
Setelah kejadian kemarin, Arra tidak lagi bertemu dengan Zhen. Masalah sedikit demi sedikit muncul. Namun berkat bantuan sahabat sahabat nya, Arra bisa menghadapinya. Tak terasa satu tahun sudah Arra lewati dalam masa pembelajaran di Amerika. Kini kelas VII berganti menjadi kelas VIII. Tentu saja Zhen sudah lulus dari sekolah ini. Terakhir kali Arra melihat Zhen adalah upacara perpisahan waktu itu. Dan Zhen hanya mengatakan "Senang bertemu denganmu". Itu membuat Arra semakin terheran heran dengan perkataan Zhen waktu lalu.
Prestasi Arra meningkat begitu pesat dan membuat orang tuanya bangga. Mendengar prestasi Arra yang cepat meningkat, orang tuanya mulai mengajari Arra mengenai perusahaan. Selesai pulang sekolah, Arra selalu diajak Papanya pergi ke perusahaan dan belajar hal baru disana. Arra juga diajarkan bagaimana cara mengembangkan perusahaan, karena perusahaan tersebut akan diganti alih kan oleh Arra nanti. Atau bisa dikatakan Arra lah yang akan menjadi pewaris perusahaan kedepannya.
"Ini.. Sedikit keterlaluan sih. Kenapa Papa memilihku? Bukankah Aria juga bisa? Aria kan juga hebat dalam mengurus perusahaan seperti ini.. Uhh, aku sedikit tidak enak hati dengan Aria.." benak Arra.
"Arra?.. Kau dari tadi hanya duduk dan melamun disini, ada apa?" tanya Aria sambil berjalan mendekat ke Arra yang sedang duduk di taman belakang rumah.
"Eh?? Melamun? Tidak kok.. Aku hanya menikmati udara pagi ditaman"
"Benarkah?"
"Tentu saja.."
"Baiklah.. Oh ya Ra, Mama memanggil mu"
"Mama? Mama tidak pergi ke kantor kah?"
"Entahlah, Mama hanya menyuruh ku memanggil mu dan menyuruh mu ke ruang tamu"
"... Ya baiklah aku akan kesana" Arra berjalan menuju ruang tamu diikuti oleh Aria.
Terlihat dari jauh, Mama sudah menunggu Arra sambil melihat berkas berkas dokumennya. Arra pun segera mendekat ke arahnya.
"Ma? Ada apa memanggil ku?" ucap Arra lalu duduk di sofa depan Mama nya.
"Arra, Mama lihat kau hanya diam dirumah dan belajar saat libur. Jadi, bagaimana kalau setiap minggu kita pergi ke kantor?"
"Mm.. Ya, tapi aku ingin pergi bersama Aria juga Ma. Dan satu lagi, aku hanya akan menyetujui permintaan Mama jika setiap minggu saja aku pergi ke kantor nya"
"Baiklah Mama setuju"
"Aku tidak" balas Aria dengan cepat.
"Aria, Arra yang mengajak mu maka dari itu lebih baik kau ikut. Dan juga kau harus belajar lagi mengurus perusahaan" ucap Mama dengan mata memandangi Aria.
".. Baik, tapi aku hanya akan menemani Arra saja! Aku tidak ingin belajar apapun mengenai perusahaan"
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang" Mama beranjak pergi diikuti oleh Aria dan Arra.
Sepanjang jalan Arra merasa gelisah terus menerus. Ia tidak bisa duduk tenang di dalam mobil hingga sampai di perusahaan orang tuanya. Sampai didepan perusahaan, Arra, Aria, dan Mamanya disambut oleh beberapa pegawai kantor. Hingga didepan ruang Papanya pun mereka masih disambut oleh pegawai dan asisten.
"Kalian sudah datang, kemari lah" sahut Zeck saat melihat putrinya sudah datang.
"Arra, Aria Papa akan memperkenalkan asisten baru kalian. Dia adalah Vera, orang yang akan menemani kalian belajar disini. Jika ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja pada Vera"
"Nona Ze, saya adalah Vera. Sayalah yang akan membantu nona selama disini. Mari ikuti saya, saya akan menunjukkan ruangan anda"
Arra dan Aria mengikuti Vera ke tempat dimana mereka akan belajar dan bersantai. Ruangan yang begitu besar, luas dan mewah itu berada dilantai paling atas. Ruangan nya dilengkapi dengan kamar untuk beristirahat dan rak rak buku tertata rapi disana. Arra memang menyukai tempat yang banyak dengan buku buku menarik didalamnya.
"Ini adalah ruangan anda nona Ze, panggil saya jika anda memerlukan sesuatu. Saya ada diruangan sebelah" ucap Vera sambil tunduk hormat pada Arra dan Aria.
__ADS_1
"Baik" Arra membalas tersenyum sambil melihat lihat buku dimeja. Semua buku dimeja berisi tentang cara mengelola perusahaan begitu pula buku buku yang ada di rak rak dekat meja.
"Aria, coba lihat! Kenapa buku buku ini berisi prosedur prosedur kantor? Apakah tidak ada buku pengetahuan umum atau buku pengetahuan lainnya kah?" tanya Arra sambil membuka buku buku itu satu per satu.
"Kau kan yang akan menjadi penerus perusahaan ini nantinya. Makanya kau harus bisa mengembangkan perusahaan dengan benar" balas Aria yang sedang duduk di sofa.
"... Aria?.."
"Ya, Kenapa?"
"Apa kau... Tidak marah atau pun sedih karena aku yang dipilih menjadi pewaris perusahaan?" Arra bertanya sambil mendekat duduk disamping Aria.
"Kau mengkhawatirkan itu? Aku tidak akan pernah marah atau sedih Ra. Aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis atau apapun lah itu. Aku suka kok hidup seperti ini. Aku tidak butuh apapun lagi, aku hanya butuh.. aku hanya butuh kau tetap bersama dengan ku Ra. Asalkan kita semua tetap bersama.. aku sudah merasa bahagia.."
Entah kenapa mendengar jawaban Aria membuat Arra ingin meneteskan air mata. Arra memeluk erat Aria sembari air mata berjatuhan.
"Aria.. Aku akan membuat kamu bahagia. Aku akan membuat keluarga kita damai dan bahagia layaknya keluarga lain. Aku akan berusaha yang terbaik untuk keluarga kita"
Dua saudari kembar itu saling meluapkan rasa sedih nya sambil memeluk erat satu sama lain. Perasaan bahagia dan sedih saling bercampur aduk.
* * * * * *
Hampir berjam jam Arra dan Aria berada di perusahaan orang tuanya. Mereka merasa kelelahan karena hanya duduk santai dan belajar disana. Arra sibuk dengan membaca baca buku sementara Aria bersantai sambil memainkan handphone nya.
"Kringgg" suara panggilan dari handphone Arra dan membuat Arra kaget. Arra mengambil handphone nya dan terlihat nama Ben tertera dilayar kaca panggilan.
"**Hallo Ben?"
"Mm.. Aku sedang belajar. Ada apa?"
"Belajar? Apakah aku mengganggu mu?"
"Eh tentu saja tidak. Lagi pula aku sudah belajar dari tadi dan sepertinya aku bisa selesai belajar sekarang"
"Benarkah? Kalau begitu bisakah aku mengajak mu keluar sebentar? Ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu**"
"Hmm? Hal apa ya? Kenapa dia terlihat serius sekali saat berbicara? Apa aku melakukan kesalahan?.. Ku harap bukan sesuatu yang buruk" benak Arra.
"**Hallo Ra? Arra? Apa kau baik baik saja? Kenapa tidak menjawab?"
"Eh eh.. Iya maaf.. Aku.. Baik baik saja. Baiklah, dimana kita akan bertemu?"
"Aku akan mengirimkan alamatnya padamu. Kita akan bertemu tepat pada pukul 15.00 nanti"
"Baiklah**" Arra menutup telepon lalu duduk lemas di sofa. Arra sedikit khawatir dengan apa yang akan di katakan Ben nanti. Ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi nanti.
"Kenapa?" Aria bertanya sambil memandangi Arra yang terlihat lemas tak bertenaga.
"Argh.. Bukan apa apa kok.." balas Arra sambil meletakkan kedua tangan menutupi matanya.
"Sudahlah katakan saja ada apa?"
__ADS_1
"Kau tahu, Aria?"
"Tidak"
"Eh maksudku bukan seperti itu. Aku belum selesai bertanya lah. Apa kau pernah pergi bersama laki laki sebelumnya?"
"Tidak, kenapa?"
"Kau pernah mendengar cerita ku bukan? Aku bertemu dengan laki laki menyebalkan waktu hari pertama sekolah. Dia akan mengajak ku pergi nanti.."
"Kau kan sudah pernah pergi bersama laki laki hari itu. Siapa dia namanya aku lupa.."
"Oh maksudmu kak Zhen? Iya sih... Tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Apa mungkin karena berbeda orang makanya aku jadi sedikit takut? Aku sedikit takut dan deg deg an, Aria.."
"Dia mengajak mu pergi untuk berbicara dengan mu bukan? Mungkin dia ingin menyatakan cinta padamu Ra"
"Apa?? Ariaaa!! Sebaiknya kau tidak berbicara tadi!! Apa kau gila? Mana mungkin dia menyatakan cinta padaku. Lagi pula kami hanya berteman baik dan tidak lebih kok.." jawab Arra dengan pipi sedikit memerah.
"Ya ya terserah kau" Aria melanjutkan bermain game di handphone nya.
"Cinta ya?.. Hmm.. Aku sama sekali belum pernah terlibat dalam urusan percintaan sebelumnya. Apakah yang dikatakan Aria tadi benar? Ben akan menyatakan cinta padaku?.. Eehhhh kenapa aku malah memikirkan hal ini sihhh!!" Arra mulai emosi dengan pikiran nya.
"Hmm?" Aria memandangi Arra yang sedari tadi bertingkah aneh.
"Mana mungkin Ben menyukai ku, aku kan tidak menarik. Hmm.. Mungkin dia hanya ingin membahas mengenai organisasi? Atau mungkin.." Arra berbicara pada dirinya sendiri.
"Hey Arra kau tidak gila kan?"
"Benar benar, mungkin Ben hanya ingin membahas tentang urusan sekolah.." masih saja Arra berbicara sendiri.
"Hey Raa!! Aku anggap kau sudah gila jika kau tidak membalas ucapan ku!" kedua tangan Aria dilipat begitu juga matanya memandang marah Arra.
"Eh, Ha? Aria?.. Ada apa? Apa kau memanggilku?"
"Ah sudahlah.." balas Aria sembari melanjutkan bermain game lagi.
"Eh apa? Ariaaa!! Kamu inii!! Huh.. Jika kau memanggilku lagi maka aku tidak akan memperdulikan nya" Arra juga menjawab dengan marah.
"Hei Ra, buku sejarah Albert Einstein yang terbaru sudah ada ditoko buku sebelah"
"Ha? Benarkah? Toko buku sebelah yang mana?" mata Arra berbinar terang ketika mendengar kata buku.
"Hehh tadi bilang tidak akan memperdulikan ucapan ku" ucap Aria seraya meledek.
"Eh, Ariaaaa!! Kau membodohiku lagii!!!"
"Ha-haa.."
"Ergh masih sempat sempatnya tertawa? Mari sini kau Ariaaa!!"
Mereka berlari larian sambil meluapkan rasa emosi nya. Pemandangan yang begitu indah melihat dua saudari ini saling bermain dan tertawa satu sama lain. Meski sering bertengkar, mereka sama sekali tidak bisa menahan rasa marahnya selama lebih dari satu jam. Benar benar saudari yang harmonis dan saling menjaga satu sama lain.
__ADS_1