
Kepergian Kevin meninggalkan air mata untuk Ayunda, saat ini dia ingin melupakan semua kenangan bersama Kevin, untuk kebaikan Kevin dan dirinya sendiri. Ungkapan cinta Kevin kali ini membuat dadanya sakit, sama-sama saling mencintai namun tidak dapat saling memiliki.
Mama Mira tahu kesedihan Ayunda, dia mendekat dan membelai rambut putrinya.
"Sudah... semua sudah berlalu, kamu harus kuat. Ingat kamu sedang sakit dan berusaha untuk sehat, itu lebih penting saat ini"
Kata-kata Mama Mira menyadarkan Ayunda, dia tidak boleh seperti ini. "Mama benar, semua sudah berlalu dan sekarang saatnya menyiapkan masa depan" ucap Ayunda.
Malam ini kembali Nathan yang menjaganya di rumah sakit, Ayunda merasa tidak enak terlalu merepotkan pria yang menganggap dirinya sebagai kekasih.
"Pak Nathan tidak perlu menunggu saya disini, sebaiknya istirahat saja dirumah, besok harus ke kantor kan?"
Mendengar ucapan Ayunda, Nathan mendekatinya lalu duduk disamping tempat tidur sambil menatap wajah Ayunda yang masih terlihat pucat.
"Sampai kapan kamu terus memanggilku bapak? ini bukan kantor Ra" ucapan Nathan membuat Ayunda menggigit bibirnya.
"Maaf, sudah terbiasa seperti itu, pak eh.. kak" jawab Ayunda dengan gugup membuat Nathan menghela nafas panjang.
"Sayang.... panggil aku sayang" pinta Nathan.
Wajah Ayunda tampak tidak suka dengan permintaan Nathan, belum saatnya dia memanggil Nathan sayang, hatinya sebagian masih dimiliki Kevin "Tidak apa-apa kalau tidak mau, tapi jangan salahkan aku kalau mencium bibirmu saat kamu memanggilku bapak" Nathan mengatakannya dengan sungguh-sungguh membuat Ayunda membulatkan matanya.
Nathan tidak memperdulikan tatapan Ayunda yang tidak suka, membuat Ayunda semakin kesal. "Bisa-bisanya mengancam orang yang sedang sakit" kesal Ayunda dalam hati.
"Tidak bisa begitu, pak Nath..." Ayunda tidak dapat bicara lagi saat mendapati bibirnya sudah disentuh bibir Nathan yang langsung **********.
Nathan benar-benar melakukan apa yang diucapkannya. "Baiklah" ucap Ayunda pelan setelah Nathan melepaskan ciumannya. Nathan tersenyum senang dan kembali menyentuh bibir Ayunda, kali ini dia melakukanya lebih lembut membuat Ayunda membuka bibirnya dan membalas setiap gerakan dari Nathan.
Dari kaca pintu seseorang yang akan masuk menyaksikan adegan mereka mengurungkan niatnya. "Dokter Erick kenapa tidak jadi membesuk Ibu Ayunda" tanya seorang perawat yang mengenali Erick.
"Tidak apa-apa, sepertinya dia sudah tertidur pulas" bohong Erick sambil berjalan meninggalkan perawat tersebut.
__ADS_1
Ada sesak yang dirasakan Erick, dia tahu ini suatu saat akan terjadi. Namun keinginanya untuk bisa bersama Ayunda membuatnya melupakan segala kemungkinan Ayunda yang tidak dapat dimilikinya.
Pertama kali Erick melihat Ayunda saat Kevin mengajaknya menghadiri pesta ulang tahun sahabat mereka, saat itu Ayunda baru saja jadi kekasih Kevin. Tidak ingin menghancurkan hubungan persahabatannya dengan Kevin, Erick memutuskan untuk tidak sama sekali berkenalan dengan gadis yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama itu.
Hari-harinya disibukkan dengan kuliahnya sebagai mahasiswa kedokteran yang memang tidak memiliki banyak waktu luang. Tidak sedikit gadis-gadis yang mencoba mendekatinya, namun pikirannya tidak pernah lepas dari Ayunda. Terlebih lagi dia masih sering melihat gadis itu walau dari jauh, tentu saja dia melihatnya bersama Kevin yang jelas-jelas sebagai kekasihnya.
Mengagumi pujaan hatinya dari jauh cukup membuatnya merasakan sakit, sakit yang dibuatnya sendiri karena mencintai kekasih sahabatnya. Beberapa kali Kevin ingin mengenalkannya pada Ayunda tapi Erick selalu menolak dengan berbagai alasan. Walau setelahnya dia mengutuki dirinya yang bodoh, menyerah sebelum mencoba.
Saat Ayunda kecelakaan dan dibawa kerumah sakit tempat dia bertugas, Erick merasakan sakit melihat luka dikepala dan beberapa bagian tubuh lainnya. Sore itu dia yang bertugas sebagai dokter jaga, dengan tangannya sendiri dia mengobati luka Ayunda dengan kasih sayangnya.
Dapat menyentuh tubuh orang yang disayanginya selama ini, membuat Erick tanpa sadari meneteskan air mata dan jadi perhatian perawat yang membantunya disana seakan tidak percaya dengan yang mereka lihat.
Ayunda tidak kunjung sadarkan diri, setiap hari dia akan menemani gadis itu disela-sela pekerjaannya sebagai dokter. Ayunda sering bergumam memanggil nama Erick walau tidak jelas membuatnya semakin ingin bersama gadis itu, Ayunda bisa merasakan kehadirannya walau dia dalam keadaan koma itulah yang dipikirkan Erick.
Setelah Kevin menjelaskan kalau dia dan Ayunda sudah tidak bersama, tanpa ragu Erick banyak membisikan kata-kata cinta pada Ayunda, meremas, mencium keningnya dan membelai lembut kepala Ayunda adalah kegiatan yang setiap hari dia lakukan.
Walau terlambat, dia terus berharap gadis itu sadar dan akan menjadi kekasihnya. Saat itu tiba, dialah orang yang paling berbahagia, terlebih lagi dia adalah orang yan pertama Ayunda lihat setelah satu tahun menutup mata.
Kini dia harus kembali menjauh dari Ayunda, semua untuk kebahagian gadis yang dicintainya, walau dia harus merasakan kembali kesakitan.
"Kamu habis mengunjungi Ayunda? Bagaimana kabarnya?" tanya Kevin, ya orang yang mengetuk kaca mobil Erick adalah Kevin.
Erick menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu, tapi sepertinya baik-baik saja" jawabnya pelan.
"Kau tidak jadi menemuinya, apa ada dia?" pertanyaan Kevin mendapat anggukan dari Erick.
"Sepupuhku itu sangat beruntung, dialah akhirnya jadi pemenang" Kevin diam setelah mengucapkan kata-katanya. Tidak berbeda dengan Kevin, Erickpun hanya diam, keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Sementara itu dikamar rawat inap Ayunda membalikkan tubuhnya membelakangi Nathan, setelah pria itu melepaskan tautannya. Dia sudah kesal dan semakin kesal karena Natahan tidak ingin menghentikan ciumannya.
"Jangan marah Rara sayang, aku merindukanmu" jelas Nathan ingin membenarkan perbuatannya.
__ADS_1
"Dua minggu jauh darimu membuat aku tidak bisa konsentrasi memeriksa kantor cabang"
"Aku bahkan seperti orang gila saat mendengar kabar kecelakaanmu, aku pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat sambil berteriak" Nathan terkekeh mengingat tingkahnya beberapa hari yang lalu.
"Rara, mengapa kamu pergi sendiri kerestoran depan?" tanya Nathan membuat Ayunda membalikkan badanya kembali menghadap Nathan.
"Dimana Luna?" tanya Ayunda.
Nathan tidak mengerti mengapa Ayunda malah menanyakan Luna? Ayunda mengerti kalau Nathan binggung dengan pertanyaanya.
"Luna memintaku makan siang bersama di restoran seberang" jelas Ayunda.
"Luna meminta itu?" Ayunda menggangguk. "Untuk apa?" tanya Nathan lagi.
"Tidak tahu, dia tidak menjelaskan apa-apa, hanya memaksa untuk datang menemuinya"
Ayunda menyerahkan layar pipih miliknya agar dibaca Nathan. "Dimana Luna sekarang?" tanya Ayunda setelah Nathan membaca pesan teks Luna.
"Aku sudah mengirimnya pulang ke Singapore" jelas Nathan.
Perawat datang untuk memeriksa Ayunda, sementara Nathan menghubungi Dariel meminta asisten yang juga sahabatnya itu menyelidiki kasus kecelakaan Ayunda. Saat dia melihat hasil rekaman kamera pemantau di perusahaannya ada sesuatu yang aneh dengan kejadian itu, mobil itu seperti sengaja menabrak Ayunda.
Keterangan Ayunda tentang Luna semakin membuat kecurigaannya bertamba besar, dia sangat yakin ini kesengajaan.
"Ada apa?" tanya Ayunda saat melihat Nathan seperti sedang berpikir, perawat sudah selesai memeriksanya dan pamit pada Nathan, tapi laki-laki itu seperti tidak mendengar ucapan perawat, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Tidak ada, hanya ada masalah sedikit dikantor cabang" ucap Nathan berbohong.
"Pak..." Ayunda langsung menutup mulutnya. "Aku sudah menyiapkan agenda kerjamu, semua ada dimeja" lanjut Ayunda yang kembali menutup mulutnya saat Nathan berjalan mendekatinya.
"Terima kasih" ucap Nathan sambil menaikan selimut Ayunda. "Tidurlah, kamu butuh istirahat yang cukup" lanjut Nathan sambil mengecup kening Ayunda dan bibirnya sekilas.
__ADS_1
Sepasang mata menyaksikan kemesraan itu dengan sedikit senyum yang dipaksakan diwajahnya.
...*******...