
Ayunda tersadar dari lamunannya. "Maaf dokter.... maksud saya terima kasih dokter Erick" ucap Ayunda saat dia menyadari dia memanggil dokter Erick dengan panggilan kakak. Panggilan itu seperti sudah sangat melekat dalam ingatannya dan lidahnya sudah sangat terlatih untuk mengucapkannya.
Dokter Erick hanya tersenyum mendengar penjelasan Ayunda. "Sudah terlalu sering kamu menggucapkan terima kasih" ucapnya. "Saya melakukan semuanya karena..." dokter Erick menghentikan ucapannya lalu berjalan mendekati Ayunda.
Ayunda merasa gugup saat Erick mendekatinya, "Perasaan apa ini?" batinnya. Ayunda merasa jantungnya bedetak lebih cepat dan iramanya tidak berarturan begitu jaraknya dan dokter Erick sangat dekat.
"Saya menyayangimu Tiara" bisik dokter Erick ditelingga Ayunda sambil membuka pintu mobil. Ayunda terkejut saat dokter Erick memanggilnya Tiara. Tubuh mereka sangat dekat, Ayunda dapat merasakan punggungnya bersentuhan dengan dada dokter Erick. Dokter Erick seakan memeluknya dari belakang, itu membuat tubuh Ayunda bergetar karena gugup.
"Masuklah, diluar sangat panas" ucap dokter Erick.
Ayunda hanya mengangguk, dia masih sangat gugup untuk mengucapkan kata-kata, dia biasa berdekatan dengan dokter Erick tapi ini sangat berbeda dari biasanya.
Sepanjang jalan Ayunda hanya melihat jalanan yang tidak ada bedanya dengan satu tahun yang lalu. Ayunda mendesah panjang, dia ingat saat terjaga dipagi hari saat itu dia merasakan seseorang membelai rambutnya dan menggenggam tangannya.
"Dokter" ucap Ayunda dengan terkejut saat tahu orang yang melakukan itu adalah dokter Eric.
"Kamu sudah bangun, bagaimana perasaanmu?" tanya dokter Erick tanpa melepasakan genggaman tangannya.
"Jauh lebih baik dok, terimakasih sudah mau merawat saya" jawab Ayunda tulus.
Dokter Erick tersenyum lalu membantu Ayunda duduk, setelah itu dia mengambil gelas yang ada di nakas. "Minumlah, ini air hangat bisa membuat tubuhmu jauh lebih baik" ucapnya sambil menyerahkan gelas pada Ayunda setelah dia membantu posisi duduk Ayunda lebih nyaman.
"Mamamu sedang ke kantin untuk sarapan, dia meminta saya menjagamu disini" jelas dokter Erick.
"Ayo makan!" dokter Erick menyodorkan sendok yang berisi bubur dihadapan Ayunda.
"Saya bisa makan sendiri dok" Ayunda mengambil alih sendok dan mangkuk bubur yang ada di tangan dokter Erick.
"Saya akan memanggil perawat untuk membantumu membersihkan diri"
"Nanti saya akan kembali lagi untuk membatumu berjalan setelah saya memeriksa pasien yang lain" jelas dokter Erick pada Ayunda setelah Ayunda menyelesaikan makannya dan membantu Ayunda minum obat.
Dokter Erick menggenggam kedua tangan Ayunda saat Ayunda turun dari tempat tidur rumah sakit. Satu tahun koma membuat Ayunda sulit berjalan, dengan sabar dokter Erick melatih Ayunda untuk bisa kembali berjalan.
__ADS_1
"Akhh" teriak Ayunda saat dia akan jatuh, dokter Erick dengan cepat menangkap tubuh Ayunda dan memeluknya.
"Dia terlalu baik untukku" batin Ayunda setelah menginggat kebaikan dokter Erick.
"Apa maksud kata-katanya, dia menyayangiku? dia hanya dokter yang merawat pasienya bukan? lalu mengapa dia mengucapkan kata-kata itu" pikir Ayunda sabil terus menatap jalanan. "Saya menyayangimu Tiara" kalimat itu terus bermain dikepalanya.
"Kak Erick.... apakah dokter Erick dan dirimu sama?" tanya Ayunda dalam hatinya.
Pikiran Ayunda tentang dokter Erick terhenti saat dia melihat Kevin yang sedang mengendarai kendaraannya ikut berhenti tepat disamping kendaraan yang dia tumpangi karena lampu lalu lintas berwarna merah, kaca mobil Kevin terbuka penuh sehingga Ayunda dapat melihat jelas wajah yang dulu selalu dirindukannya.
Laki-laki itu tampak murung tidak seperti biasanya "Ada apa dengan dia?" tanya Ayunda dalam pikirannya.
Kevin menatap foto yang ada dilayar depan telepon genggamnya, itu foto mereka berdua saat masih bersama. "Ada apa denganmu? mengapa kamu masih menggunakan foto itu" batin Ayunda yang tidak mengerti dengan sikap Kevin.
"Kevin yang selingkuh dan memilih untuk pergi dariku, lalu mengapa dia harus menugaskan seorang perawat untukku? apa dia menyesal karena dia aku mengalami kecelakaan" pikiran Ayunda penuh dengan pertanyaan untuk Kevin.
Ayunda kembali merasakan hatinya bergetar saat melihat Kevin mencium fotonya, tidak terasa air matanya mengalir ingatanya kembali saat hari-hari bahagianya bersama Kevin.
Kevin selalu menemani Ayunda dimasa-masa sulitnya yang harus kehilangan seorang papa, Kevin mengisi hatinya yang kosong dan memberikan kebahagiaan untuknya. Setiap hari Kevin membawakan Ayunda sarapan yang dia makan saat perjalanan kesekolah di dalam kendaraan Kevin.
Ayunda mengusap airmatanya, dia memandang kepergian Kevin yang melaju lebih cepat dari kendaraan yang dinaikinya.
"Kamu merindukannya?" tanya Mama Mira yang mengejutkan Ayunda.
"Dia selalu menyempatkan datang mengunjungimu disaat pekerjaanya tidak terlalu padat" jelas Mama Mira.
"Kevin mempekerjakan seorang perawat khusus untuk menjaga Yunda, perawat itu yang melihatmu pertama kali sadar" sambung Mama Mira ucapannya.
"Perawat ma?" tanya Ayunda lagi dan mendapat anggukan dari Mama Mira.
"Dia sangat menyayangimu, tanpa dia mama tidak tahu bagaimana saat itu untuk bisa merawatmu" ucap Mama Mira.
"Ma... apa Kevin yang membiayai semua pengobatan Yunda?" tanyanya.
__ADS_1
"Itu hanya beberapa bulan diawal kamu koma, setelah itu mama tidak tahu tiba-tiba rumah sakit tidak meminta bayaran sedikitpun.
Ayunda diam sesaat untuk berpikir, mungkinkah dokter Erick yang meminta rumah sakit untuk mengratiskan pengobatanya? atau ada orang lain yang membiayainya?
"Ma... siapa nama perawat yang merawat Yunda? Yunda ingin berterimakasih padanya saat Ayunda kunjungan kerumah sakit"
"Nama perawat itu Febby" ucap Mama Mira membuat Ayunda kembali teringat dengan perjalanannya selama koma. "Feby" lirihnya.
"Ya Allah.... apa yang terjadi padaku? Hal apa yang ingin kau tunjukkan untukku?" gumamnya pelan yang tidak dapat didengar siapapun.
"Ayo turun" ajak Mama Mira saat mereka sudah sampai.
Mama Mira membantu Ayunda untuk turun sedangkan sopir dokter Erick membantu menurunkan barang-barang milik Ayunda.
Ayunda langsung masuk kekamarnya, tidak ada yang berubah dari kamar ini semua sama seperti satu tahun yang lalu. Fotonya dan Kevin masih menghiasi meja riasnya, mereka tersenyum bahagia saat itu.
"Maaf aku tidak bisa ikut menjemputmu di rumah sakit" suara Alisa mengagetkan Ayunda.
Ayunda membalikkan badanya menghadap Alisa. "Aku tadi ikut rapat dengan bos kita yang baru" jelas Alisa.
"Bos baru?"
"Iya.... Pak Robert telah menyerahkan kepemimpinan perusahaan pada putranya sejak delapan bulan yang lalu" jawab Alisa menjelaskan keadaan perusahaan tempat mereka bekerja sekarang.
"Kapan kamu mau kembali keperusahaan?" tanya Alisa.
"Kembali? apa itu mungkin Sa?"
"Aku sudah lama tidak bekerja, pasti sudah ada yang mengantikan posisiku dan aku"
"Tapi tidak ada yang sebaik dirimu" Alisa langsung memotong ucapan Ayunda. "Aku sudah melaporkan ke perusahaan kalau kamu sudah sadarkan diri dan akan segerah pulih"
"Ini surat dari perusahaan kalau kau tetap jadi karyawan di perusahaan Adhipramana Group" Alisa memberikan surat pemanggilan kembali bekerja untuk Ayunda.
__ADS_1
...********...