
“Capek hati, capek badan dan capek pikiran itu hanya sementara. Dan satu kunci utama yang manjur menyembuhkan segala rasa itu tak lain adalah mengingat Allah SWT dalam setiap sujud kita.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha menikmati sesuap demi sesuap makanan pemberian dari Nyonya Mourisa. Meskipun pada kenyataannya pikiran dan hatinya masih memikirkan tentang Keenan dan tak lupa juga Alina.
Dor... Dor... Dor...
Suara tembakan menguar ke udara. Membuat semua orang yang berada di rumah sakit Siloam Hospitals merasa ketakukan, seakan bahaya tengah mengancam nyawa mereka. Namun tidak dimengerti apa tujuan seorang lelaki yang berusia sekitar empat puluh tahun itu meluncurkan pelurunya.
“Suara apa itu?” tanya Nyonya Mourisa.
“Jangan takut, Bu! Saya akan keluar untuk melihatnya.” Aletha melangkah pelan, menuju ke pusat suara yang terdengar berada di lobi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua orang berlarian karena merasa takut dan berusaha untuk menghindari kejahatan lelaki itu yang sudah membuat kerusuhan di rumah sakit. Salah satu perawat segera menuju ke ruangan Dimas untuk memberitahu yang terjadi di lobi. Kerusuhan besar yang dilakukan seorang lelaki yang tidak jelas akan identitasnya.
“Permisi, Pak! Maafkan saya jika saya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hah... hah... S... saya cuma mau memberitahu di ruang lobi ada kerusuhan besar, Pak. Seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun menodongkan pistol. Pak Dimas harus kesana sekarang!” papar perawat itu dengan nafas terengah-engah.
“Apa? Siapa yang sudah berani membuat onar di rumah sakitku? Baiklah, ayo kita kesana sekarang!”
Dengan langkah cepat Dimas dan perawat itu menuju ke lobi, memastikan aksi apa saja yang sudah dilakukan orang itu. Dan setiba di sana lelaki itu menyandera salah satu dokter wanita, yaitu Aletha.
“Katakan, di mana ruang rawat putri Mr. Jastin? Jika tidak kalian katakan makan Dokter yang cantik ini akan aku tembak sekarang juga.” Lelaki itu menodongkan pistol nya di kepala Aletha.
Semua pengunjung rumah sakit, pasien yang melihat dan juga beberapa dokter suster ikut merasa panik jika Aletha akan terluka karena lelaki itu. Begitu juga Ilham, Maya dan Dimas, mereka tidak ingin Aletha terluka sedikitpun tapi mereka juga tidak tahu harus bertindak apa.
“Cepat katakan! Dimana ruangan rawat putri Mr. Jastin, hah?” bentak lelaki itu.
“Jangan katakan apapun! Saya mohon, lindungilah pasien yang ada di sini!” ucap Aletha tanpa suara.
‘Sebenarnya ada apa dengan Mr. Jastin? Kenapa lelaki ini mencari keberadaan Cinta?’ tanya Aletha dalam hati.
Aletha berpikir dengan keras untuk melumpuhkan tenaga lelaki yang tengah menyandera nya. Karena ia tidak mungkin akan melawan dengan gerakan berkelahi. Sedangkan Aletha baru menjalani operasi caesar beberapa minggu lalu. Akan fatal jika ia melakukan gerakan itu.
‘Ya Allah, berikan aku kekuatan lain untuk melumpuhkan tenaga Bapak ini.’
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sial! Kenapa Bagas ada di sini? Apa Dia mencari ... Cinta? Gawat jika Dia sampai menemukan keberadaan Cinta.” Mr. Jastin yang hendak masuk ke rumah sakit seketika mengurungkan niatnya.
Mr. Jastin tidak mau menemui lelaki yang bernama Bagas, yang saat ini masih menyandera Aletha. Dan Mr. Jastin mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah sakit, ia justru masuk ke dalam mobil Ferari nya yang mewah lalu melajukan dengan kecepatan tinggi.
Arga yang sudah pulang sekolah seketika menuju ke rumah sakit, tetapi ia merasa heran saat melihat mobil Mr. Jastin keluar dari area parkir rumah sakit dengan laju kencang.
“Terserah lah! Beruntung juga aku tidak melihat wajah Daddy, aku... tidak akan berdebat dengannya.” Arga turun dari motornya lalu masuk ke dalam rumah sakit.
Seketika Arga terkejut melihat kerusuhan yang terjadi, apalagi Arga tahu Aletha menjadi alat sandera lelaki itu untuk mencari tahu keberadaan Cinta. Dan Arga yakinil itu adalah ulah Mr. Jastin, Daddy nya.
Arga tidak mau hanya diam saja di tempat, ia berpikir untuk mengelabuhi lelaki itu dan melepaskan Aletha tanpa melukai Aletha sedikitpun.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Akhirnya kita sampai juga! Sekarang ngebucin dulu sebentar.” Garda merogoh handphone nya yang berada di saku celananya.
“Dasar, tidak jelas! Dan haruskah aku juga... ngebucin sama Neng Aletha? Emm... aku rasa tidak, aku harus memikirkan strategi untuk melumpuhkan musuh, terutama anggota KKB dan Egianus Kagoya.” Keenan merogoh handphone di sakunya lalu mengirim pesan ke Aletha untuk mengatakan bahwa Dia sudah sampai.
[Assalamu'alaikum, Neng Aletha. Aa sudah sampai di Yahukimo dengan selamat. Tapi maaf jika Aa akan sibuk, karena Aa ingin segera menuntaskan misi. Aa... rindu Neng dan Alina.]
Pesan telah terkirim, tapi belum dibaca oleh Aletha.
Keenan segera menuju ke kantor Satgas Penegakan Hukum (Gakum) Nemangkawi. Di sana kedatangan mereka disambut oleh Kombes Agus sebagai ketua Nemangkawi.
“Selamat datang Kapten Keenan dan Lettu Garda! Semoga saja kita bisa menjalankan tugas bersama demi menjaga keamanan warga di kawasan pegunungan tengah Papua ini.” Kombes Agus menyambut kedatangan Keenan dan Garda dengan bersalaman.
“Siap, Pak. InsyaAllah kita akan ikut membantu dalam misi ini. Melindungi warga dari bahaya yang mengancam.” Keenan begitu meyakinkan Kombes Agus, kerjasama pun telah dimulai.
Kombes Agus mengantarkan Keenan dan Garda ke salah satu kecamatan di Jayapura, yaitu Yahukimo. Tugas pertama Keenan dan Garda serta anggota Nemangkawi adalah mengawasi di kecamatan Yahukimo, salah satu kawasan yang di jelejahi oleh anggota KKB dan Agianus Kagoya. Dan kini semakin merajalela saja, banyak korban jiwa dan benda.
“Untuk sementara Kapten Keenan dan Lettu Garda bisa tinggal di salah satu rumah warga yang kosong ini. Dan para warga Yahukimo juga tahu jika akan datang dua anggota tentara yang siap membantu dan juga melindungi mereka dari kejahatan KKB dan Agianus Kagoya. Jadi, kalau kalian membutuhkan bantuan apapun bisa menghubungi saya atau meminta bantuan para warga.” Kombes Agus memberikan kunci rumah kosong itu kepada Keenan.
“Baik, Pak! Terimakasih atas bantuan Anda.” Keenan menerima kunci tersebut.
Karena daerah itu pegunungan dan keadaan pun tidak aman membuat Keenan dan Garda harus tinggal bersama warga di sana. Membantu beberapa warga yang membutuhkan bantuan sekaligus menjaga kecamatan Yahukimo dari anggota kejahatan KKB dan Agianus Kagoya yang kebanyakan dari mereka kalangan anak muda. Akan tetapi bukan anak muda sembarangan yang semudah itu bisa dilumpuhkan.
Sore itu tepat pukul tiga Keenan dan Garda sejenak melepas rasa lelahnya dengan merebahkan tubuh di atas kasur. Tetapi mata mereka akan tetap terjaga, pikiran mereka pun tak lepas dari istri dan anak mereka di rumah.
‘Semoga Allah melindungimu di mana pun kamu berada. Dan semoga misi ini akan segera selesai agar kita bisa segera berjumpa lagi bersama.’
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
‘Ya Allah, berikan aku kekuatan. Bismillahirrahmanirrahim...’ Aletha memejamkan matanya sejenak.
“Anda mencari ruangan putri Mr. Juan, bukan? Dan saya tahu di mana ruang rawatnya, karena saya adalah dokter yang menangani putri Mr. Juan.” Aletha berusaha untuk bernegosiasi dengan Bagas.
“Cepat katakan di mana ruangannya? Jika tidak, bermimpilah untuk hidup.” Bagas tetap menodongkan pistolnya di pelipis Aletha.
“Saya akan memberitahukan kepada Anda, tetapi tolong lepaskan tangan Anda dari leher saya. Jika tidak, maka... saya akan merasa sesak nafas dan nyawa saya akan hilang tanpa memberitahukan kepada Anda di mana ruangan putri Mr. Juan.” Aletha berharap rencananya berhasil.
“Jangan kira kalau saya bodoh, Dokter cantik. Jangan harap aku akan melepaskan tanganku.” Bagas sakin mempererat tangannya.
Aletha serasa kehilangan akal, karena usahanya untuk mengelabuhi Bagas gagal. Dan membuatnya harus memikirkan kembali rencana apa yang bisa melumpuhkan tenaga Bagas.
Tiba-tiba saja Aletha pingsan, membuat Bagas terkejut mendapati tubuh Aletha yang tidak berdaya dan bersandar di tubuhnya. Bahkan Bagas merasa takut saat melihat kedua mata Aletha terpejam rapat.
‘Jatuh.’ Aletha bermonolog dalam hati.
Sesuai dengan rencana Aletha yang kedua, Bagas menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
“Dokter Aletha,” pekik semua orang yang terdengar hampir bersamaan.
“Kak Aletha,” teriak Arga dengan sangat keras.
__ADS_1
Teriakan Arga telah didengarkan oleh Aletha. Bahkan Aletha tahu di mana keberadaan Arga yang memang tidak jauh darinya. Dan setelah membuka sedikit mata kanannya Aletha mendapati Arga dengan raut wajah kekhawatiran yang berlebih, tak kalah dengan raut wajah sahabat Aletha yang lain.
‘Apa? Apa kak Aletha memang berkedip kepadaku? Tapi kenapa? Apa tujuannya?’ Arga terus bertanya-tanya di dalam hatinya.
Karena Arga tidak segera merespon rencananya, Aletha kembali membuka sedikit mata kanannya dan kembali berkedip kepada Arga. Namun, Arga masih belum mengerti untuk memahami rencana Aletha.
‘Alat ini. Ya... aku akan melemparkan kepada Arga.’
Bagas berdiri di samping Aletha, tetapi Bagas tidak tahu jika Aletha melempar sebuah bolpoin kepada Arga. Sehingga mempermudah Aletha untuk melanjutkan rencananya.
‘Kak Aletha melemparkan bolpoin? Tapi... untuk apa ini? Masa iya aku diminta membantunya dengan menulis?’
Arga sudah memegang bolpoin milik Aletha.
“Arga, bantu aku melumpuhkan lelaki itu. Tendang tangannya yang memegang pistol dengan sekuat mungkin agar pistolnya terjatuh. Dalam hitungan ke tiga, lakukan!” ucap Aletha yang terhubung dengan bolpoin penyadap suara.
Arga yang mendengar suara Aletha sejenak melihat ke arah Aletha untuk memastikan apa benar jika itu suara Aletha dan pendengarannya tidak salah. Dan saat melihat ke arah Aletha, kembali Aletha berkedip.
Arga akhirnya merasa yakinyakin dengan suara itu. Arga mengangguk, mengiyakan permintaan Aletha dan membantunya. Sesuai dengan intruksi dari Aletha, Arga melakukan tendangan keras pada tangan Bagas yang memegang pistol. Dan Bagas seketika terkejut hingga menjatuhkan pistol itu dari genggaman tangannya.
‘Bagus, sesuai perkiraan ku.’ Aletha tersenyum puas.
Dengan segera Aletha bangun dan berdiri, lalu tangan Aletha bergerak dengan cepat mengambil pistol yang tidak jauh dari jangkauan tangannya. Sehingga pistol pun sudah berpindah tangan, dengan aksinya Aletha mengancam Bagas.
“Bagaimana kalau sekarang, Pak? Apakah Anda bisa mengancam saya lagi? Jangan berpikir jika saya hanya Dokter cantik yang bodoh dan penakut. Sekarang Anda bisa melihat bagaimana saya bisa menipu Anda, Pak.” Aletha mengarahkan pistolnya ke wajah Bagas.
Bagas tidak pernah menduga jika Aletha bukan hanya sekedar dokter biasa. Tetapi Aletha memiliki kecerdikan yang luar biasa. Dan kini Bagas merasa tidak bisa berbuat apapun, karena ia takut jika saja Aletha akan meluncurkan peluru yang mengisi pistol itu.
“Katakan dengan jujur Pak, apa tujuan Anda mencari ruangan putri Mr. Juan? Jika berhubungan dengan Mr. Juan, seharusnya Anda mencarinya dan tempatnya juga bukan di sini. Karena Mr. Juan tidak ada di rumah sakit ini sejak tadi pagi.” Aletha merasa geram dengan tingkah Bagas yang tanpa tujuan pasti.
“Aku ingin Mr. Juan bertanggungjawab dengan perbuatannya itu. Karena Dia... putriku meninggal dunia. Aku merasa capek dengan perbuatan kejinya itu.” Bagas mengepal erat.
“Mungkin saya tidak harus tahu inti permasalahan Anda, Pak. Tapi di sini saya hanya ingin memperingatkan kepada Anda, jika saya melihat aksi Anda yang seperti ini lagi di rumah sakit ini, maka saya tidak segan untuk membawa Anda ke polisi.”
“Dan saya akui Anda ayah yang hebat, mencintai anaknya yang terluka. Tetapi cara Anda salah, Pak. Dan rasa capek hati, capek badan serta capek pikiran itu hanya sementara. Bapak harus tahu satu kunci utama yang manjur menyembuhkan segala rasa itu tak lain adalah mengingat Allah SWT dalam setiap sujud kita.”
“Saya mohon, lepaskan dendam Anda meskipun Anda merasa sangat sedih kehilangan putri Anda. Langitkan doa untuk Mr. Juan agar Allah SWT yang membalas semua perbuatan sekeji apapun.”
Hening...
Semuanya hanya bisa mendengarkan apa yang dituturkan oleh Aletha yang berdasarkan dari dalam hatinya. Mungkin melupakan luka begitu amat sulit, hal itulah yang membuat Bagas tidak rela jika Mr. Juan membunuh putrinya dengan tembakan tepat di jantung putrinya itu. Hingga amarah membuncah telah berkobar membakar jiwa dan pikirannya.
‘Ya Allah, aku telah berdosa. Aku bukan Ayah yang hebat untuk Almira. Maafkan Ayah, Nak!’
Tubuh Bagas pun meluruh, ia seketika duduk berjongkok dengan tubuh tidak bertenaga. Namun, semua orang yang masih ber kerumunan di sana tahu betapa hancurnya seorang ayah jika kehilangan putrinya.
“Pak, bangunlah! Tidak pantas Bapak melakukan hal serendah ini. Dan saya selaku putra Mr. Juan, saya memohon maaf dengan sangat atas apa yang sudah diperbuat oleh Daddy saya. Meskipun saya tahu, maaf saya tidak bisa membuat putri Anda kembali hidup. Dan takdir pun telah berkehendak lain, tapi saya yakin jika putri Anda tidak akan pernah tenang di sana jika melihat ayahnya seperti ini.” Arga mencoba mendekati Bagas dan membantu Bagas untuk berdiri.
Semua masalah teratasi dengan baik, dendam yang membara telah luntur. Hati Bagas telah meluruh, ia merasa bersalah dengan apa yang baru saja diperbuat. Kerusuhan yang membuat semua pengunjung rumah sakit merasa takut.
Dan setelah hati Bagas mereda barulah Aletha dan Arga mengantar Bagas menuju ke ruangan Cinta. Di sana terlihat Cinta tengah terbaring lemah tidak berdaya. Di sisi brankar Cinta ada Nyonya Mourisa yang duduk menemani Cinta.
__ADS_1
Bersambung...