Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 160 “What Happen?”


__ADS_3

“Dan tidak akan pernah ada seorang suami sengaja untuk mengingkari janji nya. Tapi jika itu terjadi... itulah takdir yang harus diterima dengan berbesar hati.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aa adalah cahaya Neng, tanpa cahaya itu Neng merasa kegelapan dan hampa. Begitu juga dengan Aa, Neng... adalah cahaya untuk Aa. Dan tanpa Neng, Aa tidak mendapatkan cahaya sebagai penerang.”


Sejenak Aletha kembali merenungkan hal yang membuat Keenan ataupun yang lain tidak bisa menghubunginya sampai satu bulan telah berlalu.


“Aku harus bertanya sama Papa. Bukan hanya aku saja yang membutuhkan kepastian, tapi sahabatku pun juga membutuhkan kepastian tentang hidup mereka, apa yang terjadi dan... hidup atau mati.” Gumam Aletha dalam hati.


Aletha kembali ke ruangannya. Lalu ia meraih ponselnya yang berada di atas meja dan mengirim pesan kepada Laura, Ilham dan juga Wilona. Di mana Aletha ingin mengatur temu janji untuk pertemuan yang akan diadakan di Cafe Maple And Oak saat pukul 16.00 sore.


[Assalamu'alaikum, maaf jika aku mengganggu waktu kalian. Tapi... Aku ingin bicara dengan kalian di Cafe Maple And Oak, aku... ingin membahas pasukan berani mati.]


Pesan pun sudah terkirim di ponsel Laura, Wilona dan juga Ilham.


‘Ada apa?' batin Ilham.


Deg...


Ilham, Laura dan Wilona merasa aneh dengan pesan Aletha. Pikiran ketiganya sudah berkecamuk, rasa penasaran pun semakin kuat. Membuat ketiganya meminta Aletha untuk tidak bertemu pada pukul 16.00 sore, melainkan satu jam setelah makan siang.


[What happen, Aletha? Jika itu penting, lebih baik kita bertemu pukul 13.00 siang ini ... mumpung aku tidak ada jadwal lagi. Bagaiamana dengan ka Ilham dan Laira?] Wilona mengirim pesan di group yang sudah dibuat Aletha.


[Iya, aku siap bertemu.] Ilham membalas pesan itu.


[Aku juga akan segera bersiap untuk kesana.] Begitu juga Laura, membalas pesan Aletha.


Satu jam telah berlalu, Aletha menunggu Ilham dan Wilona di lobi. Dan ketiganya menuju ke Cafe Maple And Oak bersama, di sana mereka memilih tempat duduk yang menyejukkan sembari menunggu Laura tiba.


“Al, sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan mereka di sana?” tahun Ilham.


“Iya, Al. Apa... mereka akan segera kembali?” cecar Wilona.


“Aku akan mulai membahasnya jika Laura sudah ada di sini. Kita tunggu sebentar saja, pasti Dia akan segera sampai.” Aletha mengangguk, meyakinkan Ilham dan Wilona yang sudah tidak sabar menunggu topik pembahasan pertemuan mereka.


Sembari menunggu Laura tiba ... Aletha, Ilham dan Wilona memesan coffee butter untuk mencairkan suasana yang sempat menengang.


Lima belas menit sudah berlalu, tidak lama kemudian Laura pun sampai dan ia dibantu oleh seorang wanita paru baya, tidak lain adalah Mama Nina. Karena tidak mungkin jika Laura akan pergi tanpa berpamitan dengan Mama Nina, begitu juga Laura tidak bisa berbohong akan kemana ia pergi dan bertemu dengan siapa.


Kedatangan keduanya sontak membuat Aletha terkejut, karena sebelumnya Aletha tidak ingin orang lain tahu tentang apa yang akan dilakukannya.


“Mama...” Aletha membelalakkan kedua matanya.


“Maaf, Al. Aku... tidak bisa berbohong kepada Mama Nina. Dan... Mama Nina memaksa untuk ikut.” Laura menjelaskan hal itu kepada Aletha.


“Tidak apa, kok. Siapa tahu dengan adanya Mama kita bisa menemukan titik temu juga.”


“Silahkan, duduk, Ma! Mama dan Laura mau pesan apa?”


“Pesan kan yang sama saja, Mama akan suka.”


Aletha mengangguk, dan setelah itu ia tidak mau bertele-tele lagi bahkan menunda hanya karena adanya Mama Nina.


Aletha menghela nafas panjang, setelah itu ia mulai mengudarakan suaranya saat menatap Laura, Mama Nina, Wilona dan Ilham secara bergantian.


“Aku... ingin bertanya sama Papa apa tujuan tugas dari pasukan berani mati. Karena satu bulan sudah berlalu, tapi mereka tidak ada kabar. Dan aku... perlu tahu alasan nya, pasti kalian juga?”


“Al, jangan gegabah dalam bertindak. Kamu tahu Papa sedang sibuk, bagaimana nanti kalau marah sama kamu?”


Sejenak Aletha terdiam, tak ingin mengulutkan ap kemarahan dalam diri siapapun atas apanya yg sudah diucapkannya terutama, Mama Nina. Karena Aletha tahu, Mama Nina tidak akan bisa membantu hal semacam itu.


“Ma... Aletha tahu akan hal itu. Bahkan Aletha tahu bagaimana resiko yang harus Aletha dan Laura hadapi sebagai istri dari seorang abdi negara. Tapi kita... juga membutuhkan sosok suami yang kita cintai berada disamping kita.”


“Kita tidak bisa diam bagaikan patung tanpa ada hati yang merasa cemas, sedih, terluka dan... trauma.”


Aletha menatap lekat Mama Nina yang berada di depannya. Hatinya berusaha untuk tenang dan menerima tapi... terbesit rasa kecewa jika Mama Nina akan menolak rencananya.


Deg...


Mama Nina terdiam, hatinya merasa pedih saat mengingat Aletha merasakan trauma karena kepergian Fajar. Seolah ada belati tajam yang menghunus ke relung sanubari nya saat menatap Aletha, Laura, Wilona dan juga Ilham secara bergantian.


“Tapi Al, waktu penugasan mereka satu tahun. Sedangkan ini masih satu bulan, kita tidak bisa gegabah dalam bertindak.”


“Nah, itu dia. Justru ini masih satu bulan, kita tidak merasakan nyaman tanpa ada kabar dari mereka. Bagaimana jika hal yang sama tetap mereka lekukan selama satu tahun? Maaf, aku tidak bisa hanya menunggu dan berdiam diri saja. Kalian ingin Aletha yang dulu ada lagi, bukan?”


Aletha menjentikkan jarinya saat ia mendapatkan kekuatan hati. Rindu yang mencuak tidak bisa ditahan lagi, bahkan semboyan cinta antara Aletha dan Keenan telah dibangkitkan kembali. You jump, i jump... kalimat yang mengartikan hal berbeda dalam hubungan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kita harus melakukannya sekarang juga, saya... yang akan memimpin strategi nya.” Rania ikut bersuara.


“Rania? Kamu masih baru, aku... heran kenapa bisa Pak Bagas Kara memintamu untuk ikut misi ini?” tanya Naina.


“Iya, aku sebagai komandan pasukan kenapa tidak tahun akan hal itu? Dan selama satu bulan bersama aku tidak pernah melihatmu ikut kami patroli malam?”


Hening...


Rania hanya diam sejenak saat seniornya melontarkan pertanyaan kepadanya kecuali Bian, ia tidak bertanya apapun kepada Rania. Hanya menyimpan rasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada Rania saat hal tidak terduga akan terjadi nanti.


“Kalian memang benar, saya pun terkejut kenapa Pak Bagas Kara meminta saya untuk ikut misi ini. Bahkan tidak ada yang tahu akan hal ini. Dan seiringnya waktu saya mengerti alasan Pak Bagas Kara.”

__ADS_1


“Saya orang baru, tidak mungkin anggota KKB bisa mengenali saya jika saya melakukan penyamaran. Bisa dibilang saya cukup handal dalam aksi penyamaran.”


“Dan kalian pasti tahu, sebenarnya misi ini hanya akan berlangsung selama tiga bulan saja, bukan? Satu tahun... hanya alibi Pak Bagas Kara agar keluarga tidak akan mencemaskan kita jika kita mengalami hal yang tidak terduga, seperti yang terjadi pada Kapten Keenan dan Letnan Garda.”


Keenan dan Garda hanya saling adu tatap saat namanya disebut oleh Rania. Dalam hati meraka membenarkan apa yang dikatakan oleh Rania, sedangkan Keenan dan Garda bahkan yang lainnya tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.


Kelima anggota pasukan berani mati mendengarkan kembali apa yang diucapkan serta yang direncanakan oleh Rania. Meskipun Keenan adalah seorang komandan tetapi ia ingin menghargai bawahannya saat sedang bicara.


‘Dia... cerdik. Jika keberanian dan ketangguhannya diasah lagi, maka... Dia bisa diangkat menjadi seorang kapten.’ Keenan berdecak kagum saat mendengarkan secara seksama yang Rania sampaikan.


“Dan saya yakin, saat ini... detik ini... Kak Aletha tidak tinggal diam menanti kita yang sama sekali tidak memberikan kabar apapun kepadanya.”


Keenan mengulas senyum simpul saat Rania yakin dengan apa yang dilakukan oleh Aletha. Dan Keenan membenarkan akan hal itu, karena Keenan sangat mengenal Aletha lebih dari siapapun.


‘Neng... you jump, i jump... kamu pasti mengingat semboyan cinta kita.’


Keenan mengingat satu hal yang membuat nya merasa tenang dan mampu berpikir lebih jernih lagi. Hanya coklat batang yang melumer dari mulut hingga ke hati, dan Keenan membagikan coklat batang itu kepada Bian, Bayu, Naina, Garda dan juga Rania.


Coklat itupun mereka gigit bersama, hingga mereka merasakan kenikmatan yang luar biasa dari pangkal ujung hingga gigitan terakhir. Dan setelah coklat itupun habis mereka siap untuk melakukan strategi yang sudah dirancang oleh Rania dengan taktik umpan ayam.


Hiks, taktik apa lagi itu ya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aletha akan pergi sekarang menemui Papa, karena Aletha... tidak ingin mengakhiri kisah rumah tangga yang sudah Aletha jalani bersama Aa Keenan. Karena kekuatan hati, bisa melawan segalanya.” Aletha mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja makan cafe itu.


Aletha tidak mempedulikan lagi bagaimana Mama Nina, Laura, Ilham maupun Wilona dalam menanggapi keputusannya itu. Dan hanya satu yang menjadi tujuannya saat ini, bertemu segera dengan Keenan.


Melihat Aletha yang sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ilham mengajak yang lainnya untuk menyusul Aletha yang akan pergi ke markas dan bertemu dengan Bagas Kara.


Dalam satu mobil milik Mama Nina mereka semua mengikuti Aletha hingga ke markas. Karena meraka juga tidak mau jika Aletha akan bertindak gegabah, di mana menyusul Keenan seperti tiga bulan lalu. Dan kala itu Ilham ikut dengan Aletha satu helikopter yang sama bersama juga Bagas Kara.


Ilham diam-diam membayangkan baku tembak telah terjadi dengan begitu hebat dan kuat, membuatnya bergidik ngeri. Apalagi saat Aletha ikut melakukan aksi yang menguji adrenalin.


‘Bagaimana kalau Aletha nekat lagi?’


Ilham hanya meraba dadanya saat mengingat hal itu. Adrenalin nya benar-benar diuji saat berada ditengah baku tembak yang terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampai di markas, Aletha sedikit berlari saat ke ruangan Bagas Kara dan menemuinya dengan banyak pertanyaan yang masih disimpan.


Aletha mengetuk pintu secara pelan, setelah itu masuk begitu saja tanpa adanya persetujuan. Dengan adu tatap Aletha berusaha menelisik Bagas Kara yang menatapnya tajam.


“Aletha, kenapa kamu di sini?”


“Karena Aletha punya pertanyaan yang harus Papa jawab. Sebenarnya apa tugas pasukan berani mati di Papua? Bukankah dulu sudah pernah bertugas kesana?” cecar Aletha dengan pertanyaan yang becibun.


Deg...


“Ini misi rahasia, Aletha. Kamu hanya warga sipil yang tidak perlu tahu tugas itu.” Bagas Kara menjawab dengan nada tegas.


“Tidak mudah menipuku, Papa. Aku... bukan hanya warga biasa saja, tapi aku putri dari Maytjen Brigjen Bagas Kara dan juga Komandan Keenan Malik Mahendra. Apa Papa lupa akan hal itu?”


“Katakan saja, Pa! Seorang istri wajib tahu bagaimana pekerjaan suaminya, apakah akan bertaruh nyawa atau... memang tugas biasa?”


Bagas Kara tidak bisa menjawab pertanyaan Aletha, ia merasa jika yang dikatakan Aletha itu selalu benar adanya. Namun, Bagas Kara melakukan hal itu karena ingin melindungi Aletha dari ancaman bahaya.


“Kenapa Papa hanya diam saja? Papa begitu hafal dengan Aletha, jadi... jangan sampai Aletha melakukan hal bodoh yang menyusul Aa Keenan sekarang juga.” Aletha tidak bermaksud mengancam tetapi ia hanya berusaha untuk mendapatkan jawaban dari Bagas Kara.


Memang tidak mudah bagi Bagas Kara menghindari setiap pertanyaan yang dilontarkan Aletha. Dan akhirnya Bagas Kara mengatakan tugas Keenan bersama pasukan berani mati lainnya di Papua, tak lupa Bagas Kara menyebut nama Rania.


Deg...


Aletha tidak tahu harus bersikap apa dan bagaimana, karena Aletha tahu tugas itu sangat berat. Bahkan bisa mengancam nyawa, mengingat Keenan dan Garda pernah menjadi sandera.


Laura, Mama Nina, Wilona dan Ilham yang sudah berada di depan pintu ruangan Bagas Kara telah mendengar percakapan itu.


“Tapi Papa tidak mengijinkan kamu untuk pergi kesana. Karena sangat berbahaya, Papa pikir... Rania pasti bisa membantu mereka.”


“Apa jaminannya?”


“Memang benar Papa tidak bisa menjamin keselamatan mereka satu persatu, bisa jadi... serangan tidak terduga dari segala arah. Maka dari itu, mereka tidak akan menghubungi kalian sampai benar-benar memastikan jika keadaan sudah baik-baik saja,” jelas Bagas Kara.


Aletha mendesah, beberapa kali menarik napas panjang. Ada rasa nyeri dan sesak di dalam. dadanya, bahkan tidak sanggup rasanya jika harus kehilangan Keenan. Meskipun Aletha sangat tahu itu adalah resikonya.


“Apa Papa bisa menghubungi mereka sekarang juga? Jika bisa... Aletha, Laura Wilona dan kak Ilham ingin mendengar suara mereka untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja.”


“Baiklah! Papa akan melakukan itu untuk kalian, tapi maaf... Papa tidak bisa melakukan panggilan terlalu lama. Karena itu akan memicu penyamaran mereka.”


Aletha dan yang lainnya mengangguk, mengiyakan saja apa yang dikatakan Bagas Kara. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Keenan sebagai komandan pun segera menerima panggilan itu melalui saluran BMS (Battlefield Management System) CY-16H.


“Halo! Pak. Saya Kapten Keenan menerima panggilan dan siap untuk mendengarkan intruksi dari Bapak.”


“Tidak ada intruksi apapun dari saya. Tapi... dengarkan baik-baik suara yang akan kalian semua dengar,” ucap Bagas Kara.


Keenan, Garda, Bian, Bayu, Naina dan Rania hanya saling tatap.


“Baik! Pak.”


Seketika semuanya mendekat ke alat itu, Wilona menyapa Bayu di awal obrolan.

__ADS_1


“Hello, Bayu. Listen to me... saat ini aku sudah berada di Indonesia dan menantimu untuk kembali dalam keadaan baik-baik saja.”


Deg...


Bayu yang namanya telah disebut begitu hafal dengan suara itu. Seolah jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak, batu tudak mau memberikan harapan palsu kepada Wilona.


“Wilona, i'm sorry! Jangan terlalu berharap dengan semua itu, karena aku tidak mau mengecewakanmu jika... terjadi sesuatu yang tidak terduga.” Bayu mundur dari alat BMS yang dipegang Keenan.


Keenan menatap bagitu nelangsa nya Bayu setelah mengatakan hal yang tidak menentu bagaimana nasib akan membawa mereka semua kembali.


Dilanjut dengan suara Ilham, tidak ada kata lain selain memberikan ucapan semangat dan akan tetap menanti untuk kembali.


Naina begitu tersanjung mendengar tutur lembut dari seorang duda tampan yang kini menjadi tambatan hatinya. Setelah itu, suara lirih Laura tengah mengudara.


“Assalamu'alaikum, kak Garda. Maaf sebelumnya jika aku... terlalu lancang ikut campur dalam tugas kak Garda. Tapi... perlu kak Garda tahu jika... tidak akan pernah ada seorang istri mengharapkan kematian dari suaminya.” Laura menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


“Dan tidak akan pernah ada seorang suami sengaja untuk mengingkari janji nya. Tapi jika itu terjadi... itulah takdir yang harus diterima dengan berbesar hati.” i


Setelah Laura, kini yang terakhir berganti Aletha. Kali ini Aletha jauh berbeda, bukan kata menanti bukan pula kata yang akan menyemangati Keenan.


“You jump, i jump! Hanya kalimat itu yang terngiang dalam ingatan Neng, Aa. Dan... hanya itu yang ingin Neng katakan, selamat bertugas!” ucap Aletha.


‘Apa yang terjadi dengan Aletha? Dan apa yang maksud dari perkataannya itu?’ tanya Kesnan dalam hati.


Sesuai dengan yang dikatakan Bagas Kara, Aletha memutuskan panggilan itu. Setelah itu, Aletha mengembangkan senyum, yang tidak bisa ditangkap dengan jernih dari seorang Bagas Kara ataupun yang lainnya.


“Terimakasih, Pa! Aletha sekarang cukup tenang dan... Aletha bisa bekerja dengan baik. Sekarang, Aletha harus kembali ke rumah sakit lagi. Dan Laura, kamu bisa pulang dengan Mama.” Aletha mengangguk, meyakinkan Laura.


Laura menyeka air mata yang hampir jatuh, setelah itu ia mengangguk. Begitu juga dengan Mama Nina, mengiyakan ucapan Aletha.


Wilona dan Ilham ikut masuk ke mobil Aletha. Wilona dibagian jok depan, samping Aletha. Sedangkan Ioham memilih dijok belakang.


Saat mobil sudah dilajukan Aletha tengah melakukan panggilan dengan Tara.


“Halo, Dokter Aletha. Ada yang bisa dibantu?”


“Sebelumnya saya minta maaf, saya mau... Anda menerima surat cuti saya yang sudah disampaikan oleh suster Wati selaku asisten saya. Dan saya akan sangat berterimakasih kepada Anda, jika menerima hal itu.”


Setelah memutuskan panggilan itu, Aletha beralih ke melakukan panggilan dengan seseorang yang tidak asing bagi Wilona dan Ilham.


“Siapkan seperti biasanya! Aku akan segera kesana untuk melihat.”


Aletha semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, untung saja sore itu tidak terlalu banyak kendaraan mesin yang memenuhi jalanan kota Jakarta.


Tidak perlu waktu lama lagi, Aletha pun sampai ke tempat tujuannya. Wilona dan Ilham hanya saling tatap saat melihat tempat yang asing bagi mereka.


“Dimana aku bisa melihatnya?” tanya Aletha.


“Masuk saja seperti biasa, Dokter cantik.” Penjaga toko itu melengkungkan bibirnya dengan sempurna.


Aletha masuk ke dalam, Wilona dan Ilham. hanya mengikuti saja dari belakang. Dan setelah Aletha membuka sebuah kotak yang berbentuk persegi panjang dan besar itu, sontak mata Wilona dan Ilham terbelalak sangat lebar.


‘Senjata? Apa yang terjadi dengan Aletha, kenapa Dia malah ke tempat seperti ini dan melihat senjata tajam seperti itu?’ tanya Wilona dalam hati.


Sedangkan ilham tidak memberikan komentar apapun, hanya menelan saliva nya sendiri saat menatap dua pistol kecil, dua pisau lipat dan satu pistol besar.


“Baiklah! Akan aku bawa semua ini, thank you!”


“You are welcome. Jika Dokter cantik membutuhkan sesuatu lagi... bisa hubungi aku kapan saja.”


Aletha hanya mengangguk, lalu pergi dari tempat itu. Wilona dan Ilham lagi-lagi hanya mengikuti kemanapun Aletha pergi.


Aletha bukanlah seorang wanita yang dilahirkan secara biasa saja, ada gen yang mengalir dalam darahnya yaitu gen kejeniusan dari Bagas Kara yang amat mengental dalam diri Aletha.


“Al, sebenrnya apa rencanamu? Kenapa kamu bermain senjata tajam seperti itu?”


“Aku... hanya ingin melindungi diri. Dengarkan baik-baik suara ini,”


Aletha memasang sebuah alat yang bisa menghubungkan ponselnya dengan ponsel Bagas Kara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Benar bukan, apa yang saya katakan?Seharusnya Komandan tahu tentang apa yang akan dilakukan kak Aletha,” ucap Rania.


Keenan menyipitkan matanya dan menatap tajam Rania yang berada di hadapannya. Di dalam hatinya Keenan berdecak kagum, ia tidak tahu jika Rania memiliki kelebihan tanpa ia sadari. Dan Keenan membenarkan apa yang diucapkan Rania.


Saat oasukan berami mati tengah menyiapkan taktik umpan, tanpa mereka sadari posko mereka sudah dikepung. Karena terlalu lama melakukan penyerangan di awal, tanpa mereka sadari ada yang mengintai secara diam-diam saat mereka tengah terlelap dalam tidur.


Dor... Dor... Dor...


Sebuah tembakan tengah mengudara.


“Lapor! Komandan. Kami telah dikepung anggota KKB. Dan bisa dilihat mereka berjumlah banyak, sedangkan kami hanya berenam. Jika berkenan, kirimkan bantuan segera.”


Dor... Dor... Dor...


Tembakan terus diluncurkan. Dan suara itu begitu memekakkan telinga Aletha, Wilona serta Ilham setelah mendengar suara dari sambungan telepon Bagas Kara.


Deg....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2