Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 158 “Tidak Ada Kabar”


__ADS_3

“Perlu Kau tahu doa yang terus kulangitkan untuk kita. Semoga cinta kita bisa abadi di dunia bahkan kita bisa sesurga.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kesibukan membuat Aletha harus bisa menahan rindu tanpa bertukar pesan, bahkan menghubungi Keenan saja tidak bisa dilakukan. Selain bertugas menjadi dokter yang konsisten Aletha juga berperan sebagai seorang ibu yang harus menjaga dan merawat Alina dengan baik.


Aletha berjalan menuju ke ruangan VIP yang sudah dikatakan oleh asistennya tadi, tetapi saat menelusuri lorong rumah sakit Aletha bertabrakan dengan seseorang.


“Bug!”


“Sorry,” ucap orang itu.


Aletha yang tersungkur pun mencari tumpuan untuk berdiri. Setelah itu Aletha mendongakkan kepalanya hingga ia bertatapan dengan wanita yang bertabrakan dengannya.


“Wilona,”


“Hai, Al.” Wilona mengembangkan senyum.


Keduanya kembali berjumpa setelah sekian lama tidak saling bertemu bahkan tegur sapa melalui udara saja tidak pernah. Karena kesibukan keduanya membuat hal itu merasa disamping kan. Namun, hati itu mereka dipertemukan dalam tak kesengajaan.


“Apa kabar kamu, Na?”


“Alhamdulillah, i'am fine. Kamu sendiri bagaimana, Al?”


“Seperti yang kamu lihat. Aku baik dan pastinya... semakin menua.”


“Apaan sih kamu, Al. Kalau kami semakin menua berarti aku sama kayak kamu, cuman bedanya... aku belum menikah.”


Gelak tawa pun menyelingi obrolan mereka, tetapi obrolan itupun tidak berlangsung lama karena Aletha tidak mau dicap sebagai dokter yang tidak profesional.


Aletha kembali melakukan aktivitas nya, sedangkan Wilona harus bertemu dengan Ilham karena ia melamar kerja di rumah sakit Siloam Hospitals.


“Alhamdulillah, kondisi Bapak hari ini sudah membaik. InsyaAllah besok sudah bisa diijinkan pulang jika kondisi Bapak tetap seperti ini.” Sebagai dokter yang ramah Aletha selalu melengkungkan bibirnya dengan lengkungan yang indah.


“Alhamdulillah! Terimakasih, Dokter cantik.” Bapak itupun membalas senyuman Aletha.


Aletha mengangguk, setelah itu berlanjut melakukan visite terhadap pasien lainnya, hanya tinggal dua lagi dan setelah itu jam makan siang berlangsung.


“Dokter cantik, ini Maria bawakan sesuatu untuk Dokter cantik.” Seorang gadis remaja yang berusia tiga belas tahun memberikan bingkisan kepada Aletha.


“Apa ini?”


“Itu... salad buah, saya berikan kepada Dokter sebagai rasa terimakasih karena Dokter cantik sudah membantu Papa saya dan menyelamatkan Papa saya.”


Aletha menerima bingkisan itu dengan ucapan terimakasih. Setelah itu Aletha kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar pasien di bilik sebelah kiri. Dan pasien itu adalah pasien terakhir yang harus dilakukan visite oleh Aletha, pasca operasi jantung.


“Alhamdulillah, selesai juga. Capek sekali badan ini,” pekik Aletha.


Aletha merenggangkan otot-otot nya yang terasa kaki setelah duduk di kursi kerjanya. Sedangkan suster Wati yang menjadi asistennya masih standby menemani Aletha, tetapi bukan untuk melakukan pekerjaan melainkan ada maksud lain.


“Dokter Aletha, bingkisan itu... bagaimana kalau... aku minta satu. Soalnya... aku belum pernah makan salad buah.” Suster Wati nyengir sambil garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


“Oh begitu, silahkan suster Wati ambil saja semua.” Aletha menyodorkan dua mangkuk salad buah yang berada dalam satu paper bag.


“Benaran ini, Dok? Bagaimana dengan Dokter Aletha kalau semua saya bawa?”


“Nanti saya bisa buat sendiri, ambil saja.”

__ADS_1


“Iya, Dok. Terimakasih.” Suster Wati begitu semangat mengambil paper bag itu dari atas meja kerja Aletha.


Dan setelah mendapatkan salad buah itu suster Wati berpamitan kepada Aletha untuk makan siang di kantin rumah sakit.


Dasar ya suster Wati, masa iya salad buah saja belum pernah makan.


“Harap dimaklumi saja ya, soalnya suster Wati ini berasal dari desa pedalaman. Mungkin saja di desa itu belum terlalu banyak yang bisa membuat salad buah.” Begitulah pesan penulis kepada pembaca.


Aletha mendapatkan pesan dari Wilona, di mana Wilona meminta Aletha untuk menemuinya di cafe terdekat. Dan pilihan cafe yang Wilona pilih tak lain adalah Maxx Coffee, karena di sana cafe yang dijadikan tempat mengobrol dengan nyaman. Apalagi Maxx Coffee menghidangkan kopi berkualitas sempurna yang terbuat dari biji kopi segar terbaik dengan teknik pengolahan yang sempurna.


“Mumpung ada waktu senggang tak apalah, sekalian saja mencoba untuk menghubungi Aa.”


Aletha beranjak dari kursinya laku menuju ke cafe Maxx Coffee dengan berjalan kaki, karena jarak tempuh pun tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


Setiba di sana Wilona melambaikan tangan kepada Aletha, begitu juga dengan Aletha yang segera menghampiri Wilona setelah namanya dipanggil dan melihat Wilona yang mengambil duduk di sebelah sisi kiri.


“Hai, sudah lama nunggunya?” tanya Aletha.


“Oh, no. Baru saja aku sampai, lalu kamu datang. Ya sudah, pesan kopi saja dulu yuk!” ajak Wilona.


Aletha mengangguk, mengiyakan ajakan Wilona. Sudah lama juga Aletha tidak minum kopi semenjak beberapa bulan lalu, terlalu sibuk dengan pasien yang becibun.


Obrolan pun dilanjut seraya menyeduh kopi hangat yang sudah dihidangkan oleh pelayan di sana. Wilona juga menceritakan perpindahan nya di Indonesia tepatnya di kota Jakarta.


“Jadi... kita bisa sering bertemu dan bahkan bisa berada di ruang operasi bersama dong?”


“Of course,” jawab Wilona.


“Aku tidak menyangka jika kamu akan pindah ke Indonesia. Tapi... kenapa secara tiba-tiba?”


“Sebenarnya tidak dadakan, Al. Sudah lama aku merencanakan hal ini, tapi baru sekarang aku bisa mengurus semuanya.”


“Iya, Al.” Wilona mengangguk pelan. “Hatiku sudah bersemayam di hati seorang lelaki, jadi... aku akan menanti Dia kembali di kota Jakarta.”


Aletha mengerutkan keningnya, mencoba menerawang siapa lekaki yang sudah membuat hati seorang Wilona meleyot sampai rela pindah ke Jakarta.


“Siapa orang itu, Na? Apa aku mengenalnya?”


Aletha begitu penasaran dengan lelaki itu. Karena sudah lama tak. saling bertukar kabar Aletha tidak tahu menahu tentang lekaki yang dekat dengan sahabatnya dari Amerika.


“Dia... Bayu. Aku tidak tahu kenapa setelah kita saling bertemu tepat di hari pernikahanmu... kita memiliki rasa yang sama, Al. Tapi kita menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pengajuan. Dan sekarang... aku akan menanti Dia kembali di kota Jakarta ini.”


Sontak Aletha terkejut, selama ini Bayu juga tidak pernah mengatakan hal apapun kepada Keenan atau dengan yang lain.


Setelah dua jam berada di cafe kini Aletha memutuskan untuk pulang, bahkan Wilona pun juga ikut. Karena Wilona belum menemukan tempat tinggal selama di Jakarta dan oleh karena itu ia ikut menginap di rumah Aletha untuk sementara waktu.


“Al, apa selama ini Keenan tidak memberikan kabar kepadamu?”


“Aku... tidak tahu, Na. Selama satu minggu penuh aku sibuk karena aku dijadwalkan di ruang operasi. Sehingga waktu untuk memegang handphone sangat terbatas, belum lagi kalau pulang aku harus mengurus si kecil.”


“Memangnya ada apa, Na?”


“Tidak, Al. Hanya saja... Selama tiba di sana dan sampai saat ini Bayu belum memberikan kabar apapun kepadaku.” Terlihat ada gurat kecewa dalam diri Wilona.


Sesaat Aletha menatap Wilona, karena Aletha lagi menyetir sehingga ia harus fokus kembali dengan jalanan kota Jakarta yang semakin sore semakin terjebak macet.


“Sudah, jangan bersedih seperti itu. Tetaplah berprasangka baik, mungkin saja mereka memang sedang sibuk. Coba nanti aku usahakan untuk menghubungi Aa Keenan.” Aletha mengusap lengan Wilona dengan pelan.

__ADS_1


Tepat pukul 15.30 sore Aletha pun sampai di rumah, setiba diri umah ia selalu disambut dengan ceria oleh Alina sang pelita bagi kehidupan Aletha maupun Keenan. Pelita yang patut untuk dijaga kebahagiaan, kesehatan dan juga tawa yang selalu mengembang sempurna.


Aletha meminta Wilona untuk ikut masuk. Dengan segera Aletha menyiapkan kamar tamu untuk Wilona bisa menginap di sana.


“Apa benar ya kalau mereka tidak pernah memberi kabar? Tapi... mengapa Laura tidak bicara apapun kepadaku?” gumam Aletha.


Pikiran Aletha mulai terkecai, ada rasa tidak nyaman di hatinya. Dan seperti biasa, Aletha tidak mau gegabah dalam bertindak apapun. Karena ia tidak mau memiliki negatif thinking setelah mendengar yang diucapkan Wilona, meskipun hatinya merasa tidak nyaman.


“Aku... akan membuka kembali pesan whatsapp. Siapa tahu saja ada pesan Aa Keenan yang tenggelam karena aku kurang fokus.”


Aletha membuka whatsapp dan meneliti kembali pesan yang sempat dibaca meskipun hanya sekilas saja. Dan setelah meneliti kembali pesan whatsapp di ponselnya ia tidak menemukan satu pesan pun dari Keenan.


Aletha mencoba menghubungi Keenan, tetapi tidak terhubung. Aletha baru tahu jika ada pesan dari Laura yang sudah menumpuk sampai dua puluh lebih di tanggal yang sama, tepatnya di tanggal keberangkatan pasukan berani mati dan yang kedua di hari itu.


‘Sudah berkali-kali aku mencoba menghubungi Aa, tapi kenapa tidak tersambung juga?’ Aletha bertanya-tanya dalam hati.


“Halo, assalamu'alaikum, Ra.” Aletha berusaha untuk bersikap tenang.


“Iya, Al. Walaikumsalam.”


“Maafkan aku, Ra! Karena aku baru baca pesan kamu, satu minggu ini aku sibuk. Banyak pasien yang harus menjalani operasi.” Aletha memberikan penjelasan kepada Laura agar tidak salah paham.


“Iya, Al. Tidak masalah kok. Hanya saja... perasaanku tidak enak saja, karena tidak ada kabar sama sekali dari kak Garda ataupun kak Keenan.”


“Ra, kamu yang tenang ya! Coba kamu tanyakan ke Papa, siapa tahu saja Papa tahu alasan kenapa mereka tidak memberi kabar. Sekarang aku tutup dulu, aku harus mengurus Alina dulu,”


“Iya, Al.” Dari kejauhan Laura mengangguk.


Setelah saling mengucap salam keduanya menutup panggilan telepon. Dan berlanjut untuk mengurus Alina yang sudah waktunya untuk mandi sore.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aku takut untuk bertanya kepada Papa, melihat tatapannya saja aku takut.”


Di atas kursi rodanya Laura melihat Bagas Kara dari kejauhan. Merasa enggan untuk melakukan apa yang dikatakan Aletha, karena bertanya kepada Bagas Kara tidaklah mudah. Harus membutuhkan strategi bibir melumes agar Bagas Kara tidak curiga.


Namun hal itu sulit Laura lakukan, karena selain tifak mampu menatap Bagas Kara, Laura takut jika Bagas Kara akan berpikir jika Laura tidak lah sabaran kalau menanti suaminya yang sedang bertugas. Sehingga Laura mengurungkan niatnya itu.


[Maaf, Al, aku tidak bisa bertanya sama Papa. Aku... ragu.]


Laura mengirim pesan kepada Aletha. Dan pesan pun dibaca oleh Aletha, karena malam itu Aletha tidak bekerja di rumah sakit ia bisa fokus dengan ponselnya. Akan tetapi Aletha tidak membalas pesan Laura, bukan bermaksud untuk mengabaikan hanya saja Aletha berusaha untuk menghubungi pasukan betani mati satu persatu.


‘Mengapa tidak terhubung, sih?’ umpat Aletha dalam hati.


“Aa... sebenarnya apa yang sedang terjadi antara kalian semua? Kenapa tidak ada yang memberikan kabar sama sekali kepada kami di sini. Harusnya kalian tahu jika kami memiliki hati yang pada dasarnya tidak bisa jauh dari kalian.”


Aletha menghela nafas panjang, untuk menangkan hati ia mengambil wudhu. Karena malam itu sudah memasuki waktu maghrib.


“Ya Allah, jika memang suamiku dan yang lainnya masih dalam misi rahasia, semoga saja Engkau selalu memberikan perlindungan kepada mereka semua.”


“Perlu Aa tahu doa yang terus Neng langitkan untuk kita. Semoga cinta kita bisa abadi di dunia bahkan kita bisa sesurga.”


Air mata Aletha luruh begitu saja, kerinduan kembali mencuak dihati bahkan membuat sesak didalam dada. Hanya bisa Aletha curahkan kepada Sang Pencipta, karena hanya Kepada-Nya lah seorang hamba mengadu dan hanya Allah SWT yang bisa memberikan segalanya kepada hamba yang membutuhkan pertolongan.


Aletha segera menyeka air matanya, dan ia tidak mau jika bersedih dan selalu berpikir negatif saat jarak memisahkan nya dengan Keenan.


“Meskipun tidak ada kabar dari Aa, doa Neng tidak akan pernah luntur untuk Aa.”

__ADS_1


Aletha menuju ke ruang makan, karena Bu Laila sudah menyiapkan beberapa hasil masakannya di meja makan. Aletha akan bersikap biasa saja agar Wilona tidak tahu jika ia tengah bersedih.


Bersambung...


__ADS_2