
“Meskipun kamu tidak berada di sekelilingku, tetapi aku mampu merasakan hadirmu. Angin telah membawa aroma khas yang kamu miliki masuk hingga ke dasar hati. Dan inilah kekuatan cinta yang kita miliki.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Obrolan telah diakhiri setelah Aletha dan Rania saling menyetujui rencana mereka. Dan saat ini Aletha siap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meskipun di dasar hatinya ingin sekali segera sampai rumah dan bertemu dengan Alina, pengobat rindunya terhadap Keenan.
“Apa Bu Laila sudah siap jika kita pindah sekarang?” tanya Aletha kepada bu Laila yang masih asik dengan Alina.
“Tapi, Nak... bagaimana jika nanti kedua orang tua kamu marah jika kamu dan Alina ikut dengan Ibu?”
“InsyaAllah tidak akan, toh di sini masih sangat ramai dengan Ravva, Larisa dan... Atalaric. Jadi, Bu Laila tenang saja,” jawab Aletha.
Bu Laila pun mengangguk untuk menyetujui rencana Aletha. Dan Aletha pun mendapatkan ijin dari Bagas Kara dan Mama Nina. Meskipun sebenarnya sangat berat untuk merelakan perpindahan Aletha dan Alina.
“Hati-hati di sana, jangan lupa selalu memberi kabar kepada Papa maupun Mama.” Bagas Kara memberikan pelukan kepada Aletha.
“InsyaAllah, Aletha akan selalu memberi kabar kepada Papa dan Mama. Dan Aletha mohon sama Papa dan Mama untuk menjaga... Laura dan Ravva.”
“Iya, itu sudah menjadi tugas Papa. Kamu tenang saja.”
Setelah Bagas Kara melerai pelukannya, Aletha berpindah menyalami Mama Nina, Luna dan Laura. Di dasar hati Aletha juga tidak ingin pisah dari mereka, apalagi Aletha merasakan keharmonisan dalam setiap momen bersama. Meskipun begitu Aletha tidak mau membuat bu Laila tidak nyaman.
Perjalanan telah dimulai, Aletha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Meskipun begitu Aletha juga tidak mau jika saat maghrib masih berada di jalan, karena tidak baik juga membawa Alina saat seperti itu.
Alina cukup tenang bahkan tertidur dengan pulas di pangkuan bu Laila saat perjalanan masih berlangsung. Membuat hati Aletha merasa tenang dan tetap fokus dengan jalan raya yang tidak terlalu ramai itu.
“Bu, bagaimana kalau kita mampir dulu beli makanan untuk nanti kita makan bersama. Karena saya yakin, isi kulkasnya... kosong.” Aletha nyengir.
“Iya, nak Aletha, tidak apa-apa. Besok saja kita belanja.” Bu Laila tersenyum.
Aletha menghentikan mobilnya setelah berada di pinggir jalan depan warung makan yang tidak mewah dan juga tidak biasa, cukup stadart saja. Bagi Aletha makan apa saja itu tetap enak dan nikmat jika memiliki rasa syukur dari dalam hati.
“Permisi! Saya mau beli nasi iga bakar 1 porsi dan nasi ayam bakarnya 1 porsi juga.” Aletha memesan makanan siap saji yang akan dijadikan santapan makan malam bersama bu Laila setiba nanti.
“Baik, Mbak... bisa ditunggu!” balas pelayanan sembari tersenyum.
Aletha duduk di salah satu kursi untuk menunggu makanan yang dipesan tadi selesai. Sembari menunggu Aletha menatap layar ponselnya sejenak dan memastikan ada tugas mendadak lagi atau tidak.
“Dimas? Kenapa Dia... memberikan pesan kepadaku?”
Rasa penasaran bermunculan dalam beka Aletha, karena setelah Dimas menikah baru kali itu mengirimkan pesan kepadanya secara pribadi. Bahkan pesan yang dikirim tidak cukup satu kali, melainkan ada sepuluh kali pesan berderet atas namanya.
[Assalamu'alaikum, Al. Maaf jika aku sudah lancang mengirim pesan kepadamu. Dan ini mungkin... tidak penting bagimu.]
[Al, aku cuma mau mengatakan terimakasih bayak karena kamu sudah sudi bekerja dan mengabdikan diri di rumah sakit ku. Tanpa jasa, keberanian, ketangguhan, kejeniusan dan segalanya darimu mungkin rumah sakit ku tidak akan maju.]
[Al, selain itu yang ingin aku katakan kepadamu, aku ingin mengatakan sesuatu hal. Mungkin saja kata-kata ku ini akan membuatmu marah. Tapi sungguh... cintaku kepadamu tidak mudah hilang. Bahkan semakin tumbuh di saat aku selalu menatapmu.]
[Tapi aku akan mengubur perasaan itu, Al. Aku akan membuka lebaran baru dengan kehidupanku yang baru, kehidupan yang sudah beberapa bulan lalu aku abaikan dan aku akan memulainya dengan kehadiran sosok yang baru. Besok adalah hati terakhirku berada di rumah sakit, karena setelah malam tiba aku akan ke luar negeri dan meninggalkan kota Jakarta untuk selamanya. Jika kamu berkenan dan menganggapku sebagai teman, aku akan menunggumu di bandara. Terimakasih...]
Untuk pesan dari Dimas sekian saja ya! Dan itu yang paling inti... jika diterusin nati akan panjang di pesan Dimas saja. Wkwkwk
Aletha merasa iba dengan Dimas yang tidak bisa melupakan hadirnya cinta di hatinya. Jika dipikir dengan baik-baik sebenarnya Dimas adalah lelaki yang baik, tidak se julit dan sok keren tampangnya.
Aletha tidak mengirim pesan sebagai balasan dari pesan Dimas. Aletha memang abai, tapi ia akan berusaha untuk menemui Dimas itupun hanya ingin menghargai Dimas sebagai atasannya.
Aletha berdiri ketika namanya dipanggil oleh pelayan, dan setelah menerima pesanannya Aletha menuju kasir untuk membayar nasi iga bakar dan nasi ayam goreng.
“Maaf ya Bu, sudah nunggu lama.” Aletha masuk kembali ke dalam mobil.
__ADS_1
“Iya, nak Aletha tidak apa-apa. Ya sudah lebih kita segera jalan lagi, sebentar lagi menjelang petang.”
“Baik, Bu.” Aletha mengangguk.
Mobil Ferari yang dijadikan kendaraan oleh Aletha kembali dilajukan dengan kecepatan standart. Berhubung tidak terlalu jauh dengan restoran makan tadi, sehingga cukup memakan waktu sepuluh menit saja dari tempat membeli makan dan kini sudah sampai di rumah Aletha.
“Mari masuk, Bu!” ajak Aletha setelah membuka pintu.
Bu Laila masuk ke dalam rumah Aletha dengan menggendong Alina yang sudah terbangun. Dan setiba di sana Alina di rebahkan di atas kasur, karena Aletha tidak membawa keranjang Alina yang besar. Tidak mungkin juga kan, kalau dibawa.
Setelah itu Aletha mempersiapkan makanan yang sudah dibelinya tadi di dapur. Sesaat bayangan Keenan menari-nari di pelupuk matanya, rasa rindu tiba-tiba hadir dengan sendirinya.
“Meskipun kamu tidak berada di sekelilingku, tetapi aku mampu merasakan hadirmu. Angin telah membawa aroma khas yang kamu miliki masuk hingga ke dasar hati. Dan inilah kekuatan cinta yang kita miliki.” Aletha memejamkan kedua matanya sejenak.
“Aa, Neng kangen. Kapan bisa berjumpa lagi?”
Aletha mengukir senyum yang indah, setelah itu ia kembali fokus dengan kegiatannya. Karena ia sudah menjadi seorang ibu yang tidak boleh melupakan anaknya begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kenapa tiba-tiba aku merasakan rindu terhadap Ayah? Apa... Kira-kira Aletha mau ya menemaniku ke makam Ayah? Tidak mungkin juga jika aku meminta keluarga ini untuk menemaniku, sudah terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.”
Laura begitu merasa nelangsa, meskipun keluarga Bagas Kara sudah menganggapnya keluarga tetapi Laura tidak mau merepotkan sipapun, ada rasa sungkan jika meminta keluarga Bagas Kara membantu untuk mendorong kursi rodanya.
“Apa aku coba saja hubungi Aletha? Tapi... pasti saat ini sedang istirahat. Kasihan Dia, tempo hari bekerja full di rumah sakit karena bertanggungjawab akan kak Maya. Dan... berita itupun sudah aku ketahui, tapi syukurlah polisi sudah membekuk Mr Jastin itu.”
Tidak ada seorang yang tahu apa yang terjadi dengan Aletha selama di rumah sakit kecuali Laura, karena hanya Laura tempat bagi Aletha mencurahkan hatinya di kala gundah selain kepada Allah SWT. Persahabatan antara mereka begitu erat, apalagi kini sudah menjadi saudara ipar, maka semakin erat pula hubungan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kenapa aku kepikiran sama Laura, ya? Ada apa dengannya?”
“Assalamu'alaikum, Ra.” Aletha mengucap salam dari seberang.
“Wa'alaikumsalam, Al. Pas banget yah, tadinya aku mau telpon kamu tapi aku ragu... takut ganggu waktu istirahat kamu.” Laura mengucapkannya selembut mungkin, memang dasarnya hati Laura itu lembut dan sikapnya begitu sopan.
“Ada apa, Ra? Tidak perlu merasa sungkan, kita sudah menjadi saudara. Kamu tidak lupa hal itu kan, Ra?”
“Tidak, Al.” Laura menggelengkan kepalanya. “Al, mau tidak jika kamu temani aku ke makam Ayah? Aku... merasa rindu. Biasanya kak Garda yang selalu mengantarkan aku, tapi saat ini kak Garda dan kak Keenan bertugas.” Terang Laura karena ia sudah tidak mampu menahan rindunya terhadap Almarhum Mahendra.
“Tentu, Ra. Lagipula Almarhum Ayah Mahendra sudah menjadi mertua aku, jadi ya... sekalian saja aku juga berkunjung ke makam beliau.”
“Terimakasih ya, Al. Besok pagi kami jemput aku ya,” ucap Laura.
Aletha menyetujui ajakan Laura, karena setelah menikah hanya satu kali berkunjung dan berziarah ke makam Mahendra. Mungkin Aletha bukanlah menantu yang baik, karena tidak per kunjung sesering mungkin di makam Mahendra. Tetapi Keenan selalu mengajarkan kepada Aletha untuk mendoakan Mahendra dan seluruh keluarganya melalui doa yang diucapkan setelah sholat fardhu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Assalamu'alaikum,” ucap Aletha ketika sampai di rumah Bagas Kara.
“Wa'alaikumsalam,” balas bik Siti dan Mama Nina dari dalam.
Pelukan dan salim Aletha lakukan kepada Mama Nina dan bik Siti, karena yang dilihat Aletha hanya mereka. Bagas Kara sudah berangkat sejak pukul enam pagi, Juan dan Luna masih sibuk di kamar dan begitupun dengan Laura yang masih sibuk mengurus Ravva, sedangkan Larisa baru saja hadir di ruang makan.
“Aunty, sejak kapan datangnya?” tanya Larisa dengan binar mata bahagia.
“Baru saja aunty datang, kenapa Sa? Kangen sama aunty?” goda Aletha.
“Hahaha... tidak kok, Aunty. Kan, baru juga kemaren pulang ke rumah yang itu. Sekarang sudah kesini lagi, ya... tidak juga kalau di bilang n kangen.” Larisa menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
“Dasar, keponakan minim adab.” Aletha mencebik.
Aletha berlanjut mencari Laura karena mengingat waktu untuk berkunjung ke makam Mahendra cuma ada waktu satu jam. Karena pada pukul sembilan Aletha harus menjalani operasi dengan kanker jantung yang diderita pasien bernama Yohan. Masih terlalu muda, tetapi karena penyakitnya Yohan harus meninggalkan kekasihnya tanpa alasan.
“Bagaimana kalau kita lagsung saja, soalnya... aku ada jadwal operasi.”
“Emm, boleh. Aku juga sudah ngomong sama Mama Nina kok. Ravva ... aku ajak, soalnya Papa dan Mama nya kak Garda mau jemput di makam.” Terang Laura sembari tersenyum.
“Ok, ya sudah kalau begitu kita pamit dulu!” ajak Aletha.
Tepat pukul setengah delapan pagi Aletha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena ia harus menjaga retorika di depan sahabatnya itu. Bukan beraksi dan begajulan ala Aletha dulu.
“Assalamu'alaikum, Ayah.” Laura mengusap batu nisan Mahendra.
“Accalamu'alaikum, kakek Mahendla. Ravva datang mengunjungi lumah Kakek. Andai saja kita bisa beltemu pasti Ravva bisa belajal main tembak-tembakan sama kakek selain sama Ayah.” Celoteh Ravva yang masih berusia tiga tahun.
“Ravva, sekarang kakeknya sudah bahagia di surga. Dan saatnya Ravva berdoa untuk kakek Mahendra supaya terus tersenyum bahagia di sana.” Aletha berusaha melipur Ravva karena harapan Ravva yang tidak akan pernah bisa terwujud, hanya akan membuat Ravva bersedih saja.
“Baik, aunty Aletha.” Ravva mengangguk.
Ravva menengadahkan tangannya, mulutnya berkomat-kamit membacakan doa enta apa itu. Dan sekiranya sudah selesai Ravva pun mengaminkan doa yang dilangitkan olehnya.
“Assalamu'alaikum, Laura... Aletha...” Kedua orang tua Garda pun telah datang.
Aletha dan Laura menyalami keduanya begitupula dengan Ravva. Setelah itu Aletha berpamitan hendak pergi ke rumah sakit, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Dan setengah jam lagi Aletha harus menjalani operasi.
“Jangan ngebut-ngebut di jalan!” pinta Laura.
“Tenang, Ra. Aku sudah tahu jalur kok, tidak seperti dulu. Hahaha...” Aletha terkekeh.
Aletha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tetapi saat dalam jalanan yang cukup sepi Aletha sedikit menekan pedal gasnya agar lebih kencang dan segera sampai di rumah sakit.
“Dok, semuanya sudah dipersiapkan. Pasien sudah kami beri obat bius dosis tinggi. Tinggal dimulai saja operasi.” Papar seorang suster yang tak lain adalah asisten Aletha.
Aletha mengangguk, dengan langkah cepat Aletha menuju ke ruang ganti untuk berganti pakaian khas bertugas di ruang operasi. Dan Aletha memimpin jalannya operasi, sebelum itu Aletha selalu meminta anggotanya untuk membaca doa sesuai dengan keyakinan masing-masing. Barulah setelah itu Aletha melakukan pembedahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelima anggota polri mencoba melerai peperangan antar suku itu. Begitu juga dengan Garda dan Keenan yang ikut masuk dalam peperangan untuk mencari celah agar peperangan itu segera berakhir dengan perdamaian. Namun sayang, peperangan itu semakin brutal saja. Warga antar suku masing-masing membawa senjata tajam untuk saling melukai.
“Arghhh...” Satu warga tumbang seketika saat parang melukai tubuhnya.
“Mampus lo,” ucap salah satu warga suku Yali.
Peperangan itu tak lain adalah dari suku Yali dengan suku Ngalik. Dan pusat permasalahan peperangan itu hanya karena rasa tidak terima dari pak Sowa atas meninggalnya Sega putranya. Sehingga banyak warga yang membela pak Sowa dan terjadilah peperangan itu yang mengakibatkan warga meninggal dunia.
“Arghhh...”
Kembali korban kedua yaitu salah satu warga dan seketika meninggal dunia di tempat itu. Anggota polri, Garda dan Keenan merasa kewalahan untuk menghadapi peperangan yang cukup sengit itu.
“Bagaimana pun caranya kita harus melerai peperangan ini, Garda. Siapkan tembakmu yang sudah diisi peluru karet.” Keenan selalu berwaspada, kedua matanya selalu siap siaga.
Keenan dan Garda mulai beraksi menembaki kaki para warga, agar kesulitan untuk berdiri. Karena bagi mereka kaki adalah sasaran yang tepat untuk saat itu.
“Dorr... Dorr... Dorr...”
“Arghhh...”
“Brukk...”
__ADS_1
Bersambung...