Lentera Cinta

Lentera Cinta
35. I Love You Rara


__ADS_3

Ayunda sedang makan siang bersama Alisa, mereka sengaja tidak makan dikantin untuk menghindari karyawan Adhipramana Group.


Ayunda yang meminta, hatinya masih dalam kegundahan setelelah kejadian tadi pagi. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa, sejak pertama sebagai sekertaris dia berusaha menjaga jarak dengan Nathan. Berusaha untuk menjadi sekertaris yang dapat diandalkan, tidak ada niatan sedikitpun untuk berharap lebih.


Luka hatinya belum kering, terlebih lagi dia masih sering bertemu Kevin semakin sulit untuk menutup rapat lukanya. Namun perhatian yang diberikan Nathan membuat Ayunda merasakan ada sesuatu yang sudah lama tidak dia dapatkan, terlebih lagi saat Nathan memanggilnya Rara.


"Aku harus bagaimana sekarang?" Ayunda menutup wajahnya. Kejadian tadi pagi membuat Ayunda merasa malu, Nathan tiba-tiba saja memeluk dan menghapus airmatanya, banyak mata yang menyaksikan apa yang dilakukan Nathan padanya. Rekan kerjanya yang satu lantai dan beberapa karyawan Adhipramana Group yang hari ini mengikuti pertemuan dengan Nathan.


Hampir tujuh tahun papanya pergi meninggalkan Ayunda, Panggilan Rara yang keluar dari mulut Nathan semakin menambah kerinduannya pada sosok papa Richad.


Ayunda berdiri sambil menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan Nathan untuk pertemuan pagi ini, tanpa dia sadari kristal bening yang ada dimatanya mengalir membasahi pipi. Biarpun tangannya bekerja tapi hati dan pikirannya merindukan sosok papa, laki-laki bijak yang selalu ada untuk membimbingnya.


Ayunda benar-benar tidak menyadari kehadiran Nathan, saat tubuh tinggi tegap itu memeluknya erat barulah Ayunda bisa merasakan kehadirannya. "Jangan menagis sayang" bisik Nathan saat memeluk Ayunda lalu dia menguraikan pelukannya dan mengusap air mata yang mengalir dipipi Ayunda.


"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Nathan sambil merapikan rambut Ayunda. "Apa karena kehadiran gadis tadi?" pertanyaan Nathan yang kedua sontak membuat Ayunda menggelengkan kepalanya, walau sempat bertanya siapa gadis seksi itu tapi dia tidak mau memikirkannya dan itu bukan urusannya. Nathan salah menduga, apa yang menyebabkannya menangis? dan Ayunda tidak ingin Nathan salah paham.


"Saya merindukan papa saya pak" jawab Ayunda pelan yang hanya bisa didengar Nathan.


"Maaf... sudah membuatmu menginggatnya" reaksi Nathan yang kembali memeluk Ayunda sambil meminta maaf membuat Ayunda semakin malu terlebih lagi adegan itu sudah menjadi tontonan gratis banyak orang.


"Harus bagaimana apanya?" tanya Alisa saat mendengar pertanyaan Ayunda dan melihat sahabatnya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Aku malu Lisa.... kamu lihat sendiri kejadian tadi pagi"


"Kenapa harus malu, harusnya kamu bangga mendapat perlakuan lebih dari pak Nathan"


"Coba kamu lihat di group, mereka membicarakan kejadian tadi pagi" kesal Ayunda.


"Biarkan saja ada Pak El yang akan membungkam segalanya. Pak Nathan tidak mungkin membiarkan kamu disakiti" jelas Alisa mencoba menenangkan Ayunda yang menggangguk membenarkan ucapannya.


"Lagian kamu kerja sambil acara nangis-nangis segala" sungut Alisa setelah menyedot minumannya.


"Tadi pagi aku merindukan papa Lis, aku juga tidak menyadari kalau ada airmata yang keluar"

__ADS_1


"Tapi Pak Nathan salah sangka, dia pikir aku menagis karena ada gadis seksi yang masuk keruangannya"


"Dia pikir aku cemburu, sama sekali aku tidak memikirkan gadis itu" jelas Ayunda mengapa tadi Nathan memeluknya.


"Yunda... ku rasa Pak Nathan benar-benar menyukaimu. Melihatmu menangis dia khawatir padamu. Tidak peduli banyak yang melihat dia langsung memelukmu" Alisa mengatakannya dengan memasang wajah serius.


"Tidak usah memasang wajah seperti itu" kekeh Ayunda melihat wajah Alisa yang menakutkan.


"Kamu ingat Lis.. saat kita kelulusan, lalu kita bermain diwahana yang ada di Mall Galaxy?" tanya Ayunda dan mendapat anggukan dari Alisa.


"Pak Nathan adalah orang yang memelukku saat aku bersembunyi darimu" jelas Ayunda membuat Alisa menutup mulutnya tidak percaya.


"What? Bukankah kamu bilang tidak mengenalnya dan hanya melihat punggungnya"


"Pak Nathan yang mengingatkanku kejadian itu, dia bilang dia mencari dan menungguku selama lima tahun ini" Ayunda menceritakan apa yang terjadi saat dia mengunjungi Hotel dan Mall Galaxy beberapa hari yang lalu yang membuatnya dilarikan ke rumah sakit.


"Itu tandanya setelah dia memelukmu, dia langsung tertarik padamu Yunda" Alisa mengucapkannya dengan mata berbinar.


"Akhhh aku iri padamu Nda... ternyata sudah lima tahun Pak Nathan memendam rasa padamu"


"Sekarang apa yang harus aku lakukan Lis?" pertanyaan Ayunda membuat Alisa tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Ayunda. Bukankah itu pertanyaan yang bisa dengan mudah dijawabnya.


"Ya kamu terimalah cintanya Nathan Adhipramana"


"Secepat ini? Aku belum siap Lis"


Alisa hanya bisa menepuk keningnya dengan tangan, sahabatnya ini bukan gadis yang mudah jatuh cinta, bahkan Kevin harus menunggu satu tahun lebih untuk menjadikannya kekasih.


"Ayo kembali kekantor, Pak Nathan menungguku" ajak Ayunda.


"Baru juga tadi pagi dipeluk, udah kangen aja tuh si bos" Alisa berucap sambil menggoda.


Sampai di lobby kantor, Ayunda merasakan banyak mata yang menatapnya. "Lis.." bisik Ayunda.

__ADS_1


"Biarin aja... mereka itu iri karena kamu bisa mendapatkan hati si bos"


Ayunda bisa menarik nafas lega saat berada di lift, setidaknya tidak ada mata yang menatap tajam dan sinis padanya. Nafas leganya hanya sesaat dirasakan Ayunda, kini jantungnya kembali berpacu dalam melodi yang tidak sama saat tangannya mengetuk pintu ruangan Nathan.


"Masuk" suara tegas Nathan mengijinkanya masuk.


Ayunda mendapati Nathan sedang berdiri di jendela menghadap keluar. "Sini mendekatlah!" perintah Nathan yang dituruti Ayunda.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Ayunda saat sudah berada didekat Nathan.


Bukan menjawab pertanyaan Ayunda tapi Nathan menarik tangan Ayunda, membuatnya berdiri disisi Nathan yang kembali menghadap jendela.


Ayunda mengikuti Nathan yang memandang keluar jendela, pandangannya tertuju pada langit biru dan awan putih yang bentuknya berubah mengikuti arah angin lalu berlahan menjauh. Dia terbawa lamunan yang mengikuti kemana awan itu menjauh tanpa menyadari kalau pandangan Nathan kini tertuju padanya.


Kecupan dipipi dan kehangatan Nathan yang memeluknya dari belakang membuat Ayunda menarik pandangan dari langit dan nemejamkan matanya. Apa yang harus aku lakukan? pikir Ayunda.


Ayunda memilih untuk melepaskan pelukan Nathan. "Biarkan seperti ini" pinta Nathan yang tak ingin melepaskan pelukannya, membuat Ayunda tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudah lama aku menunggumu. Ingin memelukmu seperti ini, seperti saat pertama kita bertemu lima tahun yang lalu" bisik Nathan di telinga Ayunda.


"Jangan pergi... tetaplah disisiku" pinta Nathan kembali mengecup pipi Ayunda


Nathan melepaskan pelukannya lalu membalik tubuh Ayunda untuk menghadapnya, dipeluknya lagi pinggang ramping gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama bertemu. Ditatapnya wajah cantik Ayunda yang putih bersih dengan riasan sederhana.


"Ra... Aku mencintaimu" tanpa menunggu jawaban Ayunda Nathan langsung menempelan bibirnya ke bibir Ayunda, mengecapnya dengan lembut menuntun Ayunda untuk mengikuti permainannya.


Ayunda dalam posisi sadar saat ini walau jantungnya kembali berpacu dalam melodi tak berirama, dia ingin melepaskan tautan dibibirnya, tapi tubuhnya tidak sejalan dengan pemikirannya, membuatnya mengikuti setiap gerakan yang dimainkan Nathan.


Nathan melepaskan tautannya setelah menyadari kalau mereka membtuhkan asupan oksigen.


"I love you Rara"


"I love you my heart"

__ADS_1


...*******...


__ADS_2