
...“Menjadi diri sendiri itu mudah, jika kita tidak menuruti gengsi dan mengunggulkan kemewahan milik orang orang lain.”...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan kantuk pun tidak bisa dikendalikan, hingga Aletha ikut tertidur bersama Alina. Dan begitulah kebanyakan ibu yang tengah menyusui, ikut tidur bersama anak dan seakan rasa kantuk tidak bisa dikendalikan. Begitu juga dengan Luna, ikut tidur saat menyusui Atalaric. Sedangkan Laura, ia masih membacakan dongeng tentang Nabi kepada Ravva sebelum tidur siang. Dan setelah Ravva tertidur, Laura pun ikut tidur. Karena Autoimun terkadang membuat Laura mengalami sindrom putri tidur yang bisa tertidur selama 20 jam.
Dering telfon di ponsel Aletha terus berbunyi, membuat Aletha terpaksa membuka mata dan terbangun. Lalu ia membuka slide layar ponselnya untuk memastikan siapa yang menelpon...?
Terlihat nama Ilham di sana, sehingga Aletha segera menerima panggilan itu dan memastikan kenapa Ilham menghubunginya siang itu. Sedangkan tadi pas waktu di rumah sakit sudah bertemu dengannya serta ada Maya juga di sana.
“Assalamu'alaikum, kak. Ada apa?” tanya Aletha dengan suara sedikit serak sehabis tlbangun tidur.
“Wa'alaikumsalam, Al. Sebenarnya aku tidak enak menelpon siang ini. Tapi... aku perlu bantuan mu di rumah sakit. Karena ada pasien darurat yang segera menjalani operasi, dan ... pasien ini adalah pasienmu. Keluarganya dan pasien atas nama Cinta hanya ingin kamu yang mengoperasinya.” Terang Ilham dengan nada yang serius.
Aletha seketika dihadapkan rasa bimbang, ingin menolaknya tetapi di sisi lain itu adalah pasiennya, dan ia harus bisa bertanggungjawab dengan setiap pasiennya termasuk Cinta. Hingga akhirnya Aletha mengiyakan permintaan Ilham.
“Ma... dan semuanya, Aletha mohon. Jaga Alina sebentar saja selama Aletha menjalani operasi, setelah itu Aletha akan segera pulang.” Aletha mengangguk, penuh permohonan.
“Pergilah, lakukan tugasmu jika itu harus. Selamatkan nyawa mereka yang memerlukan bantuan mu, Nak.” Akhirnya Mama Nina mengiyakan, membiarkan Aletha pergi ke rumah sakit untuk memenuhi tanggungjawab nya sebagai seorang dokter.
Aletha langsung mengganti pakaiannya dengan kemeja putih dan juga rok panjang yang berwarna hitam. Sneli sudah siap dipakai oleh Aletha, setelah di rasa siap untuk berangkat Aletha menyalami Mama Nina dan yang lain terlebih dahulu. Dan setelah itu Aletha mengucap basmalah sebelum melajukan mobilnya.
“Semoga Engkau ijinkan Ya Allah, dan atas ijin-Mu aku akan melakukan tugasku. Lancarkanlah! Aamiin.”
Aletha mulai melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalanan siang itu tidak terlalu ramai sehingga membuat Aletha mudah mengendarai mobil sport nya dan tidak ada kemacetan apapun yang akan membuatnya terlambat sampai di rumah sakit. Namun sayang, tiba-tiba saja salah satu ban mobil Aletha kempes.
“Ya Allah, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mobilnya seperti ini?”
Aletha menghentikan mobilnya ke pinggir jalan, lalu ia turun dari mobil untuk mengecek apa yang terjadi dengan mobilnya itu.
“Arghhh, sial! Bagaimana bisa ada paku di ban nya sih? Kan bocor jadinya,” umpat Aletha.
Aletha menyapu di area sekitar jalan, melihat siapa tahu saja ada taxi atau ojek yang melintas di depannya. Namun sayang, tidak ada satupun yang melintas pada jam dua sore di sekitar area Jln. Mangu.
“Sudah jam dua... bagaimana ini?” tanya Aletha dalam hati.
Aletha bingung sendiri harus naik apa untuk sampai di rumah sakit. Sedangkan ia tadi sudah meminta Ilham untuk menyiapkan ruang operasi, bahkan ia pun juga mengatakan akan sampai di rumah sakit tepat pada pukul dua. Namun yang ada Aletha sudah sangat terlambat, waktu terus berjalan. Aletha sudah berdiri hampir setengah jam di jalan itu.
“Sssstttt...”
Seseorang tiba-tiba menghentikan motor sporty 150cc nya tepat di depan Aletha. Warna motor itupun begitu mencolok oleh stiker yang keren, yang biasa dinaiki oleh kebanyakan anak muda saat ini. Bakan pengemudi motor ituasih dibilang anak remaja yang belum genap tujuh belas tahun.
“Ada apa dengan mobilnya, kak?” tanya pemuda itu dengan sikap dewasanya.
“Ini dek, mobil kakak ban nya mengalami bocor. Tapi sepertinya... tidak ada bengkel di sekitar sini.” Aletha mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
“Daerah sini memang tidak ada, kak. Kakak mau kemana, biar saya antar.”
‘Dia masih kecil, tapi kenapa mau antar aku segala? Tapi... tidak ada pilihan lain, aku harus segera sampai di rumah sakit.’
Sebenarnya Aletha merasa ragu mengitaka tawaran pemuda itu, karena Aletha tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, helmnya pun masih menutupi wajah pemuda itu. Namun, Aletha akhirnya mengiyakan tawaran pemuda itu karena tidak ada pilihan lain, dengan laju motor yang normal pemuda itu mengantarkan Aletha ke rumah sakit dengan selamat.
“Maaf Dokter Ilham, saya terlambat. Lalu bagaimana, apa sudah disiapkan ruang operasinya?” tanya Aletha setiba di rumah sakit.
“Tidak apa kok, Dokter Aletha. Kita juga baru mau mempersiapkan ruang operasinya, karena kedua orang tua Cinta ingin operasinya dilakukan jika adik Cinta sudah datang.” Ilham mengangguk.
“Oh ya sudah, kalau begitu saya ke ruangan saya terlebih dahulu untuk mengganti pakaian. Setelah itu saya akan segera menuju ke ruang operasi.” Aletha berjalan menuju ke ruangannya.
Pemuda yang mengantarkan Aletha tidak langsung pergi, justru ia menelusuri lorong rumah sakit untuk mencari ruang operasi.
“Lepaskan helm mu! Saat ini bukan waktu yang tepat untuk kamu melakukan sandiwara mu itu,” ucap lelaki paru baya yang duduk di ruang tunggu.
Pemuda itu menghela nafas panjang, lalu melepaskan helm yang sedari tadi menutupi kepalanya. Dan saat helm itupun terlepas Aletha dapat melihat dengan jelas pemuda remaja yang menolongnya tadi.
“Arga, itu... kamu?” pekik Aletha.
“Deg...”
Jantung Arga tidak bisa dibohongi jika ia merasa terkejut saat Aletha tahu siapa dia yang sebenarnya.
“Kak, Aletha. Jadi... Kak Aletha Dokter yang akan mengoperasi kak Cinta?” tanya Arga dengan binar mata kesedihan.
Aletha tidak mau bertele-tele dalam menyelamatkan nyawa pasiennya yang memang segera membutuhkan pertolongan dengan menjalankan operasi darurat. Sebagai dokter yang profesional Aletha ingin selalu mengutamakan keselamatan pasien daripada hal lainnya.
Aletha dan tim operasinya bersiap untuk melakukan pembedahan pada jantung Cinta. Kembali Aletha menajamkan mata dan memfokuskan pikirannya saat menjalankan operasi besar Cinta, pasien yang pernah dekat dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Haruskah aku menugaskan mereka jauh dari istri-istri mereka?”
Bagas Kara mengalami dilema besar, karena ia harus segera memutuskan hal besar saat negara dalam bahaya. Ada rasa tidak rela jika kedua bawahannya yang sangat disayangi harus ditugaskan jauh dari anak dan istri mereka.
“Tapi ini tugas.” Bagas Kara menghela nafas beratnya.
Setelah berpikir cukup panjang akhirnya Bagas Kara memerintahkan ajudannya untuk memanggil Garda dan juga Keenan dan menemuinya saat itu juga di ruangannya.
“Permisi, Pak! Mohon ijin bertanya, apakah Bapak meminta kita untuk bertemu dengan Bapak?”
“Ijin saya terima. Silahkan kalian duduk!” pinta Bagas Kara.
Keenan dan Garda pun mengambil duduk di hadapan Bagas Kara. Dan keduanya melihat degan jelas bagaiman wajah Bagas Kara yang tengah dilanda kebingungan. Namun, Keenan dan Garda tidak ingin bertanya untuk sekedar kepo.
__ADS_1
”Maafkan Papa. Mungkin ini akan menjadi berat bagi kalian, menantu Papa. Tapi... Papa tidak ada pilihan lain dalam tugas ini.” Bagas Kara menatap Keenan dan Garda dengan tatapan lesu.
“Maksud Papa, apa? Tugas apa?” tanya Keenan.
“Papa mendapatkan perintah untuk mengirim kalian dalam misi rahasia di Papua. Dan itu akan memakan waktu yang cukup lama sekitar... tiga bulan lamanya.” Bahas Kara hanya mengepalkan tangannya dengan erat.
“Deg...”
Dua jantung seakan berhenti berdetak saat itu juga. Rasanya Keenan dan Garda belum siap untuk jauh dari anak dan istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah kurang lebih lima belas menit lamanya akhirnya atas kehendak Allah SWT Aletha mampu menyelamatkan nyawa Cinta kembali. Akan tetapi kondisi Cinta masih membutuhkan pantauan dalam setiap jam oleh Aletha itu sendiri sebagai dokter yang membedah jantungnya.
“Arga, ikut denganku! Aku perlu bicara denganmu.” Aletha menatap Arga yang tertunduk lesu.
Arga pun beranjak dari tempat duduknya itu, lalu mengekori Aletha dari belakang. Sedangkan kedua orang tua Arga menemani Cinta di ruangan VIP yang dipilih mereka selama Cinta menjalani rawat inap pasca operasi.
“Duduklah, kakak perlu bicara dan meminta kejelasan dari kamu tentang semua ini.” Aletha menepuk kursi panjang yang disediakan di taman rumah sakit Siloam Hospitals.
Arga pun menurut, ka pasrah jika Aletha harus tahu siapa dirinya hari itu juga.
“Jelaskan, apa hubungan ku dengan Cinta? Kenapa kamu memanggilnya...” Aletha menggantungkan ucapannya ke udara.
“Aku dan Cinta adalah saudara kandung. Kak Cinta adalah kakak Arga, kak Aletha. Tapi Arga tidak akan memohon-mohon sama kak Aletha untuk tetap menyelamatkan nyawa kak Cinta. Karena semua itu adalah kehendak Allah SWT.” Arga menyunggingkan senyum.
“Jadi sebenarnya... kamu anak orang kaya? Kenapa tidak bilang? Maaf jika... kakak mungkin membuatmu berpikir jika kakak merendahkan harga diri kamu yang memang anak dari kalangan atas. Tapi sungguh, kakak tidak tahu.” Aletha mencoba merengkuh tangan Arga.
“Tak apa kok, Kak. Toh... Arga tidak memakai fasilitas dari Papa. Hanya tadi saja kepepet saat mendapat kabar tentang kak Cinta.”
“Arga hanya ingin menjadi diri sendiri, bebas tanpa kenangan. Dan menjadi diri sendiri itu mudah, jika kita tidak menuruti gengsi dan mengunggulkan kemewahan milik orang lain.”
Sejenak Aletha terdiam, lelaki remaja yang ada di hadapannya saat ini lebih dari dewasa, Aletha tidak pernah menyangka jika itu adalah alasan utama Arga menjadi orang terlihat sederhana, sangat sederhana. Bahkan sekolah saja memilih jalan kaki daripada mengendarai motor sport bermesin 150cc dengan warna yang mencolok. Sedangkan kebanyakan anak remaja saat ini pasti akan menuruti gengsi yang amat tinggi dan akan mengunggulkan kemewahan dari kedua orang tuanya.
“Kisahmu mungkin berbeda dengan kisah kakak dan suami kakak. Sedikit sama tapi sangat tipis persamaan itu, di mana kami tidak sedekat ini setelah pertemuan pertama kakak menyelamatkannya di usia yang sepadan denganmu.”
Aletha menceritakan sedikit awal mula pertemuannya dengan Keenan hingga kini bertemu dalam satu ikatan yang akan mengikat keduanya untuk selamanya.
“Ini coklat, lambang cinta kami saat pertama kali bertemu.” Aletha memberikan sebatang coklat kepada Arga.
“Makanlah! Coklat bisa menenangkan suasana dalam hati kita.” Aletha tersenyum untuk. sekedar menghibur Arga yang tengah bersedih.
Satu gigitan...
Dua gigitan...
__ADS_1
Arga mampu tersenyum kembali, tetapi saat senyum itu memgembang dengan sempurna ada hati yang merasa terhibur...?
Bersambung...