Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 157 “Menahan Rindu”


__ADS_3

“Belajarlah hidup dalam kesederhanaan, karena yang namanya kehidupan kita tidak akan pernah tahu bagaimana kedepannya. Apakah kita akan tetap berada di atas atau kita akan jatuh kebawah. Percayalah... di atas langit masih ada langit, tidak perlu kita menyombongkan diri dengan apa yang kita punya saat ini.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Helikopter telah tiba setelah sepuluh menit kemudian. Tanpa ada kata lagi pasukan berani mati masuk ke dalam helikopter setelah semua senjata selesai dimasukkan. Setelah dirasa semua siap, helikopter mengudara dengan amat tinggi.


‘Helikopter itu... apa helikopter yang membawa Aa dan kalian semua pergi?’


Sejenak Aletha menghentikan laju mobilnya saat melihat helikopter terbang di atas mobilnya. Tidak ada kata lain selain Aketha perbanyak doa untuk kelancaran Keenan dalam misi rahasia itu.


Aletha mengulas senyum saat helikopter semakin tidak terlihat setelah mengambil arah ke Timur.


‘Aa... Neng akan setia menanti Aa kembali.’


Aletha melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan standart. Meskipun malam sudah semakin larut tetapi yang namanya kota Jakarta tak akan pernah surut orang berkendara di malam hari. Bahkan semakin ramai, karena malam itu adalah malam minggu, banyak anak muda mudi yang menghabiskan waktu malam mereka di berbagai tempat.


Aletha menghentikan mobilnya saat melihat sebuah kafe yang dulu pernah ia kunjungi saat masih remaja. Sejenak Aletha menatap kafe itu dari dalam mobil seraya mengenang kebersamaan yang pernah terjalin dengan teman sekolahnya dulu saat masih di bangku SMU.


Kafe Maple And Oak yang sering dijadikan tempat nongkrong Aletha dan ketiga temannya, karena kafe tersebut sangatlah nyaman untuk sekedar dijadikan tempat santai, sehingga banyak anak muda mudi yang mengunjungi kafe itu. Bahkan sampai saat ini pun semakin banyak anak muda mudi yang mengunjunginya dengan pasangan mereka. Apalagi kafe Maple And Oak ini memiliki konsep tempat warna pastel muda yang cukup Instagramable, sehingga anak muda yang berkunjung bisa mengambil foto di sana.


“Bagaimana kabar kalian ya? Aku... merindukan kalian. Tapi... kenapa kalian bisa melakukan hal itu kepadaku? Penipu,” gumam Aletha.


Bayangan kebersamaan itu melintas sekilas dalam pelupuk mata Aletha. Ada rasa benci tetapi Aletha tidak menyimpan dendam kepada ketiga temannya. Dan setelah hari kelulusan itu mereka tidak lagi bertegur sapa walaupun hanya melalui pesan. Sehingga Aletha tidak tahu bagaimana dan di mana teman-teman SMU nya itu.


‘Itu... bukannya...?’


Aletha menajamkan tatapannya setelah mengedarkan pandangan dan menemukan seseorang yang sangat dikenal oleh Aletha. Hingga membuat Aletha masuk ke kafe itu untuk memastikan dengan apa yang dilihatnya.


“Malam ini kamu yang bayar dulu, ya! Karena... Aku lupa tidak membawa dompet. Kamu tidak akan keberatan, kan?”


“Aku bawa dompet, tapi... nggak ada isinya. Hutangin dulu ya kali ini, Sa.”


“Hmm... Baiklah! Santai saja, ya sudah kalian tunggu di sini aku bayar dulu.” Larisa beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke bagian kasir.


Ketika Larisa masih membayar apa yang sudah dipesan bersama teman-temannya Aletha mendengar suara yang tak mengenakkan hati. Hingga membuatnya merasa tertarik untuk ikut bergabung dengan anak remaja itu.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam dari Aletha.


“Wa'alaikumsalam,” ketus kedua teman Larisa.


“Oh iya, boleh duduk di sini? Saya lihat kursinya kosong satu, sedangkan yang lain sudah penuh.” Aletha berusaha membujuk kedua anak remaja itu.

__ADS_1


Setelah keduanya mengedarkan pandangan dan melihat semua kursi yang memang sudah penuh, mereka pun mengijinkan Aletha untuk duduk.


“Terimakasih.” Aletha mengulas senyum.


Karena tidak mengenal Aletha keduanya mengabaikan Aletha yang duduk di hadapan mereka. Sedangkan Aletha bersikap sangat santai, bahkan saking santainya ia juga tidak menghiraukan dua remaja itu.


“Untung saja pistol ini tidak ada pelurunya, jika ada pasti... tadi yang sengaja mengerjai ku sudah ku tembak.” Aletha mengelap pistol yang ia keluarkan dari dalam tasnya.


Hiks...


Kedua teman Larisa meraba dada saat melihat senjata tajam yang dipegang oleh Aletha. Mereka pun bergidik ngeri, membayangkan peluru itu keluar dan mengenai mereka. Namun mereka masih diam dan duduk santai di sana, bahkan berpura-pura tidak melihat apa yang dipegang Aletha saat ini.


“Aunty,” pekik Larisa.


“Larisa, kamu juga ada di sini? Aunty tidak melihat kamu tadi, coba kalau Aunty lihat pasti... tante minta traktiran dari kamu. Soalnya... ternyata aunty lupa bawa dompet.” Aletha bersikap seperti yang sudah dilakukan kedua teman Larisa.


Hiks...


Lagi-lagi kedua teman Larisa meraba dada, ucapan Aletha begitu menohok hati keduanya yang memang sengaja memanfaatkan Larisa dengan uang yang dimiliki Larisa.


‘Ada apa sih aunty Aletha ini, kenapa tidak seperti biasanya? Lagian... tidak mungkin juga kalau lupa bawa dompet.' Larisa bermonolog dalam hati.


“Aku juga tidak tahu. Lebih baik, kita pergi saja yuk!” balas Yura dengan gerakan.


“Larisa, sepertinya aku harus pulang dulu! Mama ku tadi telepon dan memintaku untuk segera pulang.” Mona tiba-tiba beranjak dari kursinya.


“Aku juga Larisa, sepertinya aku harus pulang sekarang. Aku lupa adik ku di rumah sendirian, Mama dan Papa ku masih di luar ada acara.” Tura pun melakukan hal sama dengan Mona.


“Loh! Kalian kok buru-buru begitu sih? Kita kan...”


“Sudah, jangan berteman lagi dengan mereka. Aunty akan menceritakan apa yang sebenarnya mereka lakukan kepadamu. Duduk, aunty yang traktir kamu.”


Tanpa bantahan Larisa mengikuti perintah Aletha, kembali Larisa merasa heran dengan sikap Aletha, tantenya itu.


Aletha menarik nafas panjang sebelum menceritakan kejahatan dua teman Larisa tadi. Dan untuk mencairkan suasana Aletha meminta Larisa untuk memesan minuman ataupun makanan ringan sebagai teman mereka mengobrol.


“Mbak.” Aletha melambaikan tangan.


Seorang pelayanan cantik dan masih muda datang ke meja Aletha dan Larisa.


“Saya pesan coffee butter nya satu.” Aletha menunjuk gambar coffee butter pada menu yang tertulis di kertas.

__ADS_1


”Saya sama juga Mbak, coffee butter satu.” Larisa mengikuti apa yang dipesan Aletha.


Sembari menunggu pesanan mereka datang obrolan ringan pun menemani mereka. Dan mulai dari itu Aletha menceritakan bagaimana sifat kedua teman Larisa.


“Aku tidak sangka jika mereka tega membohongiku,”


”Itulah manusia, mau memanfaatkan orang lain tapi tidak mau dimanfaatkan balik. Jadi, aunty sarankan kamu harus bisa memilah dan membandingkan mana yang baik untuk dijadikan teman dan mana yang baik untuk dijauhi.”


“Belajarlah hidup dalam kesederhanaan, karena yang namanya kehidupan kita tidak akan pernah tahu bagaimana kedepannya. Apakah kita akan tetap berada di atas atau kita akan jatuh kebawah. Percayalah... di atas langit masih ada langit, tidak perlu kita menyombongkan diri dengan apa yang kita punya saat ini.”


“Aunty tahu kamu memiliki banyak uang, Larisa. Uang itu pemberian dari Ayah, Bunda, Kakek Bagas Kara dan juga Opa serta Oma mu, tetapi mereka memberikan itu tidak untuk digunakan berfoya-foya, meskipun aunty sendiri tahu jika kamu tidak bermaksud melakukan hal itu.”


“Tapi lihatlah sekarang, ketika kamu banyak uang mereka akan mendekat dan memanfaatkanmu. Tetapi ketika kamu memperlihatkan kesederhanaan yang kamu miliki, aunty yakin kedua teman mu tadi tidak akan mau berteman denganmu lagi.”


Larisa mengerti, banyak hal yang diceritakan Aletha saat masih remaja dulu hingga menemukan sosok sahabat yang memang keberadaannya selalu ada di kala susah maupun senang. Dan itulah yang dinamakan sahabat sejati.


Obrolan pun berlanjut setelah Aletha dan Larisa menyeduh coffee butter yang mereka pesan tadi. Terasa nikmat dan hangat, hingga mencairkan suasana hati yang merasa penat. Seperti yang malam itu Aletha rasakan... nyesek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah satu minggu Larisa merubah penampilannya dengan sederhana. Sekolah dengan mengenakan rok panjang, tetapi baju seragam yang digunakan tidak ikut berlengan panjang. Bahkan Larisa masih belum menutup auratnya dengan baik, hanya saja penampilannya yang selalu mengenakan rok pendek di atas lutut kini tidak lagi.


”Memang benar apa kata aunty Aletha, kemewahan itu bukanlah tolok ukur dalam persahabatan. Dan dengan kesederhanaan itu aku mampu menemukan seorang teman yang menerimaku dalam setiap perubahanku.” Larisa berdiri di depan cermin yang ada di kamarnya.


Satu minggu telah berlalu, membuat kerinduan yang dirasakan Aletha mencuak. Namun ia tidak dapat mengobati rasa rindu itu, karena kesibukannya selama satu minggu itu membuat Aletha tidak sempat melihat ponsel dengan teliti. Hanya saja saat ada panggilan mendesak dari rumah sakit.


“Ya Allah... menahan rindu itu amatlah berat. Pantas saja Dylan melarang Milea untuk tidak rindu terhadapnya.”


Film itupun sudah tidak lagi asing bukan? Karena saking familiar nya masuk dalam daftar tontonan film Aletha sebagai hiburan semata.


“Dokter Aletha, berikutnya kita akan melakukan visite terhadap pasien yang berada di kamar VIP.”


“Baiklah! Siapkan data sebelumnya.”


Kesibukan membuat Aletha harus bisa menahan rindu tanpa bertukar pesan, bahkan menghubungi Keenan saja tidak bisa dilakukan. Selain bertugas menjadi dokter yang konsisten Aletha juga berperan sebagai seorang ibu yang harus menjaga dan merawat Alina dengan baik.


Aletha berjalan menuju ke ruangan VIP yang sudah dikatakan oleh asistennya tadi, tetapi saat menelusuri lorong rumah sakit Aletha bertabrakan dengan seseorang.


“Bug!”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2