
Kevin hanya bisa melihat Ayunda dari kaca dipintu kamar rawat inap, tadi dia melihat sendiri bagaimana Ayunda jatuh dalam pelukan Nathan lalu tidak sadarkan diri. Perasaannya sakit saat melihat orang yang dicintainya selama enam tahun ini sekarang terbaring lemah, bukan seperti Ayunda yang dikenalnya dulu, Ayunda yang ceria, kuat, mandiri dan selalu optimis.
"Maaf" hanya kata itu yang bisa Kevin ucapkan, tapi tidak dapat dia ucapkan langsung pada Ayunda. Semua berubah dan terjadi karena kesalahannya yang menyakiti Ayunda dengan sengaja, memancing wanita itu untuk melihatnya seakan-akan menghianati hubungan mereka dan berakhir dengan kecelakaan yang dialami Ayunda.
Sekarang hanya ada penyesalan dalam hati Kevin, apa yang dia lakukan selama Ayunda koma tidak dapat menghapus kesalahannya. Ayunda membencinya dan lebih menyakitkan lagi saat ini sepupunya yang menggenggam tangan orang yang dicintainya.
"Biar saya yang melakukannya" Permintaan Nathan tidak bisa ditolak Erick, dengan perasaan kesal dia meninggalkan ruang perawatan Ayunda. Membiarkan wanita yang bisa membuat hatinya tenang bersama pria lain. Bukan Ayunda yang dibuatnya bahagia saat bersama tapi dia yang bahagia saat meremas lembut jemari Ayunda sambil membelai rambutnya dan memandang wajah cantiknya yang putih bersih.
Erick menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil meremas rambutnya, dia benar-benar telah jatuh cinta pada Ayunda.
"Apa kamu memikirkan Ayunda?" suara Kevin mengejutkan Erick, Satu-satunya orang yang masuk keruangannya tanpa mengetuk.
"Apa ada masalah serius?" bagaimana kondisinya?"
"Tidak terlalu buruk" Erick menjawab pelan. "Apa kamu melihat saat dia tidak sadarkan diri?"
"Hemm" Kevin menceritakan kejadian apa yang dilihatnya sebelum Ayunda tidak sadarkan diri.
"Sepertinya ada sesuatu yang pernah terjadi antara dia dan Nathan" Kesimpulan Erick setelah mendengar cerita Kevin.
"Maksudmu mereka sudah kenal lama? Itu tidak mungkin, Ayunda selalu bersamaku, aku tahu siapa saja yang bertemu dengannya" Kevin mencoba menyangkal apa yang diucapkan Erick walau dia sendiri tidak yakin.
"Aku sangat yakin dengan apa yang ku ucapkan" jelas Erick meyakinkan Kevin.
"Apa kau ingin menutup mata, lihatlah bagaimana saudaramu itu memperlakukannya"
Kevin kembali teringat saat pertemuan mereka tadi, Nathan menatap dan memperlakukan Ayunda lebih dari seorang sekertaris.
"Aku membayarmu untuk mengobati, menjaga dan merawat Ayunda, bukan untuk membuatku semakin menyesal dengan apa yang kulakukan"
"Satu lagi dokter Erick, bersikaplah sebagai dokternya dan buang jauh-jauh perasanmu padanya" Kevin menekankan kata dokter pada Erick untuk profesinya.
"Apa dokter tidak boleh jatuh cinta pada pasiennya" tantang Erick.
"Tapi bukan pada Ayunda, ingat dia kekasihku"
__ADS_1
"Mantan kekasihmu" jawab Erick "Dan aku tidak merebutnya darimu, kamu yang melepaskannya" tegas Erick.
Kevin keluar dari ruangan sahabatnya itu. Erick benar, tidak ada alasan untuknya melarang siapapun jatuh cinta pada Ayunda termasuk Erick.
Di kamar rawat inap Ayunda, Nathan memandang wajah cantik Ayunda yang terlihat pucat, dia membelai wajah Ayunda dengan lembut dan tatapan hangat. Selama ini Nathan menjadi dingin pada wanita yang mencoba menggodanya, itu semua terjadi setelah dia tanpa sengaja memeluk seorang gadis yang menabraknya. Dia tidak tahu siapa gadis itu, tidak tahu siapa namanya, tapi pelukan yang hanya sebentar itu membuat jantungnya berdebar dan merasakan denyutan kecil di hatinya.
Lentera cintanya yang meyakini kalau dia akan menemukan gadis yang mencuri hatinya dan membuat debar dijantungnya. Nathan merasakan debaran yang sama saat Ayunda berada didekatnya kemarin, dan hari ini keyakinannya benar-benar membawa hasil. Nathan menemukan kembali gadis yang selama ini ditunggunya.
"Pak" panggilan Ayunda menyadarkan lamunan Nathan.
"My heart..." ucap Nathan dengan senyum senangnya melihat Ayunda sudah sadarkan diri.
"Apa yang sakit sayang?"
Ayunda terkejut dengan ucapan Nathan yang memanggilnya sayang, tapi dia mengabaikan itu, yang dia inginkan saat ini adalah aliran air yang bisa membasahi tenggorakannya yang terasa kering. "Haus" ucapnya dengan pelan.
Tanpa menunggu lama Nathan langsung berdiri membantu Ayunda untuk bersandar dan memberikan air untuk diminum Ayunda.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Erick yang datang setelah Nathan menekan tombol untuk memanggil perawat dan dokter.
Erick mengerti maksud jawaban Ayunda yang singkat, dia tidak akan bercerita secara terbuka kalau ada orang lain bersamanya dan Erick, bahkan suster sekalipun. Dia lebih nyaman bila hanya berdua Erick, itu jadi suatu kebahagiaan baginya karena dia merasa jadi orang yang dipercaya Ayunda.
"Baiklah.... kamu bisa istirahat malam ini disini sampai sakit kepalanya hilang" Erick memutuskan Ayunda untuk dirawat dan berharap saat tidak ada Nathan Ayunda akan menceritakan apa yang terjadi dengannya.
"Pak Nathan, biarkan Ayunda istirahat setelah makan" pesan Erick lalu meninggalkan kamar rawat Ayunda dengan terpaksa karena dia harus besikap profesional.
Nathan mengambil makanan yang disediakan rumah sakit "Kamu makan dulu ya... setelah itu istirahat" Nathan menyodorkan sendok yang sudah ada isinya kemulut Ayunda.
"Saya belum lapar pak" Ayunda menolak suapan Nathan.
"Ini sudah waktunya makan siang" Nathan memaksa dan menyodorkan kembali sendok ditangannya ke mulut Ayunda.
"Maaf" ucap Ayunda menghentikan gerakan tangan Nathan. "Maaf sudah merepotkan bapak, ini baru hari kedua saya jadi sekertatis bapak, bukan saya yang membantu pekerjaan bapak tapi saya meropotkan bapak dan mengacaukan kunjungan bapak"
"Saya akan memesankan makanan yang lain untukmu" Nathan tidak menanggapi ucapan Ayunda "Sepertinya kamu tidak menyukai makanan rumah sakit"
__ADS_1
"Pak"
"Makanan apa yang kamu inginkan?" tanya Nathan yang kini sedang menelpon Dariel.
"Apa saja" Ayunda pasrah, dia tahu tidak mungkin membantah Nathan dan sudah terlalu banyak bicara padanya.
"Lima tahun yang lalu tidak sengaja saya memeluk seorang gadis yang berjalan mundur dan menabrak saya"
Ayunda terdiam, Nathan bercerita masa lalunya dan itu berhubungan dengan dirinya.
"Sejak hari itu saya terus mencarinya, dan kemarin saya menemukan gadis yang menabrak saya"
Nathan meraih tangan Ayunda dan meremas jemarinya " Apa kamu ingat sesuatu?" tanya Nathan menatap Ayunda tajam.
Ayunda tahu dia tidak dapat berbohong pada Nathan, dia akhirnya menggangguk dia ingat kejadian lima tahun yang lalu dia jatuh dalam pelukan seseorang karena kesalahannya.
"Kenapa kamu berbohong saat saya bertanya padamu kemarin?" tanya Nathan.
"Saya tidak mengenal bapak waktu itu dan tidak mengenali wajah bapak" Ayunda berusaha jujur.
"Bapak pergi begitu saja, bahkan saya tidak sempat mengucapkan maaf dan terimakasih" jawab Ayunda
Suasana hening sesaat, lalu Nathan memecah keheningan dengan berucap "Ayunda aku sudah menunggumu selama lima tahun"
"Aku ingin...." ucapan Nathan terhenti karena terdengar suara pintu terbuka dan suara wanita yang memanggil Ayunda. "Yunda.... kamu baik....." mulutnya seketika terkunci saat melihat yang mendampingi Ayunda adalah orang nomor satu di perusahaannya.
"Maaf.... saya tidak tahu kalau ada bapak disini" ucap Alisa dengan gugup, dia takut melakukan kesalahan dan berakhir dengan pemecatan dirinya.
"Masuklah Alisa" Ayunda yang menjawab, dia tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu.
Alisa berjalan mendekati Ayunda setelah Nathan berdiri dan pindah kesofa.
"Dari siapa kamu tahu aku disini?" tanya Ayunda, karena ini terjadi diluar kantor tidak ada karyawan yang tahu.
"Kevin"
__ADS_1
...*******...