
“Mungkin dirimu bukanlah malaikat tak bersayap, tapi keberanianmu wajib bagiku untuk memberikan tepuk tangan. Tidak sekedar hanya itu... rasa bangga yang menggetarkan jiwa mampu membuatku menitihkan air mata haru.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan berusaha memikirkan jalan keluar untuk menolong tiga orang yang terjebak di dalam kobaran api yang semakin lama hampir menyeluruh membakar seisi rumah.
“Disaat kedua mataku sudah merekam semuanya, telingaku mendengar jeritan itu dan... pikiranku pun masih dengan kuat mengingatnya. Dan disaat itulah aku tidak bisa melakukan apapun, namun kamu datang bagaikan malaikat tak bersayap menyelamatkan mereka.”
Keenan terpaku melihat Aletha berlari melintas di hadapannya dan menerobos kobaran api lalu masuk ke dalam rumah itu.
“Aletha,” ucap Keenan lirih.
“Dokter Aletha,” pekik Ilham yang diikuti oleh lainnya.
“Aku harus masuk ke dalam,” ucap Keenan dengan gigih.
“Jangan gegabah Komandan! Lihatlah apinya semakin besar.” Bian mencegah Keenan yang akan berlariberlari menerobos kobaran api.
Keenan seketika menepis tangan Bian, lalu menatap Bian, Bayu, Naina dan juga Garda dengan tatapan taja.
“Kenapa kalian mencegahku? Lihat, semakin besar kobaran api itu maka... aku akan semakin berdosa. Istriku ada di dalam sana, bisakah aku haya diam saja disini, hah?” gertak Keenan.
Bian, Bayi, Naina dan Garda hanya diam, dalam hatiereka memang membenarkan ucapan Keenan. Dan baru kali itu juga mereka melihat Keenan menitihkan air mata.
Keenan tidak mempedulikan lagi apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu, bahkan Keenan melangkah pergi dan ingin menerobos kobaran api yang kian membesar.
“Keenan,” teriak Bian.
“Kita tidak bisa mencegahnya, Bian. Di sini Dia adalah Komandan yang harus memiliki tanggung jawab besar, bukan hanya itu... Dia juga wajib memberikan perlindungan kepada istrinya.” Garda berusaha mengerti apa yang ada di dalam pikiran Keenan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Teriakan itu terdengar dari sana, aku harus kesana sekarang.” Aletha berusaha menerobos kobaran api dari dalam rumah itu.
“Bruk...”
Perlahan kayu pun runtuh, tetapi bukan karena guncangan gempa susulan yang mengencang, melainkan si jago merah telah membakar setiap kayu yang ada di dalam rumah itu. Membuat Aletha sedikit kesulitan saat menuju posisi dua wanita dan satu anak laki-laki yang terjebak di sana.
“Tolong! Tolong! Tolong!”
Dua wanita itu kembali berteriak meminta pertolongan dari luar. Keduanya menangis histeris, mengkhawatirkan satu sama lain. Apalagi saat mendengar suara anak laki-laki dari salah satu wanita itu yang ikut terjebak dalam rumah yang terbakar hebat, hati kedua wanita itu semakin miris saja seolah jeritan anak itu masuk hingga ke dasar sanubari.
“Ibu... Ibu... Yohan takut Ibu!” pekik anak itu, rasa takut membuatnya semakin menangis menderu.
Aletha tidak ingin menyerah, meskipun ia merasakan panas di seluruh tubuhnya tetapi ia berusaha untuk menahan rasa itu agar ia bisa segera menemukan keberadaan anak laki-laki itu dan juga dua wanita yang diduga bersaudara.
“Itu... Itu anaknya.” Aletha sedikit merasa lega setelah mendapati keberadaan anak laki-laki itu yang berada pojok tembok.
Api yang berkobar belum sempat membakar sisi tembok yang dijadikan anak laki-laki itu tempat bersandar dan juga berlindung. Sehingga tidak ada kika bakar yang menyerang kulit anak itu. Bisa dikatakan jika kondisi anak itu masih aman.
“Nak, kemarilah! Saya akan menolongmu keluar dari sini.” Aletha mengulurkan tangannya kepada anak itu.
Seketika anak itu meraih tangan Aletha dan Aletha jiga mendekap tubuh anak itu setelah dirasa aman. Setelah itu Aletha berusaha untuk mencari jalan keluar agar anak itu tidak terlalu lama menghisap asap yang akan membahayakan saluran pernapasannya.
“Ikuti saya, saya akan membawamu keluar sekarang!”
Anak itupun tidak menjawab ataupun mengudarakan suaranya, hanya mengangguk pelan dan seolah hanya pasrah saja.
__ADS_1
“Saluran dua masuk! Di luar ada yang mendengar?”
“Saya Bian, saya mendengar suara kamu Dokter Aletha. Bagaimana kondisi di dalam? Apa kamu bertemu dengan... Komandan KeenanKeenan?”
“Apa maksud kamu, Bian?” Aletha berbalik bertanya.
“Keenan masuk ke dalam dan menerobos api itu. Di sini kita semua tidak bisa mencegah kegigihannya untuk menolongmu. Dan sekarang kita di luar sedang menunggu anggota pemadam kebakaran tiba.”
Aletha seketika terhenyak, ia merutuki kebodohannya. Tanpa rasa sadar ia berlari tepat dihadapan Keenan. Karena yang saat itu Aletha pikirkan hanya satu, menyelamatkan nyawa dari dua wanita dan anak laki-laki yang terjebak dalam kobaran api.
“Bian, aku akan mencarinya Keenan di sini. Sekarang minta tim medis untuk menyiapkan tandu dan oksigen. Aku takut jika dua wanita yang masih terjebak akan menghisap asapnya terlalu banyak.” Terang Aletha sembari mencari jalan untuk keluar.
“Baik.” Bian pun mengangguk.
Tim medis segera bergerak menyiapkan peralatan penyambutan dua wanita yang akan di selamatkan oleh Aletha dan juga anak laki-laki itu.
Saat Aletha masih mencari jalan untuk keluar tidak lupa ia selalu menyebut nama Keenan dalam setiap langkahnya. Rasa khawatir tiba-tiba menyelimuti hatinya, bahkan air mata sudah menggenang di pelupuk matanya dan beesiap untuk jatuh.
‘Apa aku yang terlalu gegabah? Ya Allah pertemukanlah aku dengan Keenan, aku tidak mau Dia terluka.’
“Aa Keenan...”
“Aa Keenan...”
Aletha terus berteriak memanggil nama Keenan, tetapi tidak ada sahutan dari sis manapun. Hal itu membuat hati Aketha semakin bergemuruh, rasa khawatir semakin memenuhi hatinya. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja, hingga ia menemukan ...
“Bruk...”
Kembali tiang kayu itu telah roboh oleh api yang sudah membakarnya hingga hangus dan kian melapuk.
“Suara satu masuk. Suara dua tolong ganti! Neng, jawab Aa kamu dimana?” tanya Keenan melalui alat BMS.
Seketika Keenan membalikkan tubuhnya, tepat dibelakangnya Aletha berdiri dan menggendong anak laki-laki yang berusia masih enam tahun.
Ada rasa lega saat pertemuan itu telah kembali terjadi antara Keenan dan Aletha. Dan seketika itu pula Keenan menghampiri Aletha serta melayangkan pelukan untuk melepaa perasaan lega.
“Neng, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Keenan setelah melerai pelukannya.
“Alhamdulillah, Neng baik-baik saja, Aa. Saat ini yang lebih penting kita harus bisa menyelamatkan anak ini dan juga dua wanita. Tapi... Neng tidak tahu dimana keberadaan mereka.” Aletha menggelengkan kepalanya.
“Aa akan mencarinya, Neng tunggu disini agar nanti kita bisa keluar bersama.” Keenan menatap tajam Aletha.
Aletha mengangguk, ia berdiri menunggu Keenan kembali lagi ke sisi tengah. Karena kebakaran dimulai dari depan sehingga belum sampai ke merambat ke sisi tengah.
Aletha tetap menggendong anak laki-laki itu, karena mengalami sedikit shok saat melihat kobaran api besar yang terus membakar rumahnya.
“Deg... Dug... Deg... Dug...”
Suara ritme jantung anak laki-laki itu terdengar kerasa di telinga Aletha saat berada dalam gendongannya. Dapat dipastikan juga anak laki-laki itu mengalami ketakukan, yang bisa berakibat trauma.
“Sayang, tenangkan diri kamu ya! Percayalah akan aman dan selamat, kamu ... keluargamu dan kita semua. Jangan takut, lihat pak tentara tadi, bukan?” tanya Aletha.
Anak itu hanya mengangguk saja, karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh nya saat rasa takut masih menyelimuti hatinya.
“Helo! Apa ada orang?” tanya Keenan.
Keenan mengelilingi sisi ruang depan, tak lain itu adalah kamar dari salah satu pemilik rumah itu. Terdengar suara meminta tolong dari dalam kamar itu, bahkan tangisan histeris yang disertai teriakan terdengar begitu keras.
__ADS_1
“Bruk...” Suara pintu kamar itu telah roboh karena terbakar.
“Tunggu di sana, jangan takut! Saya akan mencari cara untuk memadamkan api nya agar kalian bisa lewat keluar.” Keenan memerikan anggukan pelan.
“Baik.” Dua wanita itu mengangguk, mengikuti perintah dari Keenan.
Keenan tidak menemukan air di sekitar sana, adapun hanya di kamar mandi saja dan itupun sangat jauh dari kamar itu. Jika Keenan kembali ke belakang maka akan memakan waktu yang amat banyak. Hingga akhirnya...
‘Satu-satunya cara hanya dengan baju ini. Meskipun tidak padam semua paling tidak di depan ini akan padam sedikit.’
Keenan melepas baju loreng nya untuk memadamkan api yang menghalangi jalan untuk dua wanita itu keluar. Dan setelah padam dengan segera dua wanita itu keluar, lalu Keenan membawa mereka kembali ke tengah dan bertemu dengan Aletha serta anak laki-laki yang bersama Aletha tadi.
“Neng,” panggil Keenan.
“Aa, Aa baik-baik saja, kan? Kenapa Aa tidak memakai bajunya?”
“Aa terpaksa melepas bajunya untuk memadamkan api yang menghalangi jalan. Sudah jangan pikirkan baju Aa, sebaiknya kita pikirkan jalan keluar dari api yang hampir membakar seisi rumah ini.”
Aletha mengangguk, setelah itu kembali berpikir untuk tentang bagaimana cara menerobos api dan keluar dengan selamat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bian, kenapa tim pemadam kebakaran belum juga sampai? Bisa-bisa mereka akan mati terbakar di dalam nanti.” Garda sudah mulai merasa kesal dengan keadaan yang tidak bisa mendukung keinginan mereka.
“Aku juga tidak tahu, Garda. Aku... apa kita se pengecut ini menjadi tentara, hah? Bagaimana kita bisa berdiri saja dan hanya menatap kobaran api itu? Kenapa kita tidak ikut menerobos ke dalam?” umpat bian dengan kesal.
“Jangan bertindak gegabah, Bian. Kita harus memikirkan cara lain untuk memadamkan apinya. Air, kita harus meminta warga untuk menyalurkan air. Bagaimana?” saran Naina.
Keempat sahabat itu mengangguk, mereka bergerak dan menghimbau para warga untuk membantu mereka memadamkan api yang kian berkobar dan akan membakar seluruh rumah itu hingga hangusntak tersisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Apa kita akan selamat, Pak? Sedangkan kita sudah hampir dikepung oleh api ini.” Salah satu wanita yang lebih tua mengedarkan pandangannya dan menatap api yang sudah berkobar dengan hebat.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Bu. Serahkan semuanya kepada Allah, pasti kita akan diberikan petunjuk jalan keluar dari api ini.”
“Baik, Pak.” Wanita itu mengangguk.
Saat Keenan dan Aletha masih berusaha menatap tajam seluruh ruangan untuk mencari jalan tiba-tiba saja wanita yang lebih muda mengalami batuk-batuk dan perlahan nafasnya terhambat, seperti mengalami sesak nafas karena sudah terlalu lama menghirup asap.
“Uhuk... Uhuk...”
“Kamu tidak apa-apa? Saya Dokter, ikuti sayanjika kamu kesulitan untuk bernafas.” Aletha mendekati wanita yang lebih muda seraya tetap menggendong anak laki-laki itu.
“Tarik nafas yang dalam, lalu keluarkan secara perlahan. Terus lakukan itu sampai mereda.” Titah Aletha menerangkan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang dokter.
Mereka benar-benar merasa terjebak di dalam rumah yang hampir hangus dan roboh semua. Keadaan itu semakin membuat panik saja bagi orang yang berada di luar sana.
“Jika kita nanti bisa selamat berarti itu adalah anugrah yang sangat amat besar. Tapi jika tidak mungkin itu takdir Tuhan.”
“Dan saya Ibu dari dua anak ini sangat berterimakasih kepada Dokter serta Pak Tentara. Mungkin Kalian bukanlah malaikat tak bersayap, tapi keberanian kalian wajib bagiku untuk memberikan tepuk tangan. Tidak sekedar hanya itu... rasa bangga yang menggetarkan jiwa mampu membuatku menitihkan air mata haru.”
Ibu paruh baya itu mengungkapkan rasa bangganya kepada Aletha dan Keenan yang sudah berkorban nyawa menyelamatkan keluarganya. Dengan binar mata kesedihan Ibu itu menitihkan air matanya. Dan seolah sudah pasrah dengan keadaan yang akan membawanya pergi memenuhi panggilan Allah, atau akan selamat nanti.
“Jangan berpikir yang aneh, Bu. Ikuti saya, InsyaAllah akan lebih menenangkan hati kita semua.” Keenan mengangguk untuk meyakinkan mereka semua.
“Hasbunallahu wa ni'mal-wakil. Qa. Al-Imran ayat 173, yang memiliki arti sebagai berikut, Cukuplah Allah sebagai penolong kami.”
__ADS_1
Aletha, Ibu dan dua anak itu dengan tenaga yang mulai tidak seimbang terus mengikuti ucapan Keenan. Dan saat semua sudah pasrah kaprah tiba-tiba sebuah keajaiban telah datang.
Bersambung...