Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 134 “Pelitaku Telah Kembali”


__ADS_3

“Orang yang berjanji tidak berdosa, akan tetapi orang yang mengingkari janji akan dikenakan dosa besar.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dor... Dor...


Dor... Dor...


Dor... Dor...


Adu baku tembak masih saja terjadi, yang membuat kebanyakan orang kehilangan nyawa mereka dan mati ditempat. Namun yang namanya menegakkan keadilan demi melindungi bumi pertiwi itu sudah menjadi tugas prajurit sejati, sehingga para pasukan loreng siap untuk bertaruh nyawa.


“Kapten, awas!” pekik Bayu.


Dor... Dor... Dor...


Nyaris peluru itu mengenai Keenan, untung saja Keenan bisa langsung menghindar saat suara Bayu mampu didengar olehnya. Dengan cepat Keenan membalas tembakan itu dan tepat di kaki salah satu anggota KKB terkena tembakan itu.


“Jangan bunuh Dia, cukup pinta anggota polri memborgol tangannya saja. Karena kita harus memiliki salah satu anggota dari mereka untuk dimintai keterangan.”


Anggota polri pun sudah siap untuk membawa beberapa anggota KKB yang masih hidup maupun yang sudah mati ke kantor polisi. Sedangkan Keenan dan pasukan berani mati lainnya masih harus melakukan penyerangan karena baku tembak tak kunjung usai. Justru semakin banyak saja anggota KKB dan anggota Egianus yang bermunculan dari arah yang berbeda.


“Bian, siapkan teropongmu dan tajamkan mata. Karena ada salah satu anggota yang akan dijemput oleh helikopter, takutnya Dia adalah ketua dari kedua anggota ini.”


Bian yang mendapatkan intruksi dari Keenan seketika menyiapkan teropong yang sedari tadi setia melingkar di lehernya. Di atas pohon yang cukup besar Bian terus mengawasi pergerakan baku tembak di bawah sana.


Tidak lama kemudian sebuah helikopter terdengar dengan menderu-deru, menguat kebisingan walaupun hanya beberapa menit saja. Dan ketika helikopter itu masih berada di atas awan, Bian selalu mengawasi keadaan di bawa sana, terlihat seorang lelaki yang masih muda tengah melangkahkan kaki menjauh dari lokasi baku tembak dan hendak menuju helikopter yang sudah menurunkan tali panjang dari atas sana.


‘Mungkin Dia yang dimaksud Kapten. Lihat saja, kalian akan gagal.’


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bu, nanti Aletha harus ke rumah sakit lagi. Soalnya ada panggilan dadakan yang harus Aletha hadiri, mungkin... hanya sebentar.”


“Tidak apa-apa, nanti Alina biar tidur sama Ibu. Kamu hati-hati saja di jalan, jangan terlalu kebut nyetirnya,” pesan Bu Laila kepada Aletha yang tidak pernah dilupakan.


Aletha mengangguk, setelah makan malam bersama Bu Laila Aletha memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit. Panggilan dadakan yang diminta dari pihak rumah sakit tak lain adalah menyambut kedatangan direktur yang baru yang akan menggantikan Dimas.


Acara penyambutan dilangsungkan saat malam hari, jika pagi hari takutnya semua akan bekerja normal, sehingga semua sibuk dan acara pun tidak berlangsung lama. Jika malam hari maka semua akan besantai, tidak ada pengunjung rumah sakit untuk berobat jalan, hanya beberapa pasien yang akan dilakukan periksa ulang.


”Al, kamu datang juga dalam acara penyambutan direktur baru,” sapa Ilham.


Ilham menghampiri Aletha yang baru saja keluar dari dalam mobilnya. Karena secara bersamaan Aletha dan Ilham tiba di sana, sehingga mereka berjalan berdampingan saat hendak masuk ke rumah sakit.


“Demi mengenang Dimas, aku... mengusahakan untuk datang, Kak. Aku pernah bersalah dan selalu berprasangka buruk terhadapnya, jadi... aku ingin tahu siapa orang yang akan menggantikan Dimas.”


“Oh... pengen tahu saja toh. Tapi... tidak ikut menyesali perbuatan di masa lalu kan, Al? Seperti... menyesal tidak menerima cinta Pak Dimas begitu?” canda Ilham.


“Idihh... kak Ilham, aku masih berstatus menjadi istri orang. Lagipula mana mungkin aku berpaling dari yang lain.”

__ADS_1


“Al... apa belum ada kabar juga dari Kapten Keenan?”


Seketika Aletha menghentikan langkahnya, menatap Ilham dengan binar mata yang berubah sendu. Ingin rasanya menangis di kala itu juga, tapi Aletha harus bisa menjaga hati dan menguatkan diri dari cobaan yang tak kunjung usai.


“Belum, Kak.” Aletha menggelengkan kepalanya.


“Apa...” Ilham menggantungkan ucapannya, tiba-tiba merasa ragu untuk melanjutkan ucapannya itu. Karena Ilham juga tidak ingin menyinggung perasaan Aletha bahkan membuat sedih Aletha yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


Aletha menghembuskan nafas panjang, lalu ia kembali menatap Ilham dengan senyuman yang mengembang.


“Jika memang Keenan meninggal, aku yakin Allah tetap menerimanya. Dan aku di sini sebagai istrinya wajib... mendoakan atas kepergiannya. Sedih mungkin... itu pasti, Kak. Tapi... mengingat tujuan hidup seorang manusia itu adalah kematian.”


“Jadi, buat apa kita harus merasa bersedih dengan berulang-ulang sampai berlarut-larut, toh itu tidak akan bisa mengembalikan semua kembali utuh.”


“Walaupun sampai detik ini juga aku masih berharap jika Aa Keenan masih hidup.”


Aletha menunduk, menyembunyikan hatinya yang bersedih. Ilham yang cukup paham bagaimana Aletha yang terus mencoba menguatkan hati dan dirinya, mengusap punggung Aletha dengan pelan.


Langkah yang sempat terhenti kini telah kembali dilanjutkan hingga terhenti pada suasana yang cukup ramai dalam ruangan khusus untuk tamu dan beberapa dokter yang memang diundang dalam acara itu.


“Selamat malam semuanya! Di sini saya sebagai wakil dari direktur utama akan menyampaikan bahwa akan ada acara penyambutan untuk kedatangan direktur baru di rumah sakit Siloam Hospitals.” Rangga mengumumkan secara to the point setelah di rasa para dokter dan tamu undangan sudah berkumpul.


“Baiklah, kita langsung sambut saja Pak Tara.”


Sontak Aletha dan Ilham terkejut setelah mendengar nama Tara telah disebut sebagai direktur utama di rumah sakit Siloam Hospitals yang akan menggantikan Dimas.


‘Ini tidak mungkin, bagaimana bisa?’ tanya Aletha dalam hati.


“Tidak, Kak.” Aletha hanya menggelengkan kepala tanpa suara.


Diam, itulah yang dilakukan Ilham maupun Aletha saat Tara mulai mengudarakan suara dan memberi sambutan setelah namanya disebut oleh Rangga.


Setelah acara penyambutan selesai laku dilanjut dengan makan beberapa makanan yang sudah dihidangkan. Di saat semua tengah menikmati makanan ringan hingga berat Tara menghampiri Aletha yang masih duduk dengan Ilham.


“Assalamu'alaikum, Al... Dokter Ilham.” Tara menyapa ramah Aletha dan Ilham.


“Wa'alaikumsalam, Tara,” jawab Aletha dan Ilham hampir bersamaan.


“Maaf jika sebelumnya akun tidak memberitahu hal ini kepada kalian. Tapi... aku juga tidak tahu kenapa aku dipilih oleh Dimas untuk menggantikannya.”


Seketika Aletha menoleh, dalam hatinya kembali bertanya-tanya tentang hubungan Dimas dengan Tara.


“Maksud kamu, Tara? Sebenarnya apa hubungan kalian?” tanya Aletha to the point.


Tara tidak ingin Aletha maupun Ilham yang sudah sangat mengenalnya salah paham dengan jabatan yang baru saja diterima olehnya. Hingga akhirnya Tara menjelaskan bahwa ia tak lain adalah kakak tiri Dimas.


Karena kedua orang tua Tara yang berpisah, Tara tidak pernah menceritakan siapa keluarganya dan siapa Dimas kepada Aletha. Bahkan Tara juga tidak menduga jika Dimas sendiri lah yang memintanya untuk menggantikan posisi direktur utama di rumah sakit Siloam Hospitals.


Tara... mungkin itu rejeki yang patut untuk disyukuri. Iya kan, pembaca...

__ADS_1


Aletha manggut-manggut setelah mengerti bagaimana inti keluarga Tara dengan Dimas yang masih sangat kental akan persaudaraan. Seperti halnya dirinya dengan Luna.


“Jika acara ini sudah selesai, aku mau ijin pulang. Kasihan Alina jika Dia terus menerus bersama Bu Laila.” Aletha berpamitan, merasa tak enak hati dengan situasi yang terjadi.


Hal itu membuat Tara seolah ingin kembali merajut kisah cinta bersama Aletha. Namun, Aletha berusaha menghindar dari Tara, karena ia tidak ingin menggantikan Keenan di dalam hatinya dengan nama yang lain.


“Silahkan, Al! Tapi... bisakah kamu memikirkan kembali apa yang aku nyatakan tadi?”


“Maafkan aku, Tara. Mungkin di luar kita akan tetap menjadi sahabat, sedangkan di rumah sakit kita akan tetap menjadi atasan dan bawahan. Aku... tidak ingin memikirkan apapun tentang yang lain. Aku hanya ingin fokus dengan Alina.”


Aletha berpamitan dengan sopan, lalu melangkah dan menuju ke tempat parkir. Di dalam mobil Aletha kembali melangitkan doa kepada Allah. Dan tangis pun pecah, hatinya yang bertahan untuk tetap kuat telah luluh lantah.


“Ya Allah... Jika suamiku memang masih hidup aku mohon tunjukkan tanda-tanda itu kepadaku. Jika memang jodoh ku adalah Aa Keenan, maka... kembalikanlah Dia menjadi suamiku yang akan selalu mendampingi ku dalam dunia nyata ini. Akan tetapi jika Dia bukan lagi jodohku, maka... kuatkanlah dan ikhlaskan hati ini dalam menerima kenyataan yang begitu pahit.”


Air mata tidak bisa dibendung oleh Aletha, tumoah dengan begitu derasnya bagaikan air sungai yang mengalir. Pertahanan itu telah roboh saat hatinya merasa begitu rapuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Lapor! Komandan, mohon ijin saya Bian pasukan berani mati telah menemukan Kapten Keenan dan Lettu Garda dalam keadaan hidup. Tapi saat ini kami melawan anggota KKB dan anggota Egianus. Kami membutuhkan bantuan, Komandan.”


Tidak tahan rasanya jika Bian hanya diam saja tanpa memberikan laporan kepada Bagas Kara tentang Keenan dan Garda yang berstatus menantu Komandan. Bian juga merasa kwalahan jika tidak mendapatkan bantuan segera, karena baku tembak. masih saja berlanjut. Bahkan Bian dan pasukan berani yang lainnya merasa heran darimana saja datangnya anggota mereka itu hingga tidak pernah habis dan terus bermunculan.


“Lapor saya terima. Baiklah, malam ini juga saya dan pasukan lainnya akan terjun langsung ke sana.”


Dalam hati Bian sangat bersyukur laporannya telah diterima dengan sambutan hangat. Bahkan respon Bagas Kara yang cepat tanggap membuat Bian merasa lega, karena akan ada bantuan dari yang lain agar cepat usai baku tembak itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Bagas Kara yang sebagai komandan. Dengan segera Bagas Kara meminta pasukannya berkumpul di lapangan malam itu juga. Bahkan Bagas Kara juga menghubungi orang kepercayaannya untuk ikut membantu di sana.


“Temui Papa di lapangan Markas dan ikut Papa malam ini juga ke Yahikimo.”


Bagas Kara seketika menutup sambungan teleponnya setelah mengucap salam.


Aletha yang tidak mengerti apa maksud dari Bagas Kara hanya menurut saja, karena Aletha mendengar jika apa yang dikatakan Bagas Kara tidak bisa dibantah oleh siapapun.


Aletha seketika menyeka air matanya, menekan pedal gas dengan laju yang cukup kencang.


Dua helikopter sudah disiapkan oleh Bagas Kara, begitupula dengan pasukan yang akan membantunya ke Yahukimo. Semua sudah masuk ke dalam helikopter yang satunya. Sedangkan helikopter yang satunya lagi akan diisi olehnya dan juga Aletha beserta ajudannya.


‘Apa pelit aku akan kembali menyala dengan terang? Ya Allah, rasanya aku tidak sabar jika ini jawaban dari-Mu. Pertemuan antara aku dan suamiku yang selama ini aku tunggu-tunggu.’


Di dalam helikopter Aletha terus menaruh harap jika pertemuan itu adalah pertemuan yang akan mengobati rasa rindu yang membuncah dada. Rindu yang selama ini membuatnya merasa sesak jika mengingat kepergian Keenan saat hendak bertugas di Yahukimo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Orang yang berjanji tidak berdosa, akan tetapi orang yang mengingkari janji akan dikenakan dosa besar.”


“Ya Allah, aku sudah bertahan dan bersabar menantikan waktu untuk kembali bertemu dengan Aletha. Dan buatlah aku bertahan sampai aku berhasil menuntaskan misi ini dan bertemu kembali dengan pelitaku.”

__ADS_1


Dor... Dor... Dor... Dor...


Bersambung...


__ADS_2