Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 150 “Bergelayut Manja”


__ADS_3

“Sebenarnya tidak apa jika aku harus mengalami luka seperti ini. Asalkan... kamu yang menjadi Dokter dan perawatnya aku ... rela.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ibu paruh baya itu mengungkapkan rasa bangganya kepada Aletha dan Keenan yang sudah berkorban nyawa menyelamatkan keluarganya. Dengan binar mata kesedihan Ibu itu menitihkan air matanya. Dan seolah sudah pasrah dengan keadaan yang akan membawanya pergi memenuhi panggilan Allah, atau akan selamat nanti.


“Jangan berpikir yang aneh, Bu. Ikuti saya, InsyaAllah akan lebih menenangkan hati kita semua.” Keenan mengangguk untuk meyakinkan mereka semua.


“Hasbunallahu wa ni'mal-wakil. Qa. Al-Imran ayat 173, yang memiliki arti sebagai berikut, Cukuplah Allah sebagai penolong kami.”


Aletha, Ibu dan dua anak itu dengan tenaga yang mulai tidak seimbang terus mengikuti ucapan Keenan. Dan saat semua sudah pasrah kaprah tiba-tiba sebuah keajaiban telah datang.


Hujan rintik-rintik perlahan berjatuhan dengan pelan. Dan saat itu api semakin membesar, membuat sisi gawang rumah itu hampir menjatuhi Aletha. Namun, dengan begitu tanggap Keenan maju satu langkah untuk melindungi Aletha.


“Arrrggghhh...” Keenan meraung.


Punggung Keenan mengalami luka bakar, untung saja gawang itu tidak menimbun punggung Keenan hanya nyerempet saja. Jika itu terjadi dapat dikatakan Keenan akan mengalami luka bakar yang sangat dalam.


“Aa Keenan,” pekik Aletha.


Seketika air mata meluruh begitu saja dan membasahi pipi Aletha. Rasa khawatir dan takut telah beradu menjadi satu saat Keenan tidak sadarkan diri setelah punggungnya terserempet gawang yang terbakar.


“Aa, bangun! Jangan tinggalin Neng sendiri disini! Hiks... Hiks...” Tangis dari Aletha pun pecah.


“Pak! Bangun, Pak! Kata Bapa kita akan selamat bersama, jangan mati disini, Pak!” ucap Ibu paru baya itu dengan sedih.


Keenan tak kunjung sadarkan diri, semakin membuat Aletha tidak bisa menahan tangisnya. Aletha terus menggoyang-goyangkan tubuh Keenan, sesekali ia juga memeriksa dengut nandi Keenan.


“Masih terasa. Neng yakin, Aa akan baik-baik saja.”


Hujan yang berjatuhan semakin banyak, hingga akhirnya malam itu hujan turun dengan sangat deras. Dan itu adalah keajaiban dari Allah untuk segera memadamkan api yang sudah merajalela membakar rumah itu.


Hujan yang sangat deras itu perkahan membuat konatan api telah padam. Dan setelah di rasa sudah bisa untuk menerobos masuk ke lokasi kebakaran Garda, Bayu, Bian dan Naina memaksa masuk. Mereka berpencar untuk menemukan keberadaan Aletha, Keenan, dua wanita dan satu anak laki-laki seperti yang terlihat sebelum api membesar. Sedangkan tim media sidah siaga di depan untuk memberikan pertolongan pertama jika diperlukan.


“Itu, mereka!” pekik Naina.


Seketika Garda, Bayu dan Bian menghampiri Naina. Setelah merasa yakin ketiganya langsung menuju di mana Aletha menangisi Keenan yang masih pingsan itu.


“Aletha, apa yang terjadi?” tanya Garda.


“Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang, Kak. Lebih baik sekarang kita selamatkan mereka terlebih dahulu. Dan Aa Keenan tidak bisa dibopong begitu saja. Punggungnya mengalami luka bakar, biarkan tim medis yang masuk ke dalam untuk membantu.” Terang Aletha dengan tangisan yang masih terisak.


Bayu, Bian dan Naina segera membawa dua wanita dan satu anak laki-laki itu keluar. Sedangkan Garda dan Aletha masih menanti tim medis masuk ke dalam untuk membantu Keenan.


Keenan pun digotong dengan tandu oleh tim medis dan segera menuju keluar. Aletha tidak hentinya mengeluarkan air mata yang seolah tidak ada habisnya. Rasa sesal pun menyeruak hatinya, bayangan Keenan yang menyelamatkan dirinya melintas di pelupuk mata Aletha.


Saat suasana masih keruh pasca tragedi kebakaran tiba-tiba terdengar suara helikopter tengah menderu dengan amat sangat keras. Bahkan helikopter itu mendarat di lahan yang cukup luas.

__ADS_1


“Lettu Garda, itu...” Ilham menunjuk ke arah helikopter.


Seketika semua terkejut melihat kehadiran Bagas Kara dan Mama Nina yang turun dari dalam helikopter. Garda segera berlari keluar untuk menghampiri atasannya itu sekaligus mertuanya.


“Lapor! Pak. Saya Letnal Satu Garda mohon ijin melapor.” Garda memberikan hormat kepada Bagas Kara setelah berada dihadapannya.


“Silahkan, Letnan Garda!” ucap Bagas Kara.


Sebagai atasan yang baik Bagas Kara membiarkan bawahannya yang hendak melapor tentang segala hal yang sudah terjadi saat bertugas melindungi warga di daerah Lebak. Bahkan tragedi kebakaran pun sudah Garda laporkan secara detail.


“Papa sudah mendengar semuanya, maka dari itu Papa datang kemari untuk memeriksa kondisi kalian disini. Dan... Mama kamu memaksakan diri untuk ikut.” Bagas Kara mengarahkan pandangan nya ke Mama Nina yang bergelayut manja kepadanya.


Seperti biasa di mana pun berada Mama Nina selalu melingkarkan tangannya di tangan Bagas Kara, seolah tak ingin melepas begitu saja selain waktu bertugas yang amat jauh dan Mama Nina tidak bisa ikut dengan Bagas Kara.


“Bagaimana kondisi... Keenan dan Aletha? Saya dengar mereka menerobos masuk kebakaran itu.”


Dibawah kucuran air hujan yang semakin deras Garda tidak hentinya menceritakan semua kepada Bagas Kara dan Mama Nina.


“Kita segera bawa saja Keenan ke rumah sakit terdekat. Kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit pusat. Sekalian saja bawa tiga korban dalam kebakaran itu,” perintah Bagas Kara.


Tim medis pun keluar dan membawa Keenan masuk ke dalam mobil ambulans. Terlihat di sana Aletha terus mendampingi Keenan hingga masuk ke dalam mobil ambulans itu. Tak hentinya air mata terus mengalir membasahi pipi Aletha.


“Mas, ayo kita ikuti Aletha! Aku tidak tega melihatnya menangis seperti itu,” ajak Mama Nina.


“Ya sudah, Garda kamu juga ikut kami. Masalah disini biar Bayu, Bian dan Nina yang mengurusnya.”


“Siap! Pak.” Bian, Bayu dan Nina memberikan hormat kepada Bagas Kara secara bersamaan, tanda jika mereka siap untuk melaksanakan tugas.


“Aa, kenapa Aa melakukan itu? Lihat sekarang, Aa celaka begini gara-gara Neng.” Bayangan Keenan yang menyelamatkan Aletha terus melintas dalam pelupuk matanya.


“Al, kamu yang tenang! Berdoa saja semoga Komandan Keenan baik-baik saja. Kalau kamu seperti ini bisa saja kamu juga ikut sakit nanti.” Ilham yang ikut ke dalam mobil ambulans mencoba menenangkan hati Aletha.


“Tapi Kak, jika saja Aa Keenan tidak menyelamatkan aku tadi pasti tidak akan seperti ini.”


“Terus, kamu yang akan terkena luka bakar dan Keenan yang menangis disini. Begitu?” gertak Ilham.


Ilham yang sudah tidak bisa menenangkan Aletha dengan tutur lembut, ia mencoba memutar keadaan. Sehingga membuat Aletha berhenti menangis dan menatapnya sekilas. Lalu Aletha kembali menatap Keenan yang masih tidak sadarkan diri.


Hening...


Hingga tiba di rumah sakit Aletha dan Ilham tidak saling berbicara, mereka fokus dengan kondisi Keenan. Aletha berusaha untuk menerima takdir itu, hanya doa yang bisa dilangitkan untuk keselamatan Keenan. Karena Aletha maupun Ilham tidak berhak menangani Keenan di rumah sakit itu.


“Al, kita tunggu saja disini. Biarkan Dokter itu menangani kondisi Keenan.” Ilham mengangguk, meyakinkan Aletha bahwa Keenan akan baik-baik saja.


“Baik, Kak.” Aletha mengangguk, ia menurut saja dengan setiap kata yang diucapkan Ilham.


Rombongan Bagas Kara, Garda dan Mama Nina pun datang. Aletha yang melihat keberadaan Mama Nina segera melayangkan pelukan untuk melepas rasa sedih nya.

__ADS_1


Aletha kembali menangis dalam pelukan Mama Nina. Dan Mama Nina mengusap lembut punggung Aletha untuk berusaha menenangkan hati Aletha yang saat ini merasa khawatir.


“Kamu yang tenang sayang, jangan lupa panjatkan doa baik untuk Keenan. Mama yakin Keenan akan baik-baik saja, kamu harus tenang.” Dengan penuh kelembutan Mama Nina terus mengusap punggung Aletha hingga isak tangis Aletha mereda.


Mama Nina menuntun Aletha untuk duduk di kursi tunggu. Bagas Kara menghampiri mereka dan memberikan bingkisan paper bagian kepada Aletha.


“Ganti pakaian mu terlebih dahulu. Nanti kamu bisa masuk angin jika terus memakai pakaian basah itu.”


“Mama yang akan menemani kamu. Ayo, sayang!” ajak Mama Nina.


Kembali Aletha mengangguk, serasa tubuhnya tidak bisa menopang dengan tegap. Bahkan bahunya merosot ke bawah, kesedihan dan rasa khawatir masih menyelimuti hatinya.


“Gangulah pakaian mu, Al. Mama akan menunggumu disini.” Mama Nina membuka pintu kamar mandi umum.


“Iya, Ma.”


Aletha pun masuk dan mengganti pakain nya dengan baju gamis dan jilbab yang dibeli oleh Bagas Kara saat perjalanan menuju ke rumah sakit.


Perhatian banget ya Pak Bagas Kara itu. Yang nulis pengen diperhatikan kayak gitu, tapi bapak yang nulis tetap nomor satu.


“Sudah, jangan sedih lagi. Anggap saja ini ujian dari Allah untuk memperkuat cinta kalian.” Mama Nina mengulas senyum.


“Huuft, InsyaAllah Aletha akan menerima dan Aletha juga tidak akan berhenti berdoa untuk kondisi Aa Keenan. Ya sudah, ayo kita kembali ke sana, Ma.”


Aletha sudah mulai cukup tenang setelah menerima nasehat dari Mama Nina, meskipun suaranya sedikit parau karena terlalu lama menangis paling tidak kini ia sudah tidak lagi menangis.


Setiba di ruang tunggu Allah telah mengabulkan doa Aletha, Keenan sudah sadarkan diri dan sekarang dalam perawatan.


Setelah mendapatkan kabar bahagia itu Aletha segera masuk ke dalam ruang rawat Keenan dan melihat kondisi Keenan saat itu.


“Aa Keenan,” panggil Aletha lirih.


Keenan yang posisinya harus miring tidak bisa melihat dengan jelas Aletha yang berdiri di belakangnya. Meskipun ia sebenarnya ingin melihat Aletha dan memastikan kondisi Aletha baik-baik saja.


“Jangan bergerak! Neng saja yang melihat Aa.” Aletha melangkah, lalu mengambil duduk tepat di hadapan Keenan.


Keenan mengulas senyum tipis setelah melihat bidadarinya berada di depan mata dengan kondisi baik-baik saja.


“Syukurlah! Neng baik-baik saja,” ucap Keenan.


“Kenapa Aa tadi bertindak bkdoh seperti itu? Coba kalau apinya membakar tubuh Aa bagaimana?”


“Kok bertindak bodoh sih, Neng. Coba jika orang lain yang berada di posisi Aa pasti orang itu akan melakukan hal sama untuk lindungi wanita yang dicintainya.”


“Iya, Neng tahu. Tapi kan... Aa jadi terluka seperti ini.” Binar mata Aletha seketika berubah, memancarkan kesedihan.


“Sebenarnya ... tidak apa jika Aa harus mengalami luka seperti ini. Asalkan... Neng yang menjadi Dokter dan perawatnya Aa ... rela.” Keenan kembali mengulas senyum.

__ADS_1


Aletha berdesis, ia tidak menyangka jika Keenan bisa setenang itu. Bahkan janji yang pernah Keenan ucapkan berusaha untuk selalu ia tepati. Hal itu membuat Aletha semakin cinta dengan Keenan, bahkan Aletha membiarkan Keenan bergelayut manja saat Aletha mengusap pipi Keenan.


Bersambung...


__ADS_2