
Ayunda dan Mama Mira kembali kerumah, setelah kasir shift siang datang mengantikannya, Mama Mira juga sudah selesai membuat kue pesanan khusus pelangannya. Ayunda langsung membersihkan dirinya, begitu masuk kedalam kamar. Tubuh dan wajahnyanya terasa lebih segar setelah tersiram air, Ayunda menatap wajahnya dicermin, rambutnya mulai tumbuh tak beraturan dibagian kepala yang dioperasi. Selama ini setiap keluar dia menutupinya dengan topi rajut pemberian Ibu Siska. Tidak hanya satu, calon ibu mertuanya itu memberinya banyak model dan warna, sehingga bisa menyesuaikan dengan pakaian yang dia kenakan.
Ayunda berjalan ke tempat tidurnya, lalu membaringkan tubuhnya disana "Akhh, akhirnya" gumam Ayunda, dia merasa nyaman dapat meluruskan pinggangnya. Ayunda tersenyum bahagia, masalahnya dengan Kevin sudah berakhir damai, dan memantapkan hatinya pada Nathan.
Di perusahaan Adhipramana Group, Nathan kembali dalam ruangannya. Dia memenuhi janjinya pada Ayunda untuk tidak melakukan tindakan apapun pada kedua karyawannya yang tadi mengganggu gadis kecilnya. Sementara, kedua karyawan itu merasa cemas saat tiba di perusahan dan menunggu hukuman yang akan mereka terima.
"Pak Nathan, hari ini ada pertemuan dengan Pak Kevin jam tiga" Alisa yang sementara menggantikan Ayunda menginggatkan Nathan.
"Dimana?" tanya Nathan.
"Diruang meeting Pak" jelas Alisa.
"Katakan pada Kevin kalau saya yang akan kesana" Nathan memberikan perintah.
Nathan sudah tiba di parkir khusus untuk pimpinan dan karyawan Hotel dan Mall Galaxy. "Ayo sayang" Nathan mengajak Ayunda turun setelah dia melepaskan seatbelt miliknya dan Ayunda. Sore ini dia memang ada janji dengan Ayunda untuk membeli sesuatu, karena itu dia memutuskan untuk bertemu Kevin di Hotel dan Mall Galaxy. Dan menjemput Ayunda sebelumnya.
"Yunda tunggu di mall aja ya Mas" ucap Ayunda saat mereka berjalan menuju lift.
"Kenapa?" tanya Nathan heran. Ayunda tidak bisa menjawab, satu hal yang dia pikirkan dia belum siap berada diantaa Kevin dan Nathan, walaupun antara dia dan Kevin sudah baik-baik saja.
"Tidak apa-apa" jawab Ayunda.
"Kamu masih jadi sekertarisku" bisik Nathan saat mereka masuk dalam lift.
Ayunda tersenyum menanggapi ucapan Nathan, membuat Nathan tidak tahan untuk mencuri kecupan dibibir tipis gadis kecilnya.
"Mas" Ayunda menjauh dari Nathan, wajahnya merona merah, dengan tindakan Nathan yang tiba-tiba.
"Senyumu terlalu manis Ra" ucap Nathan jujur.
"Gombal" Ayunda menyahuti.
"Siapa bilang gombal" balas Nathan mendekati Ayunda, melingkarkan tangannya dipinggang ramping milik Ayunda, kembali menempelkan bibirnya ke bibir Ayunda.
Nathan melepaskan ciumannya saat lift berbunyi, tanda mereka sampai dilantai lima, di mana ruangan Kevin dan staf karyawan berada. Beberapa staf sudah menyambut mereka didepan lift, saat mereka keluar. Nathan bersikap dan berjalan seakan-akan tidak terjadi apa-apa didalam lift, sementara Ayunda tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang merona, menutupinya dengan tersenyum.
__ADS_1
Seorang gadis cantik menyapa mereka. "Selamat sore Pak Natham. Pak Kevin sudah menunggu di ruangan" ucapnya, lalu membukakan pintu untuk mereka.
Ayunda tersenyum manis pada Vina yang menyapa Nathan. Sementara Vina membalasnya dengan ragu, bukan bermaksud tidak sopan, tapi hatinya yang merasa tidak nyaman karena kehadiran Ayunda, walau dia tahu sudah tidak ada hubungan apapun antara keduanya. Tapi kejadian tentang cheesecake tadi pagi, membuatnya sangat meyakini Kevin masih mencintai Ayunda.
Kevin menyapa Nathan dan Ayunda tanpa beban perasaan melihat keduanya bersama. Sambil membahas pekerjaan Nathan memperhatikan sikap Kevin pada Ayunda, begitupun sikap Ayunda pada Kevin. Walau Ayunda sudah menerimanya, tetap saja ada perasaan tidak nyaman bila keduanya bertemu.
Sedangkan Ayunda, pandangannya tertuju pada Vina, gadis cantik itu sangat menarik perhatiannya, dia seperti menginggat sesuatu melihat sekertaris Kevin tersebut. Gadis itu tampak tidak begitu nyaman berada diantara mereka.
Pembicaraan masalah pekerjaan sudah selesai, tapi Nathan belum berniat meninggalkan ruangan Kevin. Mereka beralih membicarakan masalah Luna. Merasa sudah tidak dibutuhkan Vina pamit kembali kemejanya. Ayunda yang penasaran dengan Vina, ikut keluar.
"Mas Nathan, Kak Kevin, Yunda keluar sebentar" dia ijin pada keduanya.
"Mau kemana?" tanya Nathan sambil merapikan topi rajut yang dipakai Ayunda.
"Ke toilet sebentar" jawab Ayunda, lalu mendapat anggukan dari Nathan.
"Nda, pakai toilet disini saja" Kevin menawarkan toilet yang ada diruangnya.
"Diluar aja Kak" tolak Ayunda. Bukan tanpa maksud Ayunda menolaknya, dia sengaja keluar untuk bicara dengan Vina dan dia juga merasa tidak nyaman kalau menggunakan milik pribadi Kevin, terlebih lagi ada Nathan yang harus dijaga perasaannya.
Vina yang tahu kalau itu Ayunda yang menyapanya, langsung berdiri mengangkat wajahnya menatap Ayunda dan tersenyum kikuk. "Ada yang bisa saya bantu Mbak?" jawab Vina.
"Tidaka ada" balas Ayunda, lalu mengulurkan tangannya. " Ayunda" ucap Ayunda memperkenalkan dirinya.
"Vina" balas Vina menerima uluran tangan Ayunda.
"Mbak Vina, saya merasa pernah bertemu sebelum ini. Tapi saya lupa?" Ayunda mencoba menginggat, itulah tujuannya menemui Vina secara pribadi.
"Kita dikampus yang sama Mbak" jawab Vina jujur.
"Oh iya.... kamu satu tingkat dibawah saya ya? Saya ingat dan kamu yang membantu saya waktu itu" ingat Ayunda. Vina meganggukan kepalanya, membenarkan ucapan Ayunda.
"Senang bisa berkenalan denganmu" ucap Ayunda jujur. "Sudah lama jadi sekertaris Kak Kevin? Apa dia tahu kalau kamu satu alumni dengannya?" tanya Ayunda.
"Baru satu bulan Mbak, masih penyesuaian, dan Pak Kevin sepertinya belum tahu kalau satu kampus dengan dia" ucap Vina pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, saya yakin kamu bisa. Saya juga baru empat bulan jadi sekertaris Pak Nathan" balas Ayunda dengan mempertahankan senyum diwajahnya.
"Suatu saat pasti dia akan tahu kalau kamu satu kampus walau beda fakultas" yakin Ayunda.
"Atau biarkan saya yang memberitahunya, kalau kamu adik tingkat saya" goda Ayunda. Dia dapat melihat, kalau Vina sepertinya menyukai Kevin.
"Vina, kamu pasti..." Ayunda meghentikan ucapanya saat medengar panggilan Nathan dan berbalik menghadapnya.
"Mas, udah selesai ya bicaranya?" tanya Ayunda saat Nathan mendekatinya.
"Ditungguin Mas Nathan, malah kamu asik ngobrol disini Nda" Kevin yang bicara.
"Maaf. Kebetulan Mbak Vina ini adik tinggkat Yunda, jadi nyambung ngobrolnya" jelas Ayunda.
"Kamu adik tingkat Ayunda, Vin? Kenapa tidak kasih tahu dari awal kalau kita satu almamater" Kevin bertanya pada Vina dengan perasaan senang. Ayunda dapat melihat wajah senang Kevin, dan dia ikut senang, berharap Kevin bahagia.
"Maaf Pak, saya pikir bapak memeriksa berkas lamaran kerja saya" jawab Vina.
"Saya sedang diluar kota saat penerimaanmu jadi sekertaris" jawab Kevin jujur.
"Kita pergi sekarang?" Nathan bertanya pada Ayunda, menyela perbincangan antara Kevin dan Vina.
"Iya" jawab Ayunda.
"Kev, aku masih ada urusan dengan Yunda" ucap Nathan.
"Iya Mas, silakan"
"Kak Kevin, Yunda pamit" ucap Ayunda dan hanya mendapat anggukan dari Kevin.
"Mbak Vina, saya pamit" Ayunda mendekati Vina dan berbisik. "Kak Kevin itu single" ucapnya.
"Ha" Vina terkejut dengan ucapan Ayunda.
Ayunda terkekeh sambil mengedipkan matanya pada Vina. Lalu berjalan mendekati Nathan yang menyambutnya dengan meraih tangan Ayunda lalu menggenggamnya erat.
__ADS_1
...*******...