Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 73 “Belum Barakhir”


__ADS_3

“Jangan biarkan kita mati sia-sia disini, setidaknya kita berusaha untuk melawan. Meskipun pada akhirnya ... kita mati juga. Usaha dan perjuangan harus tetap ada.”


*************


Dokter Aletha dan tim siap melakukan tugas penyelamat pada jantung pasien dan meskipun pasien meraka adalah seorang presiden, tetapi tetap saja orang itu pasien bagi para dokternya. Dengan semaksimal mungkin mereka akan melakukan operasi dengan prosedur bentall. Dan malam itu Aletha dengan Keenan bertugas untuk penyelamatan.


‘Ke ... do'aku tak akan memudar. Namamu akan selalu tersemat di dalam setiap do'aku.’


Aletha mengenang kembali perjumpaan terakhir dengan Keenan sebelum perpisahan terjadi.


*******


Semua peralatan medis disiapkan di ruang operasi. Dan Aletha tidak bisa menunda terlalu lama jadwal operasi ja tung Presiden Ameer. Karena yang di derita Presiden Ameer adalah Aurta diseksi Stanford tipe A yaitu, robeknya pembuluh darah aurta. Itu adalah pembuluh darah berpangkal terbesar di serambi kiri jantung dan berujung di perut bawah.


Akan sangat berbahaya jika tidak segera di operasi, apalagi saat pasien sudah mengalami bersin, batuk atau mengejan, maka akan menyebabkan kematian seketika pada pasien itu sendiri.


“Siapkan semuanya dengan lengkap, jangan sampai satu alat pun tertinggal.”


Aletha meneliti kembali peralatan operasinya.


“Baik, Dok!”


Setelah semua peralatan diteliti dengan benar, tim dokter berkumpul kembali untuk mengatur bagaimana operasi di jalankan. Karena operasi kali ini adalah operasi besar dan sulit. Jarang sekali dokter bedah jantung mampu menangani semua itu.


Namun, Aletha berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menolong nyawa Presiden Ameer, agar tidak ada nafas terakhir bagi Presiden Ameer.


“Kalian siap melakukan operasi besar ini? Jika benar siap, tebalkan mental kalian. Jangan sampai ada yang meragu saat operasi masih berlangsung nanti. Jika ada ... maka silahkan mundur sekarang juga!”


“Kami siap, Dok.”


“Bagus. Saya ingin malam ini kita benar-benar bekerjasama, menjalin kekompakan demi keselamatan pasien kita.”


Semua tim mengangguk, lalu suster mendorong brangker yang membawa Presiden Ameer ke ruang operasi. Karena Presiden Ameer sempat tidak sadarkan diri saat merasa jantungnya benar-benar ada yang menekan hingga merasakan sakit yang luar biasa bahkan sampai terasa ke perut bagian bawah.


“Siap?” tanya Aletha meyakinkan timnya kembali.


Semua tim mengangguk dengan penuh kemantapan. Dan operasi kali ini adalah operasi yang membutuhkan dokter yang benar-benar ahli. Ahli bius (anestesi) yang bisa menjaga agar Ismail tetap hidup saat aliran darah di sekujur tubuhnya dihentikan. Juga, ahli perfusi yang bertugas mengoperasikan mesin pengganti jantung dan paru-paru.


Dan tim medis meminta Presiden Ameer itu sendiri mendatangkan peralatan yang bernama graft buatan Amerika Serikat untuk aorta arc-nya yang harus didatangkan secara khusus dalam melakukan prosedur bentall ini.


“Pisau bedah.”


“Krek... krek...”


Aletha mulai melakukan sayatan di bagian jantung pak Ameer. Dengan ketajaman mata dan segala perjuangannya Aletha berusaha untuk memberikan operasi yang terbaik. Dan dokter anestesi berusaha untuk selalu memantau mesin nya itu. Begitu juga dengan ahli perfusi, selalu menajamkan mata untuk menjalankan mesin kerja jantung dan paru-paru.


************


Penjahat itu tiada henti menyiksa sandera yang lain. Kebanyakan dari orang yang disandera adalah para kaum wanita. Karena kebanyakan mereka menjual organ tubuh para wanita itu dan menguangkannya kepada orang yang membutuhkan dengan membayar yang lebih tinggi.

__ADS_1


“Bagaimana ini, Dokter Wilona? Apa kita akan bernasib sama dengan mereka? Begitu sadis pembunuhan itu dilakukan.”


“Tidak, Dokter Catrina. Jangan biarkan kita mati sia-sia disini, setidaknya kita berusaha untuk melawan. Meskipun pada akhirnya ... kita mati juga. Usaha dan perjuangan harus tetap ada.”


Begitu mengerikan saat penjahat itu membunuh beberapa sandera mereka. Memberikan sayatan di bagian tubuh tertentu untuk dijual belikan. Yang menyebabkan kematian seketika pada orang tersebut.


“Dan kini ... saatnya giliran kalian berdua. Dokter cantik dan mulus, pasti dijamin akan lebih mahal. Ha... ha... ha...”


Tawa yang mengerikan membuat telinga Wilona dan Catrina merasa teriris. Ingin melawan dan berusaha kabur dari tempat itu. Akan tetapi tidak bisa dilakukan begitu saja olehnya. Karena jelas terlihat penjagaan yang ketat. Bahkan terlihat penjahat itu membawa mereka ke tengah hutan dari pulau terpencil itu. Pulau Tristan de chuna, wilayah seberang laut Britania Raya dengan konstitusi miliknya sendiri.


“Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa kalian ... mengagumi ketampanan ku? Ha... ha... ha...”


“Dalam hitungan ketiga bagaimana kalau kita memberikan perlawanan?” bisik Wilona.


“Jangan gegabah, Dokter Wilona. Karena aku yakin, kita tidak akan pulang dengan nyawa yang masih menetap dalam raga. Aku yakin nyawa kita akan melayang seketika dengan luka sayatan yang tajam seperti yang lainnya.”


“Bukankah sama saja? Tanpa kita melawan ataupun memeberikan perlawanan ... kita akan mati, Dokter Wilona.”


“Lalu bagaimana?”


Wilona sudah pasrah jika kematian akan merenggut nyawanya saat itu juga. Hal sama juga dirasakan oleh Catrina.


Saat mereka mulai pasrah tiba-tiba saja ada suara yang membuka pintu dengan pelan. Terlihat wajah Keenan yang begitu kentara.


“Kapten Keenan,” ujar Wilona dengan lirih.


Keenan segera memberikan kode kepada Wilona dengan mengarahkan telunjukknya di bibir. Yang meminta Wilona untuk diam meskipun sudah melihatnya.


“Akhirnya ... kamu datang juga, Kapten. Bagaimana penyambutan ku? Betapa mewah, bukan? Ha... ha... ha...”


“Ingat Jodie, kamu adalah orang yang harus bertanggungjawab atas kematian mereka semua. Dan aku, tidak akan membiarkanmu pergi lagi seperti satu tahun lalu.”


“Oh ya? Silahkan saja jika kamu mampu, Kapten. Tapi aku rasa ... kali ini aku akan bebas lagi dari kepunganmu. Lihat, helikopter itu akan datang dan membawaku terbang mengudara seperti satu tahun lalu. Dan aku akan membakar tempat ini agar menjadi tempat yang bersejarah atas kematian mu.” Ancaman sengit dari Jodie.


Tanpa memberi aba-aba Keenan meluncurkan pelurunya dan tepat mengenai kaki Jodie. Namun, seketika anak buah Jodie segera menodongkan pistol ke arah Keenan, sehingga semua mengepung Keenan. Dan di saat Keenan menjadi pusat perhatian mereka, bagian sayap kiri dan sayap kanan pun beraksi. Begitu pula dengan bagian depan dan belakang. penyelamatan sandera pun sudah selesai. Tetapi tidak dengan Wilona dan Catrina.


“Jika kamu masih melakukan perlawanan, maka tidak segan-segan akan ku luncurkan peluru ku kepada wanita ini. Bukankah ... Dia anak bapak angkat kamu, Kapten? Ha... ha... ha...”


Meskipun peluru masuk ke dalam kaki bagian bawah, Jodie masih bisa melakukan aksinya dengan menodongkan pistol ke kepala Wilona. Ancaman sengit kembali diberikan kepada Keenan. Dan Keenan harus menajamkan mata untuk meluncurkan pelurunya tepat pada sasaran.


“Kapten ... selamat aku, tolong!”


Linangan air mata telah membasahi pipi Wilona. Bahkan pelupuk matanya terlihat sembab, karena menangis selama berhari-hari. Rasa takut telah membuat tubuh Wilona bergetar hebat. Dan itu membuat Keena merasa kesulitan untuk fokus.


“Angkat tanganmu, Kapten.”


Teriak anak buah penjahat yang menodongkan pistol ke kepala Keenan dari arah belakang. Dan dengan terpaksa Keenan melakukan apa yang dipinta anak buah penjahat itu untuk memudahkannya dalam mengatur siasat.


Pistol dalam genggaman tangan Keenan sengaja dijatuhkan. Karena Keenan berusaha meyakinkan Jodie dan anak buahnya bahwa ia benar-benar menyerah.

__ADS_1


“Dokter Wilona, tatap mata aku. Yakinlah kepadaku, bahwa aku bisa menyelamatkanmu. Yakinlah ... ini semua belum berakhir.”


“Tapi ... lengan Kapten sudah tertembak, dan tubuhku sudah ada bom yang dirakit. Bagaimana aku bisa selamat? Lebih baik sekarang Kapten pergi saja, selamatkan Dokter Catrina.”


“Tidak, Dokter Wilona. Aku tidak mau selamat sendirian. Kita harus selamat bersama-sama.”


Tangis pun kembali pecah dari keduanya.


Keenan masih tidak bisa bergeming dari tempat ia memijakkan kakinya. Begitu sulit melakukan misi besar ini saat ia merasa terkepung. Sedangkan pasukan berani mati lainnya masih sibuk mengurus penyelamat sandera dan perang dengan baku tembak yang beringas di luar markas.


“Dor...”


“Dor...”


“Dor...”


Suara baku tembak terdengar begitu keras dari dalam ruangan. Membuat Wilona dan Catrina merasa ngeri walau hanya mendengarnya saja. Karena sebelumnya mereka tidak pernah mendengar atau menyaksikan secara langsung bagaimana peluru meluncur dan mengenai tubuh.


***********


“Joule.”


Aletha meminta untuk memberikan kejut jantung setelah melakukan operasi itu. Memastikan bahwa jantung Presiden Ameer kembali bekerja. Namun, beberapa kali jantung Presiden Ameer dikejutkan dengan alat itu tak ada respon apapun. Bahkan jantung itu tidak berdetak sama sekali.


“Titttttttttt...”


Semua panik mendengar suara monitor yang terlihat gambar garis lurus. Mereka takut jika kematian akan merenggut nyawa Presiden Ameer saat masih berada di dalam ruang operasi. Dan jika itu terjadi, maka akan mendapatkan bahaya bagi mereka sebagai ahli bedah jantung.


“Jangan panik! Bukankah sudah aku bilang kuatkan dan pertebal mental kalian. Jangan ada yang ragu dan takut saat masih menjalankan operasi.”


“Tapi, Dok...”


“Tidak ada kata tapi, Dokter Edbert. Jika masih mau lanjut silahkan bertahan dan lakukan tugasmu dengan benar. Jika merasa tidak sanggup, silahkan keluar sekarang juga dari ruangan ini.”


Aletha menatap tajam Edbert dan berteriak dengan tegas bahkan memberikan penekanan terhadap dokter seniornya itu. Sehingga membuat hati Edbert menciut. Baru kali pertama senior sudah diperlakukan kasar oleh juniornya.


Dan saat itu juga mental Edbert menciut, tetapi ia tetap berusaha bertahan dalam ruangan yang mencekam itu.


“Tidak. Aku akan melakukan operasi ini sampai selesai.”


“Jika itu keinginan mu, maka lakukan tugasmu dengan benar.”


“Baiklah!”


“Dan semuanya harus ingat, ini belum berakhir. Kita harus bekerja lebih keras lagi.”


Aletha kembali fokus, kejutan terakhir ia lakukan untuk memastikan kerja jantung Presiden Ameer setelah dilakukan operasi.


“Deg... dug... deg... dug...”

__ADS_1


Akhirnya jantung Presiden Ameer kembali bekerja meskipun masih terlihat begitu pelan. Rasa syukur seketika diucapkan oleh mereka semua. Dan Aletha segera menyelesaikan operasi yang terakhir, memberikan jahitan sebagai penutupnya.


__ADS_2