
“Inginku seperti bumi, karena hujan akan lebih tertarik kepada bumi ketimbang langit yang setia di dekatnya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arga menggelengkan kepalanya, lalu membalikkan tubuhnya dan kembali melanjutkan langkah tanpa menghiraukan lagi Larisa.
Larisa hanya terpaku, ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Arga. Dan Keenan yang masih berdiri di belakang Larisa hanya menatap punggung Arga yang kian menghilang dan tidak terlihat lagi dalam pandangan Keenan.
‘Ku kira akan sama dengan apa yang aku alami dulu. Tetapi... ternyata berbeda. Dan itu mengundangku ingin mengenal siapa Arga.’ Rasa penasaran telah membuncah dada Keenan.
[Untuk cerita Larisa dengan Arga cukup sampai di sini ya!]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan dengan setia menunggu Aletha tersadar, karena sampai saat itu Aletha masih memejamkan era kedua matanya. Kedua mata yang selalu ingin ditatap oleh Keenan dengan binar mata yang selalu menampakkan kebahagiaan. Sehingga membuat rasa semangat tersendiri bagi Keenan.
“Neng, mau sampai kapan Neng menutup mata rapat-rapat seperti ini? Apa Neng tidak rindu sama Aa?”
Kedua mata elang Keenan membendung air mata yang siap tumoah saat itu juga. Hatinya masih begitu rapuh melihat Aletha yang selalu ceria, penuh canda tawa dan selalu bergelayut manja kepadanya kini hanya bisa berbaring di atas brankar.
Dan mata yang sembab perlahan membuat Keenan merasa mengantuk, hingga ia menyandarkan kepalanya di sisi kanan kasur brankar. Lalu kedua matanya pun terpejam rapat.
“Kak Fajar,” ucap Aletha.
Saaat berada di dunia berbeda Aletha bertemu dengan Fajar, lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya, bahkan membuatnya merasakan trauma besar dalam hal cinta. Akan tetapi saat berada di dalam dunia itu bayangan Fajar semakin menjauh hingga tangan Aletha tidak bisa meraihnya.
Pembaca masih ingat dengan Fajar, kan? Jangan sampai lupa ya!
“Kak Fajar, tunggu aku!” teriak Aletha.
“Kak Fajar...”
“Kak Fajar...”
Bayangan Fajar pun berhenti, lalu bayangan Fajar beebalik dan menatap Aletha. Dua ujung bibir Fajar tertarik hingga menciptakan senyum yang sempurna.
“Tidak, Aletha. Jangan panggil aku dan jangan pernah ikuti aku.”
__ADS_1
“Tapi kenapa, kak?”
“Dunia kita berbeda, Al. Dunia mu bukan di sini ... kembalilah ke dunia mu itu, karena di sana ada suami dan anak mu yang sedang menunggumu untuk kembali.” Fajar mengulas senyum.
Bayangan Fajar kian menghilang membuat Aletha menangis pilu. Dan Aletha merasa bingung hendak melangkah kemana karena semua terlihat begitu gelap, tidak ada cahaya yang menerangi setiap sudutnya.
“Code blue... Code blue...”
Keenan terbangun setelah mendengar kode darurat yang berpusat di ruangan Aletha itu. Di mana kode biru menandakan sebagai kode darurat yang paling di kenal secara universal. Dan Aletha mengalami henti jantung saat terlihat garis di layar monitor telah lurus, sehingga kode biru dengan sendirinya berbunyi.
“Neng, ada apa dengan Neng?” tanya Keenan dengan gurat kekhawatiran.
“Neng, kenapa Neng menangis?”
Keenan melihat air mata keluar dari sudut mata Aletha dan membasahi pelipisnya. Lalu Keenan menghapus air mata itu, tidak lama kemudian tim media pun datang untuk memeriksa kondisi Aletha.
“Ke, tolong keluar sebentar! Biarkan Kakak memeriksanya sebentar.” Luna mendekati Keenan dan meminta Keenan untuk keluar.
“Kenapa saya harus keluar, Kak? Saya mau tunggu di sini saja,”
“Ke, tolong jangan memperlamnat kami. dalam menangani pasien darurat. Jika ku tidak menurut akan semakin lama untuk Kakak menolong Aletha.”
Di luar ruangan itu tiada hentinya Keenan berkomat-kamit melangitkan doa untuk kesembuhan Aletha bahkan Keenan hanya mondar-mandir saja. Dan untuk menenangkan hatinya dari rasa takut yang menyiksa Keenan memutuskan untuk pergi ke mushola rumah sakit. Sedangkan di dalam ruangan itu ada Luna dan tim nya yang terus melakukan kejut jantung untuk mengembalikan detak jantung Aletha.
“Bertahanlah, Al. Kakak mohon sama kamu, jangan tinggalkan kita semua dalam keadaan seperti ini.” Ketingat memgucur di pelipis Luna saat melakukan kejut jantung.
Satu detik...
Dua detik...
Lima detik...
Masih belum ada tanda-tanda jantung Aletha kembali berdetak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Aletha merasa tersesat hanya satu yang ia lantunkan, yaitu nama Allah sebagai Maha yang akan memberikan petunjuk kepada nya. Dan perlahan sinar begitu terang berada di hadapan Aletha. Hingga membuat Aletha merasa silau saat melihat cahaya begitu terang untuk memastikan cahaya apa itu.
__ADS_1
Aletha perlahan mendekati Cahaya itu dan ketika sudah semakin dekat tiba-tiba tubuhnya seakan tertarik dan masuk ke dalam cahaya tersebut.
“Aletha, alhamdulillah!” pekik Luna.
Jantung Aletha kembali berdetak, perlahan kedua matanya mulai terbuka. Lalu untuk menyempurnakan kesadarannya Aletha mengerjapkan kedua matanya dan tembok bernuansa putih mampu dilihat dengan jelas oleh Aletha.
“Aku... aku dimana? Kenapa seperti di rumah sakit?”
“Alhamdulillah, kamu juga sudah sadar, Al. Kakak senang melihatnya!” ucap Luna.
“Perutku! Kenapa perutku sudah kosong? Dimana anakku, kak? Tidak mungkinkan jika aku...”
Aletha meraba perutnya, ia menyadari perutnya sudah rata hingga ia histeris karena takut kehilangan buah hatinya. Bahkan ia juga tidak siap jika akan kehilangan anak pertamanya. Namun, perlahan Luna memberitahukan kepada Aletha jika anaknya memang harus segera dikeluarkan dari rahimnya dan saat ini masih berada di ruang inkubator.
“Apa... Aa Keenan tahu semua ini, Kak?” tanya Aletha khawatir.
“Iya.” Luna mengangguk. “Dia ada di luar, dari kemarin Keenan tidak mau pulang dan selalu setia menunggumu di sini.”
Karena Kuna mengerti kemana arah pertanyaan Aletha, ia pun segera meminta Keenan jika Aletha sedang mencarinya. Tetapi, Keenan tidak ada di sana.
“Sayang, bagaimana dengan Aletha? Dan kamu. sedang mencari siapa?”
“Keenan. Sayang... apa kamu melihat Keenan dimana?”
“Ada apa memangnya? Apa Aletha...” Juan menggantungkan ucapannya ke udara.
Luna yang tahu maksud dari perkataan Juan seketika melayangkan tabokan keras di lengan Juan. Yang membuat Juan seketika mengaduh karena kesakitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ya Allah, jika Engkau memang ingin mengambil duniaku yang bahagia saat ini juga, tak apa. Karena itu adalah kuasa-Mu meskipun tak ingin ku akhiri. Akan tetapi... aku ingin meminta sesuatu hal kepada-Mu.”
“Inginku seperti bumi, karena hujan akan lebih tertarik kepada bumi ketimbang langit yang setia di dekatnya.”
“Maka dari itu jadikanlah aku bumi yang akan selalu menarik datangnya Aletha yang sebagai hujan di kehidupan yang akan datang.”
Keenan mengaminkan doa yang ia panjatkan. Ia sudah berpasrah jika saja Allah akan merenggut nyawa Aletha saat itu juga. Namun, ia memohon kepada Allah untuk dijadikan sebagai bumi dalam kehidupan yang akan datang dan meminta Aletha agar dilahirkan sebagai hujan dalam. kehidupan yang akan datang.
__ADS_1
Bersambung...