
Pengumpulan suara sudah selesai, saatnya untuk mengumumkan vote terbanyak dari siswa siswi. Arra masih saja deg deg an karena ia tidak mencalonkan diri nya sendiri melainkan ia dicalonkan oleh Reiva.
"Reivaa.. Kamu tunggu saja.." Arra bergumam di hatinya sambil melihat Reiva yang sedari tadi tertawa melihat Arra.
Selesai menghitung jumlah terbanyak, dan ternyata hasil voting terbanyak diraih oleh Ben Alvaro, lalu yang kedua adalah Ze Arrabella dan voting sedikit didapatkan oleh Seila Emelie. Dengan begitu Ketua kelasnya adalah Ben Alvaro sedangkan Wakil ketua adalah Ze Arrabella.
"Wahhh mereka sepertinya sangat cocok menjadi ketua dan wakil ketua!!" sorak siswa siswi.
Arra melihat ke arah Reiva yang menunjukan dua jempol nya kepada Arra, seraya mengisyaratkan bahwa Arra memang pantas menjadi pengurus kelas.
Arra masih sedikit kesal karena ketua kelasnya ternyata orang yang membuat Arra badmood.
"Kenapa harus dia sih!!" rengek Arra dalam hati.
"Ze Arrabella, senang bertemu denganmu lagi" Ben berkata sambil tersenyum kepada Arra.
"Apa kau bilang?" tanya Arra kepada Ben karena barusan ia masih mengomel didalam hati sehingga tidak kedengaran.
"Aku..." belum selesai Ben menjawab, Pak Gery sudah memotong pembicaraan mereka.
"Ben dan Arra, kalian terpilih menjadi ketua dan wakil ketua. Jadi lakukan tugas mu dengan benar!" pinta Pak Gery.
"Baik Pak" Arra dan Ben kembali duduk ke tempatnya.
Arra masih memikirkan apa yang baru saja Ben katakan padanya. Ia hanya mendengar samar samar karena Ben berbicara dengan lirih.
Hari ini hanya diisi dengan sambutan wali kelas juga penyusunan struktur kelas. Setelah semua selesai, semua murid diperbolehkan pulang lebih awal untuk hari pertama.
Arra meminta Reiva untuk pulang kerumah bersama. Ketika Arra keluar pintu Ben memanggil Arra, sepertinya ada yang ia ingin katakan.
__ADS_1
"Ze... Tunggu" Ben menarik tangan Arra
"Kamu lagii??? Ada apaaa??" geram Arra.
"Itu.. Aku.. Apakah kamu benar benar tidak mengingat ku Ze?" tanya Ben untuk memastikan.
"Maaf tapi aku tidak mengenalmu" jawab Arra dengan kesal lalu pergi meninggalkan Ben.
"Zeee... Apa kau benar benar yakin tidak mengingat ku??" teriak Ben dari kejauhan.
"Hey Arra, apa hubunganmu dengan Ben? Mengapa Ben menanyakan hal seperti itu?" tanya Reiva dengan heran.
"Mana aku tahu, aku bahkan tidak mengenal nya. Baru saja bertemu dia langsung bersikap menyebalkan, huh!" geram Arra.
"Aku tidak mengerti kenapa Ben menanyakan itu. Dia bilang apakah aku tidak mengingat nya? Memangnya kita pernah bertemu? Kenapa sih dia ini? Kenapa malah aku memikirkannya? Aduh Arraaa..." Arra masih saja mengomel omel dalam hatinya.
****
"Kamu kenapa?" Sontak Arra kaget melihat Aria yang ternyata sudah duduk di jendela kamarnya.
"Aria.. Kamu membuatku kaget"
"?"
"Emm Aria, apakah kamu benar benar suka duduk di jendela? Kita berada dilantai atass!!" teriak Arra.
"Lalu?" dengan muka datarmya Aria bertanya.
Arra menepuk jidat nya dan berkata
__ADS_1
"Aduh.. Apakah kamu tidak terpikirkan bagaimana jika kamu jatuh kebawahhh? Bagaimana jika aku tidak sengaja menyenggolmu dan kamu jatuh menggenaskan? Lalu Mama dan Papa akan menyalahkan ku dan aku akan dituntut karena melukai saudara kembar ku sendiri, lalu aku dimasukkan kedalam penjara dan dihukum matiii!!!!" Arra berteriak histeris.
Aria menatap ke langit dan hanya membalas
"Halu"
"Saudari kembar ku kenapa begini sih.." teriak Arra lagi dengan kesal.
"Bagaimana keadaan sekolahmu?" tanya Aria sambil berjalan mendekat ke Arra.
"Sekolahku? Yah.. Bisa dibilang agak menjengkelkan" balas Arra sambil menatap ke atas.
"Kenapa?"
"Aku bertemu seseorang yang sangat menyebalkan. Dia selalu saja mengejar ngejar diriku seolah olah kita saling mengenal. Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya."
"Dia suka padamu" sontak wajah Arra memerah mendengar perkataan Aria.
"Ariaaa!! Kamu juga begitu menyebalkan! Mana mungkin dia suka padaku..."
"Mungkin saja"
"Sudah ah jangan bahas dia lagi. Lalu bagaimana dengan sekolah mu Aria?"
"Biasa saja"
"Ee.. Yah dengan sifat mu yang begitu aku harap kamu mendapat kan teman"
Selesai berbicara, Aria pun kembali ke kamarnya. Arra masih saja duduk terdiam di kasur nya sambil mengingat perkataan Ben sewaktu dikelas.
__ADS_1
"Mungkinkah aku pernah bertemu Ben sewaktu kecil? Tapi kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya? Tapi jika aku benar benar pernah bertemu Ben.. Ah sudahlah jangan dipikirkan lagi..." gumam Arra.
Senja hampir tiba, Arra segera membereskan diri dan cepat cepat mandi. Ia hampir saja terbawa arus lamunannya. Ia berharap Ben tidak lagi mengejar ngejar dirinya seperti pencuri.