
“Terima kasih... karena kamu telah membuktikan cinta itu kepadaku. Cinta yang kamu pendam sedari dulu kini kamu ungkapkan dengan berbeda. Pertemuan yang kamu impikan ... detik ini... telah menjadi nyata. Yang membuatku terpukau dan jatuh hati kepadamu saat itu juga. Dan hanya satu yang perlu kamu tahu... Ana uhibbuka fillah...”
**********
“Ke, kurang satu bulan lagi pelatihan kita akan berakhir. Tak terasa ya ... waktu begitu cepat berlalu.”
“Kamu benar, Leon. Emm ... ngomong-ngomong apa rencanamu setelah ini?”
“Aku akan kembali menjadi tentara. Mengabdikan diri untuk negara. Kalau kamu?”
“Aku akan ajukan lamaranku, karena aku sudah rindu. Rindu itu terasa begitu berat. Begitu menyiksa saat jiwa dan raga tak bisa menjaganya... saat mata tak bisa memandangnya... saat bibir tak bisa bertutur sapa dengan lembut kepadanya. Hanya mesin waktu yang terus berputar. Dan ku nantikan pertemuan sebagai obat penawar rindu.”
“Lebay itu namanya, Ke.” Leon mencebik. “Tapi... sebagai sahabatmu aku akan mendukung niat baikmu.”
Keduanya saling menebar senyum. Mereka tengah merencanakan kembali apa yang akan mereka lakukan setelah pelatihan di Washington berakhir. Dan Keenan akan kembali ke Indonesia tepat dengan kembalinya Aletha.
**********
Aletha tengah bersiap-siap memasukkan baju dan peralatannya ke dalam koper besar miliknya. Karena kapal pesiar Mercy Ship akan kembali ke Amerika Serikat dan berlabuh di sana.
“Al, aku pasti akan merindukanmu. Andai saja bisa diperpanjang masa kontrak kita, pasti aku akan bahagia.” Wilona nyengir.
“Iya, kamu bahagia. Dan sedangkan aku akan nyesek ... tersiksa rindu.” Aletha tertawa geli.
“Lebay itu namanya, Al. Lagipula sejak kapan kamu menjadi bucin seperti itu?” Wilona mencebik.
“Sejak ... menjadi Dokter relawan, menembak dan juga ... ditembak.” Aletha nyengir.
Wilona menatap nanar Aletha dan bulu kuduk nya pun merasa ngeri saat kata terakhir yang diucapkan Aletha. Mengingat kejadian itu, membuat hati Wilona teriris. Karena Aletha telah berkorban nyawa demi mereka semua.
Setelah usai memasukkan semua barang-barang di koper, Aletha dan juga Wilona berjalan menuju ke anjungan kapal. Menikmati suasana di sana di saat detik-detik terakhir sebelum kapal akan berlabuh.
“Isshhh ... sepertinya kita salah tempat, Al. Disini ada pasangan yang lebih bucin daripada kamu.”
Saat sampai di anjungan kapal Aletha dan Wilona melihat Edbert tengah bersama Catrina di sana. Dan Edbert sebagai ketua Mercy Ship pada tahun itu ingin mengundurkan diri sebagai ketua dalam pelaksanaan Mercy Ship satu tahun ke depan. Karena setelah menikah dengan Catrina, ia tidak ingin meninggalkan Catrina jauh-jauh. Mungkin akan ikut lagi itupun jika Catrina mengijinkan dan akan ikut bersamanya.
“Jangan lebay seperti itu, Wilona. Kita memang mau menikah, tapi untuk saat ini kita akan mengabadikan momen sebelum kapal akan berlabuh kembali ke tempatnya.”
“Bergabunglah bersama kami, kita berswafoto saat kapal masih berlayar.” Ajak Catrina.
Aletha dan Wilona mengangguk, lalu mereka melangkah dan berdiri di sisi Catrina. Mengabadikan momen dengan berswafoto adalah suatu hal yang membuat kita semua akan selalu mengingat kebersamaan dan perjuangan selama satu tahun mengitari pulau Afrika.
Suasana laut yang begitu indah, di bawah terikanya matahari membuat kulit akan terasa memanas. Tetapi tidak bagi mereka pejuang sukarelawan, karena mereka semua begitu menikmati suasana di luar kapal. Melihat luasnya lautan biru yang terkikis ombak. Riuhnya angin membuat rambut Aletha yang terurai mengudara.
“Apa kalian akan datang ke acara pernikahan kami?”
“Kalau aku tentu akan datang. Kita satu negara dan tempat pernikahan kalian kan ... bisa aku tempuh dengan kendaraan ku. So, dapat dipastikan aku akan datang.”
“Okay, Dokter Wilona. Aku tunggu kedatanganmu. Kalau kamu, Dokter Aletha?” tanya Catrina memastikan.
“Aku akan usahakan untuk datang. Tapi aku tidak janji loh ya...” Aletha nyengir.
Ada gurat kecewa dari dalam diri Catrina setelah mendengar jawaban Aletha. Karena momen yang hanya satu tahun sekali Catrina ingin semua teman dan kerabatnya menghadiri acara penting itu. Apalagi Aletha adalah wanita yang ia jadikan inspirasi untuk menjadi wanita yang tangguh dan memiliki keberanian seperti Aletha saat menyelamatkan nyawa banyak orang.
Dan obrolan mereka bergulir sampai kapal berlabuh.
*********
“Wahai anakku ... Bapakmu ini sudah mendengar berita besar.”
Keenan hanya mengernyitkan keningnya dengan tatapan nanar saat berhadapan dengan Brigjend Carlos, bapak angkat Keenan.
“Kenapa kamu hanya diam saja? Bapak menantimu mengatakan hal besar ini sejelas-jelasnya. Come on, Kaptenku...”
“Bapak ku tersayang, sebenarnya aku tidak mengerti topik pembicaraan siang ini. Bagaimana aku bisa mengatakan hal besar yang Bapak maksud. Aneh...” Keenan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Brigjend Carlos hanya nyengir saat Keenan tidak mengerti apa maksud pembicaraannya siang itu. Entah siapa yang bodoh, antara Bapak angkat atau anak angkat. Wkwkwkwk...
__ADS_1
Bapak Brigjend sih main teka-teki sama Kapten...
“Maksud Bapak, Bapak siap megantarmu mengkhitbah Dokter cantik.”
“Bapak tahu darimana niat saya itu? Perasaan ... saya tidak pernah cerita apapun tentang itu.”
Kembali Brigjend Carlos nyengir, lalu mengatakan bahwa Leon lah yang sudah menceritakan niat Keenan kepada Aletha. Dan seketika Brigjend Carlos mendukung niat baik itu, bahkan ia siap mengantarkan Keenan untuk mengkhitbah Aletha yang direncanakan malam itu juga.
Dan kamu Leon, siap-siap jadi sasaran Keenan karena sudah bocor...
“Keenan, niat baik itu harus disegerakan. Jika tidak ... maka kamu akan kehilangannya.”
”Pak, aku ...memang membutuhkan kehadiran Bapak sebagai wali ku. Ya ... kalau Bapak mau, syukur deh. Aku tak harus repot-repot memohon kepada Bapak, bahkan mengemis akan hal itu.” Keenan mengulas senyum lebarnya.
“Dasar bocah sableng. Mana mungkin Bapak tega membuatmu mengemis dengan tujuanmu yang baik. Ya sudah ... masa pelatihanmu hari ini berakhir, dan berhubung Bapak sudah tahu hal besar ini ... Bapak sudah menyiapkan helikopter untuk kita pergi healing ke Indonesia. Ha... ha... ha...”
Keenan kembali menggelengkan kepalanya melihat tawa yang menggema dan tingkah konyol Brigjend Carlos. Biarpun sudah berusia yang bisa dibilang tidak muda lagi, tetapi terkadang tingkahnya bagaikan anak kecil dan keinginannya pun juga harus di iyakan oleh Keenan maupun Wilona.
**********
“Al, kita foto bersama dulu yuk!” Ajak Wilona saat menuruni kapal.
Aletha mengiyakan keinginan Wilona yang ingin berswafoto bersama kapal pesiar. Dan mereka membidik gambar dengan sempurna saat berdiri di samping kapal. Bahkan dengan berbagai gaya mereka lakukan bersama, tak lupa selalu diabadikan dalam bentuk foto yang akan disatukan dalam bentuk album oleh Wilona nantinya.
“Kamu langsung ke bandara, Al? Atau ... mau mampir dulu bertemu Papaku?”
“Aku langsung pulang ke Indonesia, Na. Aku ... merindukan keluargaku setelah satu tahun berpisah. Aku minta tolong kepadamu saja, sampaikan salamku kepada Om Carlos.”
Wilona mengangguk, ia mengerti bagaimana perasaan Aletha. Apalagi dengan adanya Laura yang tengah mengandung besar, membuat Aletha ingin berada di sisi Laura dan menemani Laura saat melahirkan nanti. Karena itu janji Aletha sebelum Laura dan Garda kembali ke Indonesia beberapa bulan lalu.
Aletha memasuki bandara dan bersiap untuk kembali ke Indonesia. Saat hendak melangkah menuju ke pesawat tiba-tiba ponselnya berdering. Terlihat nama Mama Nina di layar ponselnya.
“Lebih baik aku tidak mengatakan kepada Mama. Lama sekali aku tidak memberikan kejutan kepada Beliau.”
Aletha memutuskan untuk mencari tempat yang membuat Mama Nina tidak merasa curiga ataupun kepo. Sehingga Aletha memilih toilet sebagai tempat yang dijadikan background saat menerima panggilan Mama Nina.
“Wa'alaikumsalam, sayang. Kamu sampai mana sekarang? Jadikan, pulang ke Indonesia hari ini?” tanya Mama Nina dengan tidak sabar.
“Sepertinya besok Aletha pulang ke Indonesia, Ma. Maaf, Aletha capek. Jadi, Aletha mau istirahat dulu di Amerika.”
Terlihat gurat kecewa dari raut wajah Mama Nina saat melakukan panggilan video call dengan Aletha. Dan itu membuat Aletha merasa tidak tega, tetapi yang namanya kejutan tidak mungkin kan, jika dikatakan secara langsung. Kalau seperti itu namanya bukan kejutan lagi.
“Jangan sedih seperti itu dong, Ma. Aletha jadi ikut sedih nantinya. Kan, besok juga sampai.”
“Baiklah, Mama akan tetap menunggumu sayang. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Laura saat ini akan melahirkan. Mama sekarang sedang menyiapkan peralatan dede bayinya.”
Aletha membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Karena ia tidak menyangka jika Laura akan melahirkan saat itu juga. Hal besar itu membuat Aletha merasa terkejut, dengan rasa bahagia yang membuncah dada Aletha menaiki pesawat yang menuju ke Indonesia.
******
“Ayolah Pak, cepat sedikit napa.”
”Hello, Kapten Keenan ... ngebet banget yang mau ketemu sama Aletha. Sabar dikit napa.”
“Dokter Wilona, bukan itu masalahnya. Laura itu sebentar lagi akan melahirkan, aku tidak mau jika adikku satu-satunya berjuang sendirian lagi. Aku ingin berada di sampingnya saat masa seperti itu.”
“What? Akan ada baby junior yang lucu dong! Tapi ngomong-ngomong ... kebetulan Kapten Keenan waras. Sadar gitu kalau selama ini adiknya sudah berjuang sendirian.” Wilona terkekeh.
“Sudah deh, jangan mulai. Satu tahun sudah berlalu, itu akan menjadi serpihan masa lalu di atas kebodohanku.” Keenan menghembuskan nafas beratnya.
Helikopter pun mengudara dan membawa Keenan, Brigjend Carlos dan juga Wilona healing ke Indonesia. Keenan tetap harus fokus saat mengudarakan helikopter nya, meskipun di dalam hatinya tengah merasakan khawatir yang mengeruak, karena terpikirkan kondisi Laura. Apalagi mengingat jika Laura mengidap penyakit autoimun. Yang terkadang bisa juga membahayakan nyawa ibu dan juga anak yang masih berada dalam kandungan.
********
Aletha langsung menuju ke rumah sakit seperti yang dikatakan mama Nina tadi saat melakukan panggilan video call dengannya. Aletha meminta sopir taxi untuk melajukan dengan kecepatan tinggi. Karena Aletha tidak ingin membuat Laura kecewa dan merasa sendiri saat berjuang yang bertaruh nyawa.
“Aku akan menemani kamu, Ra. Cukup satu kali aku tidak berada di sampingmu saat masa itu.”
__ADS_1
Akhirnya Aletha sampai juga di rumah sakit tempat Laura akan bersalin. Karena rumah sakit yang dianggap sebagai rumah kedua bagi Aletha, sehingga ia tahu seluk beluk rumah sakit Siloam Hospitals. Tempatnya bekerja dulu sebelum menjadi relawan di Mercy Ship.
Aletha menelusuri koridor rumah sakit untuk menuju ruang bersalin. Dengan separuh berlari akhirnya Aletha mendapati keluarga kecilnya di sana. Senyum pun ia tebarkan untuk memberikan kejutan kepada mereka semua.
“Assalamu'alaikum,”
“Wa'alaikumsalam.”
“Aletha...”
Seketika Aletha mencium punggung tangan Mama Nina, lalu pelukan hangat sangat ibu pun menyambut kedatangannya. Setelah beberapa menit Aletha melerai pelukan itu, lalu berganti memeluk sang papa yang saat itu juga berada di sana. Dilanjut lagi memberikan salam kepada Garda dan Juan di sana.
“Terima kasih, kalian sudah menjaga dua wanita hebat dalam hidup kalian.”
”Itu sudah menjadi tugasku, Al.” Jawab Garda.
“Iya, Al. Lagipula aku juga takut dengan pistolmu.” Juan terkekeh.
Aletha seketika menggemakan tawanya. Ia mengingat dengan betul saat ancaman itu diberikan kepada Juan. Dan kini keakraban memang terjalin antara adik ipar dengan kakak ipar.
Semua keluarga Aletha berada di sana untuk menemani perjuangan Laura. Juan yang aka ikut membantu proses persalinan Laura yang akan dilakukan secara operasi caesar. Bahkan Luna pun ikut membantu dalam melakukan tugas besar sebagai dokter.
Setelah satu tahun Luna dipindah tugaskan ke rumah sakit Siloam Hospitals, karena rumah sakit itu membutuhkan dokter seperti Luna dan Juan dalam bidang masing-masing. Sehingga Luna dan Juan harus kembali lagi ke rumah Bagas Kara, menetap di sana selama bertugas di rumah sakit itu.
“Keenan.”
Sontak smua terkejut saat rombongan Keenan memasuki ruang tunggu bersalin. Di mana di sana terlihat jelas Keenan, Brigjend Carlos dan juga Wilona. Dan kedatangan mereka telah disambut hangat oleh Bagas Kara, tak lain sahabat Brigjend Carlos itu sendiri.
Kedua tetua itu langsung melayangkan pelukan yang dijadikan sebagai pengobat rindu, karena sudah sekian lama tidak dipertemukan dengan tugas masing-masing.
“Hai, Al. Aku tidak tahu jika kamu sudah pulang ke Indonesia.”
“Basi. Sudah jelas aku berada disini, bilangnya tidak tahu. Memang Kapten aneh.” Wilona mencebik.
Keenan tidak menghiraukan ocehan Wilona. Hanya fokus dengan Aletha sang pujaan hati. Namun, saat suara bayi telah menggema dan memekik telinga orang yang berada di luar, seketika membuat mereka semua hilang fokus. Hanya satu kata yang mereka semua ucapkan bersama, yaitu rasa syukur alhamdulillah yang tiada tara.
Garda mengadzankan bayinya setelah berada di ruangan lainnya. Air mata pun menetes saat melihat bayi laki-laki yang mungil itu telah lahir ke dunia. Rasa haru yang bercampur dengan bahagia telah menyelimuti mereka semua. Sambutan hangat telah dihadirkan untuk bayi laki-laki dari pasangan Laura dan Garda yang diberikan nama Ravva Ranggi Mahendra. Gabungan nama dari Garda dan Mahendra. Bagaimana pun juga Mahendra adalah kakek dari Ravva, dan untuk mengenang Mahendra makan nama itu disematkan dalam nama Ravva.
Beberapa jam sudah berlalu, malam pun telah tiba. Dan kini Brigjend Carlos meminta Keenan untuk segera melakuakn niat baiknya.
“Cepatlah sedikit, Ke. Berikan Dia tembakan jitu.” Brigjend Carlos terkekeh.
“Come on, Kapten. Kita akan menemanimu, mumpung semua keluarga sedang berkumpul.”
“Tunggu dulu, entah kenapa tiba-tiba aku... nervous.” Keenan mengelap keringat yang mengucur di pelipisnya.
Brigjend Carlos dan Wilona tidak bisa memungkiri bahwa hal itu memang membuat jantung manusia berdegup kencang. Ya walaupun Wilona sendiri belum merasakan yang namanya jatuh cinta, apalagi di khitbah. Jodoh pun masih entah kemana. Yang sabar saja ya Wilona. Wkwkwk...
“Bismillahirrahmanirrahim.”
Dengan ucapan basmalah Keenan memberanikan diri untuk mengutarakan khitbanya kepada Aletha. Keenan berusaha menghilangkan sejenak rasa nervous yang membuat jantungnya hampir copot. Namun, keringat segede jagung masih memenuhi punggungnya. Sehingga membuat Keenan merasa kepanasan meskipun ruangan Laura terpasang AC.
“Maafkan Bapak Keenan, karena Bapak tidak wajib untuk memberikan jawaban itu kepadamu. Dan Bapak akan menyerahkan jawaban ini kepada Aletha.”
“Bagaimana Aletha, apakah kamu masih bersikukuh untuk memberikan cucu kepada Papa tanpa menikah?” Bagas Kara terkekeh geli.
“Al, ini adalah takdir yang indah. Jangan sia-siakan perjuangan kalian.” Ujar Wilona.
Aletha masih bertahan dalam diam, tidak mengatakan apapun untuk memberikan jawaban atas khitbah yang diajukan Kesnan untuknya. Sedangkan Keenan sudah tidak tahan lagi dengan rasa gerah karena keringat masih mengucuri punggungnya. Namun, tidak lama kemudian suara Aletha mengudara.
“Terima kasih... karena kamu telah membuktikan cinta itu kepadaku. Cinta yang kamu pendam sedari dulu kini kamu ungkapkan dengan berbeda. Pertemuan yang kamu impikan ... detik ini... telah menjadi nyata. Yang membuatku terpukau dan jatuh hati kepadamu saat itu juga. Dan hanya satu yang perlu kamu tahu... Ana uhibbuka fillah...”
Keenan tidak percaya dengan jawaban Aletha. Sehingga meminta Aletha untuk kembali mengatakan hal itu.
”Kapten budek.” Cicit Garda.
Dan Aletha pun melakukan apa yang Keenan minta. Seketika itu juga rasa bahagia telah hadir berlipat ganda dalam keluarga Bagas Kara. Setelah perjumpaan dengan Aletha dan Keenan, lalu dilanjut dengan hadirnya Ravva dan malam itu dilanjut lagi khitbah Keenan yang diterima oleh Aletha.
__ADS_1