Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 85 “Nyebelin Tapi Suka”


__ADS_3

“Sibukkan lisanmu dengan perbanyak istighfar dan berdzikir. Fokuskan pikiranmu untuk ketaatan... Mantapkan hatimu untuk menjalankan segala perintahnya. Sehingga seberat apapun ujian yang datang Allah akan selalu membantumu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keenan menatap wajah teduh Aletha saat tertidur. Ingin rasanya Keenan membenarkan rambut panjang Aletha yang menutupi wajahnya. Tetapi niat itu ia urungkan, karena ia tidak mau membuat Aletha terbangun. Cukup memandangi saja.


Aletha beringsut saat cahaya matahari mulai meninggi dan memasuki celah-celah gorden kamarnya. Matanya menggeliat, merasa ada yang aneh saat perutnya seakan tertindih sesuatu. Dan Aletha meraba perutnya, ia merasakan kulit manusia yang kekar dan berat.


“Tangan siapa ini?” batin Aletha.


Keenan tidak terlihat dalam pandangan Aletha, karena selimut yang tebal telah menutupi seluruh tubuhnya.


“Mungkinkah ini tangan Keenan? Bagaimana bisa Dia tidur disini? Apa aku sudah melakukan hal itu semalam? Tapi aku tidak merasakan apa-apa.” Aletha terus bertanya dalam hati.


Aletha merasa tidak enak, ingin ia membuka selimut dan memastikan jika saja Keenan telanjang saat itu.


Dengan bismillah Aletha membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh Keenan. Lalu ia mengintip dan setelah tahu Keenan memakai kaos saat tidur, Aletha sedikit bernafas lega.


“Syukurlah, ternyata aku belum di apa-apain sama Keenan.” Aletha mengukir senyum di bibirnya.


Aletha berusaha melepaskan pelukan tangan Keenan yang masih setia melingkar di atas perutnya. Dengan sangat hati-hati Aletha memindahkan tangan Keenan agar Keenan tidak beringsut dan akan terbangun.


“Ish, jadi perempuan kok kebo. Jam segini baru bangun lagi.” Pekik Larisa.


“Apa juga urusannya sama kamu nona kecil. Aunty kan, hanya bangun telat saja.” Aletha mencebik.


“Aunty, Larisa kasih tahu ya! Tidak baik loh perempuan itu bangun sesudah subuh. Paling tidak bangun saat adzan dikumandangkan. Dan ... pasti aunty tidak sholat subuh.”


“Deg...”


Seperti itulah hati Aletha saat merasa terpojok atas perkataan Larisa. Dan memang benar ia tidak menunaikan sholat subuh karena bangun telat. Lalu, bagaimana dengan Keenan? Karena Keenan juga ikut bangun telat. Bahkan saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi Keenan belum bangun juga.


“Kenapa aunty diam saja? Merasa bersalah, kan? Jauh banget sama Om Keenan.”


Larisa menghentikan ocehannya, lalu pergi kembali ke kamarnya. Sedangkan Aletha masih berdiri di dapur dengan rambut yang dikucir dan masih belum memakai pakaian yang layak dipandang. Hanya piyama ala sekarang yang celana nya amat pendek.


‘Jauh bagaimana sama Keenan? Bukannya aku dan Dia sama saja kan... bangun telat.’ Mata Aletha membulat dengan sempurna.


Kebetulan hari itu hari minggu, sehingga semua anggota keluarga berkumpul di rumah. Suasana menjadi ramai dengan berbagai ocehan yang mengiringi aktifitas mereka, apalagi saat para wanita berada di dapur.


”Eh, sudah bangun nih pengantin baru.” Sapa mama Nina.


“Dek, kenapa tidak mandi sekalian terus ganti baju? Nanti kalau Keenan sudah bagun terus lihat kamu yang masih acak-acakkan seperti ini bagaimana? Apa kamu tidak malu sebagai perempuan?” ucap Luna tak hentinya menatap Aletha.


“Memangnya penting ya melakukan semua itu? Kan, hari ini hari minggu.”


“Anak Mama begini nih kalau tidak pernah pulang ke rumah. Dan kalau pulang itupun selalu di kamar, keluar hanya makan lalu balik lagi ke kamar.”

__ADS_1


Dengan menurut Aletha mengikuti perintah mama Nina, kembali ke kamar dan mandi untuk menyegarkan tubuh. Dengan sangat pelan Aletha memutar gagang pintu kamarnya, tetapi setelah masuk ia tidak mendapati Keenan di atas ranjang.


Aletha tidak mau memanggilnya, hanya saja matanya terus mengeliat dan menyapu setiap sudut, kali saja Keenan tengah sembunyi di balik pintu.


Duh Aletha, memangnya Keenan ngajakin mainan petak umpet apa? Wkwkwk...


“Aaaa...” teriak Aletha.


Dengan seketika Keenan menutup mulut Aletha yang masih berteriak. Karena tidak mungkin jika suara Aletha akan membuat keonaran di pagi hari dan tidak mungkin juga jika ditanya alasannya mereka akan menjawab bahwa Keenan tengah telanjang. Bukankah akan terdengar lucu, sedangkan Aletha dan Keenan sudah sah menjadi suami istri.


“Kenapa harus teriak sih, Al?”


“Ya habisnya kamu tidak pakai baju dan ...”


Aletha memotong ucapannya, karena ia tidak ingin melihat tubuh Keenan bagian bawah yang jelas tidak ditutup dengan sehelai kain. Sedangkan Keenan hanya terkekeh geli sambil meraih handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya


“Memangnya kenapa kalau aku telanjang, Al? Bukannya aku sudah menjadi suamimu?”


“Iya sih, tapi aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Pernah lihat sesekali di... kardus susu elemen milik Papa.” Aletha menunduk.


Keenan tersenyum tipis, ia merasa bersyukur telah memiliki Aletha yang masih polos dengan hal seperti itu. Sedangkan yang pernah dilihatnya banyak sekali kalangan anak muda di jaman sekarang yang mau menyerahkan diri mereka dengan percuma. Bahkan sampai hamil di luar nikah.


”Ingatlah satu hal, Al... kamu akan selalu melihat pemandangan seperti ini saat kita melakukan dua hal. Pertama melakukan aksi adu ranjang dan kedua mandi bersama.”


“Memang harus seperti itu? Te... Lan... Jang?”


“Kalau tidak harus bagaimana melakukannya, Al? Jangan lucu deh, bikin aku jadi gemes.”


Aletha tidak mau jika Keenan mendengar suara detak jantungnya yang lebih cepat. Sehingga ia segera meluncur ke kamar mandi dengan cepat. Dan Keenan hanya terkekeh geli melihat Aletha yang bertingkah dengan sangat polos.


“Mungkinkah... Dia pertama kali mendapatkan cuman seperti ini? Jika iya, aku akan beruntung sekali mendapatkan wanita yang benar-benar menjaga marwah nya.” Ujar Keenan lirih.


Semua berkumpul di meja makan. Aletha selalu memperhatikan Luna yang tengah mengambilkan nasi untuk Juan. Dan ketika mengedarkan pandangannya ke pasangan Garda dan Laura, ia melihat Garda lah yang mengambilkan nasi untuk Laura. Karena terlihat dengan jelas jika tidak mungkin Laura yang akan mengambilkan nasi untuk Garda. Dan Aletha menirukan akan hal itu.


“Ini sarapan untuk kamu, makanlah!”


Aletha meletakkan piring di depan Keenan yang diisi nasi dengan beberapa lauk di atasnya.


“Terima kasih, Al. Kamu juga harus makan gih!” Keenan mengulas senyum.


Aletha mengangguk. Lalu semua makan bersama dengan penuh khidmat dan rasa syukur dengan apa yang sudah diberikan Allah pagi itu. Namun, saat beberapa nasi dan udang masuk ke dalam mulut Keenan tiba-tiba saja bintik-bintik merah timbul di sekujur tubuhnya.


‘Kamu harus bertahan, Ke. Jaga sikap sebagai anggota baru dalam keluarga ini. Tenang! Ya Allah kuatkan hamba!’ batin Keenan.


“Maaf, saya undur diri dulu! Kalian bisa lanjutt makannya.” Ijin Keenan.


Keenan tidak mampu menahan lagi rasa gatal yang menghujani tubuhnya. Dan secara perlahan ia merasa pusing, akhirnya limbung seketika sebelum sampai ke kamar.

__ADS_1


“Kak Keenan.” pekik Laura.


Seketika pandangan semua anggota keluarga tertuju ke arah Keenan yang sudah ambruk ke lantai. Lalu semua orang menghampiri Keenan yang sudah tidak sadarkan diri.


“Ada dengannya? Kenapa tiba-tiba saja Dia pingsan? Perasaan tadi tidak apa-apa.” Tanya Bagas Kara.


“Aku rasa ... kak Keenan sudah memakan udang itu.” pekik Laura.


Aletha yang menyadari perkataan Laura seketika meminta Garda dan Juan untuk membantu memindahkan tubuh Keenan di atas kasur. Dengan cekatan Aletha memeriksa keadaan Keenan. Dan benar saja jika Keenan alergi akan udang, sehingga membuat bintik-bintik merah timbul di sekujur tubuhnya, bahkan pusing dan demam juga aka ikut serta hadir.


“Ada-ada saja, jika sudah tahu alergi udang itu pantangan. Kenapa juga harus di makan.” Bagas Kara menggelengkan kepalanya.


“Hanya satu jawabannya Opa. Om Keenan hanya ingin menghargai aunty saja. Iya kan, Om?” celetuk Larisa saat Keenan sudah sadar.


Keenan hanya memberikan senyum tipis. Lalu mengedarkan pandangannya ke arah Aletha yang masih menyiapkan beberapa obat untuk menurunkan demam dan meredakan rasa pusing di kepalanya.


‘Apa iya, Keenan melakukan itu untuk menghargai apa yang aku lakukan padanya?’ tanya Aletha dalam hati.


“Aku ambilkan bubur dulu untuk kamu makan, karena tadi kamu hanya makan sedikit. Dan nona kecil, kamu ikut aunty sekarang juga.”


Larisa tidak mau membantah, ia pun mengekori Aletha dari belakang saat menuju ke dapur. Dan setelah sampai di dapur Aletha tidak langsung menyiapkan mangkok sebagai wadah buburnya. Malah ia mengobrol dengan Larisa di sana.


“Sa, aunty mau tanya sama kamu.” Aletha menatap wajah Larisa yang polos.


“Silahkan! Larisa akan menjawabnya dengan senang hati.” Larisa tersenyum manis.


“Bagaimana bisa kamu mengetahui hal itu dan bisa mengatakan hal seperti tadi?”


“Aunty, meskipun Larisa masih berusia tujuh tahun tapi Larisa selalu mendengarkan saat pak Ustadz sedang berceramah. Di mana seorang suami akan selalu menghargai pemberian istrinya, meskipun itu amarah. Dan menurut Larisa, aunty itu beruntung punya suami seperti Om Keenan. Yang taat beribadah, contohnya pas subuh tadi Om Keenan dan Ayah pergi ke masjid untuk berjamah.” Terang Larisa dengan jelas. Dan dapat dipastikan bahwa anak kecil tidak akan berbohong.


“Ya sudah ya aunty, Larisa mau pergi lanjut makan. Masih lapar soalnya...” Latisa nyengir.


Aletha menatap tajam Larisa yang berjalan menuju ke ruang makan. Aletha merasa malu dengan keponakannya itu, di mana Larisa yang masih kecil dan menduduki bangku sekolah dikelas satu sudah mengerti akan hal seperti itu. Dan itulah sifat Luna yang diwarisi Larisa.


‘Terkadang nyebelin, tapi aku suka dengan kata-kata jujurnya.’ batin Aletha.


Aletha kembali tidak meraih mangkok di atas rak, justru ia mengikuti Larisa yang duduk di kursi meja makan. Tak cukup puas rasanya jika hanya mendegar hal itu saja dari bibir mungil yang mampu berceloteh panjang.


“Sa, boleh aunty bertanya lagi?”


“Tanya apa aunty? Larisa sedang makan ini.” Larisa mengerucutkan bibirnya.


“Kamu tahu tidak mengapa perempuan itu diwajibkan untuk berhijab?”


Larisa tertawa sampai suara cempreng nya memekik telinga Aletha yang duduk di sampingnya. Dan seketika tawa itu terhenti saat menatap mata Aletha yang tengah mengharap sesuatu darinya, yaitu jawaban.


“Kalau masalah itu aunty cari sendiri ya di chanel youtube. Karena Larisa hanya mengingat kata pak Ustadz yang sedang ceramah. Sibukkan lisanmu dengan perbanyak istighfar dan berdzikir. Fokuskan pikiranmu untuk ketaatan... Mantapkan hatimu untuk menjalankan segala perintahnya. Sehingga seberat apapun ujian yang datang Allah akan selalu membantumu.”

__ADS_1


“Ya sudah ya aunty, jangan ganggu waktu Larisa makan. Masih La... Par...”


Aletha terdiam setelah mendengar jawaban Larisa yang sungguh menohok hatinya. Memang kenyataan nya Aletha hanya sesekali melakukan sholat, itupun jika senggang. Karena kebanyakan saat siang pasti masih berkutat di ruang operasi, kalau ashar suka lupa waktu, pas magrib terkadang masih dalam perjalanan, kalau pas isya' pasti sudah lelah dan terkadang merajuk dengan hasil Ctscan pasiennya. Dan kalau subuh sudah jelas kesiangan seperti tadi pagi.


__ADS_2