
“Dia... manis, cantik dan membuat hatiku meleyot. Hingga aku jatuh hati pada pandangan pertama. Oh Tuhan, ijinkanlah aku memilikinya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah cukup puas saling peluk, kini Aletha dan Laura memutuskan untuk menemani suami mereka di sisi brankar.
“Jantungku telah berdetak kembali setelah ku temukan cinta yang berarti. Rindu yang membuncah dada telah terobati dengan adanya pertemuan setelah perpisahan. Hasrat yang terpendam kian menggebu, yang membuat ku ingin mengecup bibir merahmu.”
“Aa Keenan, apakah Aa juga merasakan hal yang sama dengan Neng?”
Satu kecupan telah dilayangkan Aletha di bibir Keenan.
Ada rasa tersendiri bagi seorang Aletha yang merangkap menjadi istri dan juga seorang ibu, rasa bahagia telah membuncah dada. Lelaki yang kini berada di hadapannya telah kembali menjadi seorang suami dan seorang ayah yang akan selalu menemaninya dalam setiap waktu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Melihat Aletha dan Laura yang sudah berjumpa kembali dengan suami mereka, Bagas Kara dan Mama Nina merasa bahagia. Sungguh nelangsa hati mereka sebagai orang tua jika putri mereka tidak mendapatkan kebahagiaan yang layak. Mengingat Laura yang kondisinya terkadang tidak membaik dan juga mengingat rasa trauma Aletha untuk jatuh cinta lagi.
“Mama rasanya senang sekali, Pa. Akhirnya Keenan dan Garda sudah kembali di tengah-tengah kita.” Mama Nina melingkarkan tangannya ke lengan Bagas Kara.
“Kamu benar, Ma. Arghhh... Badan Papa capek, Ma. Pegal-pegal begini ya rasanya,” ucap Bagas Kara dengan rintihan.
“Papa mau di pijitin sama Mama?”
“Boleh, Ma.” Bagas Kara mengangguk dengan yakin.
“Tapi ini di rumah sakit loh Pa, malu dilihat orang banyak.” Mama Nina menyapu pandangan disekitar yang memang saat malam itu ramai akan pengunjung yang hendak ber besuk.
“Kalau begitu... kita ke kamar saja, Bagaimana?” bisik Bagas Kara.
Seketika Mama Nina menautkan kedua alisnya, lalu menunduk dan menyembunyikan rasa malu yang membuat kedua pipinya memerah setelah melihat bagaimana cara Bagas Kara merayunya. Dan pada akhirnya hati Mama Nina pun meleyot, ia terpengaruh hipnotis seorang Komandan Bagas Kara.
“Wah, ternyata Komandan kita itu memang jago. Jago tembak, jago merayu dan jago segalanya.” Bian berdecak kagum melihat pesona Bagas Kara. Biarpun umur sudah tua tetapi sikap romantis dan jiwanya masih sangat muda.
“Bian, jangan iriiiii...” Naina menepuk pundak Bian dengan amat keras.
“Aduh, sakit Naina. Jangan begitu sama teman sendiri, seharusnya kamu mendukung aku,” umpat Bian.
“Dukung apa, Bian? Memangnya kamu sudah punya calon untuk romantis-romantisan seperti Komandan?” tanya Bayu memastikan.
“Emm... belum. Hehehe...” Bian nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Seketika Bayu dan Naina melepas tawanya, tingkah absurd Bian sukses membuat kedua temannya itu tiada hentinya tertawa sampai-sampai terpingkal dan jungkir balik.
Dari lima pasukan berani mati yang sudah resmi menikah hanya dua, Keenan dan Garda. Bayu, Bian dan Naina masih setia saja sendiri, mereka belum memiliki pasangan bahkan kenalan saja tidak ada.
“Jangan tertawa kalian, ingat tuh umur kalian juga. Sudah ... TU... A.” Bian menekan kata tua pada kalimantnya.
Hiks...
Bayu dan Naina meraba dada mereka saat membenarkan apa yang dikatakan Bian memang benar adanya. Umur ketiganya sudah memasuki dua puluh enam, dan seharusnya mereka juga sudah memiliki pasangan. Tetapi yang namanya jodoh memang tidak ada tahu kapan datangnya.
Bian, Bayu dan Naina hanya menunggu di kursi ruang tunggu. Dengan seragam loreng yang masih dikenakan, ketiganya mengambil posisi yang nyaman untuk tidur. Karena malam itu jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Rasa kantuk pun tidak dapat ditunda lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Laura sudah tidur apa belum ya?” tanya Aletha dengan lirih.
Aletha berjalan menuju ke bilik samping dan memastikan Laura di sana. Dua ujung bibir Aletha tertarik saat mendapati Laura sudah tertidur dengan posisi yang masih duduk di atas kursi roda seraya merebahkan kepalanya di sisi brankar. Tangan Laura juga tidak melepas lengan Garda yang dipasang selang infus.
“Ra... aku marasa senang melihat senyum mu telah kembali.”
Setelah melihat Laura yang sudah tertidur Aletha kembali duduk di sisi brankar Keenan. Hal sama juga dilakukan oleh Aletha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat cahaya matahari sudah mulai menyingsing, memberikan kecerahan dan rasa semangat dalam setiap diri manusia masing-masing. Di saat itulah Keenan mulai mengerjapkan kedua matanya dan juga menggerakkan jari-jarinya.
“Aku dimana? Kenapa semua berwarna putih?”
__ADS_1
Keenan mencoba untuk bangun dan memastikan keberadaannya, tetapi ketika hendak bangun Keenan melihat bidadari cantik masih tertidur di sisinya.
“Neng Aletha,” panggil Keenan lirih.
Tangan Keenan pun mengusap Lembu puncak kepala Aletha yang tertutupi dengan hijab. Namun Keenan tidak mendapati pakaian hitam wanita seperti yang dikenakan saat ikut melakukan penyerangan. Bahkan yang dipakai Aletha saat itu jauh berbeda, hanya pakaian gamis dan juga hijab yang berwarna coklat muda, tidak lupa pula sneli yang melekat di tubuh Aletha.
“Mengapa pakaiannya berbeda? Mataku tidak mungkin salah melihat, telingaku tidak mungkin salah mendengar dan jantungku tidak mungkin salah berdetak. Bahkan... hatiku merasa sangat yakin jika Ghost Rider itu kamu, Neng.” Keenan berusaha kembali mengingat pertemuan di tengah pertarungan.
Aletha semakin nyenyak saja tidurnya saat merasa ada yang membelainya dengan manja. Namun seketika Aletha tersadar jika saat itu ia berada di rumah sakit dan menunggu Keenan yang masih terbawa obat tidur.
“Aa... Keenan,” pekik Aletha separuh membuka matanya.
Dan setelah kesadaran Aletha sudah penuh, seketika ia melayangkan pelukan kepada Keenan. Membuat Keenan merasa terkejut saja sudah mendapati kejutan di pagi hari.
“Aww!” rintih Keenan.
“Aa kenapa? Apanya yang sakit, Aa?”
Rasa khawatir kembali singgah dalam diri Aletha. Namun rasa khawatir itu hanya di balas dengan senyuman tipis di bibir Keenan.
“Yang sakit itu di perut, lengan dan juga... di sini.” Keenan menunjuk ke arah dadanya.
“Kok di situ juga sakit Aa? Jantung Aa sakit juga ya memangnya? Perasaan... hasil X ray nya baik-baik saja.” Aletha menautkan kedua alisnya, ia merasa tidak mengerti rasa sakit yang bagaimana di dada Keenan.
”Bukan jantung Aa yang sakit, Neng. Tapi... hati Aa sakit tidak bisa bertemu dengan Neng dan juga Alina. Aa rindu sama kalian!”
Kembali Aletha melayangkan pelukan, tetapi kali ini lebih cenderung pelan dan manja. Begitu lembut saat Aletha merasakan detak jantung yang berirama sama dengan jantungnya saat itu.
“Neng suka merasakan debaran seperti ini, Aa. Debaran yang sama pada saat Neng jatuh cinta sama Aa.”
Keenan pun tersenyum tipis mendengar pengakuan Aletha yang sudah menetapkan hati untuk dirinya. Bahkan rasa syukur pun terucap dari bibir Keenan karena Allah SWT sudah memberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan istri dan anaknya. Meskipun saat itu belum bisa bertemu dengan Alina, mengingat Alina yang masih berusia enam bulan, tidak diijinkan untuk bertandang di rumah sakit.
Di waktu yang sama Garda juga sudah sadarkan diri. Membuat Laura tiada hentinya tersenyum dan mengucapkan rasa syukur.
“Kak Garda, alhamdulillah kak Garda sudah sadar. Adek senang melihat kak Garda lagi.” Laura mengecup punggung tangan Garda.
Garda membelai Laura dengan penuh kelembutan, membuat Laura merasa nyaman saat pujaannya telah kembali memanjakan dirinya.
Bagas Kara sengaja untuk bersiap sepagi mungkin, karena ia ingin bertandang ke rumah sakit dan melihat keadaan dua menantunya sekaligus dua pasukan yang amat disayanginya itu.
Pagi itu bukan hanya Bagas Kara saja yang riweh, melainkan Mama Nina juga merasakan hal sama. Mama Nina riweh dengan beberapa makanan yang sengaja di masak dan akan di bawa ke rumah sakit untuk dimakan bersama-sama, mengingat ada Bayu, Bian dan Naina beserta yang lainnya yang sudah dipastikan belum sarapan sama sekali.
Setelah keriwehan terjadi, dan semua dianggap sudah siap Bagas Kara pun melajukan mobilnya yang di sopir oleh Juan.
Kebetulan hari itu hari libur, Larisa bisa ikut bertandang ke rumah sakit. Bukan hanya Larisa saja, Ravva juga ikut bertandang ke rumah sakit, kecuali Luna. Karena Luna di saat pagi harus mengurus Atalaric terlebih dahulu, setelah itu baru lah Luna bekerja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Papa Bagas Kara dan Mama Nina,” pekik Rania.
Secara kebetulan Rania tiba bersamaan dengan keluarga Bagas Kara. Dan sesegera mungkin Rania menghampiri keluarga Bagas Kara lalu menyapa merek dengan salam dan tak lupa menyalami Bagas Kara, Mama Nina, Juan, Larisa dan juga Ravva.
“Aunty Rania, sepertinya... kita perlu mengobrol berdua.” Larisa berdecak kagum melihat penampilan Rania yang berseragam.
”Oh begitu, boleh kok Larisa.” Ramia mengangguk, menyetujui ajakan Larisa.
Dan mereka tidak mau hanya berbasa-basi saja di lobi, hingga mereka pun memutuskan untuk segera menuju ke ruang rawat Keenan dan Garda yang berada di lantai bawah.
“Astaga... Bian, Bayu... bangun! Komandan dan keluarganya sudah datang.” Naina pun segera membangunkan Bayu dan Bian dengan menggoyangkan tubuh mereka.
“Haduh, malu aku dilihat Komandan masih belekan seperti ini.”
“Iya juga, Bayu. Mana aku juga... ileran begini.”
Sungguh nelangsa dan sangat jorok banget ya Bayu dan Bian itu. Wkwkwk
Karena Bagas Kara dan keluarga masih di ujung koridor rumah sakit, dengan segera Bayu dan Bian mencari kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.
“Bruak.” Bian dan Bayu membuka pintu ruangan Keenan dengan sangat keras.
__ADS_1
“Maaf Dokter Aletha, kita mau numpang kamar mandi.”
Bian dan Bayu seketika masuk begitu saja dan bergantian ke kamar mandi.
‘Sial, gagal kan aksiku,’ umpat Keenan.
Pada waktu itu Keenan dan Aletha hendak saling memberikan kecupan di bibir. Namun Bian dan Bayu tiba-tiba masuk dan menggagalkan vitamin pagi mereka.
Aletha hanya tertawa tanpa suara melihat wajah Keenan yang nampak begitu kesal.
“Sudahlah Aa, jangan marah begitu. Nanti kan, bisa dicoba lagi.” Aletha tidak mau jika Keenan merajuk seperti itu, sehingga ia merayu agar Keenan tidak marah lagi.
Keenan mengangguk dan menyunggingkan senyum. Tidak lama kemudian Bagas Kara dan keluarga datang. Aletha dan Keenan pun menyambut kedatangan mereka semua dengan senyuman hangat.
Aletha membuka menyalami Bagas Kara dan Mama Nina, lalu membuka tirai yang berada di samping yang menjadi pembatas antara ruangan Keenan dengan ruangan Garda.
Setelah tahu jika Keenan dan Garda sudah sadar, Bagas Kara menghampiri mereka secara bergantian.
Keenan segera mengganti posisinya dengan sedikit duduk saat Bagas Kara lebih dulu menghampirinya.
“Lapor! Komandan. Saya Kapten Keenan berhasil menyelesaikan misi...”
“Lupakan misi untuk beberapa hari ke depan, Keenan. Saat ini kamu dan Garda hanya menjadi menantuku, bukan pasukan berani mati. Mengerti?” sela Bagas Kara.
“Mengerti! Pak.”
“Papa... Keenannnn. Ingat... ME... NAN... TU.”
“Iya, Pa. Siap!”
Setelah menghampiri Keenan lalu dilanjut menghampiri Garda. Hal sama dilakukan oleh Bagas Kara terhadap Garda, tidak ada yang akan dibeda-bedakan bahkan sama Juan pun berperilaku sama.
Setelah obrolan ringan menemani mereka dengan sejenak, kini dilanjut dengan acara sarapan bersama. Ketika Bian dan Bayu mendengar acara makan-makan seketika mereka segera keluar dari kamar mandi.
Dasar nih Bian dan Bayu, maunya kalau makan gratisan.
“Tok... tok... Permisi!” ucap Ilham.
“Kak Ilham, masuk kak! Ada apa?”
“Al, nanti kita jam sembilan pagi ada jadwal operasi. Cuma itu yang ingin aku sampaikan ke kamu. Soalnya kamu tidak ada diruangan tadi, jadi... aku langsung kemari.”
“Nak Ilham, ikut sarapan dulu yuk!” ajak Mama Nina.
Berhubung Mama Nina membawa banyak makanan, Ilham pun ikut ditawarkan. Dan Ilham merasa tidak enak hati jika menolak ajakan Mama Nina. Sehingga terciptalah suasana ramai yang berada di dalam ruangan Keenan dan Garda.
“Aa sarapannya mau yang dibawa sama Mama atau... yang ada di rumah sakit?”
“Emm... yang dibawa sama Mama juga boleh, kelihatannya enak juga.” Keenan pun tersenyum.
“Baiklah!”
Aletha berjalan mengambil piring yang diisi nasi dan lauknya ayam goreng. Lalu, Aletha menyuapi Keenan dengan hati yang sabar. Bahkan Aletha maupun Keenan tidak perduli jika ada banyak orang yang akan melihat keromantisan mereka.
Semua mengambil makanan sendiri-sendiri, begitu juga dengan ilham yang mengambil piring dan nasi. Dan saat hendak mengambil nasi tanpa disengaja insiden kecil telah terjadi.
Deg...
‘Jantungku mengapa tidak karuan seperti ini? Apa... aku jatuh cinta? Ah tidak, masa iya aku semudah itu jatuh cinta.’ Ilham mencoba untuk kembali memfokuskan jalan pikirannya.
‘Ya ampun, Naina. Kenapa hatiku seperti ini? Ok fine, aku akui Dokter Ilham memang keren, tampan, berkulit sawo matang khas Indonesia dan juga... berkharisma. Tapi kamu harus ingat Naina, Dia duda.’ Naina bermonolog dalam hati.
Sejenak Ilham dan Naina saling tatap saat kedua tangan mereka tanpa sengaja saling berpegangan. Bahkan tatapan mereka mengunci satu sama lain.
“Dia... manis, cantik dan membuat hatiku meleyot. Hingga aku jatuh hati pada pandangan pertama. Oh Tuhan, ijinkanlah aku memilikinya.”
Ilham mengakui jika ia merasakan debaran yang berbeda terhadap Naina pada pandangan pertama. Namun ia sadar diri jika dirinya merasa tidak pantas untuk mendapatkan Naina yang cantik, berjiwa muda dan juga menarik hati Ilham.
Dengan segera Ilham menepis rasa sukanya itu terhadap Naina. Hal sama juga dilakukan oleh Naina, sama-sama menepis rasa suka, tanpa ada yang tahu bagaimana betul perasaan mereka masing-masing.
__ADS_1
Bersambung...