
"Arra.. Arra.. Hei? Apa kau tidak apa apa? Kau tadi jatuh, apa ada yang terluka? Tidak apa apa jika terluka, aku akan mengobati mu"
"Hahh.. Hah.. Eng.. Ternyata cuma mimpi.. Lagi lagi mimpi yang tidak jelas.. Mimpi apa itu tadi?.." Arra memegang kepalanya dan mencoba mengingat ingat dengan jelas kejadian dalam mimpinya tadi. Namun ia masih tidak dapat mencerna mimpi yang ia alami baru saja. Arra hanya ingat bahwa ia terjatuh lalu ada seorang anak laki laki yang membantunya dan mengobati nya. Tapi ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah anak tersebut.
"Lagi lagi mimpi itu terjadi.. Ayolah otak.. Mengapa hanya kejadian masa kecil yang tidak dapat ku ingat!! Apakah itu terlalu menyedihkan jika aku mengingatnya.." Arra menggerutu karena tidak dapat mengingat masa kecilnya, namun selalu muncul dalam mimpinya.
* * * * * * * *
Mentari mulai menampakkan diri. Sinarnya sedikit demi sedikit masuk kedalam kamar Arra dan membangunkannya. Suara kucing kecil yang ada disamping Arra juga membuatnya semangat untuk beraktivitas kembali.
"Good Morning Caca, pagi yang indah untuk memulai hari. Ayo kita bersih bersih dulu!" ucap Arra dengan semangat kepada Caca, kucing kecilnya. Nama Caca diambil dari kata Cat, ia hanya mengambil kata depannya saja.
"Meoww.." Caca kembali tidur dan tidak menghiraukan Arra.
"Caca? Kamu tidak mau bangun kah? Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan makanan mu selama aku pergi ke sekolah" ujar Arra.
Selesai bersih bersih dan menyiapkan makanan untuk Caca, Arra pun turun kebawah untuk sarapan lalu berangkat.
"Arra, mama dengar kamu membawa seekor kucing ke rumah? Benarkah itu?" Arra sedikit takut untuk menjawab pertanyaan mama. Ia takut jika mama marah karena dirinya membawa hewan ke rumah.
"Mm.. I iya ma" gugup Arra.
"Tidak apa, mama tidak akan melarang kamu membawa hewan kesini. Tapi, kamu harus bisa merawatnya sendiri. Jangan sampai kucing itu membuat kerusuhan dirumah!"
"Ya baiklah ma" jawab Arra dengan lega. Ia mengira kalau mama akan marah dan tidak membiarkan kucing tersebut tinggal disini.
Seperti biasa, Arra dan Aria berangkat bersama. Dari kemarin, Aria tidak pernah mengajak Arra berbicara. Arra sedikit takut jika Aria marah padanya, namun ia tidak tahu kesalahan apa yang membuat Aria tidak berbicara padanya.
"Aria? Apa kamu marah padaku? Kenapa tidak pernah mengajak ku berbicara akhir akhir ini?" tanya Arra.
"Tidak, aku memang seperti ini" singkat Aria.
"Benarkah? Kamu sungguh tidak marah padaku? Aku khawatir kamu marah padaku"
"Marah? Kenapa?"
"Aku tidak tahu tapi jika kamu diam terus tanpa bicara kepadaku, aku merasa kamu marah padaku Aria.."
"Tidak, jangan berfikir aneh Ra"
"Ya.. Baiklah kalau begitu"
Sesampainya di sekolah, Arra langsung turun dan melambai pergi kepada Aria. Dan seperti biasa nya Reiva menunggu Arra di depan pintu gerbang sekolah. Reiva menunggu sambil memainkan ponsel nya.
"Pagi Rei, maaf aku membuatmu menunggu terlalu lama" sapa Arra.
"Pagi juga Ra, kebetulan aku juga sampai tak lama darimu" balas Reiva.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita masuk"
"Ra, cobalah mainkan game ini! Aku sudah memainkan nya sejak lama, pasti kau akan tertarik" ucap Reiva sambil memperlihatkan nya kepada Arra.
"Ingin sekali mencobanya, tapi mama tidak mengizinkan ku bermain game. Bahkan satu game pun aku belum pernah mencobanya"
"Eh? Benarkah? Wah pantas saja prestasi mu selalu bagus, ternyata kau tidak pernah menyentuh game ya.." kagum Reiva.
"Mm.. Tidak begitu. Dari kecil aku sudah di latih mengasah otak oleh orang tuaku. Yah bisa dibilang sahabat dari aku kecil adalah buku" jelas Arra.
"Hah? Sungguh kah? Hebat sekali.. Tapi bukankah itu terlalu memaksa dirimu?.."
"Awalnya sih aku masih sulit mencerna semuanya. Namun karena terbiasa seperti itu, aku hanya menganggap nya sederhana. Sudahlah jangan membahas mengenai itu, ayo percepat langkah kita"
Selang beberapa waktu, bel masuk pun berbunyi. Semua siswa berbondong bondong masuk kedalam kelas. Ben selaku ketua kelas, memerintahkan semua anggota kelas nya diam dikelas dan menunggu guru masuk. 5 menit hingga 10 menit berlalu, namun belum ada satu guru pun yang masuk.
"Ben, guru nya belum juga datang. Sebaiknya kita ke kantor dan menanyakannya" ucap Arra.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke sana" Ben dan Arra beranjak pergi dari kelas namun Seila mencegahnya.
"Hei hei tunggu sebentar! Kalian mau ke kantor bukan? Kalau begitu aku ikut!" ucap Seila yang berdiri menghalangi jalan Arra dan Ben.
"Maaf Seila, kita semua diperintahkan hanya boleh ke kantor 2 orang saja kecuali urusan penting!" tegas Arra.
"Benar, lagipula aku dan Arra adalah ketua dan wakil, jadi kami lah yang akan mengurus nya" sahut Ben.
"Kami tidak bertindak semena mena! Kami hanya menjalankan tugas!" tegas Arra.
"Berhentilah mengganggu, Seila! Apa mau mu?" tegas Ben.
"Aku hanya ingin ikut ke kantor! Apa salah nya?" balas Seila dengan kesal.
"Baiklah, kau saja yang pergi dengan Arra! Aku akan disini" Ben memutuskan untuk tetap dikelas sementara Arra dan Seila yang pergi ke kantor.
"Tapi Ben.." ucapan Arra dicegah oleh Ben.
"Sudahlah Arra, biarkan Seila yang menggantikan ku ke kantor"
"Baiklah.." Arra dan Seila pun beranjak pergi dari kelas. Arra sedikit curiga dengan kelakuan Seila barusan. Tingkahnya yang aneh tentu saja membuat orang curiga.
Sampai lah mereka di depan kantor guru, Arra pun masuk dan diikuti oleh Seila. Melihat pak Gerry yang sedang duduk ditempatnya, Arra pun mendekat dan bertanya.
"Permisi pak, apakah guru sejarah tidak datang hari ini?" tanya Arra.
"Oh Arra. Ya, guru sejarah sedang izin hari ini tapi ia tidak meninggalkan tugas satu pun" balas pak Gerry.
"Ternyata begitu, baiklah pak terimakasih informasi nya. Kami pamit dulu" Arra hendak meninggalkan kantor namun pak Gerry masih bertanya.
__ADS_1
"Seila? Kenapa kau disini? Bukankah seharusnya Ben yang kesini bersama Arra?"
"Begini pak, tadi Arra dan Ben sebenarnya yang kesini. Namun ketika Arra melihatku, ia malah mengajak ku dan menyuruh Ben tetap dikelas" Seila malah memutar balikan fakta.
"Apa? Bukankah dia sendiri yang meminta untuk ikut ke kantor? Mengapa berkata sebaliknya? Seolah olah akulah yang salah.." gumam Arra dalam hati.
"Jadi begitu, Arra sebaiknya urusan kelas Ben dan kau saja yang menanganinya. Sebagai ketua dan wakil, kalian harus mengerjakan dengan benar!" tegas pak Gerry.
"Haha! Sedikit demi sedikit nama mu akan tercemar buruk didepan semua orang! Arra, tunggu dan lihatlah kejadian berikutnya!" gumam Seila.
"Baik pak" Arra menunduk maaf kepada pak Gerry lalu beranjak pergi keluar kantor.
"Seila! Apa maksud mu tadi!" Arra benar benar kesal dengan tingkah Seila.
"Heh apa kau marah Arra? Aku hanya memberi permulaan yang baik kepada mu" jawab Seila dengan angkuh.
"Apa masalah mu?! Perlukah berbuat jahat jika berbuat baik itu ada?"
"Diam!! Aku tidak ingin mendengar omong kosong mu lagi" emosi Seila semakin meledak dan tangannya benar benar ingin mendorong Arra hingga terjatuh. Tanpa sadar, Seila benar benar mendorong Arra. Namun ia tersadar dan menarik kembali tangan Arra.
"Eh? Ada apa dengannya? Bukankah dia ingin mendorong ku? Kenapa menarik aku kembali?" benak Arra.
"Heh.." Seila menyeringai dan memegang tangan Arra lalu menjatuhkan dirinya dari atas tangga.
"Aduh... Sakit sekali.. Arra kenapa kau tega melakukan ini.. "
"Kau menjatuhkan dirimu sendiri dari tangga, bagaimana bisa kau menyalahkan ku!" Arra benar benar kesal dengan drama yang dibuat Seila.
"Apa yang terjadi?" terdengar suara Zhen dari samping Arra dan Seila.
"Kak Zhen.. Hiks hiks.. Tolong aku kak.. Arra.. Arra mendorong ku dari atas tangga dan membuat kaki ku berdarah.." ucap Seila dengan akting nya.
"Kak Zhen aku.." belum selesai Arra menjelaskan Zhen memotongnya.
"Arra.. Kau adalah siswi berprestasi.."
"Aku tahu, tapi kak.."
"Haha.. Arra, lihatlah! Kak Zhen pasti akan membencimu kali ini!" benak Seila.
"Jadi, siswa yang berprestasi mana mungkin melakukan tindakan seperti ini!" tegas Zhen.
"Eh? Apa?? Kak Zhen apa kau gila? Jelas jelas Arra sudah mendorong ku hingga terluka! Kenapa kau malah berkata seperti ini!" balas Seila dengan kesal.
"Seila! Kau tidak perlu berpura pura lagi! Aku sudah melihat semuanya! Kau lah yang mendorong dirimu sendiri dari tangga! Lalu kau menyalahkan Arra seolah olah Arra lah yang mendorongmu!"
"Kak Zhen... " Seila benar benar kecewa lalu pergi dari Arra dan Zhen. Ia mengira rencananya akan berjalan mulus, namun siapa yang tahu kalau Zhen malah membela Arra.
__ADS_1
"Arra!! Aku akan membuatmu dibenci oleh semua orang!! Aku akan membuat reputasi mu hancur!! Aku akan membuat mu merasakan arti kehancuran!!" gumam Seila.