Lentera Cinta

Lentera Cinta
37. Waktu Yang Tepat


__ADS_3

Suasana perusahan pagi ini terlihat normal dan tenang, setenang Ayunda yang menyelesaikan tugasnya walau terkadang terganggu dengan sakit kepala yang sering menyerangnya.


Sudah dua minggu ini Ayunda tidak bertemu Nathan yang sedang berkujung ke kantor cabang Adhipramana Group yang ada di seluruh kota di negeri ini. Ada sedikit rasa rindu yang dirasakan Ayunda pada bosnya itu, walau Nathan pernah beberapa kali menghubunginya.


Ingatannya kembali dimalam pertama Nathan menyatakan cintanya, dia sudah mencoba memejamkan matanya saat itu untuk cepat tidur, tapi tetap saja sulit. Kejadian saat Nathan mengantarnya pulang setelah makan malam dua bulan yang lalu membuat Ayunda mengutuki dirinya sendiri.


"Memalukan" kesal Ayunda menyesali yang membiarkan Nathan menciumnya lagi, ciuman mereka lebih panas dari sore tadi saat Nathan mengatakan cinta padanya. Dan lebih menyebalkan lagi untuk Ayunda kalau ciuman itu dianggap Natahan merupakan jawaban dari Ayunda.


"Tidur Nda... tidur" Alisa merasa terganggu dengan gerakan yang dilakukan Ayunda.


"Tidak bisa"


"Kamu bisa minta cium lagi besok kalau tadi belum puas" ledek Alisa yang membuat Ayunda semakin kesal.


"Sa..." bentak Ayunda.


"Maaf kalau aku tadi menganggu. Aku tidak tahu kalau kalian sedang hot-hotnya" bukan berhenti Alisa semakin meledek Ayunda.


"Cih... seperti kamu tidak melakukannya saja dengan Pak El" balas Ayunda membuat wajah Alisa memerah.


"Aku melihatmu Alisa.... jangan kamu pikir aku tidak tahu walau kamu tidak memberitahuku"


"Ini baguskan Nda. Kamu dan big bos, aku dan asistenya. Kapan-kapan kita double date" Alisa menarik turunkan alisnya menggoda Ayunda.


"Ishhh" Ayunda tidak menyukai usulan Alisa.


"Ada apa lagi? Apa kamu masih ragu dengan Pak Nathan" Ayunda hanya diam menanggapi pertanyaan Alisa.


"Lupakan Kevin, Pak Nathan sangat mencintaimu. Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggumu Nda"


"Cobalah membuka hatimu untuknya, kamu berhak untuk bahagia dan itu dengan laki-laki yang benar-benar mencintaimu"


"Sekarang tidur dan mimpi yang indah" Alisa kembali memejamkan matanya.


Percakapannya dengan Alisa malam itu yang membuatnya sampai saat ini masih berada di sisi Nathan, namun sejak dia tahu sakit yang dideritanya bisa menyebabkan kematian membuat Ayunda ragu untuk menerima cinta Nathan.


"Hei... ngelamunin apa sih?" suara Alisa mengejutkan Ayunda.


"Baru juga ditinggal dua minggu udah bengong aja, bibirnya udah kering ya bu bos" ledek Alisa.

__ADS_1


"Nih basahin pake air" Alisa terkekeh, senang menggoda Ayunda.


"Aku ragu Sa, aku tidak bisa menerima cintanya dengan keadaanku seperti ini" Ayunda menatap Alisa.


"Hari ini aku ada jadwal kontrol dengan dokter Sam, kamu bisa menemani aku kan Lis?" matanya memohon pada Alisa.


"Dokter Erick sudah mendaftarkan namaku hari ini, jadi siang ini aku bisa langsung menemui dokter Sam, tidak perlu menunggu lama di ruang tunggu "


"Iya, aku akan menemanimu, sabar ya Nda, dokter Erik bilang masih banyak kemungkinan untuk sembuh"


"Aku takut Lis, apa aku bisa bertahan setelah opersai? Bagaimana dengan mama kalau terjadi sesuatu denganku? "


Satu bulan yang lalu Ayunda melakukan MRI setelah dia bertemu dan konsultasi dengan dokter Samudra ahli ongkologi, sesuai saran dari dokter Erick setelah dia merasakan terlalu sering pusing muntah dan penglihatannya yang terkadang kabur dan gelap seketika.


Hasil pemeriksaanya ternyata ada tumor di otaknya, hanya Alisa dan dokter Erick yang tahu masalah ini, Ayunda belum berani memberi tahu Mama Mira. Karena itulah hanya Alisa dan dokter Erick yang menemaninya untuk kontrol dan konsultasi.


"Semua akan baik-baik saja, sebaiknya kamu segera memberitahu Mama dan Nathan, Nda"


Ayunda menggangguk setuju "Rencananya aku akan memberitahu mama setelah nanti dapat jadwal operasi"


"Tapi tidak untuk Nathan Lis, dia bukan siapa-siapa aku"


Ayunda menggelengkan kepalanya "Dia memang mengatakankan cintanya, tapi aku belum pernah memberi jawaban sampai saat ini Lis" Ayunda menjelaskan hubungan sebenarnya dengan Nathan.


"Lalu ciuman itu?" tanya Alisa.


"Itu hanya sebuah ciuman Lis, bukan apa-apa. Itu juga karena dia yang memulai"


"Tapi kamu membalas ciuman itu Nda, itu berarti kamu juga punya perasaan yang sama dengannya, hanya saja kamu tidak ingin mengakuinya"


"Aku tidak bisa membebaninya dengan sakitku, banyak wanita lain yang lebih pantas untuknya"


"Ayunda..."


"Kita berangkat sekarang Lis" potong Ayunda ucapan Lisa.


"Baiklah, terserah padamu, sebagai sahabat aku menginginkan yang terbaik untukmu dan kebahagiaanmu" Alisa pergi terlebih dahulu meninggalkan ayunda.


Ayunda terdiam mendengar ucapan Alisa, dia memejamkan matanya dan menangkup wajahnya. Alisa tidak salah, sudah tumbuh rasa suka didiri Ayunda pada sosok Nathan. Dua bulan lebih mereka bersama, tidak pernah sekalipun Nathan menyakitinya, perlakuan hagat dan kasih sayanglah yang dia dapatkan.

__ADS_1


Kini Ayunda dan Lisa sudah berada di rumah sakit khusus kanker tempat dokter Sam praktek.


"Kalian sudah sampai?" suara berwibawa yang sangat dikenal Ayunda dan Alisa.


"Kak Erick... bukanya jam segini kakak masih ada pasien?" tanya Ayunda setelah mendengar sapaan dokter Erick.


Sejak Erick menemani Ayunda konsultasi dengan dokter Sam, hubungan mereka semakin dekat dan akrab, karena itu Ayunda memanggil Erick dengan panggilan kakak.


"Hari ini tidak begitu banyak pasien, jadi saya putuskan untuk menemani kamu" jawab Erick dengan senyumnya yang membuat banyak wanita jatuh cinta.


"Dok, jangan senyum seperti itu, saya bisa terbang" goda Alisa yang terpana melihat senyum menawan milik Erick.


Ayunda menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alisa. "Aku bilangin Pak El lho... kalau kamu masih suka menggoda cowok lain" membuat Alisa diam.


"Jangan dong Ayunda sayang aku" Alisa merayu Ayunda sambil memeluk lengan sahabatnya, sedangkan sekarang dokter Erick yang geleng-geleng kepala melihat kelakuan Alisa.


"Ibu Ayunda Tiara" suster memanggil nama Ayunda untuk masuk ke ruang dokter Sam.


Erick yang menemani Ayunda kedalam ruangan praktek dokter Sam, sementara Alisa menunggu di luar. Alisa merasa Erick lebih pantas mendampingi Ayunda, karena dia seorang dokter, dia pasti bisa memberikan masukan yang baik untuk Ayunda dan Erick juga kenal baik dengan dokter Sam.


"Semakin cepat melakukan operasi semakin baik" ucap dokter Sam setelah mendengar keluhan yang bertambah dari Ayunda selama dua minggu ini.


"Ini ada darah yang sudah keluar, kalau dibiarkan akan semakin melebar kemana-mana" jelas dokter Sam.


"Bagaimana? Siap melakukan operasi?" tanyanya.


"Minggu depan kita bisa operasi kalau sudah siap" Ayunda cukup terkejut dengan waktu satu minggu yang diberikan dokter Sam, dia belum memberitahu mamanya.


"Tidak perlu takut ada dokter Erick yang selalu menemanimu. Bukan begitu dok?" Erick hanya tersenyum mendengar ucapan dokter Sam, dia tahu dokter itu menggodanya dan Ayunda.


"Minggu depan ya" pinta Erick sambil mengenggam tangan Ayunda, mencoba menenangkan dan memberi semangat.


"Mama belum tahu kak" jawab Ayunda pelan.


"Kakak yang akan bicara dengan Mama" Erick meyakinkan Ayunda


Ayunda menggangguk setuju, apapun hasilnya dia harus siap. Ini juga waktu yang tepat, Nathan sedang diluar kota dan dia tidak ingin Nathan melihatnya dalam keadan sakit saat operasi nanti.


"Kalau siap bisa daftar didepan, dokter Erick sudah paham aturannya" Erick mengangguk mengerti ycapan dokter Sam.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2