
“Mungkin akan sedikit terdengar lebay. Tapi sungguh bahagiaku hanya karenamu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Orang yang berjanji tidak berdosa, akan tetapi orang yang mengingkari janji akan dikenakan dosa besar.”
“Ya Allah, aku sudah bertahan dan bersabar menantikan waktu untuk kembali bertemu dengan Aletha. Dan buatlah aku bertahan sampai aku berhasil menuntaskan misi ini dan bertemu kembali dengan pelitaku.”
Dor... Dor... Dor... Dor...
Keenan tiada hentinya melincurkan pelurunya dan mengarahkan di bagian kaki dan ada juga langsung mengenai kepala bahkan organ tubuh lainnya. Dalam satu peluru Keenan bisa membuat satu anggota KKB maupun anggota Egianus tumbang saat itu juga.
Dor... Dor... Dor...
Bukan hanya Keenan saja yang terus meluncurkan tembakan, Naina yang sudah mentok tidak bisa lagi menipu lelaki tegap yang cukup tampan baginya, seketika Naina membongkar penyamarannya. Naina tidak bisa tahan lagi untuk tidak meluncurkan peluru langsung ke bagian kepala lelaki itu.
“Kamu sebenarnya ... tampan. Bahkan sudah berhasil membuat hatiku meleyot, tapi sungguh sayang kamu lelaki... jahat. Jadi maaf saja jika peluru ku menembus kepalamu.” Oceh Naina yang memang masih merasa jomblo.
Dasar Naina ya... tingkah absurd banget sama. seperti Bian. Wkwkwk
Naina menunggu Bayu, Keenan dan Garda keluar dengan membawa sandera sembari terus menembaki anggota mereka yang semakin banyak. Bahkan hampir saja Naina tertembak karena saking banyaknya peluru yang diluncurkan oleh mereka.
Bian yang melihat hal itu pun menghalangi peluru itu mengenai lengan Naina dengan adu tembak. Sehingga Bian harus selalu siap siaga dengan ketajaman mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Pa... memangnya Aa Keenan tidak akan marah jika Aletha ikut? Tapi... Aa Keenan benar-benar masih hidup, kan? Papa tidak sedang membohongi Aletha, kan?” tanya Aletha tiada hentinya.
Bagas Kara mengulas senyum, lalu ia menepuk pundak Aletha secara pelan.
“Papa tidak akan bohong sama kamu. Buat apa juga Keenan marah sama kamu, bukankah Papa sudah mempercayaimu dalam hal ini. Ini... perintah yang tidak bisa dibantah. Persiapkan semuanya... mental, taktik dan kewajiban.” Bagas Kara menatap tajam Aletha.
Aletha mengangguk penuh dengan kemantapan. Dan Aletha berpikir ini saatnya ia membantu dan melindungi Keenan, meskipun sebenarnya Keenan sendiri bisa melakukan hal itu. Namun, satu kalimat yang tidak bisa di lupakan begitu saja oleh Aletha.
‘You jump... I jump...’ Aletha bermonolog dalam hati.
“Pa... tapi kostum Aletha memakai gamis loh! Apa tidak terlalu ribet nanti? Soalnya... Aletha belum pernah mencoba.” Aletha menatap pakaian panjangnya dari atas sampai bawah.
“Al, gamis yang kamu pakai itu lebar. Papa yakin tidak akan ribet. Tapi... Papa juga sudah siapkan kamu seragam khusus, yang pasti akan kamu sukai.” Bagas Kara terkekeh, dan beberapa menit kemudian Bagas Kara memberikan pakaian serba hitam kepada Aletha.
“Terserah kamu mau ganti pakaian atau tidak. Usahakan kamu bisa leluasa dalam meluncurkan tembakanmu dan melawan musuh.”
Jelas Aletha tidak mau salah dalam membidik musih, sehingga Aletha lebih memilih berganti pakaian dengan yang sudah diberikan Bagas Kara untuknya. Kaos berlengan panjang dan juga celana panjang yang tidak terlalu ketat. Tidak lupa pula hijab hitam yang sudah disiapkan oleh Bagas Kara. Bahkan topi hitam tidaka akan terlupakan begitu saja saat Aletha mengintai atau apin menghadapi musuh. Walaupun bukan anggota pasukan loreng Aletha memiliki jiwa pemberani, tak salah lah jika Aletha membantu dalam penyerangan.
“Bismillahirrahmanirrahim... Ya Allah, lancarkanlah segala urusanku di Dunia.” Doa dilangitkan oleh Aletha yang di amini oleh Bagas Kara.
Helikopter masih mengudara, tetapi lima menit kemudian helikopter berhenti di atas udara. Dan sebelum terjun ke bawah Aletha maupun Bagas Kara bersiap dengan teropong mereka yang sudah mereka siapkan dengan taktik one.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
‘Helikopter? Milik siapa itu?’ batin Keenan.
Setelah berada diluar Keenan, Bayu, Naina dan kelima wanita yang sudah dijadikan sandera oleh mereka hanya menatap ke atas dengan rasa penasaran yang membuncah dada. Karena sebelumnya Keenan tidak meminta Bian untuk melapor kepada Komandan, bahkan meminta bantuan saja tidak.
“Akhirnya... Komandan dan pasukan sudah tiba diwaktu yang tepat. Setidaknya kami tidak kwalahan dengan banyaknya mereka.” Bian bernafas lega ketika melihat dua helikopter yang masih berada di atasnya.
Bian selalu mengembangkan senyum dan semangat membara. Bian tidak hentinya memasang teropong nya untuk mengintai dari atas jika suasana di bawah sana terlihat aneh.
“Bian, saluran satu. Apa kamu mendengarku?” tanya Keenan.
“Ah iya, Kapten. Bian saluran dua mendengar suara Kapten. Ada apa Kapten?”
“Apa kamu tahu helikopter milik siapa itu? Apa itu... milik yang aku. katakan tadi?”
Belum sempat Bian menjawab sudah terlihat dari atas sana dua orang pertama yang meluncur dengan aksi hebat mereka.
“Aletha, lompat ketika Papa sudah menghitung sampai angka ketiga.”
“Siap, Komandan!”
Aletha tersenyum begitu manis, semangatnya untuk terjun dan meluncurkan peluru sudah berkobar bagaikan api yang membara.
Satu...
Dua...
Tiga...
Aletha dan Bagas Kara terjun ke bawah setelah pinggang mereka terikat dengan tali yang panjang ala militer.
__ADS_1
Dengan posisi kepala lurus ke bawah, lengan meluncur dan sebuah pistol tidak lepas dari dalam genggaman tangan Aletha maupun Bagas Kara.
Dor... Dor...
Dua peluru dari Bagas Kara dan Aletha telah mengenai sasaran tepat di kepala musuh.
Hebat, bukan!
“Waw... Kapten... Mereka hebat sekali! Pasti sudah terlatih.” Naina berdecak kagum melihat aksi Bagas Kara dan Aletha yang begitu kompak.
“Kamu benar, Naina. Tapi kita tidak tahu mereka siapa. Sepertinya...” Keenan menggantungkan ucapannya.
“Keenan ini Komandan! Jangan ceroboh dalam perang. Abaikan saya yang datang dan kembali pada tujuan utama.” Suara Bagas Kara telah membuyarkan lamunan Keenan.
“Komandan!” pekik Keenan.
Batu dan Naina yang mendengar hanya terperangah melihat Komandan mereka yang begitu keren dan fantastis. Benar-benar aksi yang tidak bisa pasukan berani mati lakukan, jika terjun mereka hanya bisa fokus terjun saja tanpa membidik musuh dengan sasaran yang tepat.
Setelah mendengar suara Bagas Kara Keenan, Bayu dan Naina kembali fokus untuk menghadapi musuh yang tak kunjung habis.
Tuh tugas negara, benar-benar mempertaruhkan nyawa. Hebat!
”Bruak...”
“Kretek...”
“Aduh...” rintih Bian.
“Bwahahaha...” Tawa Aletha pun pecah melihat tubuh Bian yang tertimbun oleh tubuhnya.
“Sorry, Bian ... Kali ini peluncuran ku gagal. Tapi... tidak sakit kan tubuh kamu?” tanya Aletha memastikan.
Sungguh sial si Bian, enaknya nangkring di pohon malah terjatuh setelah Aletha salah memprediksi untuk turun. Dan akhirnya ranting yang dipakai Bian untuk nangkring patah dan jatuh.
“Aletha?” pekik Bian.
“Ssttt... jangan keras-keras! Kita sudah berada di bawah, jangan sampai kamu sebut namaku! Jika ketahuan akan bahaya.”
Bian mengangguk, ia cukup mengerti apa yang dimaksud oleh Aletha sebagai seorang tentara. Apalagi ia adalah anggota pasukan berani mati, sudah jelas Bian maupun ke empat temannya tidak ingin nama asli mereka disebut.
“Kapten, saluran lima ingin melapor! Apakah Anda mendengar saya?”
Deg...
“Kapten, jangan hilang fokus! Awas! Sisi kananmu.”
Keenan seketika melihat sisi kanannya, ternyata benar saja peluru hampir mengenai lengannya. Untung saja ia tidak terlalu hilang fokus, kewarasannya seketika kembali dan ia membalas musuh dengan bidikannya.
Dor... Dor... Dor...
Baku tembak masih terjadi, tetapi musuh semakin berkurang. Banyak sekali yang tumbang di tempat.
Dor... Dor... Dor...
“Kapten, minta kelima wanita yang sudah dijadikan sandera untuk segara naik ke helikopter. Sementara sandera akan dibawa ke Jakarta untuk di amankan.” Aletha memerintahkan Keenan untuk segera melindungi sandera.
“Siap! Tapi... siapa kamu yang berada di saluran lima?” tanya Keenan memastikan.
Deg...
‘Untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan siapa aku kepadamu, Aa. Maafkan Neng!’ batin Aletha.
“Panggil saja aku... Ghost Rider.” Aletha hanya menjawab asal pertanyaan Keenan agar tidak ketahuan.
Naina dan Bayu meminta sandera untuk segera masuk ke helikopter. Dan setelah semua masuk helikopter pun mengudara dan membawa mereka ke kota Jakarta.
“Awas, Kapten!” pekik Aletha.
Dor... Dor... Dor... Dor... Dor...
Aletha terus meluncurkan pelurunya untuk melindungi Keenan dari tembakan yang peluru musuh hampir saja mengenai Keenan.
Dan setelah berada di depan Keenan, Aletha terus saja meluncurkan pelurunya.
”One...”
“Satu lawan satu. Itulah tujuanku, kawan. Kamu tidak bisa mundur ataupun maju lagi. Karena aku sengaja memojokkan posisimu hingga mentok, tak bisa berkutik sama sekali. Dan bisa aku pastikan jika... pelurumu sudah habis.” Aletha memperlihatkan senyum smirk nya.
“Sial! Siapa Dia?”
__ADS_1
“Bersiaplah! Aku akan menembakmu detik ini juga.”
Dor...
Seketika musuh yang tersisa satu-satunya telah tumbang. Namun tembakan itu bukan dari peluru Aletha, melainkan dari Keenan. Aletha yang merasa tidak menembaknya seketika membalikkan tubuhnya dan tepat dibelakang Aletha, Keenan sudah berdiri di sana.
“Bukankah aku mengenalmu, Ghost Rider?”
Deg...
Tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci meskipun hanya sejenak saja. Karena detik itu juga Keenan ambruk tepat di hadapan Aletha. Namun untungnya Aletha tidak merasa panik saat menghadapi hal semacam itu meskipun itu dialami oleh Keenan, tak lain suaminya sendiri.
“Dokter Ilham, bisa kamu bawakan tandu kemari? Kapten ambruk dan segera membutuhkan infus.” Aletha meminta Ilham yang memang ikut dalam misi di Yahukimo.
Dengan segera Ilham yang stay di dalam helikopter berlari menuju lokasi di mana Aletha dan Keenan berada.
“Huft, akhirnya misi telah selesai. Dan kita...”
“Bruk!”
Bukan hanya Keenan yang ambruk setelah musuh sudah diurus oleh pihak polisi. Bahkan Garda pun juga ambruk, untung saja Ilham soal di sana tepat waktu. Sehingga tandu segera membawa Keenan maupun Garda ke dalam helikopter. Setelah mereka masuk helikopter mengudara dan siap kembali ke Jakarta.
“Kalian semua ikut saya dengan helikopter yang akan menyusul. Dua helikopter sebentar lagi tiba, Bian, Naina dan Bayu kalian satu helikopter dengan saya.” Bagas Kara memerintah dengan nada yang tegas.
“Siap, Komandan!” jawab Bian, Bayu dan Naina dengan serempak.
Sejenak mereka semua beristirahat sembari menunggu dua helikopter yang akan segera tiba. Dan selama itu pula Naina serta kedua temannya itu masih berdecak kagum dengan aksi yang sudah dilakukan Bagas Kara.
”Bian, apa kamu tahu siapa yang meluncur pertama kali bersama Kapten?” tanya Naina dengan antusias yang tinggi.
“Ghost Rider. Naina, bukannya kamu sudah mendengar siapa namanya melalui saluran tadi, kan? Buat apa lagi kamu bertanya, aneh.” Bian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Namanya juga penasaran, Biannnn...” Naina mencebik.
Bian hanya tertawa saja melihat Naina yang merajuk. Baru kali pertama pula Naina merajuk seperti itu di hadapan mereka. Namun hal itu membuat Bian merasa gemas saja dengan Naina.
Bian awas jatuh cinta sama Naina loh...
“Biarkan saja alurnya mengalir pembaca. Siapa tahu saja Naina jodohku di masa depan.” Begitulah Bian mengatakan dengan pe de nya.
Tidak lama kemudian helikopter pun telah tiba, semua masuk ke bagian masing-masing. Seperti yang di intruksikan oleh Bagas Kara, Bian, Bayu dan Naina masuk satu helikopter dengan Bagas Kara.
Setelah semua sudah masuk, helikopter seketika mengudara dan membawa mereka semua kembali ke markas dengan kondisi tubuh selamat dari bahaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Rania... kamu kok tiba-tiba libur? Apa kamu... tidak diterima?”
“Ya tidaklah, Bu. Bukan begitu juga, Rania libur itu ya... memang diliburkan. Semua anggota baru diliburkan untuk malam ini, bebas pula bagi mereka yang ingin pulang kampung atau pulang ke rumah. Ya... Rania pilih pulang ke rumah kamu Aletha lah.” Terang Rania dengan memberi jawaban alibi saja.
‘Maafkan aku, Bu. Maafkan aku juga, kak Fajar. Dan aku harap... Papa dan kak Aletha selamat!’ batin Rania.
Rania memeluk Bu Laila untuk mengalihkan topik pembicaraan agar membuat Bu Laila lupa akan Aletha yang melakukan misi di Yahukimo. Jika Bu Laila tahu pasti ia akan merasa khawatir dengan keselamatan Aletha yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
“Rania rindu sama Ibu.” Rania mengeratkan pelukannya.
Untung saja Alina tidak terbangun mendengar suara Rania yang sedikit cempreng dikala bersama Bu Laila. Jauh berbeda jika Rania sedang berada di markas, suara harus tegas menjadi wanita yang dituntut untuk pemberani. Siap melangkah tanpa menoleh ke belakang yang akan mengecoh langkah berikutnya.
“Mungkin akan sedikit terdengar lebay. Tapi sungguh bahagia Rania hanya karena Ibu.” Rania mencium kedua pipi Bu Laila.
Bu Laila yang merasa putri semata wayangnya tengah manja, Bu Laila pun membalas dengan membelai rambut Rania yang pendek. Meskipun saat latihan ataupun bertugas Rania mengenakan hijab, tetapi tetap saja rambut Rania dipotong pendek.
“Bu, Rania merasa lapar. Buatin nasi goreng yah! Alina biar Rania yang jaga,” rayu Rania.
Bu Laila tidak tega jika melihat Rania merengek seperti anak kecil, sehingga Bu Laila ke dapur dan membuat nasi goreng untuk Rania.
Saat Bu Laila masih sibuk di dapur Rania mencoba menghubungi Bagas Kara. Dan akhirnya tersambung juga saat pertama kali Menghubunginya.
“Assalamu'alaikum, Pa. Bagaimana? Apakah Papa, kak Aletha dan yang lainnya sudah kembali?” tanya Rania to the point.
“Wa'alaikumsalam, jangan khawatir tentang hal itu, Rania. Papa dan semuanya sudah kembali. Bagaimana di rumah?”
“Alhamdulillah, syukur kalau begitu. Di rumah aman kok, Pa. Tapi... Rania tidak tahu di rumah Papa bagaimana saat ini.”
“Kamu tenang saja, mereka sudah tahu.”
Obrolan yang melalui udara sudah diakhiri oleh Bagas Kara dan Rania. Karena Bu Laila sudah tiba dengan nasi goreng khas buatan Bu Laila. Aromanya sangat menggoda perut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Aletha menghubungi perawat di rumah sakit untuk segera menyambut kedatangannya bersama rombongan.
Bersambung...