Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 162 “Hari Paling Membahagiakan”


__ADS_3

“Tak ada kalimat lain selain ana uhibbuka fillah... yang aku ucapkan kepadamu sebagai tulang rusuk ku, yang selalu mendampingiku dalam segala kondisi. Susah maupun senang kita akan jalani bersama hingga menua... hingga maut lah yang akan memisahkan kita.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bagas Kara memberikan arahan kepada anggota loreng nya. Setelah baku tembak terjadi dengan amat sangat menyeramkan akhirnya seluruh anggota KKB mampu dilumpuhkan tanpa adanya dendam dalam hati mereka. Karena dendam pun akan percuma, hanya akan membawa mereka ke lubang dosa.


Bagas Kara memerintahkan pasukan loreng untuk kembali ke markas Jakarta. Sedangkan Bagas Kara sendiri akan pergi ke rumah sakit bersama Bian, Bayu, Naina dan Rania.


Hanya sekitar dua jam akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Dengan sedikit berlari mereka menuju ke ruang yang sudah Aletha beritahu melalui saluran BMs yang masih saling terhubung.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam Bagas Kara, Bayu, Bian, Naina dan Rania bersamaan.


“Waalaikumsalam,” jawab dari dalam bersamaan.


Perlahan pintu telah dibuka, terlihat sang prajurit sejati telah masuk dengan seragam yang amat membanggakan bagi mereka.


Wilona secara reflek sedikit berlari dan memberikan pelukan kepada Bayu setelah melihat Bayu selamat dari ancaman bahaya.


“Syukurlah! Penantianku... tidak sia-sia.” Wilona semakin mengeratkan pelukannya.


Bayu yang merasa malu kepada setiap mata yang memandang ke arahnya ingin melerai saat juga pelukan yang dilayangkan Wilona. Namun, Aletha menggeleng, seolah meminta Bayu untuk tidak melakukan hal itu. Bayu pun mengangguk setelah menangkap isyarat dari Aletha.


“Terimakasih, karena kembali dengan selamat.” Ilham menghampiri Naina yang masih di ujung pintu.


“Itu... sudah menjadi tugasku untuk baik-baik saat menjalankan tugas, Kak. Dan itu juga tugasku... sebagai calon tulang rusukmu.” Naina malu-malu saat mengatakan hal itu.


Ilham yang mendengar ucapan Naina seketika mengembangkan senyum, seolah kisah yang akan mereka rajut dalam bahterai rumah tangga segera terwujud. Sikap keduanya membuat semua yang ada di sana ikut bahagia.


Sedangkan Bian, kali ini kisahnya adalah kisah yang paling membahagiakan. Setelah berhasil menjalankan misi rahasia itu Bian selalu menggandeng tangan Rania, bahkan Rania tidak menerima penolakan saat genggaman tangan Bian semakin mengerat.


“Bagaimana keadaan Keenan?” tanya Bagas Kara.


“Alhamdulillah, tinggal menunggu Aa Keenan sadar saja kok, Pa.”


“Syukurlah kalau begitu.” Bagas Kara menatap Keenan yang masih tergeletak di atas brankar dengan wajah putih pekat karena pucat.


“Pa... Aletha mau bicara sebentar sama Papa.”


Baags Kara menautkan alisnya, tetapi ia mengangguk dan mengiyakan ajakan Aletha. Dan setekah berada di luar ruangan, Aletha megambil duduk dan di temani Bagas Kara di sampingnya.


“Aletha mau minta maaf sama Papa karena... Aketha sempat marah sama Papa. Dan... Aketha juga sangat berterimakasih karena Papa sudah mengijinkan Aletha ikut dalam misi ini.” Aletha tertunduk, ia menyembunyikan tangis yang hampir pecah.


“Kamu tidak bersalah dalam hal ini, Aletha. Papa sadar, kebahagianmu ada pada Keenan. Dan Papa akan sangat terluka hatinya jika anak Papa ini kembali merasakan sedih bahkan mengalami trauma akut. Karena Papa tahu, itu akan menyerang mental manusia jika terjadi.”


Aletha yang tidak bisa menahan air matanya segera merengkuh tubuh Bagas Kara dan menangis dalam dekapan sangat ayah. Bagas Kara megusap punggung Aletha dengan sangat pelan tanda seorang ayah yang berusaha untuk menenangkan hati putrinya ketika sedang bersedih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


“Alhamdulillah! Akhirnya Aa sadar juga,” pekik Aletha.


Perlahan kedua mata Keenan mengerjap, tidak lama kemudian Keenan membuka kedua matanya meskipun kesadarannya belum sepenuhnya sempurna.


“Aku... ada di mana? Apa ini yang namanya... surga?” tanya Keenan.


Hanya tembok yang bernuansa putih, bahkan hampir seluruh ruangan itu berwarna putih. Apalagi melihat Aletha di hadapannya bak bidadari membuat Keenan mengira jika ia sudah berada di alam yang berbeda.


“Aa sedang berada di rumah sakit.” Aletha menyunggingkan senyum, semakin membuat Keenan merasa yakin jika ia sudah berada di alam yang berbeda.


“Kamu... bidadari surga yang dikirim kan Allah untuk menemani ku di surga,” ucap Keenan yang semakin melantur.


Keenan mencoba menggerakkan tangannya hendak mengusap pipi mulus Aletha, tetapi ada percikan darah di pipi Aletha.


“Kenapa ada darah?” tanya Keenan.


Aletha meghela nafas panjang sebelum memulai bercerita panjang kepada Keenan. Setelah Keenan sadar jika ia belum meninggal, ia pun tersenyum bahagia. Rasa syukur tak hentinya diucapkan, bahkan bayangan keluarga kecilnya memenuhi pelupuk matanya.


“Neng, bawa Aa kembali pulang. Aa... mau melihat Alina,” pinta Keenan.


“Aa belum bisa pulang saat ini, kita tunggu sampai dokter megijinkan Aa untuk pulang. Okay!”


“Aa tidak butuh dokter di sini, lagipula kalau di rumah nanti kan ada dokter juga. Dokternya cantik dan baik hati pula.” Keenan pun merajuk bak anak kecil.


Dan akhirnya Aletha pun mengalah, ia mencari dokter yang menangani Keenan tadi. Meskipun berat hati dokter itupun mengijinkan Keenan untuk pulang, karena Keenan terus merengek melebihi sikap anak kecil saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua helikopter telah mengudara setelah Bagas Kara meminta pilot untuk melapor kepada pihak ATC.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di Jakarta. Setelah tiba di bandara semua berpisah hendak pulang ke rumah masing-masing.


“Malam ini semua dimohon untuk beristirahat di kediaman masing-masing. Dan besok pada hari rabu para pasukan berani mati untuk datang ke markas. Begitu juga dengan Dokter dari rumah sakit Silakan Hospitals. Di mohon untuk tiba tepat waktu.”


“Baik! Pak.” Semua mengiyakan perintah Bagas Kara.


Karena hari hampir subuh Aletha memutuskan untuk mandi setelah tiba di rumahnya. Sedangkan Keenan ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan wajah yang masih terlihat sangat pucat. Untung saja Aletha dokter, sehingga ia membantu penyembuhan Keenan dengan menancapkan jarum infus di punggung kiri tangan Keenan.


Setelah lima belas menit berada di kamar mandi akhirnya Aletha usai juga melakukan ritualnya. Dan adzan subuh pun sudah dikumandangkan sedari tadi, sepuluh menit sebelum Aletha keluar dari kamar mandi.


Seketika Aletha segera membalut tubuhnya dengan mukena lalu sajadah panjang pun ia bentangkan. Dua rakaat menjelang senja pagi telah ditunaikan dengan khusu'.


“Ya Allah... Ya Rabbi ku, aku kembali mengucap syukur atas apa yang sudah Engaku berikan kepadaku. Terimakasih karena Engkau mengembalikan suamiku dalam hidupku dan mempercayai kami dalam membina rumah tangga yang harmonis.”


Sesudah sholat Aletha merebahkan tubuhnya sejenak di samping Keenan. Karena malam yang melelahkan dan menguras tenaganya ia pun merasa mengantuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Selama dua hari istirahat penuh akhirnya Keenan oin merasa jauh lebih baik, bahkan luka tembaknya sudah mengering dengan sempurna. Dan pagi ini Keenan tengah bersiap untuk segera tiba di markas dengan tepat waktu, karena ia tidak ingin terlambat dan akan terkena hukuman yang sudah dibuatnya sendiri.


“Tak ada kalimat lain selain ana uhibbuka fillah... yang aku ucapkan kepada Neng sebagai tulang rusuk ku, yang selalu mendampingiku dalam segala kondisi. Susah maupun senang kita akan jalani bersama hingga menua... hingga maut lah yang akan memisahkan kita.” Keenan membual di pagi hari saat Aletha membantunya mengancingkan baju seragam yang berwarna hijau tua khas tentara.


“Neng... kok tidak balas?” tanya Keenan sambil manoel pipi Aletha yang memerah.


Aletha menahan rasa malu nya dengan menunduk, meskipun bualan Keenan sangatlah receh dan murahan tetapi itu sudah berhasil membuat Aletha merasa bahagia.


Pagi itu Keenan terlihat begitu gagah saat mengenakan baju seragam khas tentara secara lengkap, begitu juga dengan Aletha yang nampak cantik saat mengenakan baju seragam ibu persit yang warnanya senada dengan baju Keenan. Dan keduanya nampak pasangan yang begitu serasi, membuat orang merasa iri jika memandang mereka. Pasalnya mereka saat ini menjadi pasangan yang hits di kalangan anak muda dan kalangan para tetua.


“Rania, kamu tidak ikut dengan kami saja berangkatnya?”


“Sepertinya tidak, Kak. Nanti... Rania ada yang jemput.” Rania malu-malu saat mengucapkannya.


Tidak lama kemudian orang yang menjemput Rania telah datang. Dengan segara Rania membukakan pintu dan menyambut kedatangan...


“Bian,” pekik Aletha.


Aletha tidak menyangka jika Bian lah yang akan menjemput Rania. Bahkan Aletha, Keenan dan Bu Laila dikejutkan dengan pengajuan yang akan mereka jalani hari itu juga setelah usai acara yang akan dilangsungkan di lapangan Batalyon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua sudah berkumpul, bahkan berbaris di lapangan Batalyon dan di bawah teriknya matahari. Namun itu tidak dipedulikan oleh mereka semua, karena hati itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi seorang Keenan. Karena Keenan telah naik pangkat menjadi Mayor, naik satu pangkat di atas kapten.


Tepuk tangan riuh telah memekakkan telinga semua orang saat Keenan naik ke atas panggung dan menerima bet yang menempel di baju seragamnya.


“Selamat! Kapten.” Satu persatu rekan Keenan memberikan pelukan kepadanya sebagai tanda ucapan selamat.


Bukan hanya kenaikan pangkat yang didapatkan Keenan, yang membuat bahagia keluarga Bagas Kara dan sahabat pasukan berani mati. Banyak kabar yang membahagiakan di hari itu.


Bian akan mengajak Rania untuk melakukan pengajuan, begitu juga dengan Bayu yang akan melakukan hal sama dengan Wilona, mengajukan pengajuan. Sedangkan Ilham dan Naina akan melangsijgkan pernikahan satu minggu lagi.


Dan hari itu adalah hari paling membahagiakan bagi mereka semua setelah berada di ambang kematian yang hampir saja merenggut nyawa mereka.


Hingga lentera yang dinyalakan dengan kekuatan cinta mampu menebarkan cahayanya ke semua sudut ruangan. Dan membuat ruangan itu memiliki cahaya yang berkilau dengan sempurna.


“Aa... boleh tidak jika, Neng meminta hadiah karena Aa yang sudah naik pangkat?”


“Hadiah apa, Neng?”


“Hadiahnya... es krim yang lumer dengan taburan coklat batang di atasnya.” Aletha nampak membayangkan kelezatan es krim yang meleleh dalam mulut nya nanti.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Keenan memesan es krim itu. Hanya melalui Sofia es krim itu bisa cepat sampai di kediaman Aletha.


Aletha begitu menikmati suasana kebersamaan keluarga kecilnya yang ditemani dengan es krim yang mendamaikan hati. Hanya ada gelak tawa yang menemani mereka di hari paling membahagiakan. Dan itulah kekuatan hati dan semboyan cinta Aletha dengan Keenan, yang selalu mengikat keduanya dalam keadaan apapun. Begitu kentara jika Aletha adalah tulang rusuk Keenan yang akan selalu menguatkan tubuh Keenan.


TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2