
Ayunda merasa ada sesuatu yang dingin menempel dilehernya, dia menyentuh bagian depan, ada sebuah liontin yang melekat dikalung yang tiba-tiba terpasang dilehernya. Tidak perlu mencari tahu siapa yang melakukannya, dia berbalik hanya untuk memastikan saja.
Nathan berdiri tepat dihadapannya, melengkungkan senyum dibibirnya. "Buka" Nathan memberikan perintah pada Ayunda untuk membuka liontinya.
Mata Ayunda berkaca-kaca saat melihat foto yang tersimpan dibalik liontinnya, itu fotonya bersama Nathan saat usianya enam tahun. Ayunda tidak pernah tahu kalau mereka punya foto bersama saat dia masih kecil. "Mas" hanya kata itu yang keluar dari mulut Ayunda.
Nathan mendekati Ayunda dan memeluknya. "Kamu suka?" tanya Nathan sambil berbisik.
"Terima kasih" jawab Ayunda, dia tidak mengatakan dia suka atau tidak. Satu hal yang dia ketahui, Nathan sudah menyukainya sejak dulu.
"Ayo, kita cari kado yang kamu inginkan" Nathan mengajak Ayunda keluar dari toko perhiasan itu.
"Mas, aku ketoilet sebentar" Ayunda meminta ijin pada Nathan. Saat tadi di kantor Kevin, dia ke toilet tidak untuk melakukan hajatnya, dia kesana hanya untuk membasuh wajahnya biar tampak segar, karena tidak tidur siang membuatnya sedikit mengantuk.
Ayunda masuk kedalam toilet, sementara Nathan menunggunya tidak jauh dari sana. Ayunda baru saja selesai lalu membuka pintu biliknya, tapi kegiatan itu diurungkannya saat dia mendengar seseorang masuk dan bicara melalui telepon. Ayunda sangat mengenal suara itu, dia yakin itu Dewi, teman satu angkatan dengan Kevin. Dewi sulit dipahami, terkadang dia baik pada Ayunda, tetapi ada kalanya dia seperti membenci Ayunda.
Sejak ada seseorang yang memukulnya sampai dia tidak sadarkan diri, Ayunda merasa takut bila dia berhadapan dengan Dewi. Ayunda tidak tahu mengapa, satu sisi dia meyakini kalau itu tidak mungkin Dewi, disisi lain dia merasa kalau pelakunya Dewi, tapi dia tidak memiliki bukti.
"Aku pasti bisa mendapatkan Kevin" Ayunda mendengarnya dengan jelas, dan dia semakin yakin itu adalah Dewi.
"Aku sudah menunggu terlalu lama, sekarang dia sudah tidak bersama gadis kecilnya lagi" Ayunda mengerti, gadis kecil yang dimaksud Dewi adalah dirinya. Ayunda tahu sejak dulu kalau Dewi menyukai Kevin, tapi tidak menyangka kalau Dewi mau menunggu sampai dia dan Kevin berakhir.
"Iya, gadis itu sakit-sakitan, sakitnya dibagian kepala, menurut informasi dia suka berhalunisasi, mungkin sedikit gangguan jiwa. Karena itu Kevin melepaskannya" Dewi tertawa, sepertinya orang yang sedang bicara dengannya membiarakan hal yang sangat menyenangkan untuknya.
"Hahaha, kamu benar, tidak sia-sia aku memukul kepalanya waktu itu, sampai dia tidak sadarkan diri. Sepertinya itu yang membuatnya jadi seperti sekarang"
Ayunda mengeluarkan keringat dingin, dia menahan sakit, dan itu senua karena wanita yang ada bersamanya saat ini. Dia ingin marah dan memukul Dewi, tapi dia tahu kekuatannya. Dia tidak bisa melukai orang, walau kondisinya tidak baik-baik saja.
Ayunda akhirnya keluar, setelah dia mendengar pintu terbuka dan dia tidak lagi mendengar suara Dewi, setelah terakhir mengatakan ingin menemui Kevin. Ayunda berdiri didepan cermin, mencoba mendinginkan pikirannya dan menetralkan aliran darah di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa lama?" tanya Nathan saat Ayunda mendekatinya.
"Mas, aku mau pulang" Ayunda mengabaikan pertanyaan Nathan.
Nathan yang mendengarnya heran, mengapa Ayunda tiba-tiba mengajaknya pulang? "Kamu sakit? Apa yang kamu rasakan? Bagian Mana? Kepala?" Nathan membombardirnya dengan pertanyaan.
"Yunda hanya sedikit pusing" jawab Ayunda.
"Kita kedokter!" Nathan memberikan perintah. Dokter Sam atau Dokter Erick?" tanya Nathan.
Ayunda pada awalnya ingin menolak, tapi setelah Nathan menyebut Erick dia merubah pikirannya. "Dokter Erick" jawab Ayunda cepat.
Tidak menunggu lama, Ayunda dan Nathan sudah sampai di rumah sakit. Mereka bukan keruang pemeriksaan, tapi langsung keruang pribadi Dokter Erick.
Ayunda mengetuk pintu ruangan Dokter Erick. "Masuk" terdengar suara dari dalam.
Ayunda membukanya, dia bisa melihat Dokter Erick sedang memeriksa berkas dimejanya. "Apa saya mengganggu Dok?" tanya Ayunda.
"Ayunda" Dokter Erick berdiri menyambut Ayunda, gadis itu mengunjunginya tanpa membuat janji, itu cukup membuat Dokter Erick senang. Namun kesenanganya hilang saat dia melihat sosok yang baru masuk berdiri dibelakang Ayunda.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Erick, dia harus profesional walau ada rasa kecewa.
"Ada sesuatu yang ingin saya ceritakan Dok" jawab Ayunda.
Erick mempersilakan Ayunda dan Nathan duduk di sofa yang ada diruangannya. Ruangan Erick cukup luas, dia baru-baru ini diangkat jadi wakil direktur di Harley Hospital.
"Mau minum apa?" Dokter Erick menawarkan.
"Tidak perlu repot-repot Dok" tolak Ayunda.
__ADS_1
"Baiklah, jadi apa yang ingin kamu ceritakan" Tanya Dokter Erick.
Ayunda diam sesaat, dia melirik Nathan lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya berlahan. Dia ragu untuk bercerita didepan Nathan, tapi setelah dipikrkannya lagi dia membiarkan Nathan untuk mengetahuinya.
"Dok, apa mungkin sakit yang saya rasakan karena ada benturan keras dikepala saya? Dan meninggalkan trauma" tanya Ayunda.
Erick berpikir sejenak sebelum menjawabnya. "Saat kamu kecelakaan tidak ada benturan keras dibagian kepala, itulah sebabnya saya merasa heran kenapa kamu bisa koma dengan waktu yang lama, dan mendorong saya untuk menelitinya" jawab Erick.
"Bukan saat kecelakaan Dok, tapi sebelumya" jawab Ayunda.
"Maksud kamu, kamu pernah kecelakaan sebelum kecelakaan yang menyebabkan kamu koma?" Dokter Erick meminta penjelasan.
"Empat tahun yang lalu, saya pernah dipukul seseorang dibagian kepala saya beberapa kali, sampai saya tidak sadarkan diri" Nathan dan Dokter Erick sama-sama menahan marah mendengar cerita Ayunda.
"Kamu tahu siapa yang memukulmu Ra?" Nathan yang bertanya. "Bukankah kamu saat itu bersama Kevin?" tanyanya lagi.
"Awalnya saya tidak tahu" jawab Ayunda jujur. "Saya juga tidak memberi tahu Kak Kevin. Saya merahasiakan ini untuk diri saya sendiri" Ayunda menjelaskan.?
"Ceritakan, biar saya bisa menyimpulkan" Dokter Erick yang meminta.
Ayunda menceritakan kejadiannya dari awal, dia sendiri di ruangan kosong, dia disana untuk memeriksa ruangan tersebut, layak atau tidak untuk organisasi kampus yang dia ikuti. Seharusnya dia memeriksa ruangan itu berdua dengan Dewi, mahasiswi yang jurusan dan angkatannya sama dengan Kevin. Saat dia berjalan bersama Dewi, seseorang memanggil Dewi, mengatakan kalau dia ditunggu dosen diruanganya. Dewi pergi dan Ayunda melanjutkannya sendiri.
Belum sampai dia diruangan yang dimaksud, ketua tim organisasi mereka menghubunginya. Cukup lama dia bicara ditelepon, walau hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari ketua tim. Setelah selesai berbicara melalui telepon Ayunda melanjutkan tugasnya.
Belum lama dia berada diruangan itu, Ayunda merasa ada seseorang yang memukul kepalanya, tidak hanya sekali, tapi beberapa kali, sampai dia tidak sadarkan diri dan yang jadi sesalnya dia tidak dapat mengenali siapa pelakunya.
Nathan diam dan menyimak semua cerita Ayunda, dia tidak bisa membayangkan Ayunda mengalami itu semua, tubuhnya panas, jantungnya berdetak lebih cepat, Nathan diselimuti amarah, tapi dia harus menahannya.
"Sekarang kamu sudah tahu pelakunya. Katakan siapa dia" tanya Nathan, dia sudah tidak tahan ingin melampiaskan amarahnya pada orang tersebut.
__ADS_1
Ayunda dapat melihat jelas wajah Nathan yang memerah. "Mas, tenang dulu" pintanya.
...*******...