
“**Tuhan bantu aku jagakan Dia di saat aku tidak berada di dekatnya dan aku akan menjaga hati nya untuk selalu membuatnya bahagia. Sekaligus menjaga senyum yang merekah itu** **di kala aku masih di hadapannya**.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Awal pagi yang cerah membuat kaum remaja banyak yang ber antusias ingin melihat senja pagi. Banyak pasangan muda dan mudi yang menghabiskan waktu berdua di pantai itu.
Pantai Carita juga bisa dikunjungi jika mencari pantai dekat Jakarta. Pantai ini berada di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Sesampainya di sana, pengunjung akan disambut oleh pasir putih kecokelatan yang lembut dan hamparan laut yang memesona. Bahkan pengunjung juga bisa menginap dan bersantai di pinggiran pantai. Bukan hanya itu saja, sebagai hiburan yang membuat pengunjung puas menikmati suasana pantai pengunjung juga bisa melakukan berbagai aktivitas olahraga air, di antaranya snorkeling, banana boat, surfing dan
ber-jet ski.
“Neng mau bermain yang mana? Banana boat, snorkeling atau... yang lainnya?”
“Emm... Neng mau duduk di sini sajalah, Aa. Kasihan Alina kalau ditinggal nanti.”
Ketika Keenan hendak mengambil duduk di samping Aletha, karena ingin menemani Aletha dan Alina tetapi tiba-tiba saja Bagas Kara memanggilnya. Sehingga Keenan mengurungkan niatnya untuk duduk berdua dengan Aletha.
“Ada apa ya?” tanya Keenan tanpa suara kepada Aletha.
Aletha hanya mengendikan bahunya saja, karena ia memang tidak tahu mengapa Bagas Kara memanggil Keenan. Namun apa boleh buat, Keenan tetap harus ke sana karena ia memang tidak bisa menolak meskipun hatinya menolak. Dan sebagai menantu serta bawahan yang baik Keenan pun berjalan menuju Bagas Kara berdiri saat itu.
“Ada apa Papa memanggil Keenan?”
“Papa rasa kesehatanmu sudah cukup membaik, bagaimana kalau kita main sepak bola di pantai Carita ini. Suasana nya cukup tenang, begitu juga dengan ombaknya. Tidak mungkin jika Papa ingin adu skil bersama menantu Papa dengan olahraga surfing. Jadi... kita main sepak bola saja, bagaimana?”
Keenan, Juan, Garda, Bian dan Bayu mereka hanya saling tatap sebelum memutuskan untuk ikut bermain atau tidak.
“Ayolah, kita bersenang-senang di sini. Ingat, besok kalian sudah harus bertugas dan Papa tidak tahu apakah kalian akan bertugas ke pulau, atau ke luar negeri. Jadi, manfaatkan waktu seperti ini dengan sebaik mungkin.” Bahas Kara kembali mengudarakan suaranya dengan sedikit memberi ancaman kepada pasukan berani mati.
Tanpa berpikir panjang lagi akhirnya mereka menyetujui ajakan Bagas Kara. Dan sebelum memulai olahraga yang sudah mereka rencanakan, Keenan, Garda, Juan dan Bagas Kara menghampiri para wanita mereka yang berteduh di bawah pohon. Karena kaum wanita sibuk mempersiapkan tikar dan beberapa makanan yang akan dijadikan santaapan siang mereka di pantai.
“Kenapa kalian kembali? Terus... tadi kenapa Papa memanggil kalian semua?”
“Papa mengajak kita para lelaki untuk bermain sepak bola pantai. Dan sekarang kita semua harus melepaskan baju sebelum memulai sepak bolanya.” Terang Keenan.
“Hah, maksudnya lepas baju? Berarti kalian dan termasuk juga Papa hanya pakai celana kolor begitu?”
Aletha sedikit terkejut dengan membulatkan kedua matanya. Karena baru kali itu ia menyaksikan Keenan berpakaian fulgar di depan semua orang. Sedikit rasa cemburu menyelimuti hati Aletha, karena ketika Keenan berpakaian fulgar makan akan ada banyak wanita yang memandangi nya. Akan tetapi ia juga tidak bisa meminta Keenan untuk tidak ikut berolahraga.
‘Lihat, percaya diri banget sih Aa. Berpakaian fulgar yang membuat pikiran wanita memiliki otak mesum. Awas saja kalau berani macam-macam.’ Aletha mengumlat di dalam hati.
Kobar api cemburu semakin menjalar setelah Keenan membuka bajunya dan hanya memakai celana kolor saja. Apalagi saat melihat penampilan otot perut Keenan yang benar-benar sixpack, dapat dipastikan akan banyak wanita yang memandangi tubuhnya yang begitu sempurna.
“Ingat, tidak perlu cemburu jika ada banyak mata wanita yang memandangi tubuh Aa yang ... penuh kharisma ini. Karena hanya Neng yang bisa menikmatinya,” bisik Keenan di telinga Aletha.
Seketika Aletha tercengang saat bisikan itu mengudara di telinganya. Seolah Keenan bisa mengerti dan tahu bagaimana jalan pikirannya itu.
“Ish, dasar Aa berotak mesum. Mesumnya di bawa ke sini pula.” Aletha mengalihkan pandangannya dari tatapan Keenan.
Keenan tertawa, karena Aletha tidak bisa membohinginya. Apalagi terlihat jelas wajah Aletha yang memerah seperti udang di rebus ketika rasa cemburu merasuk dalam jiwanya bahkan sampai masuk ke sanubarinya.
“Bukan Aa yang berotak mesum, Neng. Coba lihat, wajah Neng jelas banget loh menyimpan cemburu.” Keenan kembali berbisik, setelah itu Keenan berjalan dan menuju ke lokasi di mana ia akan bermain sepak bola bersama yang lain.
__ADS_1
Bisikan yang diucapkan Keenan sukses membuat Aletha merasa malu. Seketika ia menangkup wajahnya, lalu mencari cermin untuk melihat betul bagaimana wajahnya saat ini.
Keenan semakin terkekeh saja setelah melihat kesibukan Aletha yang mencari cermin. Namun karena hal itu Keenan semakin merasa sayang dan cinta dengan Aletha. Bahkan cinta itu semakin berlipat-lipat, berjuta-juta dan sangat luas seluas samudera.
Setelah membentangkan tikar, menyiapkan beberapa makanan yang sudah dimasak tadi dan juga menyiapkan sebuah gitar, sekarang saatnya para kaum wanita duduk bersantai sambil berdendang. Sehingga kehebohan pun telah terjadi menemani hari mereka dengan bersenang-senang.
“Sekarang giliran aku ya para Aunty yang main gitarnya. Dan aku akan menunjukkan bakat yang sempat terpendam.” Larisa meraih gitar yang berada di tangan Naina.
“Memangnya kamu punya bakat, Larisa? Bunda kok tidak pernah tahu kamu punya gitar dan main gitar pula.”
“Yee... Bunda, bukannya mendukung anaknya malah tidak seolah tidak percaya begitu. Lihat saja, Larisa itu bisa. Karena sempat ada yang ngajarin Larisa bermain gitar.”
Larisa mulai memetik senar gitar dan tidak lama kemudian suaranya ikut mengudara untuk berdendang. Dan semua sukses dibuat Larisa tercengang, karena Larisa mampu membuktikan jika ia bisa bermain gitar.
Setelah Larisa usai bermain gitar tangan Aletha bergerak dan bertepuk tangan untuk menghargai penampilan Larisa yang memang patut diberikan tepuk tangan. Bahkan semuanya pun ikut bertepuk tangan, membuat Larisa semakin percaya diri melambaikan tangan layaknya seorang artis saja.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang, tidak terasa waktu terus berjalan begitu cepat. Dan cahaya matahari yang begitu terik membuat kaum lelaki menyudahi olahraga mereka.
“Wah, semakin seru nih liburan tipis-tipis nya kalau begini.” Bian tidak hentinya menatap makanan yang sudah berderat di atas tikar.
“Yah, pandangannya ke makanan melulu. Coba kalau berani rayu Rania dengan bermain gitar. Tuh lihat, Larisa memegang gitar.” Bayu berbisik sembari menunjuk gitar yang masih di pangkuan Larisa.
“Ok, aku akan menerima tantanganmu itu Bayu. Lihat saja, Rania pasti hatinya akan meleyot melihat penampikanku.” Belum juga apa-apa Bian sudah percaya didi saja.
Semangat berjuang untuk Bian, semoga saja kisah cintanya tidak nyesek. Wkwkwk...
Bian meminta Larisa untuk memberikan gitar itu kepadanya. Membuat semua orang saling bertatap, karena baru kali itu Bian memegang gitar. Dan hal itupun membuat Keenan dan Garda merasa ragu dengan penampilan Bian.
“Siapa yang minta Bian bermain gitar? Dan siap-siap saja paras kita hancur sebagai pasukan berani mati jika sampai penampilan Bian jelek. Apalagi ditampilkan di depan pak Bagas Kara.” Naina menepuk pelan jidadnya.
“Semuanya wajib mendengar suara saya. Karena saya akan menyanyikan sebuah lagu dan lagu ini aka saya tujukan untuk seseorang yang berada di sini.”
Semua orang kembali saling pandang, karena mereka tidak mengerti siapa yang dimaksud Bian. Dan mereka sebagai penonton yang baik hanya diam dengan menatap Bian yang siap menampilkan lagu dan bermain gitarnya itu.
Bian mulai memetik senar gitar yang berada di pangkuannya. Dan tidak lama kemudian suaranya pun ikut mengudara.
[Ku mencintaimu 'tuk sempurnakan ibadahku
Kau anug'rah terindah dari-Nya
Di setiap malamku, di setiap doa-doaku
Kuselip namamu...]
[Senyuman untukku, menjadi pahala untukmu
'Kan kujaga kesucian dalam dirimu
Berdua kita jalin kasih, memohon rida-Nya
Bahagia sampai surga-Nya...]
__ADS_1
Apa yang dipikirkan Naina salah, suara Bian terdengar begitu merdu yang diselingi dengan petikan gitar. Membuat semua orang menatap Bian dan berpikir bahwa lagu yang dinyanyikan Bian memiliki arti sendiri.
Rania terlihat menundukkan wajahnya, melihat keberanian Bian yang sebelumnya sudah mengungkapkan rasa cinta kepadanya membuat Rania kembali berpikir ulang untuk menolak Bian. Akan tetapi cinta tidak semudah itu untuk diputuskan tanpa adanya perasaan terlebih dahulu. Hingga akhirnya...
“Bagaimana Rania, apa kamu mau memberikan jawaban itu sekarang kepadaku?” tanya Bian to the point.
Pertanyaan itu sukses membuat semua orang terkejut. Keberanian Bian memang pantas diacungi jempol, tapi sayang keberanian itu harus berakhir dengan malu.
“Sebelumnya saya sangat berterimakasih karena kak Bian menyanyikan lagu itu untuk saya. Tapi jika kak Bian meminta jawaban saya makan saya akan mengatakan... Kak Bian harus sabar. Saya akan memberikan jawaban itu setelah saya kembali bertugas dari Kalimantan Timur, lagipula waktunya juga tidak lama hanya... satu tahun.”
Kratak...
Seketika Bian hancur, hatinya mengalami patah tulang. Namun ia harus berpura-pura untuk tetap bersikap biasa saja. Malu rasanya jika wajahnya memperlihatkan sedih dan kecewa saat semua orang masih menatapnya.
“Saya akan bersabar menunggu jawaban kamu, Rania.” Dengan perasaan yang hancur Bian mengudarakan suara.
Bian kembali mengambil posisi di belakang, menyembunyikan wajahnya yang merasa kecewa dan sedih itu dari pandangan semua orang. Dan secara kebetulan Bian mengambil duduk di samping Keenan dan Aletha. Membuat Keenan merasa iba dengan kisah cinta sahabatnya itu.
“Tidak usah bersedih seperti itu. Anggap saja Allah masih menguji kesabaran dan kesetiaan mu kepada Rania. Jodoh itu juga tidak mudah dipaksakan dengan siapa kita harus berpasangan. Sabar... setidaknya dengan Rania bertugas di Kalimantan kalian bisa berta'aruf, mengenal satu sama lain sebelum khitbah kamu ajukan, Bian.” Keenan menepuk pundak Bian yang sudah merosot dengan wajah yang layu.
“Tenang saja Bian, InsyaAllah aku akan membantu kamu dekat dengan Rania.” Aletha ikut menyemangati Bian agar tidak bersedih lagi.
Bian mengangguk dengan raut wajah yang sudah berubah. Dan Bagas Kara kembali melakukan aksi yang membuat anggota keluarganya dan juga yang lain kembali merasa senang. Karena tujuan mereka berlibur tak lain adalah bersenang-senang.
“Bagaimana kalau sekarang kita adakan permainan. Dan semuanya wajib mengikuti permainan ini.”
Bagas Kara menunjukkan sebuah wadah dan juga dua plastik yang berisi tepung. Karena permainan yang akan dilangsungkan menggunakan bahan dapur tepung yang dinamakan hujan salju.
Mama Nina yang sebagai istrinya dan anggota keluarga yang lain seketika membulatkan kedua bola mata mereka, mencoba menebak permainan yang akan dilangsungkan.
Bagas Kara membagi dua anggota, Laki-laki akan bergabung dengan laki-laki sedangkan wanita akan bergabung dengan wanita. Dan Bagas Kara mengatur barusan dalam setiap anggota ke belakang. Paling ujung baskom akan di isi tepung dan ujung belakang baskom akan dibiarkan kosong.
“Dan para tetua akan berada di ujung depan, sedangkan yang paling muda akan berada di ujung belakang.” Bagas Kara mulai mengatur barisannya.
Bagas Kara berada di barisan depan, kedua diisi oleh Keenan, ketiga Juan, keempat Garda, kelima Bian, Keenam Bayu dan terakhir Ravva. Sedangkan wanita paling ujung depan diisi oleh Mama Nina, dilanjut Aletha, Luna, Laura, Rania, Naina dan Larisa.
Setelah barisan sudah ditata dalam hitungan ke tiga Bagas Kara dan Mama Nina mulai mengambil tepung dengan kedua tangan mereka lalu diberikan ke anggota mereka yang berada di belakang tanpa menoleh. Dan paling banyak yang mengumpulkan maka akan menjadi pemenangnya.
Permainan itu mengundang tawa dan keseruan, karena ketika tangan anggota yang di belakang tidak bisa menjadi wadah saat anggota di depan memberikan tepung maka mereka harus siap mental terkena tepung itu. Ada yang terkena di bagian baju dan ada juga di bagian rambut. Seperti uban saja, wkwkwk...
Permainan pun telah selesai dan yang menjadi pemenangnya adalah kaum wanita, ahli dalam perdapuran.
“Bwahahahah... Lihat muka kau, Bian.” Bayu menunjuk ke wajah Bian yang sudah terbalut oleh tepung. Bagaikan lulur ya, Bian...
“Jangan ketawa kau, Bayu! Lihat pula itu muka mu, Bayu... penuh tepung. Bwahaha...” Tawa Bian pun ikut lepas.
Karena permainan hujan salju semuanya pun terkena tepung. Sehingga kembali mengundang tawa.
“Tuhan bantu aku jagakan Dia di saat aku tidak berada di dekatnya dan aku akan menjaga hati nya untuk selalu membuatnya bahagia. Sekaligus menjaga senyum yang merekah itu di kala aku masih di hadapannya.” Keenan merasakan bahagia saat netra teduhnya menatap Aletha yang mengudarakan senyum, menandakan kebahagiaan yang tiada tara.
Setelah usai membersihkan tubuh mereka masing-masing acara liburan dilanjut dengan makan siang bersama serambi menikmati ombak yang riuh. Suasana pantai yang menyejukkan membuat meraka semakin menikmati suasana pantai Carita. Dan kebanyakan keluarga yang berkunjung tidak akan merasa merugi, meskipun terkadang masih di penuhi dengan sampah di pesisir pantai.
__ADS_1
Tepat pukul dua belas siang Rania bersiap-siap ke markas yang akan di antar oleh Bagas Kara.
Bersambung...