Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 109 “Welcome Back”


__ADS_3

“Jangan berguru denganku jika kamu tidak ingin sesat di jalan. Karena aku bukanlah manusia yang diciptakan dengan segala kesempurnaan dan kebenaran. Bahkan aku saja tidak bisa menahan nafsu terberat dari manusia yaitu, amarah.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha dan Keenan berusaha mengerti dengan yang dimaksud Luna, mengingat Alina memang terlahir secara prematur. Dan Aletha hanya menurut saja, menunggu dengan sabar untuk beberapa waktu menanti Alina pulang.


Tiga hari sudah berlalu dan selama itu Keenan harus kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang kapten dalam pasukan khusus. Pasukan yang harus ahli dalam strategi perang dengan segala posisi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu Aletha sudah diperbolehkan untuk pulang, semua keluarga besar Bagas Kara terutama para wanita sedang sibuk menyiapkan acara penyambutan datangnya Aletha kembali di kediaman Bagas Kara.


Ruang depan hanya akan ada nasi tumpeng sebagai makanan penyambutan, hanya untuk memberi ucapan serasa syukur karena Allah sudah memberikan keselamatan untuk Aletha. Dan bagian ruang tengah sudah dihiasi dengan beberapa hiasan bunga dan tulisan welcome back yang ditempelkan di dinding. Membuat ruang itu menjadi sedikit mewah, tidak seperti biasanya.


“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.” Larisa menepuk kedua telapak tangannya.


Dalam acara penyambutan Aletha, Larisa lah yang paling semangat di antara yang lain. Bukan berarti yang lain tidak menyukai Aletha kembali, tetapi Larisa hanya merasa bahagia karena Aletha tidak pernah marah sedikitpun kepadanya meskipun Aletha sudah terluka bahkan mengorbankan nyawa untuknya.


“Sa, sekarang kamu mandi sana gih! Bau badanmu menyengat loh.” Laura mencubit hidungnya untuk menutupi.


“Isshh, apa sih aunty Laura tuh. Bau badan Larisa tuh tidak sebau itu, nih bau keteknya saja masih harum.” Larisa memeletkan lidahnya.


Selain dengan Aletha, Larisa juga dekat dengan Laura. Karena Aletha dan Laura selalu menganggap Larisa sahabat, agar Larisa bisa dididik dengan lumrah tanpa adanya kekangan yang bisa saja membuat mental Larisa menjadi terpengaruh. Karena mengingat Luna yang sibuk dengan anak keduanya yang masih berusia belia, yaitu enam bulan. Dan sebentar lagi genap tujuh bulan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Permisi Dokter Aletha, ini ada kiriman bunga untuk Anda. Dan juga ini... Es krim seperti biasa.” Seorang perawat memberikan satu ikat bunga dan sekotak es krim.


“Oh iya, Sus, terimakasih.”


Setelah memberikan hadiah itu kepada Aletha, suster itupun berpamitan untuk melanjutkan tugasnya yang belum usai. Sedangkan Aletha selalu menyunggingkan senyum saat dua hadiah itu masih dalam genggaman.


“Bunga dari siapa ini?”


Aletha membuka memo yang berada di dalam bunga itu. Lalu di bacalah memo yang ditulis sendiri oleh sang pengirim.


“Assalamu'alaikum, kak Aletha cantik. Welcome back dalam kehidupan yang baru, Kak. maaf jika saja Arga tidak bisa memberikan bunga ini secara langsung kepada kakak. Arga harus menjalani lomba renang ulang yang beberapa waktu lalu tertunda karena keponakan kakak yang julid. Doa kan Arga supaya menang ya kak, jika menang insyaAllah Arga akan mentraktir kak Aletha apapun itu. Wassalamu'alaikum, Arga.”


Aletha tidak bisa mengendalikan tawanya, tetapi ia berusaha untuk tertawa dalam hati saja, agar semua orang yang melihatnya tidak akan berpikir gila saat melihatnya. Dan sungguh memo dari Arga yang polos membuat Aletha tersenyum sendiri, masih ada orang yang bersyukur saat keselamatan memihaknya.


“Terimkasih Arga, kamu memang anak yang baik. kakak doakan kamu menang dalam perlombaan yang mengujimu dalam dunia atletis.”


Setelah membuka dan membaca memo dari Arga, Aletha beralih ke sekotak es krim. Di sana juga ada memo kecil yang ditulis dari dalam hati.


“Assalamu'alaikum, Neng...


Semoga Neng suka dengan es krim nya, tapi ingat jangan banyak-banyak makannya. Karena ada Alina yang selalu diprioritaskan. Maah jika Aa tidak bisa menjemput Neng di rumah sakit, karena Aa harus bertugas pelatihan di hutan.


Welcome to back my life, my istriku.”


Kembali Aletha dibuat senyum sendiri dengan tulisan memo dari Keenan. Meskipun merasa sedikit bersedih karena Keenan tidak ikut menjemputnya tetapi Aletha berusaha untuk bersikap biasa. Ia tahu betul bagaimana kewajiban seorang kapten.

__ADS_1


“Al, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Ya aku tahu, pasti dapat surat cinta dari Kapten Keenan, kan?”


Meskipun keluarga sibuk menguris persiapan pesta penyambutan untuk Aletha di rumah, di rumah sakit selalu ada Maya yang setia menemaninya saat Maya merasa jenuh dalam waktu luangnya. Apalagi kini kehamilannya sudah memasuki empat bulan, membuat Maya terkadang merasa lelah tak karuan. Hanya ingin rebahan saja, berbeda dengan kehamilan pertama dan keduanya.


“So pasti kalau itu, kak.” Aletha menyunggingkan senyum yang membuatnya begitu manis, seperti gula.


“Al... Boleh tidak jika kakak mau...”


”Mau apa, kak?” tanya Aletha menyelidik.


seperti biasa, Aletha hapal saat Maya menggantungkan ucapannya. Pasti Maya menginginkan sesuatu hal yang dijadikan alasan sebagai ngidam saat ia hamil seperti itu.


“Boleh tidak jika kakak... Minta dikirimkan es krim juga sama Kapten Keenan terus diberi memo juga.” Maya nyengir.


Seketika tawa Aletha pecah mengingat permintaan Maya yang selalu aneh. Tapi apa boleh buat, Aletha tidak mau jika Maya terus merengek memintanya melakukan hal itu. Sehingga saat itu juga Aletha berusaha untuk menghubungi Keenan. Karena tidak terhubung Aletha hanya mengirimkan pesan singkat kepada Keenan.


“Tunggu saja ya, kak. Sekarang bantuin aku dulu ya beresin tuh baju yang masih teronggok di sana.” Aletha menunjuk baju yang masih berada di sebelah tas besar.


Maya pun membantu Aletha membereskan beberapa pakaian dan juga peralatan Aletha yang lainnya. Selang beberapa menit kemudian Bagas Kara pun datang menjemput Aletha yang ditemani mayor ilham.


”Papa, Mayor!” sapa Aletha.


“Ya sayang, bagaimana sudah siap?”


Aletha mengangguk, lalu ia meminta ijin sebentar melihat Alina dari luar ruangan sebelum meninggalkan rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keluarga besar Bagas Kara sudah bersiap memberikan kejutan kecil atas kepulangan Aletha dari rumah sakit setelah melewati masa kritis hingga kembali sehat.


Ravva yang sudah berusia tiga tahun begitu menggemaskan, ia juga tidak mau kalah dengan Larisa yang menyiapkan hadiah kecil untuk Aletha.


”Memangnya Ravva mau kasih aunty Aletha apa, hmm?” tanya Laura dengan mengusap puncak kepala Ravva.


“Ikut Ravva dulu, Ma. Sebentar saja, bantuin Ravva bungkus kadonya. Nanti Mama juga tahu sendiri, tapi rahasia ya, Ma.” Ravva yang polos menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


Seketika Laura terkekeh melihat tingkah Ravva yang seperti anak dewasa saja. Sudah mengenal arti rahasia, mungkin ini keturunan dari Lettu Garda, ahli strategi yang dipenuhi rahasia.


“Baiklah, Mama akan bantu Ravva. Ayo, sekarang kita bungkus kado Ravva sebelum aunty Aletha pulang.” Laura mendorong kursi rodanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Anak Bunda, Bunda akan selalu merindukan kamu, Nak. Tidak sedetikpun Bunda melupakan kamu, inilah kehidupan baru Bunda yang akan Bunda jalani bersama kamu.” Aletha meletakkan bibirnya di kaca jendela, meninggalkan kecupan di sana.


Dalam perjalanan Aletha tidak banyak bicara, Bagas Kara juga membiarkan diamnya Aletha. Bagas Kara cukup tahu bagaimana perasaan Aletha saat jauh dari buah hatinya, sedih itu sudah pasti. Hanya sesekali Bagas Kara menanyakan makanan apa yang ingin dibeli Aletha selama masih di jalan.


“Aletha tidak mau apa-apa, Pa.” Aletha menggelengkan kepala.


Bagas Kara manggut-manggut, lalu kembali membiarkan Aletha dengan diamnya. Dan setelah beberapa menit melakukan perjalanan akhirnya Bagas Kara, Mayor Ilham dan Aletha sampai juga di rumah yang amat besar. Namanya rumah orang kaya tempat parkir pun jauh, harus masuk sekitar dua meter.


“Kejutaannn...” teriak semua orang setelah pintu utama rumah itu dibuka.

__ADS_1


“Welcome back, Aletha.” Laura dan Luna membawa nasi tumpeng yang siap untuk di potong.


Aletha merasa kejutan itu membuatnya menangis karena terharu, baru kali itu hidupnya merasakan bahagia ketika kejutan itu diberikan untuknya. Bahkan jika hari ulang tahunnya saja Aletha selalu abai.


“Selamat datang kembali sayang di rumah ini! Mama merindukan kamu yang selalu berceloteh.” Mama Nina memeluk Aletha.


“Iya, Ma. Terimakasih, untuk doa Mama dan semuanya.” Aletha melerai pelukan itu.


Aletha berlanjut menatap Laura, Luna, Larisa dan sikecil Ravva. Sedangkan putra kedua Luna masih di tidurkan di ranjang kamar yang ditemani pengasuhnya.


Nasi tumpeng pun dipotong dan siap untuk dimakan. Dengan khidmat mereka semua memakan nasi itu, bahkan Ravva pun sampai nambah dua kali saat Laura menyuapinya.


“Rakus kamu Ravva, makannya banyakk.” Larisa memeletkan lidahnya.


“Biarin dong, kak Larisa. Ravva itu sedang lapar, bukan RA... KUS. Paling yang rakus itu kak Larisa, bukannya waktu Nenek masak tadi kak Larisa yang selalu makan.” Pekik Ravva tak mau kalah dengan Larisa.


Hiks, Larisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ingin rasanya ia menenggelamkan tubuhnya ke bumi untuk menutupi rasa malunya itu. Karena benar apa yang dikatakan Ravva, saat Mama Nina masih sibuk di dapur saat itu pula Larisa yang terus mengunyah nasi kuning yang belum dibentuk kerucut.


‘Dasar nih bocah, memang sulit untuk dibohongin.’


Untuk mengalihkan topik Larisa mendekati Aletha dan memberikan bingkisan kepadanya. Aletha nampak terkejut dan ia tidak menyangka akan mendapatkan bingkisan dari dua keponakannya.


“Terimakasih untuk Ravva dan Larisa, hadiahnya aunty terima.” Aletha mengulas senyum.


Saat kebersamaan masih menemani keluarga Bagas Kara siang itu, tiba-tiba hal lain kembali mengejutkan Aletha.


“Kejutan...” teriak Hakim, Safira, Khaira dan Naura serempak.


Hal yang tidak pernah diduga oleh Aletha jika ke empat anak koas yang belajar dengannya akan datang ke rumah dengan membawa rangkaian bunga yang indah, di sana tertulis Welcome back Dokter cantik.


“Terimakasih untuk kalian! Tapi seharusnya tidak perlu serepot ini loh.” Aletha menyalami mereka satu persatu.


“Tidak repot kok, Kak. Ini malah tidak seberapa dengan apa yang sudah kak Aletha ajarkan kepada kami. Kami bersyukur bisa berguru dengan kak Aletha.”


“Aku dan kalian itu cuma belajar bersama, karena aku pun juga perlu mengulang kembali.”


“Lagipula... Jangan berguru denganku jika kalian tidak ingin sesat di jalan. Karena aku bukanlah manusia yang diciptakan dengan segala kesempurnaan dan kebenaran. Bahkan aku saja tidak bisa menahan nafsu terberat dari manusia yaitu, amarah.”


“Jadi, biasa saja. Aku pun juga sama dengan kalian, masih harus belajar dalam menjaga amarah saat bertemu dengan pasien yang rewel.” Aletha terkekeh.


Hakim, Safira, Khaira dan Naura, mereka pun ikut bergabung makan bersama dengan nasi tumpeng yang dilengkapi dengan urap dan ayam panggang. Masakan yang memiliki khas tersendiri jika seorang ibu yang suda terjun ke dapur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa yang sedang kamu terawang dengan teropong itu, Kapten? Ingat, matanya jangan jelalatan.” Brian menautkan kedua alisnya.


“Apa yang kamu ketahui dltentang hutan ini, Brian? Hapuslah pikiran kotormu itu, jangan sampai nular kesemua orang.” Keenan tetap fokus dengan teropong nya.


“Siapa juga yang memiliki pikiran kotor.” Brian mencebik.


Keenan tetap fokus dan saat meneropong dibelakang Brian, Keenan melihat hal yang mengejutkan. Penampakan yang membuat merinding saja.

__ADS_1


“Awass... Brian...” Keenan mendorong Brian.


Bersambung....


__ADS_2