Lentera Cinta

Lentera Cinta
42. Masa Lalu


__ADS_3

Erick menatap sedih pada wajah Ayunda yang pucat, matanya sembab terlalu banyak menangis. Dia langsung menyelesaikan tugasnya dan pergi begitu saja dari ruang prakteknya, saat Alisa mengabarkan kondisi Ayunda. Untung saja tersisa satu pasien yang menunggu gilirannya untuk diperiksa.


Sepanjang jalan Erick tidak bisa tenang, Alisa mengabari Ayunda terus menangis dan kembali menceritakan kisahnya saat koma. Begitu sampai kamar rawat inap, dia melihat Ayunda dengan kondisi yang sangat kacau.


Erick terpaksa menyuntikkan obat penenang pada Ayunda setelah berkonsultasi dengan dokter Sam. Ayunda saat ini depresi dan itu bisa merusak kejiwaanya, sebagai orang yang mencintai Ayunda tentu saja dia tidak menginginkan itu terjadi.


"Tiara..." Erick memanggil nama Ayunda dengan lirih.


"Semua akan baik-baik saja, percayalah. Jangan sakiti dirimu sendiri, jangan pernah berpikir untuk kembali masuk kedalam duniamu sendiri" tangannya mengelus rambut Ayunda untuk memberikan ketenangan.


"Ayunda Tiara bukan seorang pengecut yang lari dari kenyataan, Ayunda Tiara seorang yang pemberani, kuat dan pintar"


Erick terus mensugesti Ayunda dengan hal yang baik-baik, dia dapat melihat airmata yang keluar dari sela-sela mata yang tertutup, Ayunda mendengar ucapannya. Ya, seperti biasa gadis itu akan selalu mendengar nasehatnya.


"Kamu pasti sembuh Tiara, yakinlah" Erick mengecup kening Ayunda dengan penuh sayang.


Alisa yang menyaksikan itu sangat yakin kalau dokter muda itu sangat menyayangi Ayunda, bukan sebagai seorang dokter tapi sebagai seorang pria.


"Apa Ayunda akan baik-baik saja dok?" tanya Alisa, dia sangat khawatir tadi. Dia menghubungi Erick karena dokter itulah satu-satunya orang yang tahu kondisi Ayunda.


"Berdoa saja untuk itu, dan semoga besok operasinya berjalan lancar"


Alisa hanya menggangguki ucapan Erick, sekarang dia yang duduk disamping Ayunda, menatap wajah pucat sahabatnya.


"Banyak orang yang menyayangimu Ayunda, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan kami" Alisa hanya bisa bicara dalam hatinya sambil menatap sedih. Ingatannya kembali saat pertama bertemu Ayunda, gadis yang periang, pintar dan senang berteman dengan siapapun.


Saat itu hari pertama mereka sekolah dan sedang berbaris dilapangan untuk mengikuti masa orientasi dan pengenalan lingkungan sekolah.


Ayunda yang ramah berdiri disamping Alisa dan mengajaknya berkenalan.


"Hai, aku Ayunda" Ayunda mengulurkan tangannya. "kamu?"

__ADS_1


"Alisa" Alisa membalas uluran tangan Ayunda.


Setelah itu mereka sering bersama, walau Ayunda sering bersama teman yang lain tapi dia tetap mengajak Alisa ikut dengannya. Alisa dulu remaja yang sulit berteman, tidak suka dengan keramaian.


Ayundalah teman pertama yang bertahan dengannya, selalu mengajak Alisa kegiatan apapun yang dilakukan Ayunda. Seiring waktu Alisa mulai membuka diri dan ikut berteman dengan teman-teman Ayunda yang lain.


Kebersamaan mereka membuat keduanya saling mengerti sifat dan kebiasaan masing-masing. Ayunda dengan segala kemewahan yang diberikan Papa Richad tidak membuatnya jadi gadis yang sombong dan pemalas, dia lebih suka membeli sesuatu sesuai kebutuhan dan mengerjakan semuanya sendiri.


Berbanding jauh dengan Alisa yang sengaja memanfaatkan segala kemewahan yang dimiliki papanya dengan bermalas-malasan dan menyendiri. Karena itu dia sulit berteman, semua karena rasa kecewa yang ada didirinya, keluarga yang berantakan yang membuatnya malu untuk mencari teman diluar sana.


Kepergian Papa Richad membuat kehidupan Ayunda berubah, dia kehilangan kasih sayang papanya dan juga harus kehilangan hasil kerja keras papanya.


Perusahaan Papa Richad direbut oleh pamannya, walau bukan perusahaan besar tapi hasil laba perusahaan sangat besar. Setiap tahun terus meningkat, Ayunda sangat bangga dengan pencapaian papanya.


Sekarang dia kehilangan semua itu, pamannya tidak memberikan hasil pendapatan perusahaan sedikitpun untuk Ayunda dan Mama Mira. Pamannya telah merubah semua dokumen-dokumen perusahaan atas namanya, sehingga tidak ada hak yang tertulis untuk Ayunda dan Mama Mira.


Kehilangan perusahaan hasil kerjakeras papanya tidak membut Ayunda terpuruk, walau dia merasakan sakit dikhianati oleh pamannya sendiri, tapi dia merelakannya, harta tidak selalu menjadi dasar untuk mendapatkan kebahagiaan. Pikiran itulah yang membuat Ayunda kuat.


Sedangkan untuk biaya sekolah Ayunda mengajukan beasiswa. Tidak sulit bagi Ayunda untuk mendapatkan beasiswa, karena dia memang siswi yang berprestasi dengan kepintaran diatas rata-rata dan selalu menjadi juara umum setiap semester di sekolahnya, selalu mewakili sekolah untuk setiap perlombaan yang membuatnya bertemu dengan Kevin.


"Akhhh, laki-laki itu menghancurkan hidup Ayunda" kesal Alisa berucap cukup keras.


"Siapa yang kamu maksud?" Erick menanggapi ucapan Alisa yang terlihat sangat kesal, matanya membulat dan wajahnya memerah menahan amarah.


"Kevin. Siapa lagi?" dengus Alisa.


"Harusnya dia bisa bicara baik-baik dengan Ayunda, cari cara yang baik, dan putuskan bersama. Bukan dengan cara pura-pura menghianatinya seperti itu yang mengakibatkan Ayunda mengalami kecelakan" jelas Alisa tetap dengan matanya yang membulat.


Erick tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat wajah Alisa. "Kenapa kamu jadi marah sama saya?" tanyanya.


"Ya... karena dokter temanya Kevin" ucap Alisa asal tanpa dia melihat wajah Erick yang terkejut.

__ADS_1


Baik Ayunda, Alisa dan Mama Mira tidak ada yang tahu kalau Erick bersahabat degangan Kevin, dia menjaga rahasia ini agar tidak mengalami hal yang sekarang dilakukan Alisa, kebencian pada Kevin dilimpahkan padanya.


"Dimana bos besar kalian?" tanya Erick mengalihkan percakapan mereka.


"Sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikan" jawab Alisa singkat yang mendapatkan balasan oh dari Erick.


"Dok" panggil Alisa pelan, dia menatap wajah Erick. Alisa ingin melihat wajah Erick saat menjawab pertanyaanya.


Erick melihat kearah Alisa "Iya, ada apa?" tanyanya saat melihat Alisa menatapnya seakan ingin menguliti wajahnya yang putih bersih.


"Dokter mencintai Ayunda?"


Wajah Erick memerah mendengar pertanyaan Alisa, benar saja, wanita dihadapannya ini sedang mencoba mencari tahu tentang dirinya.


"Menurut kamu?" Erick tidak ingin menjawab pertanyaan Alisa yang bisa membuatnya malu.


"Dokter mencintai Ayunda" dengan yakin Alisa menjawab pertanyaannya sendiri.


Erick tidak pecaya Alisa bisa tahu isi hatinya "Apa terlihat seperti itu?" tanyanya.


Alisa tertawa sendiri "Dokter Erick yang terhormat, jangankan saya, semut yang kecil sekalipun bisa tahu dengan melihat sikap dan cara dokter merawat Ayunda"


Erick tersenyum malu, melihat itu Alisa semakin ingin menggoda dokter tampan itu, tapi dia mengurungkan niatnya, dia tidak ingin terlihat tidak sopan.


"Tidak perlu malu dok, tidak ada satupun yang bisa melarang orang untuk menjatuhkan hatinya pada siapa? Semua datang dengan sendirinya"


Erick tersenyum, membenarkan apa yang dikatakan Alisa, srnua datang dengan sendirinya dan juga sulit mengusirnya pergi.


"Sejak kapan dok?"


Pertanyaan Alisa membuat wajah Erick menegang, tidak mungkinkan dia jawab sejak lima tahun yang lalu. Apa yang nanti dipikirkan wanita dihadapannya ini.

__ADS_1


...******...


__ADS_2