
“Aku seperti bayanganmu... dimana pun dan kemana pun kamu pergi aku akan ikut hadir.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah usai makan nasi dengan lauk ular bakar sampai habis, sekarang Keenan memberikan sebatang coklat sebagai pencuci mulut untuk Aletha. Dengan begitu pelan Aletha membuka bungkus coklat batang itu. Dan Yohan hanya menatap keromantisan keduanya.
“Lepaskan tanganku dan pergilah menjauh. Jangan tangisi aku jika aku tiada nanti. Cukup kenanglah aku yang pernah mengisi ruang hidupmu.”
Aletha terus merekam setiap gerakan Keenan, terutama saat Keenan mengatakan hal itu kepadanya yang ditulis dalam bungkus coklat batang.
‘Apa maksud Aa?’ Aletha bertanya dalam hati.
“Tok... Tok...” Suara pintu telah diketuk secara pelan.
Anak buah Yohan melangkah untuk membuka pintu itu. Karena jika itu anggota mereka maka tidak perlu mengetuk pintu, sehingga membuat Yohan penasaran dengan orang yang berada dibalik pintu.
“Kenapa lama sekali Anda membuka pintunya? Saya mau menyiapkan ular bakar yang lezat ini kepada... aku lupa namanya.” Bian nyengir.
“Sudah, lebih baik Anda pergi saja. Makanan itu berikan kepada saya saja.” Ketus anak buah Yohan.
‘Kapten, biarpun aku tidak bisa langsung bertemu dengan Aletha, benda yang kamu titipkan tadi segera sampai di tangannya.’
Bian memberikan senyum termanis agar aktingnya bisa sempurna dan anak buah Yohan bisa percaya kepadanya bahwa ia bukanlah mata-mata yang akan membantu Keenan dan Aletha.
Anak buah Yohan masuk sembari membawa piring yang penuh dengan daging ular bakar. Dan yang menyukai ular bakar akan merasa lezat, tetapi jika orang yang tidak menyukainya maka bisa saja muntah di tempat. Wkwkwk...
[‘Bagaimana keadaan di luar Naina?’]
Bian pun bertanya kepada Naina melalui ponsel yang sudah dipasang ICK - Trackit 26, 3G dan CDMA. Yang akan membantu mereka dalam misi besar kali ini dengan fitur penangkap IMSI atau IMEI dari ponsel bahkan bisa melacak lokasi.
[‘Di luar tidak aman. Aku melihat pasukan mereka bermunculan dari sisi yang berbeda dengan pakaian serba hitam. Mungkin itu seragam mereka yang disesuaikan dengan namanya, The Black.’] balas Naina.
“Gawat, bagaimana ini? Bagaimana jika mereka mengetahui keberadaan kita? Sedangkan kita hanya... berempat. Dan Kapten pasti...” Bian mengusap wajahnya gusar.
[‘Jangan pernah khawatirkan posisiku. Lakukan tugas kalian sesuai yang aku perintahkan tadi. Aku sudah bersiap.’] Pesan Keenan masuk ke saluran mereka.
[‘Jangan gegabah Kapten, pasukan mereka banyak. Jika kita terkepung, maka habislah riwayat kita.'] Suara Naina masuk.
[‘Bukankah ini sudah menjadi tugas kita, kawan. Lebih baik mati dalam perang daripada kita mundur dengan cuma-cuma. Kalian bersiap-siaplah. Jika tidak ingin mati sekarang mundurlah dan aku akan tetap menjalankan misiku.’] Suara Keenan kembali masuk.
Pasukan berani mati yang lainnya mendengarkan sedikit motivasi dari Keenan. Dan apa yang dikatakan Keenan itu adalah keberanannya, tujuan mereka terpilih menjadi pasukan berani mati karena kegigihan, ketangkasan, keberanian dan keahlian mereka dalam setiap bidang.
Setelah mendengarkan ucapan Keenan, mereka semua tetap maju untuk bertempur dalam misi besar kali ini. Dan semua tengah bersiap untuk memulai pertempuran.
“Nih, makanan ular bakar yang kamu sukai.” Anak Buah Yohan memberikan sepiring ular bakar kepada Aletha.
Aletha hanya menatap piring yang penuh dengan daging ular bakar itu. Dan ketika netra tajamnya menatap lekat piring itu, dengan kasat matanya ia melihat sebuah benda yang tidak asing. Namun, tangannya tidak berani untuk mengambil saat mata anak buah Yohan masih terjaga.
“Terima kasih, karena kalian sudah berbaik hati denganku.” Ujar Aletha dengan senyum.
Yohan mengalihkan pandangannya sesaat, begitu juga dengan anak buahnya. Sehingga Aletha bisa segera mengambil pisau lipat yang ditutupi dengan daging ular bakar. Dan tidak lama kemudian Garda siap melakukan tugasnya dalam menyelamatkan Aletha. Sedangkan Keenan melakukan tugasnya saat meminta ijin keluar dari ruangan itu.
“Braak...”
__ADS_1
Keenan memebeikan pukulan yang membuat anak buah Yohan limbung dan tidak sadarkan diri.
“Sekarang, aku akan memulainya.”
“Dorr...”
Keenan mengudarakan tembakannya sebagai tanda untuk memulai penyerangan. Dan Garda mendobrak pintu kamar yang dijadikan tempat penyekapan Aletha.
“Dor...”
“Dor...”
Garda langusng menembak di bagian kepala, karena ia ingin langsung menyingkirkan musuh dan juga tidak ingin melepas pelurunya dengan cuma-cuma. Yohan yang siap sedia dengan pistolnya segera menodongkan ke kepala Aletha untuk mengancam Garda yang tidak melakukan aksinya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan siap melakukan tugasnya, melindungi Ibu Pertiwi dari penjahat yang sudah merusak dunia karena menyelundupkan barang yang tidak halal dan juga membuat anak remaja dan wanita dewasa mengalami kematian yang keji.
“Dorr...”
“Dor...”
“Dor...”
Bian ikut membantu Naina di luar. Dan baku tembak terjadi, sehingga membuat orang-orang itu tumbang saat peluru masuk ke kepala mereka dan bagian tubuh lainnya.
”Bian, bagaimana kita bisa melawan mereka yang semakin banyak begitu?” tanya Naina merasa khawatir.
“Boom...”
Tanpa disadari pasukan The Black telah memperiskan dengan matang pertempuran itu, di mana mereka membawa granat yang siap untuk diledakkan kapan saja.
[‘Kapten, di luar semkain banyak pasukan The Black. Dan mereka membawa banyak granat. Bagaimana ini?’] Suara Naina melapor kepada Keenan.
[‘Kalian bersiap saja untuk masuk ke dalam. Kita bertemu di sana dan melawan mereka bersama-sama.'] Suara Keenan yang memerintah.
Tidak membutuhkan waktu lama lagi bagi Bian dan Naina untuk masuk ke dalam ruangan. Dan mereka bertemu dengan Keenan yang sudah siaga di ruang tengah yang sengaja di desain dengan luas. Setelah bertemu mereka mengatur taktik kembali dengan matang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Jatuhkan senjatamu atau Dia yang akan ku tembak?” Ancam Yohan kepada Garda.
Hati Garda bimbang, ingin ia meluncurkan pelurunya begitu saja. Tapi ia harus menimang perbuatannya itu lagi, karena bisa saja saat ia meluncurkan pelurunya tiba-tiba Yohan ikut meluncurkan peluru ke tubuh Aletha.
”Aku akan melawannya. Dan saat tangannya terhempas maka lakukan penembakan.” Ujar Aletha tanpa suara.
Garda menggelengkan kepalanya, karena ia tidak mau jika kandungan Aletha yang masih sangat kecil bermasalah setelah Aletha melakukan perlawanan.
“Plaak...”
“Joss...”
Aletha melawan Yohan dengan sekuat tenaganya. Meskipun saat itu Aletha memakai gamis, tetapi tidak membuatnya merasa sulit saat melakukan perlawanan kepada Yohan. Dan tangan Yohan pun terhempas begitu saja. Setelah itu, Garda melakukan penembakan. Tetapi dengan pergerakan cepat Yohan ikut meluncurkan pelurunya.
__ADS_1
“Aletha, sembunyi!” Teriak Garda.
Dengan berlari Aletha segera mencari tempat untuk bersembunyi. Dan di balik sebuah tembok Aletha menyandarkan tubuhnya sejenak. Dengan nafas sedikit berburu Aletha mendengar suara baku tembak yang jaraknya cukup dekat. Dan Aletha berusaha mencari pusat suara itu berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Garda berlari sembari sesekali bersembunyi dan melepas pelurunya untuk menghadapi Yohan. Hingga akhirnya Garda bertemu dengan Naina, Bian dan juga Keenan.
“Garda, kenapa kamu disini? Dan Aletha... Dimana Dia?” tanya Keenan sedikit khawatir.
Garda menjelaskan apa yang terjadi saat menolong Aletha. Dan setelah mendengar cerita Garda terlihat dengan jelas rasa khawatir dalam diri Keenan. Akan tetapi, tidak lama kemudian Aletha tiba-tiba saja hadir dengan penuh keberanian. Sosok Aletha yang dulu telah kembali, lemah lembutnya seolah ia tinggalkan sejenak.
“Dorr...”
“Dorr...”
“Dorr...”
Aletha meluncurkan pelurunya tepat di kepala para musuh yang tengah mengepung pasukan berani mati. Dan satu persatu musuh dapat di basmi dengan sekali tembakan oleh Aletha.
“Aku akan ambil pistolmu, lumayan bukan... untuk jaga-jaga.” Aletha tersenyum penuh kemenangan.
Aletha bergabung dengan pasukan berani mati. Saat bertemu dengan Keenan kembali Aletha menatap lekat netra Keenan yang berhasil mengunci netra Aletha sesaat.
“Kenapa Neng kesini? Seharusnya Neg mencari tempat untuk sembunyi atau melarikan...”
Aletha memotong ucapan Keenan.
“Aku seperti bayanganmu... dimana pun dan kemana pun kamu pergi aku akan ikut hadir. You jump I jump. Itu semboyan kita untuk selalu bersama, Aa.”
“Aa tahu Neng, tapi ini bahaya. Dan Aa tidak ingin Neng ataupun anak kita terluka.”
“Dan Neng juga tidak mau hanya tinggal diam saat melihat Aa dalam bahaya. Sudah, kita hadapi bersama... Neng bukanlah wanita yang lemah, ingat itu, Aa.”
Anak buah Yohan semakin banyak, bahkan membuat lasukan berani mati merasa kewalahan untuk menghadapi mereka semua. Baku tembak pun kembali terjadi untuk melumpuhkan musuh yang masih melakukan aksi mereka. Bukan hanya baku tembak saja yang terjadi di tengah hutan itu, melainkan granat beberapa kali di luncurkan untuk mengelabui pasukan berani mati. Namun mereka salah, Kapten selalu bisa membidik musuh dengan tepat sasaran. Begitu pula dengan Aletha, dalam satu pelurunya yang meluncur Aletha mampu melumpuhkan penjahat.
“Boom...”
Granat kembali di lempar secara tiba-tiba saat Keenan hendak meluncurkan pelurunya. Sehingga membuat Keenan terkejut, untung saja ledakan dari granat itu tidak mengenai tubuh Keenan. Dan Keenan kembali mengejar seeta melumpuhkan musuh dengan baku tembak di dalamnya.
“Dorr...”
“Dorr...”
“Dor...”
“Boom...”
Baku tembak masih berlanjut dan sesekali granat kembali dilempar secara tiba-tiba. Membuat pasukan berani mati merasa bingung, bagaimana cara untuk melawan mereka. Sedangkan pasukan berani mati benar-benar merasa lelah. Bahkan peluru yang mangisi ke dalam pistol mereka masing-masing sudah habis.
“Argghh, sial!” umpat Bian. “Kenapa bisa habis disaat yang tidak tepat sih?”
Aletha yang melihat kekesalan Bian seketika ia berusaha untuk berteriak memanggil Bian dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dan dengan segera ia melemparkan pistol yang sudah diisi dengan peluru kepada Bian.
__ADS_1