Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 104 “Perkenalan Diri”


__ADS_3

“Aku haya manusia biasa yang tak luput dari banyaknya dosa saat berada di duniawi. Jadi, jangan mengagumi ku layaknya seorang Petinggi. Cukup hargai saja aku dan posisiku. Karena kita yang berada di sini wajib untuk saling menghargai satu sama lain.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha terus menebarkan senyum merekah kepada setiap orang yang berjumpa dengannya. sampai ia pun memasuki ruang kerjanya. Dan saat sudah masuk ke dalam Aletha dikejutkan dengan adanya Ilham dan Maya yang duduk santai di sana.


”Kalian ngapain di sini sepagi ini?” tanya Aletha penasaran.


“Kami mau bicara sesuatu hal dengan kamu, Al. Sini cepatlah kamu duduk.” Maya menarik lengan Aletha dan meminta Aletha duduk di kursi kerjanya.


Dengan tatapan nanar dari Ilham dan Maya membuat Aletha sulit untuk mengartikan tatapan itu. Akan tetapi jelas jika mereka tidak akan menatap dengan tatapan kemarahan atau kebencian.


“Kalian... tidak sedang meminta sesuatu kepadaku, kan?” tanya Aletha memastikan.


”Al... sebenarnya kita mau... Kapten Keenan memasak seblak ceker untuk memenuhi ngidam...” Maya mengusap perutnya yang rata.


Aletha terperangah, kedua bola matanya memutar dan ia juga mencerna apa yang dikatakan Maya dan Ilham. Bahkan Aletha terkejut saat kata ngidam keuar dari bibir keduanya.


“Jadi... sudah berapa bulan?”


“Sekitar dua mingguan, Al.” Maya dan Ilham nyengir.


”Hah, yang kemarin saja masih lima bulan loh kak. Masa ini sudah hamil yang ke tiga?”


Aletha hanya geleng-geleng kepala, ia benar-benar tidak menyangka jika Ilham dan Maya akan memiliki anak yang ke tiga dalam kurun waktu sekitar tiga tahun saja. Dan Aletha berpikir bahwa Maya adalah wanita tangguh yang sebenarnya.


‘Memang ada istilah banyak anak banyak rejeki, tapi tidak segitunya juga, kan?’


Aletha mengulas senyuman saat hendak mengatakan bahwa Keenan masih dalam bertugas. Dan Aletha sendiri juga tidak tahu kapan akan kembali.


“Terus bagaimana dong dengan anak kami? Masa anak yang ke tiga harus ileran?”


”Doa kan saja biar cepet selesai tugasnya. Biar anak kalian tidak... I... LE... RAN...” Aletha tertawa lepas.


Maya mengerucutkan bibirnya, sedangkan Ilham mencoba menenangkan istrinya yang tengah ngidam supaya memperbesar hati saat menunggu Keenan kembli. Dan Aletha mengabaikan tingkah absurd kedua sahabatnya itu, karena ia harus bertugas melakukan visite terhadap pasien yang kemarin baru di operasi olehnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bagaimana dengan korban yang lainnya? Apa. sudah ditemukan semuanya?” tanya Keenan memastikan.


“Saya rasa sudah, Kapten. Sudah hampir satu minggu juga kita berada di Cianjur, memang sungguh mengkhawatirkan keadaan para warga.” Terang Garda.


“Lalu, apa akan ada kunjungan dari pemerintah untuk mengevakuasi warga yang rumahnya hancur?”


“Ada. Tadi pagi saya diinformasikan oleh Brigjend Bagas Kara akan ada kunjungan dari pemerintah nanti siang. Dan kita diminta untuk mengawal mereka. Jadi, rapikan pakaian kalian dan pakailah seragam loreng kalian.”


“Siap, Kapten!”


Saat bertugas tidak lupa mereka membawa dua baju seragam sebagai ganti jika diperlukan dalam waktu yang mendesak. Seperti hal nya hari itu.


Dan setelah itu mereka mendapatkan informasi di mana 200 orang dinyatakan korban meninggal dan 326 orang dinyatakan korban mengalami luka-luka dan sedang menjalani perawatan. di rumah sakit terbesar di Cianjur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Dokter Naura, kamu boleh ikut dengan saya melakukan visite terhadap pasien pasca operasi kemarin.” Aletha tersenyum.


“Baiklah, Dok. Saya akan siapkan data-datanya.” Naura bergerak mengambil data pasien yang akan dilakukan visite.


Aletha dan Naura mendatangi pasien satu persatu ke ruangannya dan saat menuju ke ruangan anggrek nomor 234 tiba-tiba saja mereka dihadang tiga anak koas yang akan melakukan tugas mereka yang dibantu Ilham. Sontak Aletha dan Naura terkejut dengan kedatangan mereka yang secara tiba-tiba, bahkan kedua netra Aletha dan Naura membulat sempurna saat salah satu di antara ketiga anak koas itu memperkenalkan diri mereka.


“Selamat pagi Dokter Aletha, perkenalkan saya Hakim anak koas kardiologi.” Hakim menangkup tangannya di atas dada.


Aletha mengulas senyum seraya mengangguk saat Hakim. tengah memperkenalkan dirinya. Lalu dilanjut lagi dengan kedua gadis yang berada di sisi kanan dan sisi kiri Hakim.


“Dan saya Safira, anak koas kardiologi juga.” Safira mengulurkan tangannya.

__ADS_1


“Saya Dokter Aletha, Dokter ahli bedah jantung di rumah sakit ini.” Aletha menyalami tangan Safira.


“Dan saya Khaira, Dok. Saya... sama seperti mereka.” Khaira melakukan hal sama seperti Safira dan Aletha pun membalasnya.


“Tapi... ngomong-ngomong ada apa ya? Kenapa kalian menghadang perjalanan kami?”


“Kami sebenarnya tidak bermaksud ingin menghadang perjalanan maupun pekerjaan Dokter, tapi kau hanya memiliki satu tujuan.”


“Ajarkan kami menjadi Dokter yang memiliki jiwa sosial dan dedikasi yang tinggi seperti Dokter Aletha. Karena... kami tidak mendapatkan hal semacam itu dari Dokter Ilham.” Sambung Safira.


Aletha dan Naura saling pandang, mereka tidak mengerti kenapa bisa ketiga anak koas itu meminta Aletha untuk mengajarinya. Namun, tak ada alasan lain bagi Aletha untuk tidak mengiyakannya. Bagi Aletha berbagi ilmu itu penting.


“Baiklah, untuk hari ini kita bisa belajar bersama pada jam makan siang. Jika kalian mau lebih panjang, kalian bisa saja datang ke rumah saya.” Aletha menyunggingkan senyum.


Setelah mengiyakan permintaan Hakim, Safira dan Khaira kini Aletha kembali melakukan visite terhadap pasien bersama Naura.


Naura memperhatikan setiap gerak gerik Aletha yang selalu melakukan tindakan dan penanganan yang tepat. Bahkan Naura beedecak kagum dengan sikap Aletha yang selalu menebar senyum kepada siapapun yang menyapanya. Seperti tak ada rasa amarah yang singgah di dalam diri Aletha saat menangani pasien yang sedikit susah diatur.


“Dokter cantik, saya ingin Dokter memeriksa dada saya. Karena saat bernafas saya merasa sesak, begitu membuat saya merasa sakit.” Lelaki itu memegang dadanya.


Sebelum Aletha bertindak melakukan pemeriksaan yang lebih lanjut terhadap pasien yang baru saja datang, Aletha menatap tajam seorang lelaki yang berusia sekitar lima puluhan. berdiri di hadapannya.


Aletha menelaah setiap tindakan bahkan cara lelaki itu berpakaian yang sedikit mencurigakan. Ketajaman mata Aletha pun tidak bisa tertipu, hingga ia mengerti apa tujuan kedatangan lelaki itu ke rumah sakit.


“Sebelumnya... saya akan memperkenalkan diri saya. Saya adalah Dokter Aletha, ahli bedah jantung. Dan saya... belum mengetahui nama Bapak, karena data Bapak belum masuk dalam pembukuan saya. Jadi... saya perlu mencatat nama, alamat dan juga keluhan Bapak.”


‘Sial, kenapa Dia malah meminta data ku?’


“Itu nanti saja dulu, Dok. Saya sedang merasa kesakitan ini dalam dada saya. Tolong periksa saya dulu, Dok!” pinta Burhan.


Ilham, Hakim, Safira dan Khaira yang tidak sengaja melihat Aletha tengah memeriksa Burhan dengan kehebohan seketika mereka masuk ke dalam ruangan itu. Karena mereka merasa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana. Yang mengunggah banyak pandangan mata menuju ke sana.


“Al, ada apa?” bisik Ilham.


“Bapak ini tidak mau memberikan keterangan datanya kepadaku, Kak. Malah memintaku untuk memeriksa tanpa adanya data yang akurat. Dan... itu mencurigakan.” Terang Aletha sembari menatap tajam Burhan.


“Baiklah, Pak. Kalau diijinkan biarkan saya saja yang memeriksa Bapak, kebetulan saya juga Dokter ahli bedah jantung. Bagaimana, Pak?” tawar Ilham.


“Baiklah, silahkan! Lebih cepat lebih baik.” Burhan mendengus kesal.


Saat Ilham hendak meletakkan stetoskop nya di atas dada Burhan, tiba-tiba saja Aletha mencekal tangan Ilham. Lalu Aletha menyunggingkan senyum smirk nya di hadapan semua orang yang memang saat itu tengah melihat kejadian yang menjengkelkan itu.


“Biarkan saya saja. Bukankah ini tujuan Anda datang kesini, Pak? Bertemu dengan saya,” ucap Aletha.


Aletha mengerjapkan mata saat Ilham menatapnya. Dan seolah Aletha memberikan kode kepada Ilham untuk melakukan sesuatu. Dan sekarang giliran Aletha yang akan membuat Burhan mengatakan apa tujuannya datang ke rumah sakit itu.


“Sebelum saya memeriksa dada Bapak, alangkah baiknya jika Bapak melepas jaket Bapak.”


‘Sial, kenapa Dia memintaku untuk melepaskan jaketku segala. Kalau aku melepas jaket ini maka... semua orang akan tahu kalau aku membawa senjata.’


“Pak. Bagaimana, mau segera diperiksa atau tidak?” tanya Aletha memastikan.


”Tidak. Saya rasa saya sudah sembuh, Dok. Dada saya tidak perlu diperiksa lagi. Lebih baik saya pergi saja, Dok.” Burhan beringsut, perlahan ia menuruni brangker dan hendak melangkah keluar.


“Tutup pintunya!” teriak Aletha.


Dengan segera Naura menutup pintu ruangan itu. Sehingga membuat Burhan tidak bisa keluar begitu saja dari ruangan khusus pasien saat Aletha melakukan pemeriksaan. Hakim, Safira dan Khaira ikut membantu Naura menjaga pintu agar Burhan tidak bisa merengsek keluar dan kabur tanpa penangkapan yang akan memberikan maksud dan tujuan datang ke rumah sakit.


“Pak, saya sudah berbaik hati untuk memeriksa dada Bapak yang mengalami sesak. Jadi, jangan sampai keluar dengan percuma, Pak. Bukankah seharusnya begitu?”


Burhan tidak bisa memberikan alasan yang tepat untuk mengelabui Aletha. Sehingga ia mengambil senjata tajamnya dari dalam saku jaketnya. Seketika itu ia menodongkan pistol kepada Hakim, Naura, Safira dan Khaira yang berada di hadapannya. Lalu dengan ancaman Burhan meminta Hakim dan Naura untuk membukakan pintu agar ia bisa pergi. Namun naas, Aletha jauh lebih cerdik dari yang Burhan kira.


“Jatuhkan senjata Anda, Pak. Jika tidak maka... saya tidak segan-segan meluncurkan peluru saya ke kepala Anda atau bahkan ke jantung Anda. Dan saya yakin pasti Anda tahu jika itu terjadi.” Aletha hanya menodongkan tangan yang dibentuk seperti pistol di belakang Burhan.


“Dokter cantik, Anda tidak perlu mengancam saya dengan berpura-pura menodongkan pistol kepada saya. Saya bukan sebodoh yang Ada kira.”

__ADS_1


Burhan seketika berbalik dan siap untuk meluncurkan pelurunya kepada Aletha. Akan tetapi, gerakan Burhan kalah cepat dengan Aletha. Aletha segera menangkis pistol dalam genggaman tangan Burhan hingga pistol itupun jatuh ke lantai. Setelah itu Aletha melakukan gerakan yang seharusnya tidak dilakukan oleh ibu hamil. Namun, penjahat seperti Burhan memang harus diberi pelajaran.


“Plak.”


“Joss.”


Gerakan yang sangat patut untuk diacungkan jempol. Aletha memang lihai dalam melakukan gerakan bela diri. Dan cukup memakan waktu sekitar dua puluh menit saja bagi Aletha untuk melumpuhkan Burhan.


“Bukankah sudah saya katakan, Pak. Jangan keluar dengan sia-sia. Dan sebelum Anda masuk dalam jeruji besi, saya ingin bertanya kepada Anda tentang tujuan Anda.” Begitu tegas cara Aletha berbicara.


“Saya tidak akan mengatakan apapun kepada kamu.” Burhan tersenyum smirk.


“Silahkan saja, tapi Anda tidak akan bisa kabur dari jeratan polisi, Pak.”


Tidak lama kemudian polisi pun datang bersama Ilham. Lalu polisi itupun memborgol tangan Burhan dan membawanya ke kantor untuk dimintai keterangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Saya ingin pasukan Anda mengawal saya beberapa hari lagi sampai keadaan benar-benar dinyatakan aman. Karena saya mau pasukan Anda yang cekatan bisa membantu warga jika memang diperlukan bantuan segera.”


“Siap, Pak. Saya dan pasukan saya akan mengawal Bapak sesuai perintah.” Keenan memberikan hormat kepada Pemerintah.


Kembali Keenan harus bertugas mengawal pemerintah sampai keadaan aman terkendali. Dan jika sudah selesai maka Keenan dan pasukannya bisa kembali ke Jakarta untuk melepas rindu yang membuncah.


Saat jam istirahat Keenan dan pasukan berani mati lainnya diberikan waktu untuk mengisi perut yang sudah keroncongan siang itu. Dengan nasi dan lauk seadanya pasukan berani mati mengisi perut dengan penuh khidmat.


‘Neng, Aa rindu sama Neng. Maafkan Aa jika sampai saat ini Aa belum memberikan kabar apapun tentang keadaan di sini.’


Satu suap ...


Dua suap ...


Tiga suap...


Dan dalam setiap suapan nasi yang masuk ke dalam mulut Keenan, tiada hentinya Keenan mengingat setiap momen saat bersama Aletha. Begitu ngenes nya nasib Keenan saat bertugas jauh dari Aletha, hanya bayangan saja yang bisa ditangkap dalam pelupuk matanya.


“Sudahlah, Kapten terima saja dengan apa yang sudah dituliskan oleh mbak penulis sebagai takdir kehidupan kita. Jangan terlalu merutukinya.” Brian menatap iba Keenan yang memasang wajah nelangsa.


”Iya, kawan. Bukan hanya kamu saja yang merasakan rindu, aku pun juga. Beginilah resiko kita sebagai abdi negara.” Garda menepuk pundak Keenan.


Keenan tersenyum, ia menyadari aka hal yang diucapkan Garda baru saja. Dan itulah resiko yang harus ditanggungnya sebagai pasukan berjiwa merah putih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Saya akui, Anda memang hebat. Baru kali pertama saya bertemu dengan seorang wanita yang berani menghadapi ancaman seperti tadi, apalagi... Dokter tengah mengandung.” Safira berdecak kagum.


“Aku haya manusia biasa yang tak luput dari banyaknya dosa saat berada di duniawi. Jadi, jangan mengagumi ku layaknya seorang Petinggi. Cukup hargai saja aku dan posisiku. Karena kita yang berada di sini wajib untuk saling menghargai satu sama lain.”


“Dan masalah menjadi wanita pemberani itu sebenarnya mudah, kalau saja kita mengingat Allah yang selalu ada dalam kehidupan kita, maka perlindungan-Nya pun akan selalu ada untuk kita yang membutuhkan.”


Aletha melanjutkan kembali dalam menjelaskan apa tugas Hakim, Safira, Khaira dan Naura sebagai koas di rumah sakit itu. Bahkan Aletha mengenalkan apa saja yang wajib diperiksa kepada pasien.


“Jelas kalian pasti sudah tahu berapa lama kalian akan menjalankan koas di rumah sakit ini, ya... kurang lebih satu setengah tahun kalian bertugas di sini. Dan kalian akan berjumpa dengan saya sebelum saya ambil cuti beberapa hari ke depan.” Aletha menyunggingkan senyum.


“Dan tugas kalian adalah melakukan pengecekan bersama dokter yang bertanggungjawab atas kerja kalian. Kalian juga harus melakukan wawancara kepada pasien, membacakan hasil foto CT scan kepada pasien dan dokter lainnya, mengikuti operasi yang akan dilangsungkan dan yang terakhir memeriksa bangsal. Apa kalian siap melakukan semua tugas itu?”


“Siap, Dok!” jawab Hakim, Safira, Khaira dan Naura serempak.


Ke empat anak koas itu begitu bersemangat saat belajar ilmu kedokteran yang lebih dalam dengan Aletha. Selain belajar bersama, Aletha sesekali menyelipkan kisah asmaranya dalam pertemuan siang itu ketika Hakim ataupun yang lain bertanya tentang siapa suami Aletha. Sehingga membuat ke empat anak koas itu tidak pernah merasa bosan jika saja belajar yang begitu berat, seperti melakukan elektrokardiografi, rontgen atau yang sering dikenal CT scan, angriografi dan masih banyak lagi tugas anak koas dalam bidang subspesialisasi kardiologi.


Sore pun telah tiba, waktunya Aletha kembali pulang setelah melakukan tugasnya sebagai dokter yang sudah selesai di jam sekian. Dan bagian sift malam akan digantikan oleh dokter Irham.


“Ya Allah, rasanya capek sekali. Nak, apa kamu di dalam sana juga merasa lelah seperti Bunda?”


Aletha mengelus perutnya dengan lembut dan sesekali sang buah hatinya bergerak dengan sangat aktif. Membuat Aletha merasa bahagia saat merasakan pergerakan bayinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2