Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 159 “Seperti Roda yang Berputar”


__ADS_3

“Aku akan menjadikan rasa sabar itu sebagai teman hidupku... karena aku tidak tahu ujian Tuhan yang bagaimana, yang akan dipilihkan untukku. Dan aku akan menjalani ujian itu dengan... Kekuatan Hati.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Perlu Aa tahu doa yang terus Neng langitkan untuk kita. Semoga cinta kita bisa abadi di dunia bahkan kita bisa sesurga.”


Air mata Aletha luruh begitu saja, kerinduan kembali mencuak dihati bahkan membuat sesak didalam dada. Hanya bisa Aletha curahkan kepada Sang Pencipta, karena hanya Kepada-Nya lah seorang hamba mengadu dan hanya Allah SWT yang bisa memberikan segalanya kepada hamba yang membutuhkan pertolongan.


Aletha segera menyeka air matanya, dan ia tidak mau jika bersedih dan selalu berpikir negatif saat jarak memisahkan nya dengan Keenan.


“Meskipun tidak ada kabar dari Aa, doa Neng tidak akan pernah luntur untuk Aa.”


Aletha menuju ke ruang makan, karena Bu Laila sudah menyiapkan beberapa hasil masakannya di meja makan. Aletha akan berusaha untuk bersikap biasa saja agar Wilona tidak tahu jika ia tengah bersedih.


Acara makan malam telah dilangsungkan dengan menu sederhana sebagai sajian malam. Namun, adanya rasa syukur yang tercipta di hati membuat setiap makanan yang masuk ke dalam mulut akan terasa nikmat. Hingga tidak ada satu biji nasi pun yang ada di piring Aletha, karena Keenan selalu mengajarkan untuk makan dengan secukupnya, tidak akan berlebihan yang membuat nasi itu akan terbuang dengan percuma karena sudah merasa kenyang terlebih dahulu sebelum nasi itu habis tak tersisa.


“Bagaimana, Nak Wilona suka dengan masakan Ibu?” tanya Bu Laila sesopam mungkin.


Meskipun Bu Laila lebih tua daripada Wilona, tetapi Bu Laila tidak mau jika terlalu bersikap biasa saat berbicara dengan Wilona, gadis pemilik bola mata kecoklatan itu.


“Alhamdulillah, enak kok, Tante.” Wilona mengangguk.


Untung saja Wilona faseh dengan bahasa Indonesia, meskipun tidak tinggal di Indonesia tetapi selama di Amerika Wilona selalu belajar tentang bahasa Indonesia untuk mempermudah percakapan setelah perpindahannya.


“Nak Wilona, ayo kita sholat isya' dulu!” ajak Bu Laila.


Setelah mendengar suara adzan berkumandang Bu Laila mengajak Wilona untuk menunaikan sholat isya' bersama, bukan hanya Wilona saja melainkan Aletha juga diajak.


Mungkin sudah biasa jika Bu Laila dan Aletha menunaikan sholat bersama itupun jika, Aletha tidak sedang bekerja. Berbeda lagi jika Aletha bekerja pagi sampai malam, Aletha akan sholat di mushola Rumah Sakit.


“Al, aku... jarang sekali sholat. Bagaimana ini?” tanya Wilona tanpa suara.


“Ikutilah gerakan Bu Laila! Kamu tidak lupa dengan gerakan sholat, kan?”


“Sedikit sih.” Wilona menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari memperlihatkan cengiran.


Aletha hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Mengingatkan akan dirinya yang merasa jauh dari Allah SWT sebelum mengenal Laura di Amerika dulu saat menjalankan kuliah. Namun berbeda setelahnya, terutama setelah menjadi istri dari sang kapten Aletha selalu diajarkan tentang ilmu agama.


“Lihatlah aku saat berwudhu, saat sholat dan saat berdzikir! Aku yakin, jika kamu sudah hafal gerakannya dan merasakan nyaman bahkan menemukan titik kedamaian hati, kamu tidak akan pernah lagi melupakan sholat bahkan enggan untuk meninggalkannya.” Aletha menjelaskan berapa nyamannya setelah menunaikan sholat lima waktu secara tepat waktu kepada Wilona.


Wilona sesekali melihat Aletha yang berdiri satu shaf dengannya, sedangkan Bu Laila berada di barisan depan karena Bu Laila sebagai imam dalam sholat.


Ucapan salam sebagai penutup sholat, selanjutnya berdzikir mengingat Allah SWT sebagai Maha dari segala Maha dan Nabi Muhammad As sebagai Nabi junjungan kita, umat manusia.


“Bagaimana, apa kamu sudah mengerti bagaiaman gerakan sholat?”


“Sedikit menghafalnya, tapi serasa sulit melantunkan setiap dzikir yang seperti tadi.” Wilona menoleh kepada Aletha.


Aletha hanya tersenyum, membenarkan apa yang diucapkan Wilona. Karena Aletha juga merasakan hal sama saat memulai membaca dzikir seperti di awal dulu. Namun, Keenan selalu mengajarkan itu kepada Aletha selepas sholat, hingga Aletha pun sudah terbiasa mengucapkannya.


“Baiklah! Tidak apa-apa, asalkan kamu mau belajar aku yakin, kamu tidak akan merasakan risau saat berada dalam masalah besar sekalipun.” Aletha menggenggam tangan Wilona yang masih terbalut mukena.


“Al, kamu... berubah. Rasanya aku tidak pernah mengenali Aletha yang dulu. Kamu jauh lebih kalem, tidak begajulan saat kita bertemu kembali di Mauritania. Bahkan aku pangling dengan kamu yang sekarang, kamu... terlihat begitu cantik dengan hijab itu.”


“Kehidupan itu seperti roda yang berputar, Wilona. Aku mampu berubah menjadi seperti saat ini karena iman. Iman yang diajarkan dari suami yang saleh.” Aletha membayangkan wajah Keenan saat air wudhu membasahi wajahnya yang membuat Keenan semakin tampan dan menakjubkan.


Wilona hanya menarik dia ujung bibirnya, merasa yakin jika Keenan mampu memberikan kebahagiaan untuk Aletha dan Alina. Tapi, sampai saat ini tidak ada kabar dari Keenan maupun yang lainnya termasuk Rania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


“Siapkan senjata kalian! Kita akan menggeledah markas mereka malam ini.”


Ditengah hutan belantara yang amat gelap tanpa ada cahaya penerang sama sekali pasukan berani mati akan melakukan aksi penggrebekan markas dari KKB yang semakin meraja lela, membuat warga semakin resah dan juga merasa takut.


“Tapi kita tidak memiliki senjata yang lebih jika, pasukan mereka akan bertambah banyak secara tiba-tiba. Masih ingat bukan, bagaimana mereka menangkap kita Komandan?”


“Iya, kita nyaris... tak bernyawa.”


“Lalu bagaimana kita mengatasi masalah ini? Kita tidak mungkin melakukan aksi penggrebekan tanpa taktik dan strategi yang matang. Jangan sampai kesalahan terjadi lagi. Kita... tidak tahu bagaimana nasib kita selanjutnya.”


Hening...


Semua nampak berpikir apa yang harus segera dilakukan untuk membekuk kejahatan yang sudah diperbuat oleh KKB yang semakin menjadi setelah penangkapan tiga bulan lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam itu cahaya rembulan tidak begitu kentara, remang karena tertutupi dengan awan hitam. Seakan hujan akan turun pada malam itu.


“Al, sepertinya hujan akan turun. Rumahmu... tidak bocor, kan?”


Seketika Aletha tertawa, ia ingat betul saat masa kecilnya bersama Wilona. Saat berada di Amerika hanya ada Aletha dan Wilona yang berada di dalam satu atap, waktu itu hujan turun dengan sangat lebat. Namun keduanya bukan merasa takut karena petir, justru mereka disibukkan dengan atap rumah Aletha yang bocor.


“Tidaklah, Wilona. Itu dulu, di Amerika... sekarang beda. Aku mendesain rumah ini dengan sempurna, InsyaAllah atapnya tidak akan bocor,” jawab Aletha dengan cengiran.


Wilona manggut-manggut, mempercayai yang diucapkan oleh Aletha. Setelah menidurkan Alina di kamar Aletha kembali membuka laptop dan juga buku data pasien yang sudah daftar melalui suster Wati.


“Al, sepertinya besok jadwal kita sama. Bekerja di sift pagi, tapi... apa kamu masih bertugas di ruang operasi?”


“Aku rasa tidak, karena sudah dialihkan kepada Dokter Umum. Kecuali... jika darurat aku yang terjun di ruang operasi. Jadi, besok kemungkinan aku tidak terlalu sibuk. Lagipula sekarang kan, sudah banyak juga Dokter ahli bedah jantung seperti kamu, kak Ilham dan yang lainnya.”


“Sudah malam, ayo kita tidur! Jaga tuh kesehatan... kesehatan mata, jantung, hati dan...” Wilona menggantungkan ucapannya ke udara.


Aletha menautkan alisnya saat Wilona tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Membuat Aletha merasa geram saja, tapi rasa sabar untuk begitu melekat dalam hati Aletha saat ini sehingga tidak menyimpan amarah atau hal semacamnya seperti, umpatan kekesalan.


“Dan... jari. Tuh lihat, dari tadi perasaan kamu ngetik terus di laptop, jari sampai keriting. Memangnya nulis apaan sih?”


“Ini loh, aku lagi balas E-mailnya mbak Fia, ituloh yang nulis lentera cinta. Aku itu sedih kenapa ceritanya tidak ditamatin happy ending, masih saja lanjut terus.”


“Kan, itu mbak Fia lakuin biar seru ceritanya. Sudahlah jangan ikut mikirin begituan, biar mbak Fia saja yang mikir bagaimana alurnya. Terserah mbak Fia mau bagaimana alurnya, seperti roda yang terus berputar.”


Aletha dan Wilona tertawa bersama, hanya pasrah saja bagaimana mbak Fia akan mengatur jalan kehidupan mereka dalam novel lentera cinta.


Hari sudah terlalu malam untuk melanjutkan obrolan kembali, bahkan hujan pun turun secara perlahan. Membuat malam terasa amat sepi, hingga tubuh pun lebih memilih untuk lekas tidur dan beristirahat.


Aletha melingkarkan tangannya di pinggang Alina, memberikan dekaoan yang membuat Alina akan merasa nyaman dan terlindungi dari suara petir yang menggelegar.


‘Jika satu minggu ini tidak ada kabar apapun tentang Aa di sana, tak apa. Neng akan sabar.’


‘Neng akan menjadikan rasa sabar itu sebagai teman hidup Neng... karena Neng tidak tahu ujian Tuhan yang bagaimana, yang akan dipilihkan untuk Neng. Dan Neng akan menjalani ujian itu dengan... Kekuatan Hati.’


Tes...


Air bening jatuh dan luruh membasahi pipi Aletha, rasa rindu semakin kuat dalam dirinya. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun selain memperbesar hatinya dan menguatkan keyakinan jika Keenan akan selalu berada dalam lindungan Allah SWT.


Aletha segera menyeka air matanya sebelum jatuh di lengan Alina dan membuat Alina beringsut dari tidurnya.


‘Aa... Neng rindu. Dalam doa Neng, Neng berharap... Allah selalu mendekatkan kita dalam ikatan hati.’


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


“Dengar baik-baik, kita tidak bisa tinggal disini untuk selamanya. Ada keluarga yang tengah menanti kita untuk kembali, bahkan sampai saat ini pun kita belum memberikan kabar apapun kepada mereka.” Bayangan Aletha sekilas melintas dalam pelupuk mata Keenan.


Deg...


‘Maafkan Aa, Neng! Aa... belum bisa memberikan kabar apapun. Misi ini sangat rahasia, agar mereka segera tertangkap dan berada di tempat semestinya. Selipkan nama Aa dalam setiap doa Neng.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kehidupan terus berjalan, seperti roda yang terus berputar. Sudah satu bulan telah berlalu, tetapi masih tidak ada kabar tentang Keenan saat berada jauh di sana.Hal itu membaut hati Aletha sudah mulai goyah, ia tidak ingin Keenan berada dalam masalah. Apalagi saat mengingat Keenan menjadi sandera oleh anggota KKB enam bulan lalu.


“Dokter Aletha?”


Khaira melambaikan tangannya di depan pandangan Aletha, tetapi Aletha nampak tidak merespon. Aletha terlihat melamun, bahkan Ilham yang tidak sengaja berada di kantin rumah sakit seketika menghampiri Aletha dan Khaira yang duduk di sana.


“Ada apa, Khaira?”


“Eh, ada Dokter Ilham. Itu... lihat, Dokter Aletha dari tadi bengong terus.” Khaira menunjuk Aletha yang mengarahkan tatapannya ke arah lain dengan tatapan kosong.


Ilham menghela nafas panjang, Ilham mengerti apa yang membuat Aletha bersikap seperti tidak biasanya. Karena hal sama pun tengah dirasakan oleh Ilham saat tidak ada kabar sama sekali dari Naina sampai satu bulan telah berlalu.


“Al, are you okay?” tanya Ilham.


Ilham menyentuh lengan Aletha dengan pelan, Aketha yang merasakan sentuhan itupun membuat lamunannya seketika terbuyarkan.


“Ah iya, kak Ilham... ada apa ya? Apa... Kak Ilham ngomong sama aku?”


“Ada apa denganmu, Al? Apa yang terjadi?” Ilham berbalik bertanya.


“Kak... salah tidak jika aku merindukan Aa Keenan? Bukankah itu lucu... Aku yang terus bicara sama kalian semua untuk bersabar, tapi aku sendiri yang tidak bisa menahan kesedihan dan kerinduan ini saat jauh darinya. Hiks... Hiks... Hiks...”


Tangis pun pecah, Aletha tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Hatinya telah berdusta, ketegaran yang awalnya terus ia tanamkan kini luruh juga.


“Kamu tidak salah, Al. Bukankah itu hal yang wajar sebagai seorang istri. Kamu berhak merindukan, menangisi dan mencemaskan Komandan kita semua. Tapi kamu harus ingat, kamu pernah meminta Kakak untuk selalu melangitkan doa sebagai penenang hati.”


“Robbanaa afrigh 'alainaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa 'alak qoumil kaafiriin.”


“Dan artinya... Ya Tuhan kami, limpahkanlah atas dari kami, serta teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap orang kafir. Qs. Al-Baqarah : 250.”


“Jangan pernah menyembunyikan kesedihanmu lagi, karena itu bukanlah Aletha yang Kakak kenal selama ini.” Ilham mengangguk, menguatkan hati Aletha yang ketegarannya mulai luntur.


Aletha manggut-manggut, berusaha untuk membangun kembali ketegaran dalam hatinya. Meskipun belum sepenuhnya kembali, setidaknya Aletha mampu menyeka air mata yang sudah jatuh dengan derasnya.


“Dan jika hatimu masih diliputi rasa kecemasan jangan lupa untuk berdoa...”


“Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal huzni, wal ajzi, wal kasali, wal bukhli, wal jubni, wal dholaid daini, wa gholabatir rijali.”


“Yang memiliki arti... Ya Tuhanku, aku berlindung pada-Mu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kemalasan, dari kebakhilan serta sifat pengecut, dan beban hutang serta tekanan orang-orang (jahat),” sambung Aletha.


Ilham mengulas senyumnya dan setelah melihat Aletha cukup baik dari kesedihannya, Ilham pergi untuk melakukan visite terhadap pasien. Sedangkan Khaira sudah dari tadi pergi setelah Ilham memintanya untuk memberikan ruang waktu berbicara kepada Aletha, karena hanya Ilham yang mengerti bagaimana Aletha saat merasa ketegaran hati Aletha telah luruh.


Aletha mengehela nafas berat, mencoba kembali mengatur nafas yang sempat tercekat. Meskipun air matanya sempat mengalir dengan sangat deras, untung keduanya matanya tidak terlihat begitu sembab. Jika itu terlihat, maka akan ada banyak orang yang membicarakan tentang dirinya.


“Aa adalah cahaya Neng, tanpa cahaya itu Neng merasa kegelapan dan hampa. Begitu juga dengan Aa, Neng... adalah cahaya untuk Aa. Dan tanpa Neng, Aa tidak mendapatkan cahaya sebagai penerang.”


Sejenak Aletha kembali merenungkan hal yang membuat Keenan ataupun yang lain tidak bisa menghubunginya sampai satu bulan telah berlalu.


“Aku harus bertanya sama Papa. Bukan hanya aku saja yang membutuhkan kepastian, tapi sahabatku pun juga membutuhkan kepastian tentang hidup mereka, apa yang terjadi dan... hidup atau mati.” Gumam Aletha dalam hati.


Aletha kembali ke ruangannya. Lalu ia meraih ponselnya yang berada di atas meja dan mengirim pesan kepada Laura, Ilham dan juga Wilona. Di mana Aletha ingin mengatur temu janji untuk pertemuan yang akan diadakan di Cafe Maple And Oak saat pukul 16.00 sore.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2