Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 126 “Trust a Promise”


__ADS_3

“Tidak baik jika menanamkan rasa benci dan dendam, karena itu hanya akan menimbulkan penyakit ... hati. Dan muslim dilarang untuk memiliki dua rasa itu, karena jika itu terjadi tanpa ada sebab yang mengawali, sesungguhnya Allah SWT justru telah meninggalkan derajat kita.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha menidurkan Alina setelah usai melakukan makan malam bersama dengan bu Laila. Dan tidak lama kemudian akhirnya Alina tertidur dengan begitu pulas. Kembali bayangan Keenan menari-nari di pelupuk matanya.


‘Ya Allah... kenapa hatiku benar-benar tidak tenang? Sebenarnya apa yang terjadi?’


Aletha meraih ponselnya yang berada di atas nakas, lalu mencari nama Keenan di dalam buku kontak untuk menghubungi Keenan malam itu juga.


“Tut... Tut... Tut...”


Beberapa kali Aletha mencoba menghubungi Keenan, tetapi tida terhubung. Kembali rasa gelisah yang bercampur aduk beradu menjadi satu di dalam hati. Ingin rasanya mencari tahu keberadaan Keenan saat itu juga, tetapi ia menyadari ada harta berharganya yang memang perlu untuk dijaga.


Alina tat kalau harta benda Aletha dan Keenan yang patut untuk dijaga, karena kehadiran Alina membuat hubungan Keenan dan Aletha semakin erat. Dan kehadiran sangat buah hati adalah sebuah momen yang dinanti oleh pasangan suami-istri.


“Tidak, aku tidak boleh gegabah dalam. mengambil keputusan. Kabupaten Yahukimo adalah tempat yang meresahkan warga di sana, karena aku tahu masih banyak korban jiwa dan benda di sana.” Aletha berjalan mondar-mandir sembari memikirkan bagaimana cara untuk mengetahui keadaan Keenan di sana.


“Haruskah aku menghubungi Papa? Ah tidak, jika Papa tahu aku merasa sekhawatir ini terhadap Keenan, mungkin saja... beliau akan marah dan menganggap jika aku adalah seorang wanita yang tidak bisa menjaga sebuah kepercayaan.”


Apa yang dikatakan Aletha selalu bertentangan dengan hatinya. Sehingga membuat Aletha semanin dilanda kebingungan. Hingga akhirnya Aletha memutuskan untuk menghadap Allah SWT dengan menunaikan shalat isya' dan mencurahkan segalanya kepada Sang Pencipta.


Sebelum menunaikan sholat empat rakaat itu, sejenak Aletha menatap wajah mungil Alina yang lucu. Dan membuat Aletha menarik dua ujung bibirnya sehingga tercipta senyuman yang sempurna.


“Bismillahirrahmanirrahim...”


Aletha menjalankan sholat dengan se_khusu' mungkin. Dalam sujud terakhir Aletha selalu membacakan tiga doa yang pernah Keenan ajarkan saat sholat bersama. Hingga Aletha pun menghafalkannya dengan fasih.


Setelah mengadu kepada Sang Pencipta Aletha merebahkan tubuhnya lalu memposisikan tubuhnya agar nyaman, memeluk Alina adalah hal yang tepat bagi Aletha malam itu.


“Huaamm, ternyata sudah subuh. Sholat dulu terus lanjut masak di dapur.” Aletha beranjak dari atas ranjangnya dan meninggalkan Alina sendiri di atas kasur karena masih tidur.


Sajadah kembali Aletha bentangkan untuk menunaikan sholat dua rakaat menjelang senja pagi. Setelah usai sholat Aletha menuju ke dapur untuk memasak.


“Bu Laila...” pekik Aletha.


“Nak Aletha, sudah bangun toh?”


“Bu Laila buat apa? Kan, Aletha belum belanja apapun.”


“Hanya ala kadarnya saja Nak, nasi goreng. Ibu... merasa rindu saja sama Fajar, karena nasi goreng makanan kesukaan Fajar.” Binar mata Bu Laila seketika berubah menjadi sendu.


“Oh...”


Aletha hanya berkata oh yang berkepanjangan. Lalu melangkah dan mendekat untuk melihat Bu Laila yang tengah mengaduk nasi di atas wajan. Perlahan tangan Aletha merengkuh pundak Bu Laila untuk menguatkan hati yang merindu tanpa bisa bertemu.


“Bu, jangan seperti ini! Jika kak Fajar tahu pasti Dia akan sedih. Ibu tidak mau kan, melihat kak Fajar bersedih?”


“Tidak, Nak.” Bu Laila menggeleng.


“Ya sudah, Aletha bantu ya!”


“Tidak usah Nak, lebih baik kamu temani saja Alina. Anak kecil tidak boleh ditinggal sendirian seperti itu,”


Nasehat yang diberikan Bu Laila telah diterima oleh Aletha, sehingga Aletha menurut saja ketika Bu Laila memintanya untuk kembali ke kamar dan menemani Alina. Tidak lama kemudian Alina memgerjapkan mata, menggeliat dan menyapu setiap sudut ruangan yang mungkin saja asing baginya.


“Eh, sudah bangun anak Bunda.” Aletha tersenyum, lalu menghampiri Alina.


“Cudah Bunda, Alina juga mau ikut macak sama Bunda dan Nenek Laila.” Celoteh Aletha menitukan suara anak kecil yang masih belum jelas cara bicaranya.


Aktifitas pertama dimulai oleh Aletha, memandikan Alina dan memakaikan baju yang cantik dengan wewangian sebagai pelengkap kecantikan Alina. Setelah usai, giliran Aletha yang melakukan ritual di kamar mandi saat Alina sudah berada di dalam gendongan Bu Laila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bagaimana kita melapor kepada Komandan Bagas Kara jika... mereka telah gugur?”


“Laporkan saja sesuai dengan apa yang kalian lihat. Ini... resiko tugas seorang tentara yang rela mengabdikan diri untuk ibu pertiwi.”


Siang itu tidak ada yang tahu antara hidup atau tidak lagi bernyawa kedua pasukan berani mati yang ditugaskan di Yahukimo. Karena kejadian itu begitu secara tiba-tiba, serangan diluar dugaan telah dilakukan oleh pasukan KKB yang bergabung dengan anggota Egianus untuk menyerang di saat kericuhan peperangan antar suku masih terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Prakkkcchhh...”


Anggap saja itu suara gelas kaca yang jatuh dan pecah berkeping-keping.


“Kenapa aku merasa khawatir dan gelisah seperti ini?” tanya Laura dalam hati.


Saat hendak mengambil air minum yang tersedia di atas meja kamarnya Laura tanpa sengaja menjatuhkan gelas itu hingga pecah. Dan Mama Nina yang mendengar pun seketika menuju ke kamar Laura untuk memastikan apa yang terjadi.


“Laura, apa yang terjadi di dalam? Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Mama Nina dengan kecemasan tersendiri.


“E... tidak kok, Mama Nina. Laura baik-baik saja,” teriak Laura dari dalam kamarnya.


Ravva yang sudah bangun dan mandi seketika membukakan pintu kamar yang memang tidak kunci oleh Laura. Sehingga Mama Nina tahu betul bagaimana gelas itu jatuh dan tidak berbentuk sempurna lagi.

__ADS_1


“Argghhh...” Laura merintih kesakitan ketika pecahan gelas itu mengenai jarinya.


“Laura,” pekik Mama Nina.


Mama Nina segera membantu Laura untuk membersihkan pecahan gelas yang masih berserakan di lantai, karena Mama Nina tidak mau jika pecahan itu melukai Ravva. Dan setelah membersihkan pecahan gelas itu Mama Nina mengambil kotak P3K untuk mengobati jari Laura yang terluka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bismillahirrahmanirrahim...”


Aletha membaca doa sebelum makan sembari mengangkat kedua tangannya, lalu diamini oleh Bu Laila setelah Aletha usai membaca doa tersebut. Dan setelah itu Aletha sarapan bersama dengan Bu Laila.


“Tring... Tring...”


Ponsel Aletha yang berada di atas meja makan tiba-tiba berdering, panggilan masuk dari rumah sakit telah masuk ke nomor Aletha. Dan dengan segera Aletha menerima panggilan itu.


“Assalamu'alaikum, Dokter Aletha.”


“Wa'alaikumsalam, ada apa, Sus?”


“Maaf jika saya mengganggu Anda sepagi ini, tapi ini darurat...”


Perawat tengah mengabarkan kondisi korban yang tengah mengalamikerusakan jantung, sehingga detak jantung korban melemah dan segera harus ditindak lanjuti.


Aletha pun mengatakan kepada perawat tersebut jika ia akan segera pergi ke rumah sakit, dan setelah berpamitan kepada Bu Laila Aletha siap melajukan mobil ferari nya dengan kecepatan tinggi. Karena kondisi korban kecelakaan yang mengalami kerusakan jantung benar-benar mengkhawatirkan.


“Semoga saja tidak terlambat. Aa... doakan Neng agar bisa menyelamatkan jantung pasien lagi. Aa... Neng rindu.” Aletha mengukir senyuman di bibirnya.


Aletha akhirnya sampai juga di rumah sakit, setiba di sana ia segera menuju ke ruangannya untuk sekedar menggantungkan snelinya dan meletakkan tas yang selalu dibawanya. Setelah itu ia segera menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian operasi. Karena Ilham sudah menghibunginya lima menit lalu sebelum ia sampai di rumah sakit.


“Bagaimana, Dokter Ilham?” tanya Aletha selayaknya dokter yang bekerja secara profesional.


Semenjak satu minggu kepergian Maya Ilham selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir, sedangkan jadwal sift nya pun berbeda. Karena bagi Ilham dengan cara seperti itu dirinya bisa melupakan kesedihannya.


“Jantungnya mengalami kerusakan karena tertekan saat kecelakaan itu berlangsung dan kita harus segera melakukan transplantasi jantung.” Papar Ilham yang sudah melakukan CT scan terhadap jantung korban.


“Ya sudah, kita lakukan sekarang.” Aletha mengangguk, menyiapkan diri dengan ketajaman mata dan konsentrasi dalam menjalankan operasi.


Ilham pun ikut mengangguk dan seragam operasi sudah dipakai oleh seluruh anggota tim bedah. Di mulai yang pertama perawat memberikan suntikan bius dosis tinggi kepada pasien. Dan setelah mulai bereaksi barulah giliran Aletha yang bekerja.


“Pisau bedah.” Aletha meminta perawat untuk memgambikkan pisau bedah.


Aletha mulai melakukan pembedahan, keringat pun mulai bercucuran membasahi pelipis mereka semua bahkan seluruh tenaga mereka sudah dikuatkan untuk bekerja dengan sangat hati-hati dan teliti dalam menjalankan operasi jantung yang mengalami apapun.


Dan setelah hampir tiga jam lamanya mereka berdiri akhirnya mereka mampu bernafas lega setelah operasi berjalan dengan lancar.


Aletha mencuci tangannya lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia kenakan di awal, celana panjang yang sedikit longgar dan baju hem ala wanita muslim. Tak lupa juga hijab yang selalu menutupi rambut pirangnya.


“Lanjutkan jadwal berikutnya, Sus.”


“Baik, Dok.” Perawat itupun mengangguk, membuka buku data pasien yang harus dilakukan visite pada siang itu.


“Bagaimana?”


“Kita harus melakukan visite terhadap pasien bernama Cinta di ruang Anggrek, Dok.”


“Baiklah, ayo kita mulai saja!” ajak Aletha.


Aletha bergerak cepat yang diikuti perawat itu dari belakang. Setelah itu Aletha mengetuk pelan pintu ruangan Cinta, karena kasus penyakit yang diderita Cinta sedikit berat makan perawatan untuk Cinta sedikit lebih lama dari pasien lainnya.


“Selamat pagi, Cinta. Siang ini saya akan melakukan pemeriksaan ulang kondisi kamu. Semoga sudah cukup baik, sehingga kamu bisa pulang hari ini juga.” Aletha melengkungkan bibirnya dengan sempurna.


“Iya, Dok.” Cinta pun mengangguk, membiarkan stetoskop Aletha menempel di dadanya untuk mendeteksi detak jantungnya.


“Dug... Dug... Dug...”


“Syukurlah, kamu sudah sangat baik hari ini. Jadi, kamu sudah diperbolehkan untuk pulang. Selamat ya Cinta, jangan lupa diminum dengan teratur obatnya. Ya sudah, saya permisi dulu!”


“Tunggu, Dok!”


Cinta mencekal pergelangan tangan Aletha, sehingga Aletha menghentikan langkah yang hendak dimulainya. Laku memutar kembali tubuhnya dan menatap Cinta dengan tatapan penuh tanya.


“Ada apa, Cinta? Apa ada yang membuatmu masih merasa sakit?” tanya Aletha memastikan.


Cinta menggelengkan kepalanya, membuat Aletha menautkan alisnya karena penuh tanya.


“Sebenarnya... saya mau bertanya kepada Dokter. Apa... Dokter Aletha tidak membenci kami? Karena perilaku Daddy yang hampir menyakiti Dokter.”


Aletha sejenak tersenyum tipis.


“Untuk apa saya membenci ataupun dendam dan semacamnya kepada keluarga kamu, Cinta?”


“Tidak baik jika menanamkan rasa benci dan dendam, karena itu hanya akan menimbulkan penyakit ... hati. Dan muslim dilarang untuk memiliki dua rasa itu, karena jika itu terjadi tanpa ada sebab yang mengawali, sesungguhnya Allah SWT justru telah meninggalkan derajat kita.”


“Ya sudah, kalau kamu membutuhkan apapun bisa hubungi saja saya. Arga tahu nomor ponsel saya.”

__ADS_1


Cinta mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Aletha. Langkah pun dilakukan kembali oleh Aletha. Karena jam sudah memasuki jam makan siang maka dari itu Aletha memutuskan untuk memakan nasi goreng buatan Bu Laila yang sudah disiapkan oleh Bu Laila untuknya tadi.


Tempat nasi yang berbentuk kotak itu telah diisi penuh dengan nasi goreng. Sebelum berlanjut untuk makan siang Aletha tidak lupa membaca doa. Setelah itu satu sendok nasi goreng telah masuk dan memenuhi mulut Aletha. Dalam setiap kunyahan Aletha tidak lupa mengucapkan rasa syukur, karena hari itu dan detik itu juga ia masih merasakan kenikmatan tiada tara.


“Aa... kok tak ada kiriman es krim. lagi sih dari Aa. Apa itu tandanya... Aa akan pulang?”


Aletha berharap jika saja Keenan akan segera pulang, tetapi bagi Aletha itu mustahil terjadi karena Keenan masih bertugas selama satu bulan. Sedangkan penugasan masih kurang dua bulan lagi. Namun, doa tidak pernah lepas dari Aletha, karena setiap usai menunaikan ibadah sholat lima waktu Aletha selalu mendoakan keselamatan Keenan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kita tidak bisa tinggal diam. Panggil Bian, Naina dan Bayu. Dan juga kumpulkan anggota mu penembak jitu di lapangan.” Bagas Kara memerintahkan ajudannya dengan begitu tegas.


Bian, Naina dan Bayu pun sudah berdiri dengan tegap di hadapan Bagas Kara. Melakukan penghormatan jika bertemu dengan atasan, lalu menurunkan tangan mereka jika Bagas Kara sudah memerintahkan.


Langsung saja ya dilanjut, karena Bian, Naina dan Bayu diselimuti rasa penasaran sudah dipanggil secara dadakan oleh Bagas Kara.


“Hormat, Komandan! Mohon ijin bertanya, ada apa Komandan meminta kami untuk menghadap Komandan?”


“Saya mengijinkan. Di sini saya akan meminta kalian bertiga untuk terbang sekarang juga ke Papua, Jayapura, lebih tepatnya di Yahukimo.”


“Mohon ijin Komandan, tapi kenapa kita diperintahkan secara dadakan kesana?” tanya Bian.


Bagas Kara menghela nafas panjangnya, ia merasa sesak nafas secara tiba-tiba saat ingin menyampaikan hal buruk sesuai yang dilaporkan pihak anggota Namangkawi.


“Diduga... Kapten Keenan dan Lettu Garda... gugur saat bertugas. Dan saya minta kepada kalian untuk melanjutkan misi. Keberangkatan kalian sudah saya atur siang ini juga bersama pasukan tembak jitu.”


Sontak berita itu mengejutkan Bian, Naina dan Bayu. Karena mereka berlima tidak mudah dipisahkan kecuali tugas yang memang membuat mereka harus berpisah, tetapi paling lama hanya beberapa bulan saja. Dan jika benar Keenan dan Garda dinyatakan gugur maka jelas saja mereka bertiga tidak bisa menerima.


’Keenan... Garda... aku yakin kalian masih hidup.’ Bian bermonolog dalam hati.


“Bagaimana, apa kalian siap untuk melakukan tugas?” tanya Bagas Kara memastikan.


“Siap, Komandan! Kami pasukan berani mati siap untuk menjalankan tugas dan menyelesaikan misi.”


Meskipun ketiganya diselimuti rasa sedih, tetapi jika melindungi ibu pertiwi sudah ditugaskan maka, mereka harus meluapkan kesedihan akan kehilangan Keenan dan Garda.


Semua pasukan loreng yang diperintahkan untuk segera melakukan penerbangan ke Yahukimo tengah bersiap-siap. Membawa kelengkapan senjata yang memang sangat diperlukan saat menjalankan misi di sana nanti. Karena kali ini mereka benar-benar harus bisa membasmi anggota KKB dan Egianus yang membuat keresahan para warga.


“Bian, Naina... kira-kira apa Dokter Aletha dan Laura tahu ya tentang ini?” tanya Bayu.


“Emm... aku rasa tidak. Jika Dokter Aletha dan Laura tahu, pasti mereka akan datang kesini. Apalagi Dokter Aletha, pasti Dia akan bersikukuh untuk menyusul Kapten ke Yahukimo, seperti... satu tahun lalu.”


Setelah meyakini bahwa Aletha maupun Laura tidak mengetahui masalah itu, Bian, Naina dan Bayu kembali melanjutkan menyiapkan senjata yang dimasukkan ke dalam ransel besar mereka.


Dan setelah di rasa sudah selesai menyiapkan kelengkapan, mereka semua masuk ke dalam helikopter yang sudah menjadi kendaraan khas para anggota tentara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aa... rasanya... Aa hadir di sini. Angin yang berhembus pelan telah membawa aura khas Aa yang menggoda untuk menemani Neng di sini.”


Tiada detik yang tidak Aletha lakukan untuk memikirkan Keenan. Jarak yang memisahkan keduanya sungguh membuat rasa rindu semakin besar dalam hati Aletha dan hanya Alina sebagai pengobatan rindu itu. Sehingga Aletha segera memutuskan untuk segera pulang setelah jam pulang sudah tiba.


“Aa... Trust a promise. Neng percaya akan janji yang Aa ucapkan, Aa akan kembali dua bukan lagi setelah tugas Aa selesai di sana. Dan Neng akan selalu sabar untuk menunggu Aa sampai kapanpun.” Aletha membuka kotak kecil yang berisi kalung Keenan.


Setelah memandang cukup lama kalung itu, Aletha masuk ke dalam mobilnya dan siap menginjak pedal gas untuk melaju dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kak Garda, aku akan selalu mengingat cinta dan janji itu. Aku yakin, kak Garda akan kembali dan kita bisa berkumpul bersama-sama lagi.”


Hal sama tengah dilakukan oleh Laura. Kalung Garda maupun kalung Keenan adalah benda terpenting yang harus Aletha dan Laura jaga dengan sepenuh hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Boom...”


Suara yang didengar dari bawah langit telah meyakini Buan, Naina dan Bayu bahwa menag benar berita yang mereka dapat. Kapten dan Lettu terbaik telah gugur dalam boom yang sudah meledak, bahkan bekas dan sisa boom itu masih berlanjut. Mustahil jika Keenan dan Garda akan selamat.


Bersambung...


Notes untuk kita semua...


Tiga doa yang bisa diucapkan saat sujud terakhir yaitu:


1.Allahumma inni as'aluka husnul khotimah.


~Ya Allah aku meminta kepada-Mu husnul khotimah.


2.Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut.


~Ya Allah berilah aku rejeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat.


3.Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi'ala dinika.


~Ya Allah wahai sang pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.

__ADS_1


Bisa menjadi sebuah amalan bagi umat islam yang menjalankan loh...


Semoga bermanfaat dalam setiap tulisan yang menjadi coretan...


__ADS_2