku harus mengubah peraturannya.” Keena sesekali mengusap keringat yang mengucur di pelipisnya.


Di dalam hati Garda merasa senang, puas sendiri jika Keenan mengalami hukuman itu. Dan Garda juga membenarkan apa yang dikatakan Aletha, tidak berperikemanusiaan. Akan tetapi, akan merasa malu jika Keenan merubah peraturan itu secara terang-terangan di depan yang lainnya. Bisa hancur nama baiknya sebagai pasukan berani mati.


“Kita beruntung memiliki Kapten seperti Kapten Keenan dan juga Lettu Garda. Meskipun mereka atasan kita, tetapi mereka mematuhi peraturan yang dibuat Kapten Keenan. Mereka atasan yang mengutamakan kedisiplinan.” Prajurit yang lain berdecak kagum saat melihat Keenan dan Garda berlari di lapangan.


Setelah melakukan hukuman kini Keenan melakukan panggilan video dangan Aletha, sekedar ingin tahu tentang Alina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa tidur bersama ya sayang. Sini, minum dulu pasti haus sudah melakukan perjalanan jauh.” Aletha menggendong Alina.


Aletha duduk di bibir kasur, lalu memberikan asi ekslusif untuk Alina. Dan setelah merasa kenyang Aletha merebahkan Alina di atas kasur. Tidak lama kemudian ponselnya pun berdering ada panggilan masuk dari Keenan.


“Assalamu'alaikum, Neng.”


“Wa'alaikumsalam, Aa.”


“Di mana Alina, Neng? Apa sedang tidur Dia?”


“E... tidak kok, Aa...” Aletha menggantungkan ucapannya ke udara.


“Al, Alina aku bawa ke depan ya! Sesi pemotretan itu perlu banget.” Maya menggendong Alina ke depan.


Aletha mengarahkan kameranya ke arah Maya, Larisa, Luna dan Laura yang tengah menggantikan baju Alina sampai beberapa kali. Karena banyak kado dari mereka dan juga beberapa dari kerabat Juan serta yang lainnya. Dan bagi aunty Alina perlu dicoba oleh Alina yang wajib diabadikan untuk dijadikan kenangan.


“Neng, kasihan Alina nya itu loh. Pasti Dia sudah merasa capek, Alina bukan model.” Keenan merasa tidak terima.


“Sebentar lagi Kak, lagian masih banyak juga itu yang belum dicoba.” Laura mengudarakan suaranya.


Karena merasa tidak terima Keenan memutuskan panggilannya dengan segera dan tak lupa mengucap salam sebagai akhir percakapannya dengan Aletha, setelah itu meluncur pulang.


“Assalamu'alaikum,” ucap Keenan.

__ADS_1


“Wa'alaikumsalam,” jawab semua yang ada di dalam secara serempak.


Dan ketika sudah memasuki rumah Keenan segera mengambil alih Alina ke dalam gendongannya. Lalu membawanya ke kamar dan menutup pintu nya dengan rapat. Dan itu membuat aunty Alina merasa kesal, belum merasa puas berswafoto dengan Alina malah Keenan mengambilnya begitu saja. Sehingga mereka pun bubar dari kediaman Bagas Kara dan pulang ke rumah masing-masing.


“Neng, jangan lupa kunci pintunya. Alina perlu istirahat.” Keenan tetap fokus ke Alina.


“Iya, Aa. Tapi, Aa harus mandi dulu! Bau badannya menyengat itu Aa, bisa pingsan nanti Alina nya.”


“Ha... Ha... Ha...” Keenan tertawa, ia lupa jika tadi menjalani hukuman yang mengakibatkan keringat megucur di seluruh tubuhnya.


“Mau tidak Aa peluk sebentar? Berbagi keringat.” Keenan nyengir.


“Isshh... Cepat mandi sana gih, Aa!”


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Keenan membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Setelah itu ia segera mengganti bajunya dengan pakaian biasa, bukan seragam tentara lagi. Melainkan baju koko dan sarung serta peci, karena sebentar lagi memasuki sholat dzuhur. Namun sebelum itu, Keenan kembali menggendong Alina karena Alina juga belum tidur siang itu.


“Nah, sekarang Abi sudah bersih cantik. Mau digendong lagi ya sama Abi, iya ya! Dari tadi nungguin begitu kan,” celoteh Keenan ala ke bapak an.


Aletha hanya geleng-geleng kepala melihat Keenan yang memiliki jiwa seorang ayah yang bisa memimpin dan memberikan panutan baik untuk anaknya kelak.


“Abi bacakan sholawat dulu ya!”


“Alloohumma sholi sholaatan kaamilatan wasallim salaaman taamman 'alaa sayyidina muhammadinil ladzii tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurobu wa tuqdhoo bihil hawaa-iju


Wa tunaalu bihir-roghoo-ibu wa husnul khowaatimi wa yustasqol ghomaamu bi wajhihil kariimi wa 'alaa aalihii wa shohbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi 'adadi kulli ma'luumin laka.”


Terdengar begitu merdu suara Keenan yang tidak pernah diketahui oleh Aletha. Membuat hati Aletha terenyuh dan merasa damai saat lantunan sholawat nariyah telah didendangkan. Bahkan air mata Aletha ikut menetes, tak pernah ia sedamai itu.


‘Ya Allah, betapa beruntungnya aku mendapatkan suami yang sholeh, selalu mengingat tentang-MU dan Nabi-MU, Muhammad SAW. Sedangkan aku sebagai istrinya saja belum sempurna dalam mengingat-MU. Ampunilah aku Ya Allah, Tuhanku.’


Tiada hentinya Aletha memandangi setiap gerakan Keenan yang tengah menggendong Alina seraya menggoyangkan nya pelan agar Alina segera tidur. Dan tepat saat suara adzan dzuhur telah dikumandangkan Alina sudah tertidur dengan pulas.


“Sini Aa, Alina rebahkan saja di kasur. Setelah itu Aa bisa sholat dulu.” Aletha menepuk pelan muka kasur.


Sesuai dengan intruksi Aletha, Keenan merebahkan Alina di atas kasur dan setelah itu Keenan berpamitan hendak pergi ke masjid menunaikan sholat dzuhur berjamaah. Dan di bawah sudah ada Garda yang menanti, dua lelaki itupun berangkat dengan berjalan kaki, karena pahalanya akan lebih besar dalam setiap langkah. Lagipula masjid nya pun juga tidak terlalu jauh, hanya seratus meter saja. Dan bagi seorang tentara jalan segitu tidak terlalu melelahkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mama Nina, Luna dan Laura menyiapkan masakan di dapur untuk dihidangkan saat makan siang nanti. Sedangkan Larisa jelas ia menemani Ravva, karena merasa lelah sehabis cheerleader Larisa lebih memilih menemani Ravva yang sudah berusia tiga tahun. Bagi Larisa itu lebih mudah untuk dijaga daripada adiknya yang belum genap satu tahun.


“Apa perlu dibantu?” tanya Aletha yang baru datang.


“Ah tidak kok, Al. Ini juga sudah selesai masaknya, tinggal menata saja di meja.”


“Oh, baiklah. Kalau begitu Aletha yang menatanya saja. Mumpung Akina sedang tidur pules.”


Ketiga wanita yang ada di sana mengangguk bersamaan, dengan segala kekompakan yang mereka tanamkan terbentuklah keluarga yang selalu rukun dan saling peduli satu sama lain.


Makan siang telah dihidangkan, tidak lama kemudian Garda dan Keenan pulang dan seketika menuju ke kamar. Dan sesampai di kamar Keenan mendapati Alina terbangun dan menangis, hingga membuat Aletha sedikit mempercepat langkahnya agar segera sampai di kamar.


“Kok suara tangisnya diam? Apa sudah tenang kali ya?”


Dengan pelan Aletha membuka pintu, ternyata Keenan lah yang menenangkan Alina dalam gendongannya. Dan kembali Keenan mendendangkan sholawat nariyah kepada Alina.


“Aa... ternyata pandai juga menenangkan Alina ya!”


Suara Aletha mengagetkan Keenan, dan seketika Keenan menoleh ke arahnya dengan senyuman yang menggoda. Membuat Aletha semakin tertarik untuk mendekat dan menyalami tangan Keenan.


“InsyaAllah Aa akan mengajarkan ilmu agama yang baik dan pantas untuk Alina, agar saat dewasa nanti Alina bisa menjaga marwahnya. Dan hal lain lagi akan Aa ajarkan, seperti mengaji, melukis, menembak dan... masih banyak hal lagi.”


“Memangnya Aa bisa semua itu? Tapi Neng kok tidak pernah tahu,”


“Menjadi seorang lelaki itu paling tidak bisa memiliki banyak bakat. Tetapi, jangan sampai bakat itu dibuat untuk menyombongkan diri dari yang lebih rendah. Justru kita yang bisa harus mengajarkan ilmu agar bakat yang kita miliki tak sia-sia.”


“Oleh karena itu Aa tidak mau sombong sama Neng, ya... Neng tidak tahu lah. Dan sedangkan Neng sendiri juga memiliki bakat yang terpendam. Seperti... menembak tepat di hati Aa.” Keenan nyengir.


Aletha tertunduk, menyembunyikan pipinya yang tiba-tiba berubah memerah karena malu. Pujian itu begitu mengena di hati Aletha, membuat hati Aletha seketika meleyot.


Acara makan siang tengah digelar, dan semua telah berkumpul meskipun hanya saat makan siang saja. Karena Juan harus kembali ke rumah sakit, sedangkan Bagas Kara, Keenan dan Garda harus kembali ke batalyon. Dan para wanita akan tinggal di rumah menunggu kembali para lelaki pulang saat sore telah tiba.


“Kenapa sehabis makan kok jadi ngantuk begini ya? Mana Alina tidak lepas pula minumnya.” Aletha mulai merebahkan kepalanya.


Dan kantuk pun tidak bisa dikendalikan, hingga Aletha ikut tertidur bersama Alina. Dan begitulah kebanyakan ibu yang tengah menyusui, ikut tidur bersama anak dan seakan rasa kantuk tidak bisa dikendalikan. Begitu juga dengan Luna, ikut tidur saat menyusui Atalaric. Sedangkan Laura, ia masih membacakan dongeng tentang Nabi kepada Ravva sebelum tidur siang. Dan setelah Ravva tertidur, Laura pun ikut tidur. Karena Autoimun terkadang membuat Laura mengalami sindrom putri tidur yang bisa tertidur selama 20 jam.


Dering telfon di ponsel Aletha terus berbunyi, membuat Aletha terpaksa membuka mata dan terbangun. Lalu ia membuka layar slide ponselnya untuk memastikan siapa yang menelpon...?


Bersambung...


*Sholawat Nariyah adalah sholawat yang sering kali didendangkan oleh anak kecil hingga dewasa. Dan sholawat nariyah itu sendiri juga memiliki arti yang sangat bermakna dalam mengingat serta mendoakan Nabi Muhammad SAW berserta keluarga.


Dan jangan lupa bersholawat...


“Alloohumma sholi sholaatan kaamilatan wasallim salaaman taamman 'alaa sayyidina muhammadinil ladzii tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurobu wa tuqdhoo bihil hawaa-iju


Wa tunaalu bihir-roghoo-ibu wa husnul khowaatimi wa yustasqol ghomaamu bi wajhihil kariimi wa 'alaa aalihii wa shohbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi 'adadi kulli ma'luumin laka.”


Artinya:


“Wahai Allah, limpahkanlah rahmat dan salam yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan dilepaskan dari segala kesusahan, tunaikan segala macam hajat, dan tercapai segala macam keinginan dan husnul khotimah. Dicurahkan air hujan (rahmat) dengan berkah pribadinya yang mulia. Semoga rahmat dan salam yang sempurna itu juga tetap tercurah kepada para keluarga dan sahabat beliau, setiap kedipan mata dan hembusan nafas, sebanyak bilangan yang diketahui oleh Engkau.”

__ADS_1


Selamat membaca para readers ku...


Semoga kalian menikmati cerita Lentera Cinta. Salam dari mbak Fia...


__ADS_2