
“Dasar-dasar attitude yang baik itu meliputi... Saat membutuhkan bantuan jangan lupa untuk meminta tolong, setelah sudah dibantu jangan lupa berterimakasih, dan ... Jika melakukan sebuah kesalahan, jangan lupa untuk mengucapkan maaf.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dor... Dor... Dor...
Sebuah tembakan tengah mengudara.
“Lapor! Komandan. Kami telah dikepung anggota KKB. Dan bisa dilihat mereka berjumlah banyak, sedangkan kami hanya berenam. Jika berkenan, kirimkan bantuan segera.”
Dor... Dor... Dor...
Tembakan terus diluncurkan. Dan suara itu begitu memekakkan telinga Aletha, Wilona serta Ilham setelah mendengar suara dari sambungan telepon Bagas Kara.
Deg....
Aletha seketika menekan pedal rem, mobil pun berhenti secara tiba-tiba. Aletha ingin mendengarkan obrolan antara Keenan dengan Bagas Kara selanjutnya.
“Al, itu suara... tembakan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan mereka?” tanya Wilona dengan suara bergetar.
“Al, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku tidak mau Naina dan semuanya terluka.” Ilham mulai mengkhawatirkan kondisi pasukan betani mati terutama Naina.
Aletha terdiam, ia mencoba berpikir sejenak untuk melakukan tindakan tanpa harus memberitahukan kepada Wilona maupun Ilham.
Aletha menyalakan mesin mobilnya dan memutar arah untuk menuju ke markas TNI lagi. Mobil dilakukan dengan kecepatan tinggi, karena Aletha tidak mau jika ia terlambat sampai di tempat Keenan.
‘You jump, i jump. Aa ... Neng akan kesana sekarang.’
“Al, kamu mau kemana? Kenapa kamu memutar arah?”
“Kita kembali ke markas.” Aletha hanya memberikan jawaban yang amat singkat dengan nada tegas.
Saat alat BSM masih terhubung, Aletha hanya mendengarkan suara tembakan yang terus mengudara. Membuat Aletha merasa terhenyak, ada rasa tak nyaman di hatinya.
“Halo, Tara.”
Aletha mencoba untuk menghubungi Tara, setelah terhubung Aletha pun menjelaskan apa yang terjadi dengan pasukan berani mati. Dan tidak lupa pula Aletha meminta Tara untuk menyiapkan beberapa alat medis yang dibutuhkan seorang dokter. Bahkan Aletha meminta surat penugasan kepada Ilham dan Wilona ke Papua agar tidak menaruh curiga para dokter lain.
“Apa kamu bisa melakukannya, Tara?”
“Baiklah! Aku akan berusaha untuk melakukannya. Tapi...bagaimana caranya kalian kesana? Jika melalui penerbangan pesawat akan lama.”
“Jangan khawatirkan akan hal itu, aku bisa mengurusnya.”
Aletha memutuskan panggilannya dengan Tara. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Aletha sampai di markas.
Aletha sedikit berlari saat menuju ke ruangan Bagas Kara. Ilham dan Wilona hanya bisa mengikuti Aletha dari belakang dengan pikiran yang berkecamuk.
“Papa, aku mendengar suara tembakan itu. Apa yang akan Papa lakukan sekarang?”
Aletha menerobos saat Bagas Kara tengah menyiapkan pasukan loreng yang akan segera diberangkatkan ke Papua. Kedatangan Aletha membuat Bagas Kara sejenak menghentikan pengarahan kepada bawahannya. Lalu, Bagas Kara mengarahkan pandangannya dan menatap tajam Aletha.
“Bagaimana bisa kamu mendengarnya?”
“Alat ini.” Aletha menunjukkan alat penyadapan suara. “Apa Papa lupa jika Papa sudah mengenalkan alat ini dan juga mengajarkannya kepadaku?”
Bagas Kara telah dilabuhi oleh putrinya sendiri. Bahkan Aletha lebih cerdik dari apa nyang dipikirkannya. Hal itu membuat Bagas Kara menghela napas panjang, karena ia tidak bisa lagi menipu ataupun melarang Aletha untuk tidak ikut dalam misi rahasia itu.
“Bersiaplah! Pakaianmu sudah Papa siapkan.” Bagas Kara kembali memberikan arahan kepada bawahannya.
Cukup handal dan cukup terlatih pasukan loreng yang akan dikirimkan ke Papua untuk membantu pasukan berani mati.
Aletha mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam, sama seperti saat menyelamatkan Keenan dan Garda tiga bulan lalu.
“Aku... akan datang.” Aletha memakai topi hitamnya.
Pasukan loreng sudah melakukan penerbangan darurat dengan helikopter militer. Dan helikopter kedua akan memberangkatkan Aletha bersama Ilham, Wilona dan Bagas Kara.
“Terimakasih... atas bantuanmu, Tara. Aku.. tidak akan melupakan ini.”
Dalam helikopter itu Aletha tiada hentinya memikirkan Keenan, begitu halnya dengan Ilham dan Wilona. Rasa khawatir terus membuncah dada. Namun mereka tidak bisa melakukan apapun untuk membantu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kita sudah terkepung dan untuk keluar saja kita tidak bisa.” Bian melihat kondisi diluar melalui kamera CCTV yang sudah dipasang saat berjaga-jaga.
Silanya, mereka tidak meneliti kembali apa yang ditangkap kamera CCTV selama beberapa hari, karena mereka terlalu sibuk menghimbau warga agar tidak merasa takut jika anggota KKB melakukan aksi btutalnya. Dan dari kesalahan itu kini pasukan berani mati dalam bahaya.
“Bagaimana ini?” tanya Naina dan Bayu bersamaan.
“Lakukan penembakan untuk terus melawan. Siapkan pistol kalian! Dan kita... akan lompat melalui cendela itu. Tapi jangan turun ke bawah, melainkan naik ke atap.” Keenan melihat cendela yang mudah untuk dilepaskan.
Sebelum mulai bertindak Keenan, Garda, Bian, Bayu, Naina dan Rania saling tatap. Setelah itu mereka sama-sama mengangguk, merasa yakin untuk memulai tindakan perlawanan.
Naina melompat lebih dulu ke atas atap, setelah itu disusul Rania, Bian, Bayu, Garda dan yang terakhir Keenan. Mereka pun berdiri tegak di atas atap dan mengarahkan pistol mereka ke segala arah untuk meluncurkan tembakan.
Dor... Dor... Dor...
Dor... Dor... Dor...
Peluru yang diluncurkan oleh pasukan berani mati ada yang mengenai beberapa anggota KKB. Kebanyakan dari anggota kejahatan itu tumbang di tempat.
Dor... Dor... Dor...
Salah satu anggota KKB membidik Keenan dan peluru itu tepat mengenai kaki Keenan.
“Argghhh.” Keenan meraung kesakitan.
“Kapten,” pekik Garda.
Bayu, Bian, Naina dan Rania seketika menoleh ke belakang setelah mendengar Keenan yang meraung karena terkena luka tembak.
Garda yang masih berada di samping Keenan segera menangkap tubuh Keenan yang hampir jatuh. Dan setelah berhasil tanpa sengaja Keenan melihat cahaya laser yang menuju ke arah Garda.
Dor... Dor... Dor...
Kembali Keenan terluka karena tembak, membuat tubuh Keenan seketika limbung. Namun ia berusaha untuk tetap kuat di depan anggotanya.
“Kapten, bertahanlah! Kita akan membawamu pergi dari sini.” Garda merasa gagal melindungi sahabatnya itu, bahkan keringat dingin mengucur deras di pelipis Garda saat melihat darah terus keluar dari perut Keenan.
__ADS_1
“Ja- jangan pe-pedulikan aku! Letnan Garda, ba-bawa y-yang lainnya ke-keluar dari zo-zona ba-bahaya ini.” Keenan sudah mulai terbata-bata, tubuhnya mulai lemas dan pandangannya mulai kabur.
Bagian ini yang ikin olahraga jantung, deg degan rasanya. Nasib Keenan apakah akan tiada?
Lanjut baca lagi yuk!
Garda menggelengkan kepalanya, ia tidak mau meninggalkan Keenan yang sudah bersahabat lama dengannya jauh Bian, Bayu dan Naina hadir dalam kehidupan mereka, sebelum menjadi pasukan berani mati.
“Aku tidak akan pergi. Ingat, aku akan terluka dan kecewa jika aku gagal menolongmu.”
Keenan tersenyum tipis, dalam hati bersyukur ia memiliki sahabat seperti Garda.
Garda memberikan intruksi kepada Bian, Bayu, Naina dan Rania untuk segera pergi mencari tempat berlindung sementara waktu sampai bantuan dari Bagas Kara datang. Sedangkan Garda akan membantu Keenan turun dari sana dengan arah yang berbeda agar tidak diketahui oleh anggota KKB yang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Helikopter pertama telah mendarat, seketika pasukan loreng menyebar untuk mengatur posisi sesuai intruksi dari Bagas Kara. Dan saat helikopter kedua yang membawa Aletha, Bagas Kara, Wilona dan Ilham masih mengudara di atas mereka melihat dengan amat sangat jelas bagaimana kondisi di bawah, tetapi mereka tidak tahu dimana keberadaan pasukan berani mati.
Boom...
Duuaarr...
Posko itupun meledak dan api telah berkobar membakar seluruh posko itu. Bahkan kobaran itu membuat asap mengepul dengan warna hitam pekat.
Deg...
Seolah jantung Aletha berhenti berdetak, mengingat pasukan berani mati masih berada di dalam posko itu. Akan tetapi ia berusaha untuk menahan gejolak yang ada, menepiskan rasa khawatir yang sempat menyeruak jiwa.
“Bayu,” pekik Wilona.
“Naina,” pekik Ilham.
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Wilona dan Ilham. Mereka merasa tidak sanggup jika mendapati tubuh orang yang mereka cintai yang hancur dan menghitam karena bom yang sudah menghancurkan mereka.
Beberapa kali Wilona menyeka air matanya yang sudah luruh. Ia menahan tangisnya yang membuat tenggorokan nya tercekat dan napasnya tersengal.
“Turunkan kami di tempat itu. Sepertinya kita bisa menggunakan tempat itu untuk mengobati korban nanti.” Bagas Kara menunjuk sebuah tempat yang luas dari sisi kanan posko yang sedikit jauh.
Helikopter pun mendarat di sana, seketika semua turun. Bagas Kara menyambungkan BMS ke seluruh pasukan, termasuk juga saluran Aletha.
“Siapkan alat medis yang bisa digunakan dalam keadaan darurat. Aku mohon... tegapkan tubuh kalian, tegarkan hati kalian dan lakukan tugas kalian sebagai dokter yang handal.” Aletha menepuk pundak Wilona dan Ilham dengan pelan.
Dengan kembali berusaha menegarkan hati dan menegakkan tubuh, Wilona dan Ilham mengangguk, lalu mengeluarkan tandu dan alat medis lainnya dari dalam helikopter. Sedangkan Aletha sudah siap untuk mulai bertindak.
“Apa kamu siap... melihat mereka hancur?” tanya Bagas Kara dengan bergetar.
“Siap. Karena Aletha yakin Allah SWT akan memberikan perlindungan kepada mereka, dan ini... kekuatan hati.” Aletha menyiapkan pistol dalam genggaman tangannya.
Dua pistol kecil dan dua pisau lipat sudah Aletha kantongi dalam saku jaketnya. Setelah utu pasukan loreng, Bagas Kara dan Aletha mulai bertindak melakukan penyerangan setelah pasukan loreng sudah menyebar dan mengepung anggota KKB yang masih berada di sekitar posko.
Anggota KKB tertawa puas melihat posko itu sudah hancur melebur dan hangus menjadi abu hitam. Hingga tanpa sadar keberadaan mereka sudah dikelung oleh pasukan loreng yang sudah terlatih dengan handal.
Dor... Dor... Dor...
Aletha menembakkan pelurunya dan membidik kelima anggita KKB dari sisi belakang. Dan peluru ituoun tepat pada sasaran, hingga kelimanya tumbang di tempat.
“Siapa kamu?”
“Sial! Ternyata kamu malah menantang kami. Cepat! Kalian tembakan peluru kalian ke wanita gila itu.”
‘Aku tidak semudah itu bisa kalian tembak kawan. Kalian yang sudah berbuat kekejaman terhadap warga yang tidak bersalah harus segera dibawa ke tempat yang seharusnya,’ ucap Aletha dalam hati.
Saat anggita KKB yang bersiap untuk menembakkan pelurunya ke arah Aletha, ternyata mereka kalah cepat dengan Aletha.
Dor... Dor... Dor...
Dor... Dor... Dor...
Tiga tumbang dalam seketika, membuat Aletha sangat gemas saat adrenalin nya tengah diuji lagi. Aletha terus mencari celah untuk mendekat ke posko yang sudah terbakar. Dengan tembakan Aletha terus melaju, sesekali ia bersembunyi di balik pohon besar dan semak-semak yang lebat. Dan saat memiliki waktu untuk mulai membalas ia pun tak segan meluncurkan pelurunya ke arah penjahat itu. Bahkan Aletha ingin membasmi semua anggota KKB agar dibawa ke tempat yang seharusnya mereka jadikan tempat tinggal.
‘Dimana kamu Aa? Kenapa Neng tidak melihat keberadaan Aa?’
Aletha terus melaju, di belakang Aletha ada Bagas Kara yang siap memberikan perlindungan terhadap putrinya, meskipun Bagas Kara tahu kamampuan Aletha tidak bisa ditandingi. Namun sayang, Aletha lebih menyukai menjadi dokter ahli bedah jantung daripada masuk ke dunia militer.
‘Itu... bukannya Naina?'
Aletha mendekat ke arah Naina yang masih berdiri di sisi kanan posko yang semakin habis terbakar bersama Rania, Bian dan Bayu.
“Kalian, syukur alhamdulillah jika kalian selamat.” Aletha tersenyum menyapa keempatnya.
“Dokter Aletha,” ucap Bian, Bayu dan Naina secara bersamaan.
“Kak Aletha, kenapa ... Bisa ada disini?”
“Karena satu alasan yang pasti, Rania. Aku... tidak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi, cukup kak Fajar yang menghilang tanpa jejak.”
“Itu sudah sangat menyakiti hatiku, bahkan membuatku trauma. Dan hanya satu lelaki yang mengikis rasa trauma ku yaitu... Aa Keenan. Tanpa aku sadari Dia lah yang mengenalku lebih dari diriku sendiri. Dan aku beruntung mendaptkan suami seperti dirinya.”
Bayangan Keenan menari-nari dalam pelupuk mata Aletha. Tawa, senyum yang manis dan semua perilaku Keenan, membuat Aletha mengulas senyum kecil.
Bayu, Bian, Naina dan Rania saling tatap, mereka tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Aletha jika akan menanyakan keberadaan Keenan ataupun Garda saat itu. Karena keempatnya tidak tahu bagaimana nasib Keenan dan Garda setelah ledakan besar muncul dari dalam posko yang ternyata sudah dipasang bom yang sudah dirakit oleh anggota KKB kelas kakap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Keenan, bertahanlah! Aku akan mencari sesuatu yang bisa mengobati lukamu.” Garda merebahkan tubuh Keenan yang sudah bersimbah darah pada bagian perutnya.
Garda meninggalkan Keenan, dengan mengendap-endap Garda berusaha untuk mencari daun youdium untuk menutup luka tembak di perut dan kaki Keenan.
‘Tunggu! Itu bukannya... Dokter Ilham? Tapi sedang apa disini? Dan... bersama siapa Dia ada disini?' Garda bertanya dalam hati.
Garda mengedatkan pandangannya jika saja ia melihat ada orang lain yang bersama Ilham. Beberapa pasukan loreng yang menjaga Ilham dan Wilona berada di sisi mereka, sehingga hanya pasukan loreng saja yang Garda tangkap.
“Ternyata... Pak Bagas Kara sudah tiba. Tapi... Kenapa bisa Dokter Ilham ikut? Apa... Aletha juga ikut datang kesini?” gumam Garda.
Garda tidak punya waktu lagi untuk mencari keberadaan Aletha, karena yang terpenting saat ini hanyalah keselamatan Keenan yang sudah tidak sadarkan diri.
“Dokter Ilham!” teriak Garda.
Ilham yang merasa namanya dipanggil ia pun segera menoleh ke pusat suara.
__ADS_1
“Selamatkan Kapten Keenan, karena Dia... mengalami luka tembak yang cukup parah.” Terang Garda setelah berada dihadapan Ilham.
Dua orang pasukan loreng yang menjaga Ilham dan Wilona seketika berlari dengan membawa tandu menuju ke tempat Keenan tergeletak. Setelah itu Keenan dipindahkan ke tempat yang cukup bersih, yang bisa untuk melakukan pemeriksaan.
Wilona dan Ilham seketika membelalakkan kedua mata mereka setelah melihat banyak darah yang keluar dari perut Keenan.
“Bagaimana ini, Dokter Ilham?”
“Pertama, Dokter Wilona harus menutup luka tembak di bagian perut dengan kain. Aku akan memanggil Aletha untuk datang kesini.”
Wilona mengangguk, tidak membutuhkan waktu lama untuk Wilona menutup luka tembak Keenan. Wilona sengaja merobek kain bajunya untuk menutup luka itu.
Ilham seketika menghubungi Aletha dengan alat BMS dan setelah terhubung Aletha segera datang ke lokasi. Dan saat Aletha berlari anggita KKB yang tengah sembunyi dibalik pohon besar tak hentinya menembaki langkah kaki Aletha.
Dor... Dor... Dor...
Aletha terus berlari dan tidak mempedulikan lagi bagaimana kakinya akan terkena tembak. Namun keberuntungan masih berpihak pada Aletha, Aletha lolos dari baku tembak yang terjadi. Dan ia pun sampai di lokasi Keenan membutuhkan pertolongan.
“Aa Kenanannnn...” Air mata Aletha luruh dengan begitu deras, bagaikan air sungai yang mengalir.
Tubuh Aletha merosot ke bawah, seolah ada batu besar yang menghantam nya dengan amat sangat keras. Lagi dan lagi Aletha mendapati Keenan terlungkai lemah tak berdaya.
‘Tidak, aku tidak boleh sedih seperti ini. Karena ini tidak ada gunanya sama sekali. Dan aku harus bertindak dengan cepat.’
Aletha segera menyeka air matanya secara kasar, setelah itu Aletha memeriksa dengut nadi dan jantung Keenan yang sudah mulai melemah.
“Ya Allah... berikanlah perlindungan dan keselamatan kepada Aa Keenan.” Sejenak Aletha memejamkan kedua matanya..
Setelah itu Aletha mulai bertindak untuk melakukan CPR untuk memberikan pertolongan pertama bantuan hidup dasar pada orang yang mengalami henti napas.
Dor... Dor... Dor...
Peluru kembali mengincar keberadaan Aletha dan Keenan. Dengan siaga Garda dan pasukan loreng melakukan aksi baku tembak untuk melakukan perlawanan.
“Lakukan tugas kalian sebagai seorang Dokter. Dan mereka... serahkan kepada kami yang wajib memberikan perlawanan dan perlindungan.” Garda menatap tajam Aletha.
Aletha mengangguk, menyerahkan urusan angggota KKB kepada para pasukan loreng. Dan kembali Aletha melakuakn tindakan CPR.
Aletha tidak segan lagi, ia membuka mulut Keenan dan memberikan napas buatan sampai beberapa kali.
“Ayo Aa... bertahanlah! Neng yakin, Aa adalah lelaki terkuat. Aa bisa melawan ini semua dengan mudah.” Aletha terus melakukan CPR.
Karena tidak ada alat kejut jantung Aletha terus melakukan tindakan dengan CPR, hingga membuatnya sedikit merasa lelah. Namun Aletha tidak menyerah begitu saja, hingga ia mendapatkan hasilnya. Napas Keenan mampu dirasakan kembali oleh Aletha, setelah itu Aletha membuka semua kancing baju Keenan.
“Kita lakukan pembedahan sekarang juga.”
“Hah? Jangan gila, Al. Tidak ada alat yang memadai untuk melakukan pembedahan.” Wilona menolak perintah Aletha.
“Kita tidak punya banyak waktu untuk menemukan alat itu atau membawa Aa Keenan ke rumah sakit. Darahnya saja sudah banyak yangbkeluar, Wilona. Jika tidak mau membantuku... silahkan mundur.” Aletha menatap tajam Wilona.
Baru kali ini Wilona mendapati Aletha dengan tatapan yang berbeda.
Dan setelah menatap ke arah Wilona, Aletha beralih menatap Ilham. Karena Ilham sudah pernah melakukan hal itu dengan Aletha, ia pun mengangguk.
Aletha dan Ilham melakukan pembedahan, sebelumnya mereka mengikuti prosedur yang ada saat hendak melakukan pembedahan. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan lateks.
“Suntikan obat bius dan pastikan sudah bereaksi.” Ilham mengangguk.
Wilona masih tidak habis pikir jika Aletha bisa senekat itu. Dan Wilona juga tidak bisa jika hanya diam dan berdiri saja melihat perjuangan Aletha dan Ilham sampai keringat pun bercucuran di pelipis keduanya.
“Aku akan membantu menjadi asisten Dokter, agar pembedahan nya bisa segera selesai.” Wilona segera mencuci tangannya.
Ketiganya adalah dokter handal dan jenius, dengan segera mereka melanjutkan pembedahan di bagian perut, karena yang paling mengeluarkan banyak darah di bagian perut Keenan.
“Alhamdulillah,” ucap Aletha, Ilham dan Wilona bersamaan.
Aletha berhasil mengeluarkan dua peluru yang masuk ke perut Keenan. Setelah itu bagian Wilona menjahit perut Keenan. Sedangkan Aletha kembali melanjutkan tugasnya, mengambil peluru di bagian kaki Keenan.
Setelah selesai semua Aletha segera meminta Pak Agus untuk mengemudikan helikopter menuju ke rumah sakit umum yang ada di Papua.
“Kalian pergi saja! Kami masih bertugas menyelesaikan ini. Dokter Wilona dan Dokter Ilham... kalain tenang saja, Bayu dan Naina adalah prajurit yang handal.” Garda mengangguk pelan, meyakinkan Wilona dan Ilham.
Wilona dan Ilham membalas dengan anggukan pelan, setelah itu masuk ke dalam helikopter dan segera menuju ke rumah sakit.
Setiba di rumah sakit perawat seketika menyambut kedatangan mereka, dengan segera dokter yang bekerja di sift malam membawa brankar ke ruang UGD. Aletha terus menemani Keenan dan ikut mendorong brankar sampai depan pintu UGD, karena Aletha tidak bisa masuk ke dalam.
Aletha, Wilona dan Ilham hanya menunggu di luar. Mereka seperti orang yang tengah merasa rapuh, tetapi berusaha untuk tegar saat masa-masa yang sulit.
“Wilona... Kak Ilham, aku ucapkan terimakasih. Karena... kalian sudah membantu dalam melakukan operasi darurat di sana tadi.” Aletha menyunggingkan senyum.
“Sama-sama, itulah tugas kita sebagai dokter yang diberikan tanggungjawab besar.”
“Al, kamu tidak perlu berterimakasih kepadaku. Aku... Tidak pantas mendapatkan ucapan itu darimu, karena aku sudah...” Wilona menunduk, ia menggantungkan ucapannya.
“Sudah, jangan terlalu merendah seperti itu. Dengarkan aku!”
“Dasar-dasar attitude yang baik itu meliputi... Saat membutuhkan bantuan jangan lupa untuk meminta tolong, setelah sudah dibantu jangan lupa berterimakasih, dan ... Jika melakukan sebuah kesalahan, jangan lupa untuk mengucapkan maaf.”
“Kita sudah bersahabat sangat lama, bahkan sedari kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Kamu... tidak melupakan itu kan, Wilona?”
Wilona menggeleng, lalu ia pun tersenyum tipis. Rasanya malu saja sudah menyamping kan kemampuan Aletha. Namun, tidak ada kata amarah yang ada dalam diri Aletha dan membiarkan yang lalu biarlah berlalu.
Tidak lama kemudian dokter yang menangani Keenan pun keluar bersama perawat yang mendorong brankar Keenan.
“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?”
“Alhamdulillah, baik. Operasi yang sudah dijalankan sangat bagus, sehingga tidak ada keterlambatan yang mengakibatkan pasien terlalu banyak kehabisan darah. Dan sekarang pasien akan kami pindahkan ke ruang inap untuk melakukan perawatan intensif,” papar dokter itu dengan amat jelas.
Aletha, Wilona dan Ilham yang berprofesi sebagai dokter mereka. pun mengerti tanpa harus bertanya apapun lagi. Dan tentunya Aletha memilih ruangan VIP, agar kerabat ataupun sahabat oasukan berani mati bisa bersantai dan sambil istirahat saat menjenguk Keenan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sekarang saatnya untuk kita kembali dengan kemenangan. Jangan lupa mengucapkan rasa syukur karena Allah sudah melancarkan tugas kita bahkan kita sudah dipermudah dalam melakukan misi rahasia ini.”
“Dan kita harus bersiap untuk ke. rumah sakit setelah mereka semua di bawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi dan yang masih hidup akan di bawa ke kantor polisi.”
Bagas Kara memberikan arahan kepada anggota loreng nya. Setelah baku tembak terjadi dengan amat sangat menyeramkan akhirnya seluruh anggota KKB mampu dilumpuhkan tanpa adanya dendam dalam hati mereka. Karena dendam pun akan percuma, hanya akan membawa mereka ke lubang dosa.
Bagas Kara memerintahkan pasukan loreng untuk kembali ke markas Jakarta. Sedangkan Bagas Kara sendiri akan pergi ke rumah sakit bersama Bian, Bayu, Naina dan Rania.
__ADS_1
Bersambung...