
“Mungkin saat ini bisa dibilang aku adalah wanita yang beruntung mendapatkan keluarga, suami dan anak yang menyayangiku bahkan selalu ada untukku. Dan aku hanya ingin maut lah yang akan memisahkan kita meskipun akan terasa berat untuk dijalani.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Tara,” ucap Aletha lirih.
Tara yang duduk di sofa seketika berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aletha dan Keenan yang ada di belakangnya.
“Aletha, akhirnya kamu sudah pulang juga. Aku...”
“Apa tujuanmu datang kemari, Tara?”
“Aku... hanya ingin menyerahkan ini kepadamu, Al. Tidak ada maksud lain selain itu yang menjadi tujuanku datang kemari.” Tara memberikan sebuah bingkisan kepada Aletha.
Kedua mata Aletha dan Keenan membulat sempurna, bahkan keduanya penasaran dengan isi di dalam bingkisan tersebut. Namun, Aletha juga tidak mungkin akan membuka bingkisan yang diberikan Tara saat itu juga, karena Aletha harus menjaga attitude nya sebagai wanita yang tidak murahan.
“Apa itu, Tara?”
Aletha semakin penasaran dengan bingkisan yang berada di atas meja dengan paper bagian berwana coklat. Bukan hanya Aletha saja yang merasakan penasaran, melainkan Keenan yang berdiri di sisi kanan Aletha tak hentinya menatap bingkisan itu.
‘Apa yang sebenarnya ada di dalam paper bag itu? Kenapa aku bisa menaruh curiga dengan lelaki macam Tara? Ya Allah hilangkan prasangka buruk ini dari dalam diriku dan rubahlah menjadi prasangka baik yang tidak akan menimbulkan kebencian terhadapnya.’
Keenan melepaskan kepalan tangannya, mencoba meredam rasa yang penuh curiga kepada Tara.
“Duduklah Tara, katakan dengan jelas apa yang ada di dalam bingkisan itu? Kamu tahu sendiri saya siapa, setidaknya kamu bisa menjelaskan itu semua kepada saya.” Keenan menatap Tara yang masih berdiri di hadapannya.
Tara menghela nafas panjang, ia baru menyadari jika di sana juga ada Keenan. Dan Tara ingat benar siapa Keenan, selain sebagai seorang suami dari Aletha Keenan juga komandan dari pasukan berani mati. Bahkan Tara hanya bisa menelan saliva nya sendiri saat melihat tatapan Keenan yang menajam.
‘Kenapa bisa Aletha menikah dengan lelaki yang tatapan tajam seperti itu? Apa Dia... tidak takut ditatap seperti itu? Bagaimana jika Dia tiba-tiba mengeluatkan pistol dan menembakkannya ke tubuhku?” batin Tara.
Tara bergidik ngeri setelah membayangkan akan hal itu. Dan perlahan Tara mengambil duduk, kembali ia menghela nafas panjang sebelum menjelaskan kepada Keenan dan juga Aletha isi dari bingkisan yang sudah dibawanya.
“Cepat katakan, Tara! Karena aku tidak akan membukanya jika bingkisan itu tidak penting.” Aletha mengudarakan suaranya dengan tegas, karena Aletha tidak menyukai orang yang terlalu bertele-tele.
“Bingkisan itu dari... Dimas. Selebihnya aku tidak akan mengatakan apapun, karena itu bukanlah hak ku, Al. Kamu bisa membukanya setelah aku pergi, sesuai dengan amanah nya sebelum pergi dari kehidupan kita.” Tara menyimpan banyak rahasia dan teka-teki.
“Ya sudah, aku rasa urusanku sudah selesai. Aku harus kembali ke rumah sakit,” ucap Tara berpamitan.
Tara tidak perlu mengucapakan salam sebelum pergi, karena Tara masih menganut agama non muslim. Setelah berpamitan dan meninggalkan rumah Aletha, Tara langsung menuju ke rumah sakit.
Aletha dan Keenan saling tatap, masih tidak mengerti dengan yang diucapkan Tara.
“Ya sudah, biarkan Aa saja yang menidurkan Alina di kamar. Neng... buka saja bingkisan itu, siapa tahu saja itu penting.” Keenan meraih Alina dari gendongan Aletha.
“Tapi... Aa tidak apa-apa jika Neng membukanya?”
“Tidak masalah Neng, lagian Neng kan tidak macam-macam, hanya membuka bingkisan. Sudah, Aa bawa Alina ke kamar dulu kasihan Dia tidak nyenyak nanti tidurnya.” Keenan berjalan menuju ke kamar.
Setelah Keenan pergi Aletha mendekati bingkisan itu, perlahan Aletha membukanya untuk memastikan isi di dalam bingkisan itu.
Terlihat di dalam bingkisan itu ada sebuah hijab dan juga selembar surat. Rasa penasaran yang ada dalam hati Aletha kian mencuak, hingga surat itupun dibuka untuk dibaca.
[Assalamu'alaikum, Al.
Maaf jika aku kembali lancang mengirim bingkisan dan surat ini untukmu. Bahkan aku kembali mengingkari janji yang sudah aku buat sendiri, di mana aku yang mengatakan jika tak akan menggganggumu hidupmu lagi.
Tapi... surat ini adalah surat terakhir dari ku. Dan selama aku melihat mu memakai hijab, aku berpikir memberikan hadiah kecil untukmu sebelum aku pergi untuk selamanya dari dunia. Satu penyesalan ku sebelum pergi, entah kenapa diriku bodoh tidak memberikannya secara langsung. Tapi tak apa, semoga saja hadiah ini tetap sampai di tanganmu, Al.
Al, aku ucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir. Setelah aku merasa lelah dengan penyakit ku ini... aku sudah pasrah kepada Tuhan. Dan sebelum aku pergi aku mau mendapatkan maaf darimu. Semoga kamu mau memaafkan aku, Al.
Terimakasih atas perkenalan singkat di antara kita yang sudah dibumbui dengan rasa cinta di dalamnya, meskipun haya aku saja yang merasakannya.
Dimas.]
__ADS_1
Ucapan Dimas yang tertulis dalam surat itu membuat Aletha tidak menyangka jika selama ini Dimas memiliki sebuah penyakit. Namun Aletha tidak tahu apa yang di derita Dimas, hingga maut membawanya pergi dari dunia untuk selamanya.
‘Aku memaafkanmu, Dimas. Meskipun kamu pernah membuat jengkel dan kesal tapi... itulah manusia, dan kita sebagai sesama muslim harus saling memaafkan.’
Aletha melipat kembali surat itu, lalu membawa bingkisan yang di dalamnya masih ada hijab ke kamarnya. Karena bagi Aletha wajib baginya meminta ijin kepada Keenan dalam mengambil sebuah keputusan.
“Aa... Neng mau...” Aletha menggantungkan ucapannya.
Saat Aletha hendak menceritakan isi surat dari Dimas, justru Keenan sudah tertidur dengan begitu pulas. Membuat Aletha merasa tidak tega untuk membangunkan Keenan yang memang terlihat abegutu lelah. Apalagi obat yang harus dikonsumsi Keenan ada obat tidurnya, jelas Keenan akan merasa kantuk.
”Sudahlah, nanti saja ceritanya. Neng tidak mau mengganggu Aa Keenan... Aa nya Neng Aletha.” Aletha mencium pipi Keenan.
Aletha selalu mengulas senyum bahagia saat melihat dua orang yang begitu berharga dalam hidupnya tengah bersama.
Aletha menuju ke ruangan samping dan melakukan kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Alatha membantu Bu Laila yang disibukkan dengan berbagai kegiatan.
“Bu, yang ini sudah dicuci apa belum?”
“Sudah Nak, tinggal menjemur saja pakaiannya.”
Aletha manggut-manggut, lalu ia menjemur baju di halaman samping yang sangat pas berada di bawah terik matahari. Sehingga pakaian akan cepat kering meskipun hanya setengah hari saja. Karena cuaca hari itu benar-benar panas, bahkan kulit akan terasa terbakar saat cahaya mengenainya.
“Alhamdulillah, hausnya sudah tidak terasa lagi.” Satu gelas air putih telah habis diteguk oleh Aletha.
“Nak, tadi kamu sudah bertemu dengan...” terhenti.
“Sudah kok, Bu. Lagipula orangnya juga sudah pergi juga.”
Bu Laila manggut-manggut, setelah itu tidak bertanya lagi siapa lelaki itu dan apa tujuan mencari Aletha. Bagi Bu Laila itu adalah sebuah privasi yang tidak perlu untuk ikut campur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nampak Bagas Kara tengah memikirkan sesuatu hal dalam saat berada di dalam kamarnya. Hal itupun membuat Mama Nina merasa tertarik untuk menegur Bagas Kara.
“Mas... ada apa? Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa juga wajahnya serius seperti itu?” cecar Mama Nina dengan banyak pertanyaan.
Hening...
“Mas, kalau ada masalah coba cerita.” Mama Nina mendekat, memberikan anggukan pelan agar Bagas Kara mau bercerita.
Bagas Kara menghela nafas berat. Ia merasa begitu sesak mengingat surat yang ia terima beberapa jam lalu.
“Aku bingung bagaimana cara memberitahukan Keenan, Garda, Bayu, Bian dan Naina. Karena pasukan yang dibuat secara khusus, dan mereka yang menjadi anggotanya harus kembali mendapatkan tugas dari negara.”
”Sedangkan Papa tahu betul jika baru kemaren bahkan hari ini mereka berkumpul bersama dengan sanak saudara mereka. Terutama Keenan dan Garda, mereka selalu meninggalkan istri dan anaknya demi tugas yang selalu diberikan oleh negara. Meskipun Papa tahu itu memang kewajiban mereka, tapi sebagai orang tua... Papa juga merasa sedih dengan perpisahan yang memberatkan bagi mereka.” Bagas Kara kembali menatap surat penugasan untuk pasukan berani mati yang masih dalam genggaman tangannya.
Mama Nina ikut menghela nafas panjang, sebagai seorang ibu Mama Nina juga merasa sedih jika anaknya harus berpisah kembali dengan suami yang dicintai. Namun, Mama Nina juga tidak bisa berbuat banyak selain berdoa tentang kebahagiaan setiap anaknya.
Bagas Kara masih ingin menyimpan rapat tentang tugas yang akan diperintahkan untuk pasukan berani mati. Karena pasukan berani mati akan diberangkatkan tiga minggu lagi, dan keputusan yang diambil Bagas Kara adalah keputusan yang tepat baginya. Memberikan kebahagiaan dan waktu sejenak untuk kebersamaan mereka dengan sahabat dan keluarga tercinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bagaimana Rania, apa kamu akan memberikan jawaban sekarang atas khitbah yang aku ajukan kepadamu?”
Hening...
Rania masih ragu untuk memberikan jawaban kepada Bian saat Bian melakukan panggilan video kepadanya.
“Maaf jika aku lancang bertanya lagi, bukan maksudku juga yang tidak bisa menahan diri sampai kamu kembali satu tahun lagi, Rania. Tapi sungguh, aku mencintaimu atas ijin Allah. Jika kamu masih ragu untuk memberikan jawaban tidak apa-apa, kok. Aku akan setia menunggumu.”
Bian berusaha untuk tersenyum saat berada di hadapan Rania, meskipun sebenarnya hatinya merasa nyeri karena cintanya tak kunjung diterima.
Sabar Bian... ini ujian yang memang harus kamu hadapi. Begitulah pesan dari penulis, karena kehidupan akan selalu dibumbui dengan berbagai ujian dari Allah, Sang Maha Pencipta. Sehingga kehidupan tidak akan mulus semulus keinginan kita, harus bertatih saat mengarungi kehidupan yang penuh liku.
__ADS_1
”Maafkan aku, Kak Bian. Aku... belum siap, aku masih membutuhkan waktu.” Rania seketika menutup telponnya setekah mengucapkan salam.
Sikap Rania yang seperti itu semakin membuat Bian merasa begitu nelangsa. Dan ia hanya bisa menghela nafas berat sebelum kembali menahan rindu yang akan membuatnya bisulan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Neng ... bagaimana lukanya, sudah kering sempurna belum?”
“Sudah kok, Aa. Kan, salep nya manjur.” Aletha terkekeh.
“Ada yang lebih manjur Neng daripada salep nya,”
Aletha mengerutkan keningnya, ia berpikir obat apa yang dimaksud Keenan. Namun, Aletha tidak menemukan jawabannya, karena bagi Aletha salep dan obat yang selalu diminum Keenan itu sudah paling manjur.
“Apa, Aa?” tanya Aletha penasaran.
“Istri Aa, karena istri Aa itu merawat Aa dengan baik dan juga penuh kasih sayang. Jadi ya... manjur.”
Aletha yang berdiri di belakang Keenan tertunduk, ia merasa malu mendapatkan perlakuan romantis meskipun hanya bualan receh dari Keenan.
“Neng, boleh tidak jika Aa bertanya? Tapi jawabnya harus jujur dan serius, tidak boleh bohong.” Keenan berbalik dan menatap Aletha.
“Apa?”
“Bagaimana jika Aa benar-benar gugur saat bertugas dan Neng tidak bisa menemukan keberadaan Aa? Apa yang akan Neng lakukan?”
Pertanyaan itu sungguh membuat Aletha termenung, karena sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu. Meskipun Aletha sendiri tahu bagaimana resiko menjadi istri dari seorang abdi negara, yang mencintai negara dan rela meninggalkan istri dan anaknya demi menjalankan tugas itu.
“Neng, bagaimana?” tanya Keenan kembali.
Aletha menghela nafas panjang.
“Mungkin saat ini bisa dibilang aku adalah wanita yang beruntung mendapatkan keluarga, suami dan anak yang menyayangiku bahkan selalu ada untukku. Dan aku hanya ingin maut lah yang akan memisahkan kita meskipun akan terasa berat untuk dijalani.”
“Rasanya akan terasa berat, Aa. Perpisahan yang memberatkan bagi Neng jika Neng tidak bisa menemukan keberadaan Aa. Neng tidaka akan bisa... mengunjungi makam Aa jika Neng merindukan Aa kapan saja.”
Aletha menunduk, ia menahan tangis sebisa mungkin saat berada di hadapan Keenan. Ia tidak mau jika Keenan tahu betapa nyeri hatinya saat ditinggalkan tanpa tahu jasadnya yang akan dikubur nanti, yang akan bisa mengobati rasa rindu.
Selain di tinggal Kevin yang memang gugur saat bertugas dan tubuhnya tidak ditemukan karena bom menghanguskan semuanya, ada juga Fajar yang meninggal karena pesawat jatuh dan tenggelam bahkan kapal itupun hancur setelah terbakar, serta meninggalnya mama kandung Aletha yang sampai saat ini Aletha juga tidak mengetahui bagaimana tubuhnya.
“Aa... kenapa bertanya seperti itu? Apa Aa akan ditugaskan lagi?”
“Aa tidak tahu, tapi yang pasti Aa adalah pemimpin dari pasukan yang dibuat secara khusus. Dan sewaktu-waktu akan mendapatkan tugas negara secara terbuka maupun rahasia. Aa... hanya takut jika Aa akan gugur sebelum membahagiakan Neng dan Alina.”
“Aa... jangan pernah memiliki pemikiran seperti itu. Aa harus janji sama Neng untuk tetap kembali dan menyelesaikan tugas dengan baik.” Aletha menggenggam tangan Keenan.
“Aa akan berusaha untuk menepatinya, tapi yang yang namanya takdir... Aa tidak tahu, karena hanya Allah lah yang menulis skenario kehidupan kita.”
“Aa salah, yang menulis kehidupan kita itu bukan Allah tapi... penulisnya. Dan Neng akan protes sama penulis jika kisah kita nanti tidak bahagia.” Aletha mengerucut kan bibirnya.
Keenan hanya tersenyum, ingin sekali ia ikut protes dengan penulis seperti Aletha. Tapi itu tidak Keenan lakukan, karena jika Keenan ikut protes ia takut akan dipersulit hidupnya dalam kisah Lentera Cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu di rumah Aletha sudah ramai dengan keluarga besarnya, karena mereka semua akan mempersiapkan acara tujuh bukan Alina dan juga tasyakuran yang akan diselenggarakan besok malam.
Semua berkumpul untuk membuat beberapa makanan seperti yang ada di dalam adat Jawa saat hendak melakukan acara tujuh bulan. Dan setelah melakukan acara itu kembali mereka memikirkan acara selanjutnya, aqiqah untuk Alina yang entah itu kapan.
“Tante Aletha, besok kalau adek Alina sudah besar Ravva yang jagain ya!” ucap Ravva.
“Harus dong! Ravva harus bisa jagain Alina, Atalarik dan juga saudara yang akan lahir dari generasi Om Bian, Om Bayu, tante Naina serta tante Rania.” Aletha mengulas senyum.
Obrolan ringan pun telah menemani kegiatan malam mereka agar tidak merasa kantuk. Bahkan celoteh dari Ravva sangatlah menghibur para tetua.
__ADS_1
Aletha membayangkan bagaimana ramainya generasi mereka jika sudah besar nanti, yang akan selalu mengikat tali persaudaraan dan saling menjaga satu sama lain.
Bersambung...