Lentera Cinta

Lentera Cinta
36. Makan Malam


__ADS_3

Ayunda tidak tahu harus menjawab apa dengan pernyataan cinta Nathan, untung saja Dariel mengetuk pintu sehingga Nathan kembali ke kursi kebesarannya dan Ayunda keluar lalu kembali kemeja kerjanya.


Nathan ada pertemuam diluar kantor, dia pergi bersama Dariel membuat Ayunda bisa bernafas lega, setidaknya dia masih bisa berpikir apa yang harus dia lakukan.


Tidak ada lagi yang berani membicarakan Ayunda, semua kembali bersikap normal padanya saat dia akan pulang. Keheboan tadi pagi sudah di redam oleh Dariel. "Benar apa yang di katakan Lisa" gumam Ayunda yang melenggangkan kakinya keparkiran, dia pulang lebih cepat hari ini untuk menghadiri undangan makan malam keluarga Adhipramana, dia menyelesaikan pekerjaanya dan menyiapkan semua kebutuhan Nathan untuk besok.


Undangan makan malam orang tua Nathan tidak bisa di tolaknya, bukan karena Nathan tapi Pak Robert dan Ibu Siska sangat baik padanya, merekalah yang membiayai pengobatan rumah sakit Ayunda yang sebelumnya dibiayai Kevin.


Ayunda disambut oleh Ibu Siska saat dia turun dari mobil, Ibu Siska mengirimkan seorang sopir untuk menjemput Ayunda, alasannya takut Ayunda tidak akan datang kalau tidak dijemput.


"Ayo masuk" Ajak Ibu Siska setelah Ayunda mencium tangan wanita paru bayah yang masih sangat cantik diusianya saat ini.


Ayunda mengikuti langkah Ibu Siska yang mengajaknya masuk kedalam kediaman mereka, dia berharap Nathan tidak ikut makan malam bersama mereka malam ini.


Ibu Siska tidak membawa Ayunda langsung kemeja makan tapi dia mengajak Ayunda duduk diteras belakang. "Kita tunggu semuanya kumpul ya" pinta bu Siska sambil mempersilakan Ayunda duduk.


Hanya obrolan ringan yang mereka bicarakan, selebihnya membahas kesehatan dan pekerjaan Ayunda sebagai sekertaris Nathan.


"Ibu senang kamu yang jadi sekertaris Nathan, baru delapan bulan dia memimpin perusahaan sudah enam kali dia ganti sekertaris" Ibu Siska menertawakan kelakuan Nathan.


"Ayunda yang ke tujuh, semoga betahya, banyak-banyak bersabar menghadapi Nathan"


"Ibu tidak tahu mengapa dia berubah seperti itu, dulu dia mudah berteman dengan siapa saja walaupun mereka wanita, tidak pilih-pilih tapi tetap hati-hati"


"Sejak lima tahun yang lalu tiba-tiba saja dia tidak suka bila ada wanita yang ingin berteman denganya atau mendekatinya, terlebih lagi kalau sengaja menggodanya" jelas Ibu Siska apa yang terjadi dengan Nathan.


Ayunda hanya diam dan menyimak ucapan Ibu Siska, dalam hatinya berpikir apa Nathan berubah setelah kejadian itu? Dan itu berarti Nathan tidak berbohong kalau selama ini dia menunggu Ayunda.


"Ibu harap kamu bisa memakluminya kalau dia menunjukkan sikap yang dingin" Ayunda hanya menggangguk menyetujui ucapan Ibu Siska.


Terdengar langkah sepatu mendekat, dari suaranya itu seorang wanita. "Tante Sis" sapa wanita itu mendekat.

__ADS_1


Ayunda memalingkan wajahnya untuk melihat siapa yang datang, begitu terkejutnya saat dia tahu yang datang adalah gadis tadi pagi yang tanpa sopan masuk keruang Nathan melewati Ayunda begitu saja.


"Hai... Luna kamu sudah pulang. Kenalkan ini Ayunda" Ibu Siska menyambut Luna yang mencium pipinya.


"Ayunda... ini Luna, keponakan ibu" Ayunda mengulurkan tangannya untuk bersalaman tapi diacuhkan oleh Luna.


"Saya sudah tahu, kamu sekertaris abang kan. Tadi pagi kami sudah bertemu tan" membiarkan tangan Ayunda yang terulur sambil kembali masuk kedalam rumah.


"Jadi kamu sudah menemui abangmu?" teriak Ibu Siska yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan keponakannya.


"Maafkan Luna, dia seperti itu kalau belum kenal" Ucap Ibu Siska.


Belum sempat Ayunda menjawab ucapan Ibu Siska seeorang menyapa mereka, suara yang sangat dikenal Ayunda.


"Tante Siska" sapa pria itu lalu berpaling pada Ayunda.


"Nda apa kabar?" dia mengulurkan tangannya pada Ayunda.


"Kita tinggal menunggu Nathan dan Dariel" ucap Ibu Siska lalu meninggalkan keduanya untuk memanggil Pak Robert yang masih berada diruang kerjanya.


Ayunda menggangguk dengan terpaksa walau sesungguhnya dalam hati dia ingin pergi dari tempat itu. Kalau dulu mungkin dia akan sangat senang bisa berdua Kevin, tapi kali ini benar-benar membuatnya ingin pergi jauh.


"Maaf" akhirnya Kevin bisa mengucapkan kata yang di pendamnya selama ini.


Bisa kembali duduk berdua dengan Ayunda membuatnya merasa seperti kembali kemasa lalu, hati dan jantungnya masih bergetar merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu.


"Maaf untuk semua hal yang menyakitimu Nda"


"Sayang" suara Nathan terdengar jelas disisi Ayunda yang langsung mengecup pucuk kepalanya. Entah kapan Nathan berada diantara Ayunda dan Kevin, kehadirannya selalu saja tiba-tiba, tidak terdengar langkahnya yang mendekat.


Ibu Siska mengajak mereka semua duduk di meja makan, hanya obrolan ringan selebihnya mereka makan dalam diam.

__ADS_1


Ibu Siska memperhatikan putranya yang duduk disebelah Ayunda. Dia melihat ada perubahan sikap dari Nathan, dia tidak perotes saat Ayunda yang duduk disampingnya tidak seperti pada ke enam sekertaris sebelumnya yang juga pernah diundang makan malam.


Sementara Nathan terus memperhatikan Kevin yang mencuri pandang menatap Ayunda, sementara Ayunda hanya menunduk menghadap makananya. Dia akan mengangkat wajahnya hanya saat Ibu siska atau Pak Robert mengajaknya bicara.


"Kamu harus mencoba ini" Nathan mengambilkan potongan daging yang ada dihadapannya lalu memberikan pada Ayunda, itu daging yang khusus dibuat hanya untuk Nathan.


Senyum senang terpancar dari wajah Ibu Siska, apa yang diceritakan suaminya tentang Nathan yang menyukai Ayunda adalah benar. Dia melihat sendiri bagaimana perhatian yang Nathan berikan pada Ayunda. Sedangkan Luna menatap sinis.


Sementara Kevin menyesali malam ini menerima undangan tantenya untuk ikut makan malam bersama, tadinya dia berpikir sangat menyenangkan bisa makan malam bersama Ayunda dan melupakan fakta kalau Nathan tidak takut menunjukan kemesraannya.


Ayunda sangat ingin makan malam ini selesai, dia dalam posisi yang tertekan. Disampingnya ada Nathan yang bersikap sesukanya pada Ayunda dan di hadapannya ada Kevin yang Ayunda yakini berkali-kali menatapnya walau dia tidak melihat.


Saat Luna pamit terlebih dahulu dan kembali kekamarnya, Ayunda juga ingin pamit dan segera pulang, tapi Nathan menahan tangannya untuk tetap duduk.


"Apa yang diinginkan Luna sampai dia menemuimu langsung kekantor?" tanya Ibu Siska pada Nathan.


"Dia tidak ingin kembali ke Singapore" jawab Nathan singkat sambil memberikan potongan puding khusus untuknya pada Ayunda.


"Makan ini" perintahnya pada Ayunda yang merasa Nathan seperti memaksanya. Dengan terpaksa dan ingin menghormati Ibu Siska dan Pak Robert Ayunda memasukkan puding kedalam mulutnya.


"Besok saat Ayunda makan malam bersama lagi mami akan membuatkan masakan yang sama denganmu untuknya" sela Ibu Siska melihat apa yang dilakukan Nathan.


"Tidak usah bu" Ayunda yang menjawab.


"Tidak perlu ma, kami bisa berbagi seperti sekarang. Iya kan Ra?" Ayunda hanya bisa mengangguki ucapan Nathan. Bukan ini maksud ucapan Ayunda, dia hanya tidak ingin merepotkan Ibu Siska.


"Kamu ingin pulang sekarang Ra?" tawar Nathan yang langsung disetujui Ayunda yang sejak tadi memang sudah ingin pulang.


"Aku akan mengantar Ayunda pulang ma, pa" pamit Nathan pada kedua orang tuanya.


Ayunda sebenarnya lebih nyaman bila sopir yang mengantarnya pulang, tapi dia tahu Nathan tidak bisa ditentang, mau tidak mau dia harus mengikuti keinginan bosnya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya dia hanya bisa pasrah.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2