
“Ada tiga hal yang harus kamu kejar di dunia. Ilmu, Ridha orang tua dan... Cintanya Allah. Lakukanlah tiga hal itu melalui jalur langit. InsyaAllah akan dipermudahkan dalam urusanmu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aletha merengkuh tubuh Keenan, ia masuk ke dalam hangatnya sebuah pelukan. Di atas Jembatan Faidherbe keduanya saling mengungkapkan rasa dalam hangatnya pelukan. Sehingga tidak merasakan angin yang berhembus, membuat dinginnya malam. meskipun sejenak.
Saat Keenan dan Aletha masih menikmati suasana romantis saat berada di tengah kemerlip cahaya lampu tiba-tiba saja ponsel Aletha berdering.
‘Ada yang datang di saat yang tidak tepat.’ Keenan pun mengumpat, tetapi hanya di dalam hati saja.
“Assalamu'alaikum,” sapa Aletha.
“Wa’alaikumsalam, Al. Begini Al, sebelumnya aku minta maaf jika sudah mengganggu waktu kamu dan Kapten Keenan tapi ... aku mau memberitahukan ke kamu kalau ada pasien yang mencarimu, Dia tidak mau aku tangani dan... hanya mau kamu.”
“Maaf Anda saya terima, Dokter Ilham. Tapi... ini sudah malam, Aletha dan saya sudah mau tidur. Bisa tidak jika, ngobrolnya besok pagi saja?” sambung Keenan.
Belum sempat Aletha menjawab pertanyaan Ilham, Keenan sudah main srobot handphone Aletha saja. Dan Keenan memberikan alasan alibinya karena ingin segera menyudahi obrolan dokter Ilham dengan Aletha.
“Maafkan saya Kapten Keenan, mungkin... saya salah. Ya sudah kalau begitu, sekali lagi saya minta maaf. Assalamu'alaikum.”
“Tut... Tut... Tut...”
Sambungan telepon telah terputus. Jelas membuat Keenan bahagia, untung saja hanya di dalam hati Keenan menampakkan kebahagiaan nya itu.
“Aa, kok begitu sih jawabnya. Nanti kalau kak Ilham marah bagaimana?”
“Percayalah Neng, Dokter Ilham tidak akan marah. Seharusnya yang marah itu Aa,” ucap Keenan.
“Kenapa juga Aa yang marah?”
“Ya Allah Neng, masa iya Aa harus menjelaskan semuanya? Ingat tujuan kita datang kesini karena ingin honeymoon. Jangan biarkan kesempatan honeymoon kita terbuang dengan percuma.” Keenan melangkah dan meninggalkan Aletha karena sudah merasa kesal saja.
‘Punya istri kok telmi, tidak... PE.. KA...’
Aletha yang merasa sudah ditinggal jauh oleh Keenan segera menyusul dengan sedikit berlari. Dan yang pasti Aletha merasa kesal pula sama Keenan yang sudah meninggalkannya begitu saja.
“Kayak anak kecil saja main tinggal,” umpat Aletha.
Terlihat Keenan menghentikan langkahnya setelah berada di depan restorant In Hotel La Residence. Sebuah restoran yang jaraknya cukup dekat dengan Jembatan Faidherbe.
Amarah yang sejenak singgah di hati Keenan membuat perutnya merasa lapar, perjalanan empat jam sudah membuat Keenan kembali merasa lapar. Namun, tubuh Keenan selalu terjaga akan kebugarannya, karena sebanyak apapun Keenan makan akan selalu diselingi dengan olahraga secara rutin.
“Aa mau makan lagi?” tanya Aletha.
“Iya, kenapa Neng? Apa... Neng takut gendut?” Keenan berbalik bertanya.
Aletha hanya menggeleng saja, ia pun mengikuti Keenan yang sudah masuk ke dalam restoran tersebut.
Hening...
Tidak ada obrolan sama sekali di antara Keenan dengan Aletha setelah amarah sejenak singgah dalam hati keduanya. Dan niat ingin bermesraan pun telah lenyap.
‘Duh gusti, apa iye pasangan muda selalu seperti ini. Merajuk pula.’ Kesal sendiri yang nulis kan, jadinya.
Setelah makanan yang sudah dipesan telah disajikan di atas meja, suasana tetap saja terasa hening. Tidak ada topik pembicaraan di antara keduanya, semakin membuat Keenan merasa canggung. Namun akhirnya...
“Neng... maafkan Aa jika tadi sudah keterlaluan. Aa... hanya tidak mau kita menyia-nyiakan waktu yang amat singkat ini. Hari Jumat kita harus segera kembali, dan kita juga sudah bekerja di hari sabtunya...”
Aletha menghentikan ucapan Keenan dengan meletakkan jari telunjuk nya di bibir Keenan. Lalu Aletha merengkuh jemari Keenan, menatapnya dengan penuh cinta.
“Tidak apa-apa, Aa. Neng mengerti, tadinya Neng juga marah karena Aa main tinggalin Neng begitu saja. Tapi... secara perlahan Neng mengerti, waktu yang kita jalani saat ini belum tentu bisa terulang kembali.” Aletha tersenyum, membentuk lengkungan bibir yang indah.
Keenan mengusap puncak kepala Aletha, tak lupa pula dengan mengecup keningnya. Dan setelah berdamai keduanya kembali bersikap lembut, romantis dan saling memberi kasih sayang satu sama lain.
Begitulah sebuah pasangan, ketika salah satu di antara kita ada yang marah paling tidak satunya harus bisa membujuknya, terutama seorang lelaki yang sebagai suami. Karena perlu para lelaki tahu, hati wanita itu sangat lembut, sensitif dan begitu mudah peka. Bahkan ketika disakiti sedikit saja bisa membuat luka yang begitu dalam.
“Alhamdulillah,” pekik keduanya setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan tadi.
Jam sudah menunjukkan pukul dia belas malam, Keenan mengajak Aletha untuk menginap di hotel La Maison Rose. Hotel yang tidak jauh dari Jembatan Faidherbe, di sana juga harus melakukan chek-in setelah tengah malam.
Setelah melakukan chek-in Keenan segera menunju ke kamarnya dan membawa dua koper yang berisi pakaiannya dan juga pakaian Aletha. Pembaca pasti kepo kan, kenapa Keenan dan Aletha sampai membawa dua koper sekaligus.
Pakaian keduanya hanya sebagai alibi saja, penutup dari senjata yang Keenan dan Aletha bawa. Karena mereka hanya ingin berjaga saja jika nanti ada sesuatu kejahatan yang akan menghadang liburan mereka.
“Neng mau mandi dulu, Aa. Rasanya gerah banget.” Aletha membawa handuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sedangkan Keenan ia melepas baju kemejanya dan hanya memakai celana kolor saja. Harap maklum ya pembaca namanya juga pasangan suami istri, jadi ya bebas saja mau pakai baju apa. Wkwkwk
Di sisi teras kamar yang dijadikan tempat menginap bagi Keenan dan Aletha, di sana Keenan melakukan gerakan olahraga sederhana saja. Yang biasa dilakukan di rumah seperti lari di tempat, push up, sit up dan beberapa lain lagi.
‘Aa... kenapa menatapnya seperti itu menjadi meleleh hati Neng.’
Aletha menatap Keenan tanpa berkedip sama sekali. Melihat tubuh Keenan bagaikan seorang model yang saat ini sedang nyasar di teras hotel La Maison Rose. Tinggi dan body Keenan sungguh idaman, pantas saja jika menjadi seorang Kapten.
Keenan begitu enak dipandang mata kaum wanita, apalagi bulu-bulu halus di rahangnya semakin mempertegas ketampanannya. Meskipun kulitnya yang begitu khas Indonesia, sawo matang tetapi, akan banyak hati wanita yang meleyot saat menatapnya.
‘Ternyata... Dia sedang memandangi ku dari tadi,’ batin Keenan.
Aletha merasa gugup, meskipun seringkali sudah melihat tubuh Keenan saat di rumah tetapi setiap kali melihatnya Aletha selalu merasa panas dingin. Ada rasa yang berdesir hebat menjalar ke seluruh tubuhnya. Aletha tidak tahu harus dengan cara apa agar desiran itu bisa berhenti.
“Neng,” panggil Keenan.
“Ah iya, Aa. Maaf Neng melamun tadi, Aa ngomong apa?”
‘Fix, aku yakin Dia merasakannya. Ayolah Neng, ajak aku bermain di atas ranjang.’
“Tidak, Aa cuma mau gantian mandinya. Takut keburu malam nanti,” jawab Keenan dengan jawaban alibi.
“Oh iya, ya sudah Aa mandi saja.” Aletha pergi dari depan pintu kamar mandi.
Keenan hanya diam dan sesaat terpaku di depan pintu kamar mandi, ia merasa ada yang dengan Aletha.
‘Apa... Dia tidak merindukan hal itu?’
Keenan mendesah, ia tidak tahu dengan cara apa memancing hasrat Aletha agar mengajaknya untuk saling bermain di atas ranjang dan saling memuaskan. Namun kenyataannya Keenan harus kembali bersabar.
‘Sabar ya Aa, Neng punya kejutan indah untuk Aa Keenan.’
Aletha menyimpan senyumnya dan bersikap biasa saja saat Keenan kembali menoleh ke arahnya untuk memastikan.
Keenan pun masuk ke kamar mandi, membiarkan Aletha melakukan sesuka hatinya. Dan di bawah kucuran air dingin Keenan berusaha untuk menghilangkan desiran hebat yang sempat menjalar ke seluruh tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Apa aku harus menghubungi Keenan lagi? Bagaimana kalau Dia marah karena aku sudah mengganggu waktunya dengan Aletha?” tanya Bian.
Bian kembali merasa gelisah saat bayangan Rania melintas dalam pelupuk matanya. Bahkan rasa ingin memiliki Rania kembali membuncah dadanya, membuat Bian kembali di penuhi dengan rasa bimbang saat hati dan pikirannya sedang bertarung.
Bian hanya bisa mondar-mandir di depan kamarnya, karena selama masa libur Bian tidak ada kegiatan lain. Hanya saja beberapa kali Bian mengikuti acara pengajian yang diadakan di mushola terdekat rumahnya untuk memperdalam ilmu agama Islam. Seperti yang pernah dikatakan oleh Keenan kepadanya. Selebihnya tidak ada kegiatan lain kecuali, Bayu mengajaknya pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ternyata... rencanakogagal total. Kalau begini caranya pasti akan lama mencari tahu tentang Naina melalui Aletha.” Ilham mengusap gusar wajahnya.
Ya begitulah Ilham, nasibnya hampir sama dengan Bian. Cinta yang tumbuh dari dalam dasar hati sudah semakin kuat saja dalam diri Ilham, bahkan tidak dapat dipungkiri jika ia memang merindukan belain sosok wanita setelah kepergian Maya satu tahun lalu.
“Tidak, Ilham. Sabar dulu, pasti ada waktu untuk bicara sama Aletha. Toh, besok lusa Dia akan kembali pulang.” Ikha manggut-manggut, meyakinkan kembali dirinya dan menanti Aletha kembali ke Jakarta.
Untuk menghilangkan rasa gundah di hati Ilham, ia menghampiri ketiga anaknya yang sudah terlelap dalam tidur. Sesekali Ilham melukiskan senyum mengingat Maya selalu memperhatikan anaknya dengan penuh kasih sayang. Namun sosok itu hilang setelah kepergian Maya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan hanya bisa tepok jidat saat mendapati Aketha sudah tertidur dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga batas dada. Namun, rasa sabar yang ditanamkan Keenan membuat dua ujung bibir Keenan melengkung dengan sempurna hingga membentuk senyuman yang indah walaupun, hasratnya tidak bisa terpenuhi.
Kedua mata Keenan masih terjaga, ia tidak bisa tidur setelah mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air dingin.
“Tring... Tring...”
Ponsel Keenan tiba-tiba berdering, terlihat nama Bian tertulis di sana.
“Assalamu'alaikum, ada apa Bian?” tanya Keenan to the point.
“Wa’alaikumsalam, Keenan. Emm... sebenarnya... aku hanya...” Bian menghentikan ucapannya.
“Kenapa lagi? Pasti ini tentang... Rania lagi, bukan?” tebak Keenan.
Dari seberang Bian membenarkan tebakan Keenan, tapi Bian kembali merasa ragu untuk mengungkapkan keluh kesahnyantentang kisah asmara yang masih harus menjalani kesabaran untuk menuju jenjang selanjutnya.
“Memang iya, tapi...”
“Bian, bukankah sudah pernah ku bilang untuk... SA... BAR.”
__ADS_1
“Dengarkan aku, Bian. Ada tiga hal yang harus kamu kejar di dunia. Ilmu, Ridha orang tua dan... Cintanya Allah. Lakukanlah tiga hal itu melalui jalur langit. InsyaAllah akan dipermudahkan dalam urusanmu.”
“Jika kamu ingin menjadikan Rania sebagai istri mu, maka pertama kamu harus memperdalam ilmu agama, cintailah Allah sebelum mencintai hamba-Nya, dan yang terakhir meminta restu dan ridho dari Bu Laila.”
Keenan memberikan saran kepada Bian, setelah itu sambungan telepon pun terputus. Karena Keenan menolak untuk memperpanjang obrolan mereka dengan alasan sida mengantuk.
Keenan merebahkan tubuhnya di samping Aletha, ia pun menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya hingga batas dada. Dan ketika Keenan mulai memejamkan kedua matanya tiba-tiba saja ia mendapatkan kejutan yang luar biasa, bahkan Keenan tidak menduga akan hal itu.
Aletha secara tiba-tiba mengecup pipi Keenan, membuat Keenan seketika kembali membuka kedua matanya.
”Neng... belum tidur dari tadi?” tanya Keenan memastikan.
“Belum.” Aletha menggeleng.
“Kenapa belum tidur, hmm?”
“Percayalah Aa, Neng tidak akan pernah lupa kewajiban Neng sebagai seorang istri. Aa... ingin itu, kan?” tanya Aletha dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Aletha mengerlingkan matanya, memberikan intruksi jika ingin melakukan hal selayaknya suami istri dengan semestinya.
“Apa... Neng serius? Neng... tidak sedang bercanda, kan?”
Keenan benar-benar berharap jika keinginannya malam ini akan terpenuhi.
“Benar, Aa. Neng tidak bohong, kok.” Aletha membuka selimut yang tadi menutupi tubuhnya.
Sontak Keenan merasa terkejut dengan apa yang dipakai Aletha. Pakaian lingerie yang berwarna merah cerah, membuat Keenan begitu menggoda ingin segera menerkam saja.
“Neng... Yakin mau melakukannya malam ini?” tanya Keenan kembali memastikan.
Aletha kembali mengangguk. Rasa saling percaya dan mengerti satu sama lain memang perlu ada dalam sebuah rumahtangga, agar tidak akan pernah ada yang namanya pertengkaran.
Perlahan Keenan mengecup pipi, hingga seluruh wajah Aletha. Setelah itu perlahan turun ke bawah, kecupan pun dilayangkan pada bagian leher Aletha. Membuat Aletha merasakan desiran yang amat hebat, yang menjalar begitu saja dalam darahnya.
“Neng, sudah siap apa belum?”
“Iya, Aa. Tapi... pelan-pelan saja, ya!”
Kedua mata elang Keenan yang tajam seolah siap untuk menerkam mangsanya yang sudah berada di depan pandangannya. Sebelum memulai aksinya Keenan kembali menghujani tubub Aletha dengan kecupan mesra. Malam itu Keenan dan Aletha kembali merajut cinta seperti pada saat malam pertama.
SENSOR... SENSOR... SENSOR...
Keenan dan Aletha merasa lelah setelah beberapa kali melakukan aksi untuk saling memuaskan satu sama lain. Aletha juga beberapa kali meraung saat Keenan melakukan aksi. Namun raungan Aletha membuat Keenan semakin brutal saja. Hingga nafas yang memburu sesekali membuat keduanya merasa lelah.
“Neng, bagaimana?”
“Emm ... sedikit sakit sih, Aa. Sama seperti malam pertama dulu. Apa... ini efek karena pas Neng menjalani operasi caesar waktu itu, ya?”
“Sabar ya, Neng. Percayalah, Aa sebenanya tidak berniat membuat Neng seperti itu. Hanya saja...” Keenan menggantungkan ucapannya.
“Sudahlah Aa, yang penting malam ini honeymoon kita sukses. Tapi... belum waktunya Alina punya adek lagi, loh ya!”
Keenan terkekeh geli mendengarkan peringatan Aletha, yang seolah memberi kode jika hal yang mereka lakukan itu harus segera disudahi. Dan apalah daya seorang Keenan jika Aletha sudah memberikan kode tersebut, toh ia jioga sudah merasa dipuaskan.
Sebelum mulai memejamkan kedua mata mereka, Keenan dan Aletha membaca doa sebelum tidur. Setelah itu, Keenan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Aletha agar tidak merasakan dingin jika saja angin menerpa dan berhembus secara pelan.
‘Dasar Keenan, yang namanya hotel itu pasti ada AC. Kecuali kalau jendela hotelnya dibuka. Iya kali, wkwkwk...’
Keenan mendekap tubuh Aletha, begitu pula dengan Aletha yang menelisik mencari kenyamanan di dalam dada Keenan. Hingga akhirnya, Keenan dan Aletha pun telah tertidur pukul 02.30 malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rania melakukan sholat istikharah untuk mendapatkan jawaban tentang siapa jodohnya kelak. Yang akan terlihat melalui mimpi dalam tidurnya. Di mana akan memberikan sebuah tanda meskipun tidak begitu jelas. Dan Rania mulai melakukan sholat itu setelah Bian menyatakan perasan kepadanya.
“Ya Allah Ya Tuhan ku, aku mohon kepadamu untuk memberikan sebuah petunjuk kepadaku tentang halnya sebuah jodoh. Jika jodoh hamba adalah Kak Bian, maka... betikanlah aku petunjuk jika memang benar Kak Bian adalah jodohku dalam kitab-Mu, Lauhul Mahfudz.” Tania mengaminkan doanya.
Meskipun Rania adalah prajurit sejati, tetapi ia jiga tidak bisa meninggalkan kewajibanjua sebagai seorang muslimah. Menunaikan sholat wajib lima waktu dan beberapa kali menunaikan sholat sepertiga malam untuk mengingat Maha Suci Allah.
Sesudah selesai melakukan sholat istikharah Rania mengambil posisi di atas kasur yang tidak terlalu besar tetapi cukup untuk dipakai Rania yang bertubuh ideal sebagai seorang wanita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam malam yang menghangatkan membuat Keenan maupun Aketha tidak melepaskan pelukan keduanya. Bahkan mereka tidak beringsut sama sekali dan tetap berada di posisi awal. Dan malam itulah keduanya kembali merasa nyaman saat tidur setelah Keenan kembali pulang.
“Alhamdulillah... aku yakin jika itu adalah mimpi yang akan menjadi nyata. Tapi...”
__ADS_1
Bian mendapatkan sebuah mimpi dalam tidurnya. setelah menunaikan sholat istikharah, sesuai saran dari Keenan.
Bersambung...