Lentera Cinta

Lentera Cinta
EPISODE 21 Berlari dan Tertawa


__ADS_3

"Jawaban ku.."


1 JAM SEBELUMNYA


"Semenjak tadi pagi aku tidak bertemu dengan Ben. Apa dia baik-baik saja? Dea bilang kalau Ben berangkat kok.. Tapi kenapa aku sama sekali tidak melihatnya? Apa.. Ben menjauhi ku? Tidak mungkin kan.. Tapi kenapa?.. Apa jangan-jangan.. ? Tu-tunggu sebentar kenapa aku memikirkan Ben?" Arra bergelut kesah dengan dirinya sendiri.


Gadis manis itu sedang duduk termenung didalam ruangan kelasnya. Semua teman-teman nya sudah beranjak pulang ke rumah masing-masing. Namun Arra masih termenung memikirkan Ben yang sama sekali tidak nampak sedari pagi.


"Hey!!" seseorang menggebrak meja yang ada didepan Arra. Rambut pendek berwarna merah siapa lagi kalau bukan Seila.


"Apakah seorang yang jenius harus melakukan duduk melamun sebelum pulang?" tanya Seila dengan ekspresi mengejek.


"Seila? Apa yang kau lakukan disini?!"


"Aku yang bertanya padamu mengapa kau malah bertanya balik padaku!"


"Ini tidak ada urusan nya denganmu. Apa yang kau lakukan dikelas ku?" mata Arra memandangi heran Seila.


"Oh.. Tidak ada. Hanya ingin menengok mantan teman sekelas ku dulu. Apakah masih je-ni-us seperti du-lu?" jawab Seila seraya menghina.


"Aku tidak merasa diriku ini jenius atau apapun itu. Sudahlah dari pada berdebat denganmu lebih baik aku pulang" Arra mengambil tas lalu beranjak pergi. Namun Seila masih saja menghalanginya.


"Tentu saja kau harus pulang cepat kalau tidak kau akan terlambat untuk bertemu dengan kekasih tersayang mu.. Hahahaa" tawa Seila seakan akan ingin mengajak bertarung.


"Apa maksudmu? Kekasih tersayang? Aku tidak merasa pernah mempunyai seorang kekasih? Apa otak mu sudah bermasalah Seila?" balas Arra dengan mata memandang tajam.


"Tidak merasa punya katamu? Ya itu ada benar nya tapi.. Aku tebak hari ini juga kau akan segera mendapatkannya" Seila membalas dengan mata tajam nya pula.


"Hah? Apa yang dia maksud.. Adalah Ben? Tapi.. Aku kan tidak pernah membicarakan hal seperti ini padanya bagaimana dia bisa menebak hal seperti itu? Apa dia menata-matai ku? Ini tidak benar aku harus lebih waspada dengan nya.." benak Arra.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Seila.. Tapi aku masih ada banyak urusan. Pembicaraan mu dengan ku sangatlah tidak penting, aku harus pergi sekarang!" Arra melangkahkan kakinya menuju pintu kelas namun Seila masih saja bicara.


"Hahaa.. Apakah kau menghindar, A-rra? Kau akan menjadi seorang pecundang nanti.. Lihat saja! Tak lama lagi kau akan merasa terpuruk dan seakan akan dunia membencimu!" Arra kembali melangkahkan kakinya keluar.


Kata-kata Seila memang membuat Arra semakin bertanya-tanya, namun ia berusaha menghiraukannya.


Sepanjang perjalanan Arra merasa kesal terus menerus dengan tingkah arogan Seila. Ia mengira tinggal di Amerika bisa membuat dirinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun tidak ia sangka dengan kepopuleran dirinya membuat begitu banyak orang membencinya. Iri dan dengki memang tidak luput dari manusia.


"Kemari!" suara seseorang yang menarik Arra dan membawanya bersembunyi didalam perpustakaan.


Mulut Arra dibungkam oleh orang yang menarik nya paksa menggunakan tangannya. Arra tidak dapat bergerak bebas, bahkan sulit untuk bernafas.


Karena rasa penasaran nya pada orang yang menarik dirinya, Arra pun menginjak kaki orang tersebut dan melepaskan dirinya dari orang itu. Ketika Arra melihat siapa orangnya, ia terkejut karena dia adalah Ben.

__ADS_1


"Ben?! Apa yang kau lakukan? Kenapa membawa ku.." belum selesai Arra berkata, mulut Arra ditutup oleh tangan Ben.


"Ssshhh.. Ku mohon diam lah sebentar.. Akan ku jelaskan jika mereka sudah pergi" ucap Ben sembari sembunyi dan melihat lihat ke jendela.


"Mereka? Siapa?" bisik Arra.


"Kak Ben!! Dimana kau? Kami masih ingin berbincang dan berfoto bareng dengan mu! Ayolah kak!.." teriak sekumpulan gadis yang sibuk mencari keberadaan Ben.


Hampir 10 menit mereka disana, Karena merasa lelah akhirnya gadis-gadis itu pun pergi. Ben menghela nafas lega sebab sekumpulan gadis itu tidak mengejar dirinya lagi.


"Puft... Hahahaaa jadi kau terengah-engah begitu karena dikejar oleh sekumpulan anak kelas 1?" Ucap Arra sembari tertawa dan menepuk nepuk pundak Ben.


"Apa-apaan reaksi mu ini? Aku kira kau akan terkejut atau marah saat mendengar aku populer dikalangan perempuan.." balas Ben dengan raut wajah kesal.


"Hah.. Marah? Kenapa?" tanya Arra dengan heran.


"Ya tentu saja kau pasti cemburu jika aku disukai banyak wanita" rasa percaya diri Ben meningkat saat mengatakannya.


"Ehhhh??? Cemburu? Atas dasar apa aku cemburu pada mereka yang menyukai mu?" gerutu Arra.


Melihat tingkah Arra yang sedikit malu-malu membuat Ben semakin menyukainya. Ben hanya membalas nya dengan tawa geli tanpa mengatakan apapun lagi.


"Ben.."


"Aku berjanji padamu bahwa aku akan menjawab pertanyaan mu setelah seminggu berlalu. Dan sekarang sudah saatnya aku menepati janji ku untuk menjawabnya.." mata Arra terus menatap kebawah saat mengatakannya.


"Dengar baik-baik Arra.. Aku tidak memaksamu untuk menjawab pertanyaan ku. Aku hargai jika kau memang tidak menjawab pertanyaan konyol ku. Anggap saja itu sebuah candaan ku... Aku merasa tidak enak hati jika kata-kata ku menjadi beban untuk mu Ra.." sahut Ben sambil memegang erat kedua tangan Arra.


"Tidak Ben.. Aku sudah memantapkan hatiku untuk menjawabnya. Apapun jawaban ku.. Kau akan menerimanya bukan?" Arra menatap serius mata Ben.


"Tentu saja.. Jadi, apa jawabanmu?" tanya Beb dengan lembut dan senyum mengiringi nya.


Arra menarik dalam nafas nya lalu mulai menjawab


"Jawaban ku.. Aku tidak akan menjawab 'tidak' begitu pula 'iya'.. Ku akui aku memang memiliki rasa suka padamu Ben. Tapi aku tidak terlalu yakin untuk mempercayai hatiku. Jadi aku rasa.. Aku memang menyukaimu akan tetapi aku belum mencintaimu"


Mendengar jawaban Arra ben merasa sedikit puas. Ia memaklumi jika Arra belum mencintainya. Karena cinta tidak langsung datang dan tidak harus dipaksa kan.


"Aku mengerti.. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku Ra. Rasa suka mu padaku akan kuterima dan akan ku masukkan kedalam hatiku. Aku akan menunggu mu menyatakan bahwa kau mencintaiku. Meskipun nanti kau tidak mencintaiku setidaknya kau pernah menaruh rasa suka padaku. Itu pun sudah lebih dari cukup.." Tangan Ben mengelus lembut kepala Arra sembari tersenyum.


"Ben... Kau.. Tidak marah atau kecewa dengan jawaban ku?.." ucap Arra sambil menunduk


"Arra, aku tidak pernah kecewa dengan jawaban mu. Aku akan selalu hargai apapun itu jawabanmu. Aku tidak suka memaksa seseorang apalagi itu seorang perempuan yang aku cintai"

__ADS_1


"Dia... Tidak kecewa padaku? Dia memang berbeda dengan yang lain. Meskipun menyebalkan ia masih bisa bersikap dewasa disaat seperti ini" benak Arra.


Setelah berbincang lama dengan Ben, Arra pun mengajak Ben untuk segera pulang. Hari akan semakin gelap dan mobil jemputan mereka mungkin saja sudah menunggu terlalu lama diluar.


Mereka melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan lalu berhenti karena penjaga perpustakaan berdiri didepan mereka.


"Kalian! Apa yang kalian lakukan di perpustakaan disaat penjaga tidak ada? Apa kalian berusaha meminjam buku tanpa sepengetahuan ku?" ucap seorang perempuan muda dan berkulit putih sembari membawa tongkat kayu yang biasa ia gunakan untuk menggertak murid-murid nakal.


"Ma-maafkan kami Bu Cika, kami hanya.. Melihat lihat buku saja dan tidak mengambil apapun didalam..." ucap Arra dengan terbata-bata.


"Benarkah? Jika kalian ketahuan berbohong maka kalian akan mendapatkan hukuman berat besok! Sudah sana pulang!" ucap lantang Bu Cika.


"Baik Bu" Arra dan Ben menunduk hormat lalu segera melangkah pergi dari perpustakaan.


Sepanjang perjalanan menuju gerbang mereka tertawa sambil berlari karena kejadian yang mereka alami hari ini.


"Lihat saja aku pasti akan sampai di pintu gerbang dulu!" ucap Arra sambil tertawa dan berlari mendahului Ben.


"Kau yakin? Baiklah mari kita lihat siapa yang akan sampai disana terlebih dahulu"


Ben tak kalah semangat dengan Arra, ia pun segera menyusul Arra yang ada didepannya. Mereka berlari bersama dengan diiringi senyum tawa manisnya.


Hati Arra merasa lega dan senang karena balasan Ben begitu menenangkan pikirannya. Ben menghargai apapun keputusan yang Arra ambil tanpa ada rasa kecewa sedikit pun. Itu membuat Arra merasa tenang dan nyaman di dekat nya.


"Ya, aku yang sampai terlebih dulu" ucap Ben sembari tertawa melihat Arra terengah-engah.


"Huft.. Kau.. Kan.. Laki-laki.. Tentu saja kau bisa.. Menang melawanku.." balas Arra dengan nafas terengah-engah.


"Haha.. Tapi kau tetap saja hebat Ra"


"Eh, Hebat? Aku hebat apa?"


"Tentu saja hebat memenangkan hatiku" gombal Ben.


"A-apa???" blush muka Arra memerah karena gombalan Ben. Ia tidak menyangka Ben begitu suka membuat Arra malu.


"Hahaa jangan terlalu dipikirkan.. " tangan hangat Ben mengusap lembut kepala Arra.


"Oh ya, sopir mu sudah menunggu dirimu untuk pulang Ra. Sebaiknya kau segera menghampirinya lalu pulang"


"Ah baiklah.. Terimakasih untuk hiburan mu Ben, sampai jumpa besok" Arra berlari dan melambai pada Ben.


Ben pun membalas lambaian nya sambil tersenyum pada Arra.

__ADS_1


__ADS_2