
"Kamu mengenal Kevin?" Nathan yang bertanya setelah mendengar jawaban Alisa.
"Saya mengenalnya, kami berteman baik" Alisa menjawab dengan gugup.
"Pasti sangat dekat, sampai-sampai dia menghubungimu secara pribadi" sindir Nathan.
"Bukan seperti itu pak, bukan karena kami berteman baik tapi Kevin menghawatirkan kondisi kekasihnya yang sakit" Alisa langsung menutup mulutnya setelah merasakan tangannya dicubit Ayunda.
"Kekasih?" Nathan menggulangi ucapan Alisa.
"Mantan kekasih pak" jelas Alisa, dia lupa Ayunda sudah memberitahunya kalau Ayunda dan Kevin sudah berpisah.
Nathan diam, wajahnya menunjukkan ketidak sukaan. Selama ini dia mencari Ayunda dan ternyata selama ini Ayunda bersama Kevin tanpa dia ketahui.
"Maaf pesanannya terlambat" Dariel masuk sambil membawa banyak bungkusan.
Nathan segera mengambil salah satu bungkusan yang dibawa Dariel, dia membukanya lalu berjalan mendekati Ayunda. Melihat Nathan mendekat, Alisa sedikit menjauh dari Ayunda sambil mengamati apa yang akan dilakukan Nathan.
"Sayang... kamu makan dulu" ucap Nathan sambil menyodorkan sendok kemulut Ayunda.
Alisa terpaku tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, Nathan memanggil Ayunda dengan sebutan sayang. Serta tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Ayunda menerima suapan dari tangan seorang Nathan yang dingin dan kaku.
"Alisa... kamu pasti belum makan, saya membeli banyak jadi kamu bisa makan bersama saya sekarang" tawar Dariel agar Alisa tidak terlalu memperhatikan Nathan dan Ayunda.
Alisa mengangguk dan duduk di sofa bersama Dariel, bukan Alisa namanya kalau tidak bisa menajamkan pengelihatan dan pendengarannya walau jauh.
"Saya makan sendiri saja pak" pinta Ayunda tapi tidak mendapat tanggapan dari Nathan, dengan terpaksa Ayunda menerima suapan dari Nathan sampai tak bersisa.
"Good girls, my sweet heart" ucap Nathan sambil mengacak rambut Ayunda dan tersenyum senang.
Alisa hanya bisa memperhatikan tanpa suara walau dia sangat ingin bertanya pada Ayunda. Laki-laki yang dikenalnya dingin selama delapan bulan ini bisa begitu hangat dan perhatian pada seorang sekeraris.
"Kamu istirahatlah biar cepat sembuh" dia mengucapkannya setelah mengecup kening Ayunda membuat kepala Alisa kembali penuh dengan pertanyaan. "Sejauh itu perhatian bos besar dengan Ayunda" dan itu hanya dapat dia ucapkan dalam hati. "Hubungan specialkah" tebaknya.
"Ayunda aku pamit... sudah waktunya kembali kekantor" pamit Alisa pada Ayunda sambil mendekati Ayunda. "Kamu hutang penjelasan padaku" bisiknya saat cipika cipiki dengan Ayunda.
"Pak Natahan.... Pak El.... saya pamit" ucap Alisa. "Terima kasih makan siangnya"
"Kamu bisa kembali kekantor dengan saya Alisa" tawar Dariel dan mendapat anggukan dari Alisa. Siapa yang bisa menolak tawaran orang nomor dua di perusahaannya yang selama ini jadi idola karyawan wanita sebelum kehadiaran Nathan.
Ditinggal Alisa dan Dariel suasana ruangan kembali sepi, Ayunda tidak dapat memejamkan matanya. Bagaimana dia bisa tidur setelah Nathan tahu hubungannya dengan Kevin, sementara tadi saat bertemu dia seakan tidak mengenal Kevin. Ayunda juga terganggu dengan perkataan Nathan yang sudah menunggunya sampai lima tahun.
__ADS_1
Nathan sedang menyantap makanannya di sofa sambil memperhatikan Ayunda yang terlihat gelisah walaupun memunggunginya.
"Ada apa?" tanya Nathan, setelah menghabiskan makannya dia mendekati Ayunda.
Ayunda membalikkan tubuhnya walau sebenarnya dia tidak ingin melihat Nathan, tapi itu akan terlihat sangat tidak sopan bila dia menjawab pertanyaan Nathan tanpa melihatnya.
"Tidak apa-apa pak. Hanya tidak bisa tidur" jawab Ayunda.
"Saya ingin pulang, sudah tidak terasa sakit" pinta Ayunda, dia merasa tidak nyaman Nathan yang menjaganya di rumah sakit.
"Akan saya tanyakan pada dokter" jawab Nathan.
Ayunda di ijinkan Erick untuk pulang, dan meminta Ayunda istirahat dirumah dengan baik. Melihat Nathan mengandeng tangan Ayunda saat berjalan ke parkiran membuat Erick merasakan sakit didadanya, dia cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Terima kasih bapak sudah repot-repot mengantar saya" ucap Ayunda setelah dia membuka pintu rumahnya.
Nathan tidak menghiraukan ucapan Ayunda, dia masuk dan duduk di sofa. "Kamu tinggal sendiri?" tanyanya sambil memperhatikan sekitar ruangan.
"Berdua mama" jawab Ayunda yang terpaksa membiarkan Nathan masuk.
"Hanya berdua? Papamu?"
"Papa sudah tidak ada saat saya masih sekolah" lirih Ayunda, seketika dia merindukan papa dan Kevinlah orang yang menyayanginya sama seperti papanya.
"Maaf membuatmu sedih" Nathan memeluk Ayunda sambil mengecup pucuk kepalanya.
"Tidak apa-apa pak. Saya sudah biasa" Ayunda merenggangkan pelukan Nathan.
"Saya ambilkan minum untuk bapak dulu" Ayunda menjauh dari Nathan dan langsung ke dapur.
Nathan mengikuti Ayunda, tapi langkahnya terhenti saat melihat foto keluarga Ayunda. "Om Richad" gumamnya.
Ayunda terkejut melihat Nathan sudah duduk di meja makan saat dia keluar dari dapur, akhirnya dia meletakkan kue dan minuman yang disiapkannya di hadapan Nathan lalu menarik kursi yang ada disberang Nathan dan duduk disana.
"Kamu sudah lama nengenal Kevin?" pertanyaan yang ingin dihindari Ayunda akhirnya keluar dari mulut Nathan.
"Enam tahun yang lalu" mau tidak mau Ayunda harus menjawabnya.
"Kami bertemu di kampus Kak Kevin, waktu itu saya mewakili sekolah untuk mengikuti lomba disana" jelasnya lagi.
"Kebetulan Kak Kevin panitianya dan setelah lomba tidak sengaja kami bertemu beberapa kali"
__ADS_1
Ayunda diam setelah menjelaskan awal pertemuannya dengan Kevin. "Hanya beberapa kali bertemu lalu kalian jadi sepasang kekasih?" tanya Nathan.
Ayunda tersenyum mendengar pertanyaan Nathan. "Pertanyaan seperti apa ini?" pikirnya. "Apa aku semudah itu"
"Kami menjalin hubungan satu tahun setelahnya" jawab Ayunda yang kembali teringat bagaimana Kevin mendekatinya dan meminta Ayunda jadi kekasihnya.
"Kenapa?" tanya Nathan melihat Ayunda yang seperti melamun.
"Saya ingat bagaimana dia meminta saya untuk jadi keksihnya dan bagaimana dia mencampakkan saya"
"Kevin mencampakkanmu?"
"Saya menemukannya sedang tidur bersama wanita lain" jelas Ayunda.
"Kevin melakukan itu? Tidur bersama wanita lain?" ulang Nathan ucapan Ayunda.
Ayunda tertawa melihat wajah Nathan yang seperti orang binggung. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Nathan walau sebenarnya dia senang melihat Ayunda seceria ini.
"Bapak seperti tidak percaya ucapan saya dengan mengulang apa yang saya ucapkan"
"Tapi tidak apa-apa pak, tidak harus semua penjelasan saya bapak percaya"
"Lebih baik bapak nikmati cake buatan saya" tunjuk Ayunda pada kue yang ada dihadapan Nathan.
Nathan tersenyum lalu menikmati cakenya. "Ini kamu yang buat?" tanya Nathan setelah merasakan satu suapan sambil melihat aggukan dari Ayunda.
"Enak... ini berbeda dengan rasa cake yang biasanya saya makan" komentar Nathan jujur tentang kue buatan Ayunda.
"Kalau bapak ingin cake rasa seperti ini, bapak bisa membelinya di toko kue mama saya" kata andalan Ayunda untuk mempromosikan toko kue mamanya.
"Mama mu punya toko kue?"
"Iya... tidak jauh dari sini, ruko yang ada didepan komplek" otak promosi Ayunda tidak pernah hilang walau sudah koma satu tahun.
"Berarti mamamu ada di toko sekarang"
"Biasanya mama di toko, tapi tadi pagi mama ke bogor, nenek saya sedang kurang sehat" jawab Ayunda menjelaskan.
Nathan menganggukan kepalanya tanda mengerti sambil menghabiskan cake yang disuguhkan Ayunda dengan lahap.
Ayunda membiarkan Nathan menghabiskan cakenya, sambil menatap wajah Nathan yang terlihat menikmatinya. Sekilas dia berpikir mengapa Nathan tidak seperti yang dibicarakan rekan-rekan dikantornya, dia sangat berbeda dari gambaran yang diberikan Alisa dan rekannya yang lain. Tidak ada aura yang menakutkan diwajah Nathan, terlebih lagi saat dia terlihat santai seperti ini.
__ADS_1
"Apa kamu mengagumi ketampananku?" suara Nathan mengejutkan Ayunda yang sedang asik dengan pikirannya sendiri.
...*******...