Lentera Cinta

Lentera Cinta
BAB 156 “Kembali Menahan Perih”


__ADS_3

“Tidak ada harapan lain dari seorang istri selain kepulangan suaminya dengan keadaan baik-baik saja. Munafik jika aku benar-benar tegar, karena itu sangatlah bertolak belakang dengan hatiku. Meskipun aku sendiri tahu semua akan kembali kepada Allah tapi... aku hanyalah manusia biasa yang memiliki hati rapuh.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aletha meninggalkan Ilham yang masih menikmati hidangan, meskipun acara sudah bubar tetapi hidangan tadi tetap dijadikan cemilan untuk keluarga Bagas Kara yang masih berada di sana.


‘Ya Allah, maafkan aku jika hati ini hanya berpura-pura tegar dan menerima secara legowo jika itu terjadi. Tapi saat ini nyatanya... hatiku mstasa resah dan was-was, bahkan dihantui oleh rasa cemas.’


Pertanyaan dari Ilham kembali melintas dalam ingatan Aletha. Dan munafik jika istri tidak takut kehilangan suaminya, apalagi Aletha juga mengingat yang diucapkan Keenan malam itu.


Pikiran Aletha campur aduk, hati dan pikirannya tengah beradu. Dalam hati jelas tidak rela jika Keenan pergi bertugas, dalam pikirannya Aletha berkata tidak apa-apa. Sungguh memilukan menjadi istri seorang abdi negara.


“Sudah hampir maghrib, kenapa Aa juga belum pulang? Apa ada sesuatu yang ... terjadi?” gumam Aletha.


Aletha terus melihat jam dinding yang menempel di ruang keluarga. Pikirannya pun tak pernah lepas dari Keenan yang belum juga pulang setelah tadi siang.


“Apa aku harus menghubungi Aa, ya? Untuk sekedar memastikan saja,” ucap Aletha.


Aletha berdiri dalam lamunannya, ia menimang kembali niatnya yang akan menghubungi Keenan.


“Tunggu! Kalau akau menghubungi Aa nanti malah membuatnya terganggu. Siapa tahu saja memang lagi sibuk di markas. Ah ya sudahlah! Tidak perlu menghubunginya, lebih baik tunggu sampai tiga jam lagi.” Aletha beralih ke dapur, membantu Mama Nina dan Bu Laila yang masih sibuk di sana.


Karena acara baru usai tadi siang Mama Nina memutuskan untuk menginap satu malam lagi di rumah Aletha dan membantu Bu Laila membersihkan alat dapur yang sudah digunakan sebelumnya. Dan semakin lama Bu Laila nampak akur dengan Mama Nina, bahkan tali persaudaraan yang terjalin semakin erat.


“Mama... Bu Laila, Aletha bisa bantu apa ini?”


“Sudah tidak usah, kamu mandi sana gih! Nanti Keenan sudah pulang masa ia disambut istrinya yang masih kumel dan kucel. Sebagai istri itu harus bisa memikat suaminya, meskipun tidak berdandan menor tapi akhlak yang terpuji mampu membuat suami terpesona.” Begitulah tutur Mama Nina yang panjang tetapi bisa dimengerti oleh Aletha.


“Iya, Ma.” Aletha mengangguk. “Ya sudah kalau begitu, Aletha ke kamar dulu!”


Seketika Aletha berada di bawah kucuran air dingin dan membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena keringat di sekujur tubuhnya. Dan seperti biasa, tidak perlu membutuhkan waktu yang amat lama untuk melakukan ritual di dalam sana. Hanya akan buang-buang waktu saja jika sewaktu-waktu ada panggilan darurat.


“Ambil air wudhu sekalian saja lah, nanggung ... palingan juga sebentar lagi maghrib.”


Setelah membasuh wajah, tangan, telinga dan kaki dengan air wudhu Aletha pun keluar dari kamar mandi. Selang beberapa menit kemudian suara adzan berkumandang, terdengar dari jarak yang tidak terlalu jauh hanya sekitar satu meter saja dari rumah Aletha.


Aletha membalut tubuhnya dengan mukena berwarna putih yang memiliki hiasan bordir bunga di bagian pinggir. Dan tidak lupa sajadah panjang pun telah terbentang, lalu tiga rakaat telah dilakukan.


“Ya Allah aku sebagai hamba-Mu kembali mengadu dan kembali meminta. Maafkan lah aku jika aku tidak pernah memiliki rasa syukur yang cukup dari segala yang sudah Engkau berikan kepadaku.”


“Dan tidak ada harapan lain dari seorang istri selain kepulangan suaminya dengan keadaan baik-baik saja. Munafik jika aku benar-benar tegar, karena itu sangatlah bertolak belakang dengan hatiku. Meskipun aku sendiri tahu semua akan kembali kepada Allah SWT tapi... aku hanyalah manusia biasa yang memiliki hati rapuh.”


“Jika pun suamiku akan kembali bertugas atas perintah negara dan lagi-lagi kami akan berpisah dengan jarak yang amat jauh tak apa, asalkan Engkau dekatkan kami dalam setiap doa. Karena lewat doa lah hati yang sudah Engkau pilihkan akan tetap saling bertaut. Aamiin.”


“Aamiin.”


Keenan yang berdiri di belakang Aletha ikut mengaminkan doa yang sudah dipanjatkan oleh Aletha. Dan hak sontak menbuat Aletha merasa terkejut, karena sebelumnya tidak ada tanda jika Keenan sudah pulang.


“Aa... sejak kapan sudah berdiri di belakang, Neng?” tanya Aletha.


Aletha beranjak dari tempat ia duduk, setelah itu ia segera meraih tangan Keenan hendak memberi salam. Aletha pun menyiapkan air hangat untuk Keenan mandi setelah beraktivitas di luar.


“Baru saja kok, Neng.” Keenan mengulas senyum tipis.


“Aa mandi dulu sana gih! Sudah Neng siapkan air hangatnya,” pinta Aletha.


Keenan hanya mengangguk saja, lalu masuk ke kamar mandi setelah meraih handuk yang dijemur di bagian sisi samping kanan kamar mandi. Sedangkan Aletha menyiapkan pakaian sholat Keenan, karena sudah dipastikan jika Keenan akan melakukan sholat terlebih dahulu sebelum turun dan bergabung di meja makan.


“Kalau Neng mau turun dulu juga tidak apa-apa. Aa bisa menyusul nanti,” ujar Keenan.


Keenan berusaha kembali menahan perih saat perpisahan akan terjadi lagi. Berusaha tersenyum dan bersikap biasa saja agar Aletha tidak merasa curiga, namun....


‘Ada apa dengan Aa Keenan? Seperti tak biasanya,’ gumam Aletha dalam hati.


Aletha menaruh curiga, tetapi ai berusaha untuk tidak bertanya kepada Keenan terlebih dahulu dan menanti sampai Keenan akan bicara sendiri dengannya. Karena Aletha yakin jika Keenan membutuhkan waktu akan hal itu.


“Alina sayang, ayo kita turun dulu!”


Aletha menggendong Alina menuruni anak tangga, di lantai bawah sudah ada Mama Nina dan Bu Laila yang siap menggendong Alina.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam dari luar.


“Wa'alaikumussalam,” balas Mama Nina dan semuanya secara bersamaan.


Tidak ada yang tahu siapa tamu yang berkunjung malam itu, setelah pintu dibuka terlihat seorang gadis yang bertubuh tegap dengan rambut pendek sebahu tengah mengulas senyum.


“Rania,” ucap Bu Laila lirih.


Rania pun masuk dan menyalami para tetua, paling lama dengan Bu Laila. Pelukan yang dilayangkan untuk melepas rindu yang mencuak.


Aletha dan Luna hanya saling tatap, karena sebelumnya tidak ada yang memberitahu jika Rania akan pulang ke rumah hari itu. Sedangkan yang diketahui Rania akan pulang setelah satu tahun penugasannya di Kalimantan Timur.


“Rania, kenapa tidak memberitahu kak Aletha jika kamu akan pulang?”


Rania melerai pelukannya dengan Bu Laila, setelah menatap Aletha dengan tatapan nanar. Yang tidak dipastikan bagaimana perasaan Rania kala itu.


“Aku... dadakan, Kak. Maaf jika aku tidak memberitahu kak Aletha dulu, tapi sekarang aku harus pergi mau bertemu seseorang.” Rania memberi alasan alibi.


“Masa kamu mau pergi lagi sih, Nak? Baru juga datang, makan dulu bersama kami,” ajak Mama Nina.


“Maafkan Rania, Mama Nina. Tapi... ini mendesak, Rania harus pergi dulu,” tolak Rania.


Rania kembali menyalami para tetua, Aletha dan Luna. Setelah itu pergi dengan mengendarai motor scoopy milik Aletha. Dengan kecepatan sedang Rania menuju ke suatu tempat karena akan bertemu dengan seseorang.

__ADS_1


Para tetua, Aletha dan Luna hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Rania yang seperti kesurupan saja. Namun mereka hanya memaklumi, mungkin itu ada hubungannya dengan ldunia militer.


Acara makan malam bersama telah digelar setelah semua anggota keluarga sudah berkumpul. Menu malam itu tak luput dari daging rendang dan opor ayam. Dan semua menikmati hasil masakan Mama Nina dengan Bu Laila.


“Tring... Tring...”


Ponsel Aletha berdering, membuatnya menghentikan aktivitas makan malam dengan sejenak. Lalu Aletha beranjak dari tempat duduknya untuk menerima panggilan dari rumah sakit yang secara tiba-tiba.


“Halo, disini ada Dokter Aletha. Ada yang bisa saya bantu?”


“Iya Dok, ada kecelakaan darurat yang meminta Dokter Aletha untuk segera datang. Karena ini menyangkut jantung pasien, Dok.”


Hening...


Aletha tak kunjung mengiyakan perintah itu, rasanya enggan untuk meninggalkan kebersamaan yang menemaninya malam itu sebelum semua harus kembali ke rumah masing-masing.


“Halo, apa Dokter Aletha masih berada di sana?” tanya Perawat memastikan.


“Ah iya, saya masih ada di sini. Baiklah! Saya akan segera ke rumah sakit.” Aletha akhirnya memutuskan untuk pergi.


Aletha segera mengganti pakaiannya dengan yang enak dipandang saat bekerja, bukan gamis panjang yang saat ini ia pakai. Setelah siap, Aletha berpamitan kepada Keenan dan para tetua sebelum berangkat ke rumah sakit.


“Biar Aa yang antar!”


“Tapi... Aa belum selesai makannya loh,”


“Nanti bisa dilanjut. Aa mau ... berduaan sama Neng, masa tak boleh?” bisik Keenan.


Aletha tertawa tanpa suara setelah mendengar alasan Keenan yang absurd. Tapi hal itu membuat Aletha merasa dirinya tengah dimanja oleh Keenan, di perlakuan layaknya seorang ratu.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, karena kedaan darurat Aletha harus segera sampai di rumah sakit sebelum pasien kehilangan banyak darah di bagian kepala.


Dan setelah sampai di rumah sakit tidak lupa bagi Aletha menyalami punggung tangan Keenan, hal yang selalu Keenan lakukan kembali terulang. Mencium kening Aletha wajib baginya sebagai seorang suami.


“Hati-hati jika masuk ke ruang operasi, Neng. Jangan sampai melamunkan Aa yang akan memecahkan konsentrasi Neng nantinya.”


“Apa sih, Aa ini? Ya tidak mungkin lah kalau Neng melamunkan Aa. Ya sudah, Neng harus masuk sekarang, nanti Aa jemput empat jam lagi.” Aletha melambaikan tangan sebelum masuk ke rumah sakit.


“Iya, Neng.” Keenan mengangguk.


Aletha masuk ke dalam ruang UGD dan memeriksa kondisi jantung pasien. Di dalam sana sudah ada dokter Raihan, dokter ahli bedah syaraf yang baru di rumah sakit Siloam Hospitals, tetapi dokter Raihan ini sangatlah bagus dalam bekerja. Karena dokter Raihan adalah dokter yang lulusan dari Amerika Serikat.


“Bagaimana kondisi korban, Dokter Raihan?”


“Saya rasa tidak ada masalah dibagian kepalanya, tetapi... ada gumpalan darah yang menghambat kerja jantung korban, Dokter Aletha.”


Aletha menghela nafas beratnya, karena malam itu ia harus kembali menguji adrenalin nya di ruang operasi.


“Apa kalian semua sudah siap?” tanya Aletha memastikan.


“Siap, Dok.” Perawat dan dokter pendamping mengangguk secara bersamaan.


Lampu operasi telah dinyalakan dengan cahaya yang begitu terang, tanda jika operasi akan segera dimulai.


Aletha mulai melakukan pembedahan, mencari darah yang menggumpal hingga menyumbat saluran darah yang seharusnya tetap mengalir. Dan Aletha harus fokus akan ketajaman matanya saat operasi masih berlangsung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat perjalanan pulang Keenan mendapatkan telepon dari Bagas Kara, yang mengharuskan pasukan berani mati segera berkumpul di markas.


‘Ada apa lagi? Bukankah... penugasannya akan dilakukan satu minggu lagi?’


Keenan mendesah, ia merasa tak nyaman dengan perintah itu. Ada rasa yang ingin membuatnya tetap tinggal dan berada di samping Aletha, tetapi tugas negara harus tetap dikerjakan sebagai prajurit sejati.


Keenan pun memutar balik arah mobil nya, setelah itu menekan pedal gas dan mobil telah dilajukan dengan kencang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kak, maafkan Naina jika satu minggu lagi akan ditugaskan di Papua. Penugasan ini pun tidak sebentar, tapi... satu tahun. Jadi... kita harus menunda pernikahan kita,” ucap Naina menjelaskan kepada Ilham.


Ilham menghela nafas berat, impian untuk segera melangsungkan pernikahan dengan Naina harus ditunda, dan itu kembali membuat Ilham menahan perih. Perpisahan harus pertama kali terjadi antara Ilham dengan Naina sebelum adanya pernikahan yang akan dilangsungkan satu minggu lagi.


“Kakak juga tidak bisa menahanmu, Naina. Jika menunda pernikahan adalah keputusanmu, Kakak juga tidak bisa berbuat apapun meskipun Kakak harus menahan perih di hati.” Ilham menatap lekat dua manik hitam milik Naina.


“Sekali lagi maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud menundanya tapi...”


“Tidak apa-apa. Sudahlah! Setidaknya kita masih punya waktu bersama selama kurang lebih satu minggu, kan?”


Ilham sebisa mungkin memahami tugas Naina yang menjadi anggota khusus dari abdi negara. Dan untuk membuat Naina tidak bersedih lagi Ilham berusaha mengulas senyumnya, agar Naina percaya jika ia tidak keberatan dengan penugasan Naina.


Namun, ponsel Naina tiba-tiba beedering disaat keduanya sudah saling menerima keputusan yang diambil. Dan panggilan itupun dari Bagas Kara, yang memerintahkan Naina untuk segera datang ke markas.


“Maafkan Naina, Kak Ilham. Sekarang Naina harus pergi ke markas.” Naina berpamitan dengan Ilham.


Ilham hanya mengangguk, mengiyakan Naina yang akan pergi memenuhi panggilan dari atasan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bayu, begini kali ya nasib jomblo ngenes. Mau berangkat tugas saja tidak ada yang bisa menahan, tidak ada yang menyemangati bahkan tidak ada yang memberikan... kecupan.”


Bayu hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Bian yang sangatlah absurd. Dan yang ada dalam pikiran Bian tak luput dari Rania. Seolah pikirannya hanya berpusat pada Rania saja, tidak ada yang lain lagi selain Rania. Namun, Rania juga tidak memberikan kabar apapun kepada Bian, membuat hati Bian semakin berpotek- potek.


Saat keduanya tengah menikmati malam yang kelabu bagi seorang jomblo ngenes tiba-tiba ponsel keduanya berdering, panggilan masuk dari Bagas Kara. Perintah yang sama telah dineritahukan kepada Bian dan Bayu. Dan segera Bian membonceng Bayu dengan motor scoopy nya menuju ke markas.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Tinggal terakhir, dan saya akan menyerahkan tugas ini kepada Anda, Dokter Khaira. Apa Anda bisa menyelesaikannya?”


“Bisa, Dokter Aletha.” Khaira mengangguk.


Khaira mengambil alih posisi Aletha untuk menggantikan Aletha dalam menjahit jantung yang sudah dilakukan operasi. Sedangkan Aletha mencuci tangan dan berganti pakaian dengan kemeja biru dongker dan celana hitamnya, pakaian yang dipakai tadi saat ke rumah sakit.


“Itu pasti Aa, tapi....”


Aletha menuju ke luar untuk menemui Keenan yang sudah berada di luar menunggunya.


“Aa sejak kapan menunggu, Neng? Apa sudah lama?”


Keenan yang memunggungi Aletha seketika berbalik, menatap Aletha dengan begitu tajam. Hingga tatapan mereka bertemu dan sejenak mengunci satu sama lain.


“Aa... kenapa pakai seragam begini? Apa Aa akan bertugas malam?”


Hening...


Keenan tidak kunjung menjawab pertanyaan Aletha, justru pelukan lah yang dilayangkan untuk Aletha dan Keenan pun mengatakan yang sebenarnya saat pelukan itu semakin mengerat.


“Maafkan Aa, Aa harus kembali bertugas di Papua. Malam ini Aa dan pasukan berani mati lainnya akan berangkat.”


“Berapa lama Aa akan pergi? Apa tugas ini akan membahayakan? Apa Aa akan mengingkari janji lagi? Apa Aa akan telat pulangnya? Dan... Apa Neng harus sendiri lagi?” cecar Aletha dengan pertanyaan yang menohok hati Keenan.


“Aa akan bertugas selama... satu tahun. Sampai pasukan berani mati bisa menyelesaikan misi rahasia ini. Dan jika kami bertugas dengan cepat, maka... kami tidak sampai satu tahun.” Keenan semakin mengeratkan pelukannya.


Deg...


Hati Aletha kembali menahan perih saat ia harus menerima kenyataan jika akan berpisah kembali dengan Keenan. Bahkan akan lebih lama dari tiga bulan yang sampai enam bulan. Air mata Aletha sudah memenuhi pelupuk matanya, seolah air mata itu siap untuk terjatuh dan meluruh.


‘Maafkan Neng, Aa! Neng... tidak bisa menahannya,” ucap Aletha.


Air mata pun meluruh begitu saja, membuat Keenan merasa berat untuk meninggalkan Aletha yang masih ingin mengobati rindu dengan menciptakan kebersamaan. Namun sayang, waktu tidak bisa dihentikan ataupun diundur, tugas tetaplah tugas yang harus dikerjakan. Dan Keenan sudah ditunggu oleh pasukan berani mati lainnya di markas, hingga ia tidak bisa berlama-lama dengan Aletha.


“Maafkan Aa, Aa tidak bisa mengantar Neng untuk pulang. Neng... bisa membawa mobil sendiri, kan?”


Keenan melerai pelukannya, lalu memberikan kunci mobil yang berada di dalam genggamannya kepada Aletha. Dengan hati yang amat terasa berat Keenan memberikan kecupan di kening Aletha sebelum ia pergi dari pandangan Aletha.


“Neng hati-hati di rumah dan jaga Alina! Jangan lupa Neng harus rajin sholat dan luangkan waktu untuk mengaji walaupun hanya satu ayat saja.” Keenan mengusap lembut puncak kepala Aletha.


“Ya sudah, Aa tidak bisa berlama-lama. Aa pergi dulu, Neng. Assalamu'alaikum.” Keenan berbalik, separuh berlari menuju ke tukang ojek yang sudah ia pesan melalui online.


Aletha tidak bergeming sama sekali, bahkan mengucap sepatah katapun saja tidak. Namun tangisnya semakin terisak, dengan menatap punggung Keenan yang semakin jauh dan perlahan menghilang dalam jagkauan pandangannya.


‘Munafik jika aku merelakan kepergiannya, Ya Allah. Jika aku bisa mengubah waktu, memutar waktu dan menahan waktu, aku ingin kebersamaan ku dengannya diperlama, Ya Allah. Apa akan terus seperti ini kehidupan ku bersamanya? Apa Dia akan tetap ditugaskan ke luar pulau dengan waktu yang amat lama?'


Tubuh Aletha meluruh, merosot hingga kebawah. Dalam tangisnya yang memilukan sungguh terdengar menyayat hati bagi semua orang. Bukan sikap yang egois, tetapi yang namanya seorang istri pasti tak ingin perpisahan meskipun itu hanya sebentar ataupun lama.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat Aletha tenggelam dalam kepiluannya. Namun Ilham tidak bisa menenangkan Aletha, karena ia sendiri juga menahan perih saat harus merelakan Naina bertugas di Papua selama satu tahun.


Urusan KKB sungguh memilukan. Membuat penulis mendesah karena harus memisahkan Aletha dengan Keenan, Garda dengan Laura dan Naina dengan Ilham.


“Sabar untuk kalian ya, lentera akan tetap menyala dengan kekuatan cinta.” Begitulah pesan penulis kepada Keenan dan Aletha.


Aletha masih larut dalam kesedihan, tetapi tak lama kemudian ia tersadar saat bayangan Alina sekelebat melintas di pelupuk matanya.


“Tidak. Aku harus bisa kuat demi Alina. Aku yakin, Aa Keenan akan segera kembali dan perpisahan ini bukanlah perpisahan yang terakhir untuk kami. Dan aku yakin, Allah akan melancarkan semuanya asalkan kita terus berdoa.”


Aletha menyeka air mata yang membasahi pipinya, setelah itu ia berdiri dan berusaha tegar untuk menerima ujian itu kembali. Aletha terus meyakinkan hatinya untuk menerima dengan besar hati, dan Aletha yakin jika doa seorang istri akan dijabah sama Allah.


Aletha masuk ke dalam mobil lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apakah semua peralatan sudah siap?”


“Sudah, Komandan!” jawab serempak.


“Kalian akan berangkat pukul 10.20, itu artinya kurang sepuluh menit lagi. Dan saya sebagai atasan kalian menyerahkan sepenuhnya tugas ini kepada kalian. Apa kalian siap melakukan tigas ini?” tanya Bagas Kara dengan begitu tegas.


“Siap! Pak.” Pasukan berani mati memberikan hormat kepada Bagas Kara sebagai atasan mereka.


“Sebelum berangkat saya ingin memberitahukan kepada kalian tentang seseorang yang akan membantu kalian selama bertugas di sana. Dan saya yakin kalian akan merasa terganti dengan kehadirannya.” Bagas Kara menatap tajam semua anggota pasukan berani mati.


Dalam posisi berdiri tegap pasukan berani mati menanti kehadiran orang yang dimaksud Bagas Kara, meskipun rasa penasaran mencuak di hati mereka tetapi tidak ada yang berani bertanya siapa orang itu.


Tidak lama kemudian Rania datang dengan seragam lengkapnya. Lalu Rania berdiri di sisi kanan Bagas Kara, orang yang dimaksud Bagas Kara tak lain adalah Rania. Hingga membuat pasukan berani mati terkejut terutama Bian. Karena sebelumnya Rania tidak mengatakan apapun tentang hal itu.


Helikopter telah tiba setelah sepuluh menit kemudian. Tanpa ada kata lagi pasukan berani mati masuk ke dalam helikopter setelah semua senjata selesai dimasukkan. Setelah dirasa semua siap, helikopter mengudara dengan amat tinggi.


‘Helikopter itu... apa helikopter yang membawa Aa dan kalian semua pergi?’


Sejenak Aletha menghentikan laju mobilnya saat melihat helikopter terbang di atas mobilnya. Tidak ada kata lain selain Aketha perbanyak doa untuk kelancaran Keenan dalam misi rahasia itu.


Aletha mengulas senyum saat helikopter semakin tidak terlihat setelah mengambil arah ke Timur.


‘Aa... Neng akan setia menanti Aa kembali.’


Aletha melajukan kembali mobilnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2