Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 86 “Panggilan Dadakan”


__ADS_3

“Tidak mungkin jika aku akan cemburu hanya dengan satu lelaki yang pernah singgah dihatimu. Sedangkan aku sudah lebih dulu hadir dan namamu pun terpatri di dalam hatiku. Dan mulai saat ini... detik ini... bahkan sampai nanti kamu tetap milikku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha terdiam setelah mendengar jawaban Larisa yang sungguh menohok hatinya. Memang kenyataan nya Aletha hanya sesekali melakukan sholat, itupun jika senggang. Karena kebanyakan saat siang pasti masih berkutat di ruang operasi, kalau ashar suka lupa waktu, pas magrib terkadang masih dalam perjalanan, kalau pas isya' pasti sudah lelah dan terkadang merajuk dengan hasil Ctscan pasiennya. Dan kalau subuh sudah jelas kesiangan seperti tadi pagi.


“Aletha...” teriak Mama Nina.


Karena tak kunjung datang Mama Nina pun memanggil Aletha, dan suara Mama Nina membuat Aletha membuyarkan lamunannya.


“Oh my God, kenapa bisa lupa. Bubur, mana bubur...”


Aletha segera mewadahi bubur yang sudah dibuat Mama Nina tadi. Dengan segera ia membawa semangkok bubur untuk Keenan. Lalu, Aletha menyuapkan bubur itu kepada Keenan.


“Ya sudah, kamu temani Keenan saja di kamar. Ayo semua, kita keluar saja.” Ujar Bagas Kara yang seolah memberi kode.


Kini yang ada hanya Aletha dan Keenan yang masih merasa lemas di atas kasur. Setelah tiga suap masuk ke dalam mulut Keenan, kembali Keenan merasa tidak nyaman dengan perutnya.


“Aku tidak nafsu makan, Al. Sudah saja makannya, perutku merasa tidak enak.”


”Tapi Ke, kalau kamu tidak makan tubuhmu akan terus lemas seperti ini. Dan bagaimana cara kamu minum obat jika kamu tidak makan.”


“Tapi aku merasa tidak enak, Al. Mual tapi tidak bisa muntah.”


“Maafkan aku, Ke. Karena ini semua salahku.”


Aletha merutuki kebodohannya. Ia menyesal sudah membuat Keenan jatuh sakit seperti itu. Ada rasa tidak tega dan iba saat melihat wajah Keenan yang pucat. Untung saja bintik merah yang timbul sudah mulai memudar setelah Aletha menyuntikkan obat pereda alergi.


“Tidak perlu minta maaf, ini bukan salahmu. Aku saja yang ingin menghargai pemberian kamu, mungkin karena terlalu senang dengan perhatianmu, aku tidak sadar jika ada udang.”


“Tapi tetap saja, aku bodoh tidak mengetahui akan hal itu. Sehingga...”


“Sudahlah, lupakan semua itu.”


Keenan tertidur kembali setelah Aletha memberikan obat penurun demam dan alergi kepadanya. Dan dengan setia Aletha menemani Keenan di atas ranjang, sesuai permintaan Keenan. Karena Aletha hanya tidak mau menanggung rasa bersalah sufah membuat Keenan jatuh sakit.


‘Mengapa aku menyukai akan hal seperti ini? Memandang wajahnya dari jarak yang begitu dekat, bahkan jarak itu terkikis sehingga deru nafasnya pun mampu aku rasakan.’


Aletha tiada hentinya menatap Keena yang terlelap dari tidurnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Siapa yang bisa melakukan operasi darurat ini jika kalian tidak mampu? Kenapa bisa kalian seperti ini di sini? Dimana jiwa dokter kalian semua?”


Dimas mengungkapkan rasa kesalnya kepada dokter bedah jantung, karena di saat ada pasien darurat yang harus segera di operasi malah semua dokter junior tidak mampu menjalankan operasi itu. Sedangkan senior mereka harus menangani pasien yang sudah dibawah naungan mereka, kecuali Aletha. Karena pernikahannya baru dilangsungkan maka ia mengambil cuti beberapa hari.


“Bagaimana ini? Tidak mungkin jika kita akan menolak.” Dimas mengusap gusar wajahnya.


“Aletha, mungkin hanya Dia yang bisa membantuku. Tapi bagaimana caranya untuk meminta kehadirannya disini?”


Dokter junior yang berada di hadapan Dimas hanya bisa menundukkan kepala mereka. Ia tidak berani menatap wajah seram Dimas yang seolah siap untuk menerkam mangsanya di saat seperti itu.

__ADS_1


Dimas beranjak pergi dari ruang khusus dokter bedah jantung, lalu dengan langkah cepat ia mencari keberadaan Ilham dan juga Maya, karena mereka lah yang bisa membantunya untuk membujuk Aletha.


“Maaf, Pak. Tapi saya rasa Aletha tidak mungkin kita hubungi secara mendadak seperti ini. Jika saja Dia sedang hanymoon bersama Kapten Keenan bagaimana?”


”Lalu, apa kalian saggup membimbing junior kalian itu untuk melakukan operasi kepada pasien?”


Maya dan Ilham hanya diam membeku. Mereka saja merasa sulit menjalankan operasi tanpa kehadiran Aletha, bagaimana meraka bisa membimbing operasi darurat bersama para dokter junior? Aka semakin runyam nantinya jika mereka sebagai senior tidak mampu memberikan yang terbaik. Dan mau tidak mau Maya harus mencoba untuk menghubungi Aletha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Handphone Keenan berdering, tetapi Keena tidak mendengar suara itu. Dan untuk ke dua kalinya Keenan segera meraih ponselnya di atas nakas untuk memastikan siapa yang Udah menelponnya sore itu. Sedangkan ia tidak sedang bertugas ataupun memiliki janji temu dengan siapapun.


“Garda?” ucap Keenan lirih.


Lettu Garda yang kini menjadi adik iparnya itu tengah menelpon. Dan Keenan segera menerima panggilan itu.


“Halo, ada apa?”


“Lapor Kapten, kita ditugaskan mendadak untuk mengintai anggota anak muda yang mengedarkan narkoba malam ini juga.”


Keenan menghela nafas, belum juga merasakan malam pertama dan bermesraan dengan istri tercinta malah sudah diberi tugas mendadak. Dan mau tidak mau Keenan harus berangkat malam itu juga untuk melindungi Ibu Pertiwi dari cengkraman anak muda di era sekarang.


“Al, sudah bangun?” tanya Keenan saat mendapati Aletha di balkon.


“Sudah, bagaimana denganmu? Apa masih demam?”


“Aku rasa tidak. Itupun berkat kamu yang selalu berada di sampingku. Terima kasih.” Keenan mengulas senyum.


Aletha mengangguk, ia tidak tau harus berkata apa. Karena bagi Aletha sakit yang menimpa Keenan tercipta karenanya.


“Terima kasih, untuk semuanya. Tapi maaf, bolehkah aku memintanya darimu?” Keenan menyentuh bibir Aletha dengan hati telunjuknya.


Entah kenapa hati Aletha begitu luluh, hanya anggukan yang ia berikan kepada Keenan yang menandakan kata iya. Lalu Keenan menatap sepasang mata Aletha yang berbinar, dengan intonasi Keenan melakukan aksinya.


“Pejamkan matamu, Al.”


Aletha menuruti semua apa yang dikatakan Keenan.


Begitu lembek, berkali-kali menempel di bibir Aletha untuk beraksi. Dan Aletha begitu menikmati kecupan itu, bahkan membuatnya lupa akan waktu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Siapa nama pasiennya? Apa Dia pindahan dari rumah sakit lain?”


“Tara. Dia bukan pindahan dari rumah sakit lain. Dia sudah beberapa kali berobat di rumah sakit Siloam ini, tapi aku juga tidak tahu Dia konsultasi dengan Dokter siapa. Sejauh ini aku maupun Maya tidak menangani pasien dengan nama itu.” Terang Ilham saat bertukar suara melalui udara.


Seketika Aletha menutup mulutnya, karena Tara yang dimaksud dapat dipastikan jika itu Tara yang pernah menjadi serpihan masa lalunya. Dan Ilham memberitahukan bahwa Tara harus dioperasi malam itu juga.


“Pasien itu... pernah konsultasi denganku satu tahun lalu sebelum aku memutuskan untuk menjadi dokter relawan, kak.”


“Apa? Kalau begitu sekarang aku serahkan kepadamu, Al.”

__ADS_1


Percakapan yang hanya melalui udara kini telah diakhiri. Setelah itu Aletha menatap jam yang menempel di dinding kamarnya. Yang menunjukkan pukul enam petang.


Aletha beranjak ke dapur untuk membantu mama Nina dan Luna memasak. Mulai hari itu Aletha belajar banyak dengan kedua wanita hebatnya. Banyak sekali yang harus diperbaiki dalam kepribadiannya yang buruk. Di mana Aletha harus mulai bangun pagi untuk melayani suami saat di meja makan. Menyiapkan beberapa masakan untuk dihidangkan setiap pagi.


“Ke, mau kemana? Bukannya kamu ... belum terlalu sehat, kan?”


Aletha terkejut saat melihat Keenan sudah berpakaian rapi dengan pakaian serba hitam, pakaian khas berani mati saat bertugas. Dan tidak lupa dengan beberapa senjata yang berada di dalam saku jaket milik Keenan.


“Aku mendapatkan tugas dadakan malam ini. Biarmanapun juga Ibu Pertiwi harus aku jaga. Tak apa kan, jika aku tinggal bertugas malam?”


“Tak apa kok, asal memang benar jika kamu sudah baik-baik saja. Aku tidak mau jika nanti terjadi sesuatu denganmu saat bertugas, Ke.”


Keenan mengusap lembut puncak kepala Aletha. Lalu setelah itu ia mengulas senyum.


“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku.”


“Ngomong-ngomong... aku juga ada panggilan mendadak dari rumah sakit yang mengatakan bahwa ada pasien yang harus segera dioperasi. Dan hanya aku yang mampu mengatasi mereka.”


Keenan manggut-manggut, membenarkan perkataan Aletha. Dan keduanya menjalani tugas panggilan dadakan dari pihak atasan mereka. masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kamu hati-hati dijalan! Jangan terlalu gegabah saat musuh berada di depan mata. Susun rencanamu dengan matang, jika perlu ... kamu bisa menelpon ku untuk meminta saran.”


Keenan terkekeh geli mendengar celoteh Aletha. Bagaimana bisa seorang kalten ternama harus diberi saran saat mengatur rencana.


“Baiklah, aku akan menelponmu untuk... mengatakannya. Ana uhibbuka fillah.”


Aletha terdiam untuk menyimpan rasa malunya. Jika saja tidak gelap maka pipinya akan terlihat jelas memerah oleh Keenan. Dan Aletha merasa tersanjung dengan kata-kata itu. Membuatnya merasa ada seorang lelaki yang memang benar-benar mencintainya.


Keenan mengusap lembut puncak kepala Aletha, lalu memebeikan kecupan di kening sebelum pergi dari rumah sakit tempat Aletha bekerja.


“Keenan...” teriak Aletha saat Keenan hampir saja masuk ke dalam mobil.


Seketika Keenan menoleh.


“Ahabbatulladzi ahbabtani lahu.”


“Semoga Allah mencintaimu dan Dia-lah yang membuat Engkau mencintaiku, karena-Nya.”


Dua ujung bibir Keenan melengkung dengan indah setelah mendengar sebuah pengakuan dari Aletha dan melangitkan do'a untuknya. Rasa bahagia seketika membuncah dada, membuat hati Keenan berbunga-bunga. Bahkan saat perjalanan pun tiada hentinya ia menebar senyum, tidak perduli jika ia akan disebut sebagai orang gila.


“Kenapa aku bisa lupa? Bagaimana jika Keenan akan marah dengan pasien ku malam ini? Aku akan menelponnya sekarang juga.”


Aletha merogoh ponselnya di dalam tas, lalu nomor bertuliskan nama Keenan adalah tujuannya.


“Halo, Al? Ada apa? Apa kamu sudah merindukanku, hmm?”


“Tidak. Bukan itu, aku hanya ... ingin mengatakan kepadamu jika pasien ku malam ini adalah Tara, mungkin kamu juga mengenalnya.”


Tak perlu terlalu lama saat Aletha ingin menjelaskan kepada Keenan, karena ia tidak ingin. menciptakan kesalah pahaman antara dirinya dengan Keenan.

__ADS_1


“Kenapa kamu memberitahuku, Al? Tidak mungkin jika aku akan cemburu hanya dengan satu lelaki yang pernah singgah dihatimu. Sedangkan aku sudah lebih dulu hadir dan namamu pun terpatri di dalam hatiku. Dan mulai saat ini... detik ini... bahkan sampai nanti kamu tetap milikku.”


Kalimat itu tak pernah terpikirkan dalam kepala Aletha. Begitu bijak dan sikap dewasa Keenan mampu membuat Aletha semakin bangga dan jatuh hati kepadanya. Dan beruntungnya Aletha sudah mendapatkan lelaki seperti Keenan.


__ADS_2