
“Cintaku sudah mentok di kamu... dan tidak ada lagi yang lainnya. Cukup kamu yang mengisi di relung hati, menjadi teman hidupku sampai menua.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha sejenak duduk di sebelah Rachel, gadis yang usianya sudah memasuki dua puluh tiga tahun. Dan tak nampak pihak keluarga lain yang menunggu Bagus siang itu, hanya ada Rachel di sana.
“Maaf jika saya mengajukan pertanyaan yang bodoh, tapi saya sebagai Dokter ingin tahu siapa kedua orang tua Bagus? Karena saya hanya melihat kamu saja di sini.”
“Tidak apa-apa kok, Dok. Saya... tunangan Bagus, dan satu bulan lagi kami akan menikah. Tapi musibah seperti ini yang harus kita jalani saat ini. Sedangkan Bagus sendiri tidak memiliki orang tua, karena orang tuanya sudah lama meninggal. Dan Dokter bisa anggap saya sebagai walinya.”
Deg...
‘Ya Allah... ternyata masih ada di dunia ini yang nasibnya hampir sama denganku dulu. Tapi aku berdoa... semoga mereka bisa melanjutkan pernikahan yang sudah mereka rencanakan.’ Aletha bermonolog dalam hati.
“Jangan bersedih atas apa yang menimpa hubungan kalian. Jika Allah merestui hubungan kalian yang akan masuk ke jenjang pernikahan, maka... Allah juga akan mempermudah segalanya.” Aletha menyunggingkan senyum.
“Dan... Allah itu maha baik, tidak mungkin jika hambanya tidak hidup dalam berpasang-pasangan. Karena jodoh sudah pasti ditulis oleh Allah dalam kitabnya,” ucap Aletha dengan lembut.
Rachel yang mendengar ucapan Aletha merasa sedikit terhibur, menyeka air matanya secara perlahan. Lalu, dua ujung bibir Rachel ditarik yang menciptakan sebuah lengkungan yang indah. Senyum itulah yang ingin dilihat oleh Aletha, bukan kesedihan, kerapuhan, amarah dan tangisan pedih karena merasa atas ketidak adilan dalam hidupnya seperti Aletha dulu.
‘Ya Allah... kuatkan hati wanita ini. Seperti Engkau menguatkan dan meyakinkan hati ini jika Keenan masih hidup dalam lindungan-Mu.’
Aletha kembali mendoakan Rachel. Dan dengan seiringnya waktu Aletha mampu mengakrabkan dirinya dengan Rachel, hingga obrolan ringan telah tercipta dan menemani mereka sampai membuat Aletha lupa akan waktu, di mana ia harus melakukan visite terhadap pasien yang sudah menjalani operasi jantung sebelumnya.
“Tidak perlu melakukan pemeriksaan ulang terhadap pasien kemaren, Al. Karena aku sudah melakukannya dan... aku minta maaf jika aku terlalu merutuki kebodohanku.” Ilham menghampiri Aletha yang masih duduk di sebelah Rachel.
“Baguslah kalau kak Ilham sadar diri. Kita itu mungkin hampir bernasib sama Kak, jadi jangan terlalu bersedih seperti itu. Karena aku pun masih belum menemukan titik keberadaan Keenan. Bahkan aku juga tidak tahu Keenan masih hidup atau sudah pergi untuk selamanya.” Aletha berdiri tepat di hadapan Ilham.
Deg...
Perkataan Aletha benar-benar menohok hati Ilham yang masih saja merasa kehilangan. Sejenak Ilham terdiam, merenung dan memikirkan hal yang memang benar adanya. Di mana Keenan yang memang belum ditemukan hingga membuat Aletha hanya bisa berharap tanpa sesuatu hal yang pasti.
‘Aku turut bersedih dengan musibah yang harus kita hadapi bersama, Al. Dan kamu ... seorang wanita yang terlalu kuat menahan kepedihan ini, Al.’
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Aku yakin... kamu masih hidup. Bahkan kamu baik-baik saja, masih dalam penjagaan Allah. Karena aku mampu merasakan hal itu, karena kita memiliki ikatan.” Aletha menatap kalung milik Keenan yang diberikan sebelum Keenan pergi bertugas kala itu.
Aletha memasukkan kembali kalung itu ke dalam kotak kecil setelah itu dimasukkan pula ke dalam saku snelinya. Dan Aletha tetap membawa kotak itu kemana pun berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua siap dengan aksi mereka dalam keahlian mereka tersendiri. Tapi mereka tidak akan melakukan tindakan apapun jika belum ada perintah dari Keenan. Karena mereka yakin bahkan sangat merasa yakin jika pengirim pesan tanpa nama itu tak lain adalah Keenan, kapten mereka.
“Tunggu dulu, sampai ada perintah lanjutan dari Kapten, Naina. Jika sudah, kamu pun harus bersiap untuk menunjukkan peranmu.”
Bayu dan Bian menahan tawa saat melihat pakaian Naina yang berubah drastis. Memakai gaun ala princes dengan bando yang berwarna biru.
“Kalian jangan menertawakan aku, ya! Aku hanya ingin... menghayati peran,” ucap Naina penuh penekanan.
Tidak lama kemudian pesan kembali masuk ke ponsel Bian.
[Sekarang!]
Seketika Bian memberitahu Bayu dan Naina dengan menggunakan alat BMS (Battlefield Management System) CY-16H, alat yang bisa digunakan untuk berkomunikasi di seluruh hierarki yang ada di TNI AD.
“Tok... Tok...”
Terdengar suara pintu telah diketuk. Tidak lama kemudian seseorang tengah membuka dari dalam.
“Siapa kamu?”
Seorang lelaki bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam itu bertanya kepada Naina.
“Aku... Kiana. Aku boleh tidak minta bantuan kamu? Aku tersesat di hutan ini, terus... aku tidak tahu jalan untuk kembali. Dan aku menemukan rumah ini di sini. Apa ini rumah kamu?” ucap Naina senetral mungkin.
Dengan raut wajah yang nampak bingung dan sedih, akhirnya lelaki itu mampu dihipnotis oleh Naina dalam sekejap mata. Dan itulah kelemahan seorang lelaki, jatuh hati pada wanita yang berpakaian di atas lutut. Walaupun sebenarnya Naina merasa risih dengan pakaian itu, tetapi ia harus menghayati sebuah peran.
“Bayu, giliranmu!” perintah Bian.
Bayu menerobos masuk melalui jendela yang ada di sisi kiri, tepat di dalam ruangan yang sepi. Akan tetapi di dalam ruangan itu tidak sepenuhnya sepi, karena ada beberapa wanita yang sengaja disekap bahkan dibungkam bibirnya agar tidak bisa bicara.
“Ssttt...” Bayu meminta kelima perempuan itu untuk diam.
Dengan anggukan pelan kelima wanita itu menyetujui permintaan Bayu. Setelah itu, dengan sangat hati-hati Bayu membuka satu persatu tali yang mengikat kedua lengan mereka.
“Kalian harus tetap diam, jika tidak makan akan tamat riwayat kita di sini sekarang juga,” ucap Bayu dengan nada yang amat sangat lirih.
Kembali kelima wanita itu mengangguk, perlahan Bian maju dan membuka pelan gagang pintu yang tertutup rapat di ruangan itu tetapi tidak dikunci. Dan terlihat dari luar sana nampak sepi, tetapi Bayu harus tetap berhati-hati.
“Mereka sudah berada dalam lindunganku, Bian. Sekarang giliranmu!”
“Tidak, Bayu. Kamu masih harus membuka pintu itu dan keluar, karena kamu harus menyelamatkan Kapten dan Lettu Garda di sebelah ruangan itu. Karena melalui teropong ku, aku dapat melihat dengan jelas mereka di sana dan disekap.”
__ADS_1
“Apa? Baiklah, aku akan melaksanakan perintahmu.”
Dengan cetak langkah kaki yang nyaris tidak terdengar Bayu mengendap-endap hendak masuk ke ruangan yang berada di sebelah ruangan para wanita itu disekap.
“Bian, ada penjaganya. Dan aku tidak bisa masuk begitu saja, akan terlalu beresiko nanti.”
“Kamu tenang saja, pistol ku mengarah di kepala pejlnjaga itu.”
“Apa maksud kamu, Bian? Bukannya kamu berada di atas atap?”
“Aku berganti posisi, tidak aman di sana. Aku di atas pohon sudah satu jam yang lalu dan aku sekarang merasa lelah. Cepat lakukan tugasmu yang ke dua setelah ku tembak kepalanya.”
“Baiklah!”
Dor... Dor...
Dua penjaga seketika tewas di tempat penyekapan Keenan dan Garda. Bayu pun masuk dan membebaskan Keenan sekaligus Garda dari ikatan yang begitu erat.
“Jadi... kalian sebenarnya masih selamat?”
Keenan dan Garda hanya mampu memberikan senyum, semata untuk menyambut kedatangan Bayu yang sudah menolong mereka. Rindu memang membuncah dada, tetapi saat itu bukanlah saatnya untuk melakukan aksi peluk memeluk satu sama lain untuk melepas rindu.
“Ada senjata untuk kami, Bayu? Karena... kami tidak memiliki senjata setelah bom menghancurkannya.”
“Setelah disekap jangan bertindak bodoh, Kapten. Kenapa kalian tidak ambil saja senjata di tangan mereka?”
Dengan rasa bahagia dan seakan siap untuk berperang kembali Keenan dan Garda seketika mengambil senjata yang tergeletak di lantai tak jauh dari kedua penjaga tadi ambruk.
“Ceklek...”
Terdengar gagang pintu telah dibuka, seakan ada orang yang ingin masuk ke dalam ruangan itu. Dengan sigap Keenan, Garda dan Bayu segera mencari tempat untuk bersembunyi.
“Rion... Joni... Apa yang terjadi dengan kalian? Dan di mana Kapten serta bawahannya itu? Tidak mungkin jika mereka kabur, karena jendela masih terkunci.”
Penjaga yang lainnya ikut mondar-mandir mencari keberadaan Keenan maupun Garda yang tidak terlihat dalam ruangan itu.
“Sial! Ternyata mereka tertembak,” umpat penjaga lain.
“Sebarkan pasukan dan perketat penjagaan!” perintah salah satu penjaga yang mengetahui ada penyusup di maraksnya itu.
Lelaki yang masih bersama Naina seketika mencurigai Naina setelah mendengar perintah dari dalam. Tetapi Naina sangat berhati-hati sebelum benar-benar mendapatkan perintah penyerangan dari Keenan.
“Siapa kamu? Apa kamu seorang penyusup?”
“Penyusup? Apa maksud kamu?”
Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya dan mencekal lengan Naina hendak membawanya masuk ke dalam ruangan. Dan diwaktu yang bersamaan Keenan pun memberikan perintah.
“Naina... Bian... Sekarang!”
Dor... Dor...
Terdengar suara tembakan dari luar, tak. lain tembakan itu berasal dari Bian yang mengenai jantung penjaga yang berada di sisi samping bagian luar.
Dor... Dor...
Di waktu berdamaan Naina mengarahkan tembakannya ke kepala lelaki yang bertubjh tegap dan kekar bersamanya tadi.
“Mampus, kan! Jika benar aku penyusup... maka kamu mati.” Naina tertawa puas, yang mengundang banyak penjaga ke arahnya.
Ada lima penjaga yang menodongkan pistol ke arah Naina, sehingga membuat Naina merasa terancam jika ia akan meluncurkan tembakannya.
“Sial! Aku terlalu bangga. Bodohnya sekali aku!” umpat Naina saat merutuki kebodohannya.
Dor... Dor...
Tembakan dari Keenan menyelamatkan Naina. Hingga dua penjaga pun ambruk, dan dengan sigap Naina meluncurkan tembakannya ketiga penjaga yang masih bisa berdiri dengan dua kaki.
Dor... Dor...
Dor... Dor...
Baku tembak pun terjadi dari segala alah. Ada yang di luar, di dalam ruangan dan juga di setiap sisi rumah.
Dan saat baku tembak masih terjadi bantuan yang diminta dari pasukan penembak jitu, anggota polri dan beberapa pasukan loreng datang dan siap melakukan penyerangan untuk membantu mereka yang merasa kesulitan karena para penjaga markas yang semakin banyak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Cintaku sudah mentok di kamu... dan tidak ada lagi yang lainnya. Cukup kamu yang mengisi di relung hati, menjadi teman hidupku sampai menua.”
Saat berada di kantin rumah sakit Aletha kembali mengeluarkan kotak kecil yang berada di saku snelinya. Kemudian ditatap dengan lekat kalung bertuliskan nama Keenan yang bertanda seorang prajurit sejati.
“Terus saja tatap sampai melotot tuh kalung!” ucap Luna yang seketika mengejutkan Aletha.
__ADS_1
“Aku kangen, Kak. Masa iya tidak boleh aku pelototin kalungnya saja? Siapa tahu kalau aku elus dan aku cium sampai tiga kali Aa Keenan nya muncul langsung di hadapan aku.” Aletha nyengir.
“Bwahahaha... Haduh, Al. Ingat Keenan itu manusia, bukannya jin yang seperti di film jin jan jun begitu.” Luna seketika melepas tawanya, mengundang Juan yang tidak sengaja berada di kantin juga.
“Isshhh... Kakak tidak berakhlak itu namanya. Bukannya menghibur malah tertawa begitu. Tidak berperikemanusiaan itu namanya,” umpat Aletha.
Juan pun menghampiri Aletha dan Luna yang tengah duduk di di bagian kursi tengah. Dan Juan hanya menatap Aletha dan Luna dengan tatapan bingung, tidak mengerti topik apa yang sedang mereka bicarakan.
“Kenapa kamu tertawa, sayang?”
“Tuh, lihat istri kak Juan. Puas banget ketawa di atas penderitaan... A... DIK... NYA...” Aletha beranjak dari kursinya lalu enyah dari kantin dan mencari tempat yang lain.
Aletha berjalan pelan menelusuri koridor rumah sakit dengan tatapan tidak jelas, hanya melamun saja bahkan saat ada pasien ataupun perawat yang menyapa Aletha hanya diam saja. Tidak merespon sama sekali untuk membalas sapaan dari mereka semua.
“Kasihan ya, Dokter Aletha. Anaknya masih kecil, bapaknya malah sudah tidak ada saat perang.”
“Iya, Ya. Kasihan banget nasib Dokter Aletha, sudah menjadi janda tapi pangkatnya janda yang cantik.”
Banyak bibir yang mencibir Aletha, dari yang merasa iba dan benar-benar tulus karena kasihan, bahkan ada pula yang merasa iba karena mengejek. Namun Aletha tidak mempedulikan hal itu, baginya Keenan masih hidup.
”Tidak apa jika kalian mengatakan aku sudah janda, aku tidak akan bahagia, ataupun semacamnya, tapi... aku sangat yakin Allah tidak akan pernah tidur ketika doa istri telah beradu di langit. Pasti Aa Keenan beneran masih hidup, karena aku mampu merasakan setiap detik detak jantungnya.” Aletha memegang dadanya dan seakan merasakan kehadiran Keenan di sampingnya.
“Krukukuk... kukuk...”
Suara perut Aletha pun berbunyi, menandakan bahwa perut Aletha harus segera diberi amunisi untuk mengisi perutnya itu. Dan Aletha memutuskan untuk pergi ke restoran Mandarin Chicken Rice di depan rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Permisi, Mbak mau pesan apa?” tanya seorang pelayan.
”Emm... kopi panas sama nasi goreng saja ya, Mbak.”
Pelayan itupun mengangguk, lalu kembali ke bagian dapur dan membuat sesuai dengan pesanan Aletha.
Aletha duduk sembari merajuk di depan layar ponselnya saat menunggu pesanannya datang. Untuk mengisi kekosongan waktu Aletha melakukan panggilan video dengan Bu Laila.
“Assalamu'alaikum, Bu.”
“Wa'alaikumsalam, Nak Aletha. Ada apa kok menghubungi Ibu di siang hari begini? Apa Nak Aletha memerlukan sesuatu?”
“Ah tidak kok, Bu. Aletha hanya merindukan. Alina saja. Di mana Alina sekarang, Bu?”
Bu Laila seketika mengarahkan kamera yang berada di layar ponselnya ke Alina yang sedang bermain dengan beberapa bola di atas kereta dorong nya. Hal itu sukses membuat Aletha tersenyum tanpa adanya kemurungan di wajahnya. Bahkan kesedihan yang sejenak singgah telah pupus, menghilang karena sudah ada obat penawarnya.
”Silahkan dimakan! Ini pesanan Anda, Mbak.” Pelayan meletakkan pesanan Aletha di atas meja.
Aletha mengangguk, rindu yang sudah terobati kini sudah cukup bagi Aletha untuk mengakhiri obrolannya dengan Bu Laila. Dan siang itu Aletha menyantap nasi goreng dengan seduhan kopi panas sesuai dengan pesananbya tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ya Allah, sudah saatnya aku menghadap-Mu kembali.” Aletha masuk ke dalam sebuah masjid dengan langkah pelan.
Air wudhu telah memberikan kesegaran tersendiri bagi umat Tuhan yang menggunakannya sesuai dengan tata cara. Setelah itu Aletha memakai mukena yang sudah disediakan di masjid tersebut, lalu membentangkan sajadahnya di atas lantai yang suci.
“Allahu Akbar...”
Aletha menunaikan empat rakaat dengan khusu'. Tidak lupa melantunkan dzikir untuk mendamaikan hatinya yang sejenak merasa gelisah. Setelah itu Aletha melangitkan doa untuk meminta kepada Allah sebuah perlindungan terhadap dirinya, suaminya dan keluarganya.
“Ya Allah, jika aku dan Keenan mamang masih berjodoh maka... segera persatukan kami kembali dalam perjumpaan yang bahagia. Aaminn...”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Dokter Aletha, Anda harus melakukan pemeriksaan ulang kepada korban kecelakaan tadi pagi. Tapi... siapa ya namanya...? Aku lupa.” Khaira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Apa... Bagus namanya?”
“Nah... itu, iya Bagus namanya, Dok.”
Aletha menautkan alisnya, setelah itu melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan Bagus yang masih berada di ruang ICU.
Aletha melihat Rachel dengan setianya menunggu Bagus di sisi branker Bagus dengan mengenakan baju berwarna hijau, baju yang wajib digunakan saat masuk ke dalam ruang ICU.
“Selamat sore, Rachel! Saya lakukan pemeriksaan terlebih dahulu, ya!”
Rachel pun mengangguk. Aletha meletakkan stetoskop nya di atas dada Bagus, sedangkan Khaira mengontrol alat pacu jantung yang masih menempel di atas dada Bagus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dor... Dor...
Dor... Dor...
Dor... Dor...
__ADS_1
Adu baku tembak masih saja terjadi, yang membuat kebanyakan orang kehilangan nyawa mereka dan mati ditempat.
Bersambung...