
“Jika memang perpisahan akan tetap terjadi, tak apa. Kita sebagai manusia memang harus kembali, kematian akan datang kapan saja dan dimana saja. Kita hanya bisa ikhlas dalam menerima takdir yang sudah digariskan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua berkumpul untuk membuat beberapa makanan seperti yang ada di dalam adat Jawa saat hendak melakukan acara tujuh bulan. Dan setelah melakukan acara itu kembali mereka memikirkan acara selanjutnya, aqiqah untuk Alina yang entah itu kapan.
“Tante Aletha, besok kalau adek Alina sudah besar Ravva yang jagain ya!” ucap Ravva.
“Harus dong! Ravva harus bisa jagain Alina, Atalarik dan juga saudara yang akan lahir dari generasi Om Bian, Om Bayu, tante Naina serta tante Rania.” Aletha mengulas senyum.
Obrolan ringan pun telah menemani kegiatan malam mereka agar tidak merasa kantuk. Bahkan celoteh dari Ravva sangatlah menghibur para tetua.
Aletha membayangkan bagaimana ramainya generasi mereka jika sudah besar nanti, yang akan selalu mengikat tali persaudaraan dan saling menjaga satu sama lain. Seperti hal nya saat ini, tali persaudaraan itu akan tetap mengikat hingga terciptalah kebersamaan.
Para tetua wanita seperti Bu Laila dan Mama Nina disibukkan pada bagian dapur, yang dibantu beberapa warga terdekat untuk membuat kue yang terbuat dari ketan. Kue ketan ini akan diberi beberapa warna, sehingga dinamakan kue ketan ketan warna warni.
Bagian Larisa dan Naina menghiasi kurungan ayam yang akan diberi tulisan nama Alina yang lengkap. Alina Daena Mahendra, itulah nama Alina yang lengkap. Sedangkan kaum laki-laki membuat tangga kecil sampai tujuh anak tangga untuk acara besok pagi.
“Bagian Papa apa?” tanya Bagas Kara.
Bagas Kara hanya tetua laki-laki dalam keluarganya, karena Mahendra sendiri sudah lama meninggal saat bertugas. Dan dalam acara turun tanah itu Bagas Kara bagian belanja mainan untuk cucu-cucu nya.
“Seperti biasa yang Papa lakukan. Sesuai bidangnya saja, karena tidak mungkin Papa akan menghias kurungan, membuat kue ketan dan membuat tangga.” Aletha nyengir.
“Iya... Iya, baiklah! Papa akan berangkat sekarang, sebelum toko mainannya akan tutup.” Bagas Kara mengambil kunci mobilnya dan pergi ke toko mainan.
Setelah itu Aletha kembali menidurkan Alina yang sudah mengantuk, hal sama pun dilakukan oleh Luna. Kakak beradik yang tidak sedarah itu menghabiskan waktu bersama anaknya dalam satu kamar.
“Al, kakak tidak slpernah sangka kita sudah semakin menua saja. Bahkan kakak sudah memiliki dua anak, satu remaja dan satunya lagi sudah satu tahun.” Sekelebat bayangansaat mereka remaja tiba-tiba melintas dalam ingatan Luna.
“Iya, Kak. Tidak sangka saja kita sudah semakin menua. Dan inilah takdir, takdir yang indah.” Aletha mengulas senyum bahagia.
Luna manggut-manggut, ia membenarkan ucapan Aletha. Setelah anak mereka tertidur mereka kembali lagi berkumpul dengan seluruh anggota keluarga dan sahabat.
“Ra... kamu kenapa kok sendirian di sini? Ayo kita gabung bersama mereka saja,” ajak Aletha.
“Tidak, Al. Aku... merasa lelah, maaf ya jika aku tidak bisa bantu kamu dalam acara penting ini.” Laura menatap Aletha dengan tatapan sendu.
“Ra, tidak apa-apa. It's okay, lagipula aku juga tidak akan mempermasalahkan hal ini. Asalkan kita semua bisa berkumpul bersama aku akan bahagia. Ya sudah, istirahat sana gih biar aku minta kak Garda untuk menemani kamu. Sekalian minta Ravva untuk tidur, sudah malam.” Aletha menepuk pelan pundak Laura.
Laura mengangguk, di atas kursi rodanya Laura menanti kehadiran Garda yang akan membantunya ke kamar sekaligus menemaninya.
Malam itu cuaca seakan begitu mendukung, banyak cahaya bintang dan cahaya rembulan yang terang, yang menerangi acara malam kebersamaan keluarga Bagas Kara.
“Ada apa, Neng? Apa ada masalah, hmm?”
“Tidak sih, Aa. Hanya saja Laura merasa lelah, jadi ya... Neng minta kak Garda untuk menemani Laura di kamar.”
Keenan mengangguk, ia tidak ingin ikut campur lagi dalam urusan Laura, karena bagi Keenan ada Garda yang patut untuk menjaga Laura sebagai suaminya, kecuali jika hal lain telah terjadi. Keenan sebagai kakak tentu akan ikut campur.
Sudah pukul 23.30 malam, semua pekerjaan sudah selesai termasuk membuat tangga dan juga menghias kurungan. Dan sekarang sudah waktunya untuk istirahat, semua mencari tempat ternyaman untuk melepas rasa kantuk dan lelah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ting... Ting...”
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Bagas Kara. Terlihat nama Jenderal Faruq di sana, tak lain adalah atasan Bagas Kara.
[Segera turunkan pasukan khusus mu, karena kejahatan yang dilakukan KKB sudah semakin mengancam warga.]
[Turunkan satu minggu lagi. Paling tidak kamu sudah mempersiapkan alat untuk membantu mereka dalam penugasan kali ini. Ingat, jangan gegabah dalam menangkap anggota mereka. Lakukan strategi yang matang agar tidak membuat aksi dendam nantinya.]
Bagas Kara menghela nafas panjang, terasa begitu sulit untuk menugaskan mereka ke tempat yang sangat tidak aman, apalagi mereka adalah menantunya sendiri. Namun, tugas negara tidak bisa diabaikan, mau tidak mau Bagas Kara akan tetap memberikan tugas itu kepada pasukan berani mati.
“Ada apa lagi, Papa?” tanya Mama Nian yang melihat Bagas Kara nampak gelisah.
“Aku kembali mendapatkan perintah, penugasan Keenan, Garda, Batu, Bian dan Naina akan dilangsungkan satu minggu lagi. Rasanya... berat untuk memerintahkan mereka, Ma.” Bagas Kara menumpahkan keluh kesahnya.
“Tapi Papa juga tidak bisa mengabaikan tugas itu, iya kan?”
__ADS_1
“Iya, Ma.” Bagas Kara mengangguk.
Mama Nina mencoba menenangkan hati suaminya itu, hingga perlahan Bagas Kara mulai berpikir untuk memberitahukan kepada pasukan berani setelah acara tradisi turun tanah untuk Alina.
Malam pun kian melarut, semua sudah terlelap dalam tidur masing-masing. Dan malam itu Keenan tidak bisa melakukan aksinya dengan Aletha, karena kamarnya sudah diisi Luna dan Atalarik. Sehingga ia harus tidur bersama Bayu, Bian dan Juan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu para warga yang diundang telah silih berganti berdatangan untuk menghadiri acara tradisi turun tanah. Dan seorang kakek yang akan memimpin acara itu juga sudah hadir. Bahkan semua kelengkapan sudah di tata rapi di halaman samping rumah Aletha yang cukup luas.
Terlihat begitu menarik, ingin sekali penulis kembali di masa kecil. Wkwkwk
Acara pun telah dilangsungkan, Alina harus menginjak kue ketan berwarna-warni dengan dibantu si kakek. Hal itu diyakini akan membuat Alina kuat dan kokoh menapaki kehidupan hingga baik tangga yang menggambarkan cita-citanya kelak hingga ke atas.
“Yee...!”
Sorak riuh penuh gembira pun telah terdengar dan memekik telinga dari kaum tetua, tetangga dan Aletha sedta yang lainnya. Hal itu membuat Alina hanya tersenyum gembira saja, tidak merasakan takut saat bertemu dengan orang asing atauaoin mendengar teriakan dari orang-orang yang disekitarnya.
Setelah itu Alina dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang berisi bermacam mainan, di dalam kurungan itu Alina dibantu Ravva karena Alina masih belum bisa duduk dengan sempurna.
“Ayo dek, pilih yang mana?” bisik Ravva.
Terlihat Alina nampak bingung hendak memilih mainan yang mana, karena saking banyaknya mainan yang sudah dibeli oleh Bagas Kara. Hingga akhirnya Alina memilih pistol yahh dipegang tangan kiri dan jarum suntik di tangan kanannya.
“Wahh... anak pinter ya Alina!” pekik Mama Nina.
“Iya Bu, mungkin Alina akan seperti Ayah ataupun Bundahya nanti.” Para tetangga pun ikut nimbrung memuji Alina.
Setelah mendapatkan mainan saatnya Alina dimandikan air bunga dengan berbagai macam bunga, sedangkan para tetamu yang diundang dalam tradisi itu diminta untuk membacakan dzikir dan doa bersama.
Kalau adat pembaca sama tidak dengan adat yang dilangsungkan keluarga Bagas Kara ini? Kalau adat penulis hampir sama.
“Dan sekarang saatnya... makan-makan.” Bian pun berjalan menuju meja makan.
“Dasar, tidak tahu malu. Untung saja poster tubuhnya tidak berbody prenagen, kan tidak lucu seorang tentara seperti itu. Akan jadi bahan omongan orang saja,” umpat Bayu merasa kesal.
Acara makan bersama telah memeriahkan acara tradisi turun tanah itu. Warga yang menghadiri acara itupun tidak segan untuk mengambil makanan yang sudah dihidangkan, karena Aletha dan Keenan selalu bersikap baik terhadap mereka semua. Sehingga keakraban pun telah terjalin, bagaikan keluarga sendiri.
Keenan hanya mengerutkan alisnya, ingin menolak tidak mungkin karena itu acara paling bahagia saat kebersamaan tercipta. Namun, Keenan merasa enggan untuk berswafoto, karena Keenan sendiri juga tidak pernah berfoto dengan berbagai macam gaya.
“Aa senyum ya!” pinta Aletha.
Dalam acara itu Aletha dan Keenan sengaja memakai baju batik yang sama, begitu juga Alina. Sehingga dirasa pas saat foto telah terbidik.
“Aunty sekali lagi, ya! Tapi dengan gaya bebas, Om Keenan jangan lupa ikut bergaya ya!” pinta Larisa yang mengintruksi.
Satu...
Dua...
Tiga...
“Cekrek!”
Gambar kembali terbidik, meskipun Keenan terlihat begitu kaku untuk bergaya tapi foto itu cukup lucu dan menarik, pas untuk dijadikan kenang-kenangan saat Alina sudah besar nanti.
Setelah itu dilanjutkan oleh para tetua, ikut berswafoto foto dengan menggendong Alina.
“Aa, mau makan apa? Neng ambilkan,”
“Terserah Neng saja, asalkan mengenyangkan di perut Aa. Aa sudah merasa sangat lapar.”
“Oh, ok, baiklah!”
Aletha menuju ke meja makan, dalam satu piring di isi nasi kuning dan lauk yang sudah dimasak oleh Mama Nina, Bu Laila dan juga ibu-ibu tetangga tadi sebelum subuh.
Dalam satu piring itu Aletha dan Keenan makan bersama, rasa bahagia pun membuncah dada. Hingga tidak terasa acara pun telah usai, para tamu undangan dan ibu-ibu tetangga sudah berpamitan hendak pulang. Tidak lupa Mama Nina memberikan bingkisan yang berisi nasi, kue ketan dan juga lainnya kepada mereka semua.
”Terimakasih banyak Bu Nina dan Bu Laila, semoga keluarganya terus bahagia dan dalam perlindungan Allah SWT.” Saat bersalaman tidak lupa para ibu-ibu tetangga mendoakan keluarga Bagas Kara dan Aletha.
__ADS_1
“Iya Bu, sama-sama. Dan kami juga berterimakasih atas kehadiran ibu dan doa ibu semuanya,” ucap Mama Nina.
“Iya, Bu, sama-sama.”
Meskipun para tamu dan tetangga sudah tidak lagi ada di kediaman Aletha tetapi di sana masih terlihat ramai dengan adanya pasukan berani mati dan sanak saudara lainnya.
“Tring... Tring...”
Beberapa ponsel telah berdering, ada panggilan masuk dari setiap ponsel pasukan berani mati.
Keenan, Garda, Bayu, Bian dan Naina yang memang duduk tidak terlalu jauh seketika saling tatap dan adu pandang. Dan kelima anggota pasukan khusus itu mencari tempat yang sepi. Terlihat ada Bagas Kara yang masih berada di halaman samping.
“Pergilah!” pinta Bagas Kara tanpa suara.
Kelimanya menghela nafas berat, kembali mereka harus meminta ijin kepada keluarga tercinta untuk menghadap Bagas Kara di markas. Dan hal yang paling berat adalah perpisahan. Karena mereka akan kembali berpisah dengan keluarga tercinta setelah sejenak kebersamaan tercipta.
“Neng, Aa...” Keenan menggantungkan ucapannya.
“Kenapa Aa?” tanya Aletha.
Aletha merasa ada yang berbeda dari raut wajah Keenan yang seketika berubah. Penuh keseriusan dan kecemasan, bahkan saat ingin bicara saja Keenan nampak ragu.
“Katakan saja, Aa! Neng akan dengarkan,”
“Aa... harus ke markas sekarang.”
“Oh, ya sudah Aa pergi ke markas saja tidak apa-apa. Nanti pulangnya jangan malam-malam ya kalau sudah selesai bertugas! Neng mau... bicara sama Aa.”
“Iya, Neng.” Keenan mengangguk.
Bukan Keenan tidak mau mengatakan kepada Aletha jika itu adalah panggilan yang mendesak dari seorang atasan terhadap bawahannya. Tapi Keenan sendiri juga tidak tahu tugas seperti apa yang akan diberikan Bagas Kara kepada pasukan berani mati.
Aletha menyalami tangan Keenan, tak lupa Keenan mengecup kening Aletha sebagai balasannya. Kasih dan sayang sudah Keenan curahkan dengan mengecup kening Aletha, setelah itu Keenan pun pergi seusai mengucap salam.
Hal sama dilakukan oleh Garda, berpamitan kepada Laura itu penting karena Laura menyandang status sebagai istrinya.
Sedangkan Naina, jelas ia akan berpamitan dengan calon suaminya yaitu, Ilham. Dan Ilham akan selalu mengijinkan Naina saat bertugas.
Bayu dan Bian sudah menunggu di dalam mobil yang terparkir di halaman depan. Tidak lama kemudian Keenan, Garda dan Naina ikut masuk. Bayu yang berada di posisi sopir segera menginjak pedal gas dan melakukan mobil itu.
“Al, sebenarnya... mereka mau kemana?”
“Mau ke markas.” Aletha menjawab dengan begitu singkat. “Sudah... kak Ilham tidak perlu cemburu. Aku yakin, Naina tidak akan macam-macam dengan lelaki lain.” Aletha terkekeh geli.
“Bukan cemburu, Al. Hanya saja... aku tidak mau jika ditinggal lama sama Naina. Aku... juga takut jika... Dia ditugaskan ke medan perang yang berbahaya.” Tidak bisa dipungkiri jika Ilham merasa takut akan kehilangan.
Aletha hanya geleng-geleng saja mendengar ucapan Ilham.
“Al, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tanya apaan sih, Kak?” Aletha berbalik bertanya.
“Bagaimana jika nanti mereka benar akan ditugaskan dalam medan perang yang sangat bahaya? Dan... itu juga bisa membuat mereka gugur, akhirnya... kita akan berpisah.” Ilham meragukan ucapannya.
Sejenak Aletha menghela nafas panjang.
“Jika memang perpisahan akan tetap terjadi, tak apa. Kita sebagai manusia memang harus kembali, kematian akan datang kapan saja dan dimana saja. Kita hanya bisa ikhlas dalam menerima takdir yang sudah digariskan.”
“Ya... aku akui itu pasti sangat berat, Kak. Tapi... mau bagaimana lagi, yang namanya takdir mubram adalah takdir yang tidak bisa diubah oleh manusia... takdir mutlak.”
Ilham mengangguk, membenarkan ucapan Aletha. Dan Ilham juga pernah merasakan kehilangan saat Maya meninggalkannya tanpa sepatah kata. Bahkan saat itu Ilham tidak bisa melakukan apapun selain belajar menerima dengan ikhlas dan legowo.
“Kita doa kan saja jika benar mereka akan ditugaskan dalam medan perang, semoga mereka bisa melewati masa sulit dan mereka tetap berada dalam lindungan Allah SWT.” Aletha tersenyum.
Aletha meninggalkan Ilham yang masih menikmati hidangan, meskipun acara sudah bubar tetapi hidangan tadi tetap dijadikan cemilan untuk keluarga Bagas Kara yang masih berada di sana.
‘Ya Allah, maafkan aku jika hati ini hanya berpura-pura tegar dan menerima secara legowo jika itu terjadi. Tapi saat ini nyatanya... hatiku mstasa resah dan was-was, bahkan dihantui oleh rasa cemas.’
Pertanyaan dari Ilham kembali melintas dalam ingatan Aletha. Dan munafik jika istri tidak takut kehilangan suaminya, apalagi Aletha juga mengingat yang diucapkan Keenan malam itu.
__ADS_1
Pikiran Aletha campur aduk, hati dan pikirannya tengah beradu. Dalam hati jelas tidak rela jika Keenan pergi bertugas, dalam pikirannya Aletha berkata tidak apa-apa. Sungguh memilukan menjadi istri seorang abdi negara.
Bersambung...