
”Cinta dan kematian itu adalah takdir yang harus kita jalani. Cinta datang dengan sendirinya, begitupula dengan kematian... tanpa kita meminta pasti akan datang, meskipun kita berlari sejauh apapun tetap saja hasilnya sama jika takdir sudah ditentukan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua telah kembali pada aktifitas masing-masing. Dan pada jam makan siang Aletha kembali ke ruangan Keenan untuk menyuapinya.
“Neng, biar Aa makan sendiri saja. Kalau begitu Neng kan tidak akan merasa capek.”
“Aa... memangnya ada apa Neng capek. Terus Neng ngeluh begitu, malahan Neng suka tahu melakukan hal ini. Dan Neng sudah memberi nama rumah sakit ini dengan rumah sakit cinta.”
“Rumah sakit cinta?” Keenan mengerutkan keningnya.
Aletha mengangguk, lalu ia berkata, ”Iya Aa, di rumah sakit ini Neng bisa merasakan cinta dan mendapatkan cinta dari Aa. Terus... dengan kehadiran Atalaric, keluarga kita penuh dengan cinta. Bukan seperti itu?”
Keenan hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Aletha saja. Meskipun ia sebenernya tidak mengerti tingkah absurd istrinya itu. Bagi Keenan melihat tawa Aletha saja sudah menular di bibirnya. Merasakan senang yang tersendiri bagi Keenan.
Dan kebersamaan mereka membuat hati seseorang merasa panas saat netra elangnya menatap tajam ke arah mereka. Siapa lagi kalau bukan Dimas. Meskipun sebentar lagi pernikahannya akan digelar, tetapi tetap saja rasa cintanya terhadap Aletha tak pernah luntur.
‘Ikhlaskan saja Dia, Dimas. Jangan menjadi lelaki bodoh yang terus mencintai dengan hati yang terus terluka. Andai kamu tahu Al, aku tersiksa melihatmu bersamanya.’ batin Dimas.
Dimas pergi, ia merasa tidak tahan dengan apa yang terjadi. Hatinya benar-benar merasa patah berkali-kali saat Aletha menatap Keenan dengan tatapan penuh cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hampir setiap malam Aletha tidur disisi Keenan selama betada di rumah sakit. Begitupula malam itu, Aletha memutuskan untuk bermalam lagi di rumah sakit. Karena Aletha tidak tega jika Keenan sendirian di sana, meskipun nanti akan banyak yang menjaga seperti Garda, Juan atau yang lainnya. Akan tetapi, Aletha yang menjadi istrinya serasa tidak afdol jika ia tidak menemani suaminya.
“Neng, lebih baik Neng tidur di rumah saja. Supaya istirahatnya bisa full, tidak terganggu dengan suara bising atau derap langkah kaki. Jaga kesehatan Neng dan anak kita.”
“Aa...Neng mau nya tidur disini. Kenapa sih, atau... Jangan-jangan Aa tidak mau ya Neng tungguin, karena Aa punya gebetan baru begitu.”
‘Serba salah dah jadinya. Kenapa sifat pencemburu nya harus datang disaat yang tidak tepat.’
Keenan harus membujuk Aletha yang merajuk. Niat hati ingin menjaga kesehatan Aletha dan bayi yang ada di dalam kandungannya, tetapi malah membuat Aletha merajuk tidak karuan dengan sifat cemburunya. Memang ya kalau wanita sedang hamil sensitif banget, mudah perasa. Benar kan, pembaca?
“Neng, bukan maksud Aa begitu. Neng dengerin dulu penjelasan Aa, sini duduk!”
Keenan menepuk kasur brangker agar Aletha duduk di sana. Dan setelah Aletha duduk, Aletha masih merajuk dengan wajah yang dialihkan pandangannya.
“Neng, Neng itu kan dokter harus bisa jaga kesehatan dengan benar. Jika Neng sakit yang rugi kan, Neng sendiri nantinya. Tidak bisa bekerja, tidak bisa makan dengan nikmat, tidak bisa mengobati Aa dan juga akan membuat dede bayi nya merasa sakit.” Keenan mengelus perut Aletha yang sudah mulai membuncit.
Aletha menoleh, ia menatap netra teduh Keenan yang di dalamnya ada cinta untuknya. Sedikit hati Aletha meluruh, ia mau mendengarkan permintaan Keenan. Dan malam itu Aletha pulang ke rumah Bagas Kara bersama dengan Juan.
“Ya sudah ya Aa, neng pamit pulang dulu! Assalamu'alaikum.” Aletha menyalami Keenan.
”Hati-hati ya Neng, jangan lupa sebelum tidur gosok gigi, lalu wudhu dan baca do'a.”
Aletha mengangguk, mengiyakan permintaan Keenan. Dan setelah Aletha keluar dari ruangan itu Juan pun datang.
”Aku pamit dulu brother, hati-hati disini. Aku harap... kamu tidak akan membuat Aletha bersedih.”
”Tidak akan. Aku bisa menjaminnya, karena aku adalah separuh jiwanya. Jika Dia hancur, maka aku akan ikut hancur. Jaga Dia saat perjalanan nanti, jangan sampai ada yang lecet sedikitpun.”
“Siap, Kapten. Semoga berhasil dengan misimu.”
Keenan mengangguk sembari mengulas senyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Al, boleh kakak bertanya?”
__ADS_1
“Hmm...” sungguh jawaban yang ambigu.
“Kenapa kamu bisa cinta sama Keenan? Dia... bos besar yang bisa menghilang kapan saja. Dalam arti menghilang, kematian akan merenggut nya saat bertugas.” Juan tetap fokus menyetir.
Aletha seketika menoleh, ia menatap tajam Juan yang duduk disampingnya. Setelah itu Aletha mengudarakan suara yang mewakili perasaannya terhadap Keenan.
“Itu namanya takdir, kak. Bukankah... kita berdua bisa saja mati saat ini, jika Allah sudah berkehendak.”
“Sungguh mengerikan perkataan mu, Al.” Juan bergidik ngeri.
“Ya habisnya kak Juan ngomongnya begitu. Cinta dan kematian itu adalah takdir yang harus kita jalani. Cinta datang dengan sendirinya, begitupula dengan kematian... tanpa kita meminta pasti akan datang, meskipun kita berlari sejauh apapun tetap saja hasilnya sama jika takdir sudah ditentukan.”
‘Ternyata... ada sisi bijak dalam dirimu, Al. Aku yang hanya sekedar Kakak ipar bisa bangga kepadamu, apalagi Luna... Mama Nina dan juga Papa Bagas Kara.’
Setelah sampai di rumah Aletha segera melepas snelinya lalu mengganti pakaiannya dengan daster, pakaian yang sangat membuat nyaman bagi ibu rumah tangga saat berada di rumah. Namun, daster yang dipakai Aletha bukan daster yang berlengan pendek, melainkan lengan panjang. Karena ia ingin menjadi istri yang mampu menutup aurat meskipun itu di dalam rumah.
“Nak, Bunda tidak sabar menantikan kehadiran kamu dalam kehidupan Bunda. Bunda yakin, kamu adalah anak yang kuat seperti Ayah dan Bunda.” Aletha mengelus perutnya.
Senyum yang merekah tidak pernah luntur dari bibir Aletha, ia merasa begitu bahagia dan tidak luput dari kata alhamdulillah untuk selalu bersyukur karena Allah telah memberikan kebahagiaan itu setelah ia merasa bagaikan dihantam batu besar yang membuat hidupnya terombang-ambing di tengah laut.
Malam kian melarut, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aletha mulai terpejam seusai melakukan rutinitasnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kenapa Kapten meminta kita untuk berkumpul? Mana di rumah sakit pula, bau obat menguar di hidungku.” Bian mendengus kesal.
“Mana aku tahu Bi, kalau aku tahu pasti aku bisa menjawab pertanyaan kamu itu.” Naina nyengir.
“Sudahlah, kita masuk saja ke ruangannya. Awas saja kalau Dia malah molor.”
Bian dan Naina berjalan menuju ke ruangan Keenan, karena Keenan menghubungi pasukan berani mati dan meminta mereka untuk berkumpul di rumah sakit saat Aletha tidak menginap di sana.
“Hei, Garda. Kenapa kamu bawa semua peralatan beginian? Apa kita akan bertugas malam ini? Bukannya kita masih dalam masa libur?”
“Tuh, tanya saja sama Kapten. Dia yang memintaku membawa semua ini.”
Keenan hanya berekspresi sedatar mungkin. Tidak nampak ujung bibirnya tertarik untuk melukiskan senyum. Bahkan tatapannya saja begitu tajam, membuat Bian dan Naina merasa ngeri saat melihatnya.
“Sini aku bisikin sesuatu kepada kalian tentang rencanaku. Aku tidak mau jika di dengar oleh orang lain.”
Bian, Naina dan Garda mendekat kan telinga mereka. Dan Keenan mulai berbisik memberikan intruksi perintah kepada pasukan berani mati yang menjadi tugas mereka malam itu dan wajib dikerjakan. Apalagi jika kapten sudah memerintah, perintahnya pun tidak bisa dibantah oleh siapapun.
“Apa? Jangan gila, Kapten.” Teriak Bian memekik telinga.
Dan tabokan dari Naina seketika melayang ke punggung Bian dengan keras. Membuat Bian mengaduh kesakitan, tapi ia harus bisa menahannya.
“Apa itu wajib... untuk kita lakukan malam ini? Bisa tidak jika kita beli dagingnya di pasar lokal saja? Kan, ada tuh di sana.” Tawar Garda.
”Aku tidak mau dari pasar lokal. Aku maunya yang fresh, masih belum di kupas kulitnya. Jadi, tugas kalian harus berburu di hutan dan menangkap ularnya dengan sempurna. Setelah itu, kalian bawa ke rumah sakit dan kita makan bersama. Dan ini perintah...”
“Dan tidak boleh di... BAN... TAH.” Sahut Bian, Naina dan Garda secara bersamaan.
”Nah tuh pintar semuanya. Kalau begitu cepat laksanakan, keburu subuh nanti.” Keenan mengacungkan jempol.
Ketiga pasukan berani mati keluar dan melaksanakan tugas meraka menuju ke tengah hutan untuk menangkap ular sebagai sasaran berburu malam mereka. Dan meskipun beberapa kali mereka mendengus kesal, mereka tetap harus menjalankan tugas itu. Apalagi jika kapten sudah menyangkut pautkan dengan pushup, maka fisik dan tenaga mereka yang akan lelah seketika.
”Kenapa punya Kapten kok rempong sekali, yang ngidam situ yang repot malah kita.” Umpat Bian.
“Entahlah, mungkin ini yang namanya sayang anak, ngidam di tengah malam dan mintanya daging ular yang... FRESH, belum dikupas kulitnya. Dan nanti bagian kupas kulitnya kamu, Bian. Ha... Ha... Ha...” Naina terkekeh.
__ADS_1
Dan Bian semakin merasa kesal dengan sikap Naina. Tapi, tak apalah buat sahabatnya itu Bian akan melakukan semuanya.
Selamat berburu buat Bian, Naina dan Garda. Dapat salam dari pembaca loh, katanya semangat. Wkwkwk...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nih, sudah tepat jam tiga malam kita memberikan apa yang Kapten minta. Ularnya belum dikupas.” Naina memberikan ular yang berada di dalam kantong kain.
”Bagus. Sekarang giliran aku yang akan mengupas dan mencincang nya. Bagian masaknya... aku serahkan kepada petugas kantin.” Keenan nyengir.
Malam itu Keenan beraksi dengan keahliannya. Memotong ular yang panjang hasil tangkapan Bian, Naina dan Garda di tengah hutan. Yang memiliki panjang sekitar dua meter. Cukup membuat perut Keenna merasa kenyang bahkan ngidamnya bisa puas.
“Pak, ini dagingnya daging apa? Terus dimasak bagaimana?” tanya petugas kantin di rumh sakit.
“Ini daging ular, Mbak. Bisa dimasak sup ular dan ular panggang. Saya ngidam itu.” Terang Keenan.
Mbak yang bekerja di kantin seketika bergidik ngeri, karena baru pertama kali ia memasak daging ular yang baru saja dikupas kulitnya. Ingin rasanya mbak itu menolak permintaan Keenan, tetapi Keenan memasang wajah yang begitu melas. Sehingga membuat mbak itu tidak tega jika anak Keenan akan ileran nantinya. Apalagi mbak itu penggemar berat Aletha yang menjadi dokter ahli bedah jantung. Dokter favorit bagi pasien di sana.
“Harus sekali baunya.” Ungkap Keenan saat hidungnya mencium bau ular panggang.
Dan satu jam kemudian daging ular panggang dan juga sup daging ular siap untuk di santap.
“Kalian mau? Ambil saja kalau mau.”
“Tidak usah, kita akan mengalah saja. Puasin saja tuh makannya, nanti malah suruh berburu lagi.” Bian menahan tawa dalam hati.
Saat satu suap masuk ke dalam mulut Keenan, Bian tersenyum smirk. Dan dalam hatinya berkata, “Kamu tidak tahu Ke, kami sudah puas dan kenyang makan daging ular di hutan.” Dan rasa kantuk begitu mendera ketiganya, hingga tanpa sadar mereka tidur di sembarang tempat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Daging ular, sepertinya enak.” Gumam Aletha setelah bangun tidur.
Seperti ada ikatan saja, setelah Keenan merasa puas sudah makan daging ular yang diolah dua ragam, panggang dan sup, kini malah Aletha yang justru ingin makan daging ular.
”Aunty, semangat benar pagi ini. Apa ada pasien dadakan?” tanya Larisa.
“Emm... iya. Aunty ada pasien dadakan. Tapi...”
Aletha langsung menuju ke kamar mandi dan setia di depan wastafel. Kembali Aletha muntah di pagi hari dan dengan setia Mama Nina memijat tengkuk Aletha untuk meredakan muntahnya.
“Gimana sayang, sudah reda belum?”
“Sepertinya sudah, Ma. Aletha berangkat ke rumah sakit dulu ya!”
“Tidak sarapan dulu, sayang?”
“Tidak, Ma. Percuma nantinya, pasti akan muntah lagi. Agak siangan saja Aletha makan di rumah sakit.”
Mama Nina mengangguk, Aletha menyalami mama Nina dan Bagas Kara sebelum berangkat. Dan pagi itu Aletha kembali berangkat bersama Juan, karena Juan ada sift pagi sampai sore sama seperti Aletha.
Dalam perjalanan tidak ada obrolan yang menemani Aletha dan Juan. Haya saja Juan berkata di dalam hatinya, ” Semoga saja Keenan sudah membereskan semuanya. Ular, kenapa bisa sih ngidam kok daging begituan.” Juan bergidik ngeri saat membayangkan ular yang masih hidup.
“Kenapa dengan kak Juan?”
“Tidak. Hanya saja tadi Kakak melihat ular yang melintas di depan. Untung saja tidak ke injak.” Juan mengeles.
“Mana ularnya kak? Aletha mau dong nangkap ularnya, Aletha... pengen makan daging ular. Pasti enak tuh jika dimasak.” Aletha celingukan mencari ular.
Bersambung...
__ADS_1